NovelToon NovelToon
Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Dibuat Mandul Oleh Suami Pengkhianat, Aku Pun Bangkit Membalas

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:806.3k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!

Demi menikahi Lavanya, Aditya tega memberikan obat anti-ovulasi kepada Kemuning, agar tidak pernah bisa punya anak. Aditya juga memanipulasi hasil tes kesuburan Kemuning.

Namun, takdir berkata lain ketika kecelakaan menimpa Kemuning. Dari hasil pemeriksaan diketahui kalau ada zat berbahaya di dalam rahimnya.

Dengan bantuan Arkatama, Kemuning menyusun pembalasan kepada Aditya dan Lavanya. Membuat mereka merasakan pembalasan yang tak disangka-sangka.

Niat ingin menguasai harta milik Kemuning, yang Aditya dapatkan malah gigit jari.

Akankah rahim Kemuning bisa subur kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Rumah itu terasa berbeda, bukan karena ukurannya berubah, tetapi karena isinya yang semakin berkurang. Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.

Tidak ada lagi suara ayam dari belakang, tidak ada lagi orang-orang yang keluar masuk membawa senyum atau basa-basi. Yang tersisa hanya perabot lama, dinding kusam, dan suasana yang menekan.

Aditya duduk di kursi kayu dengan punggung membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke meja, tapi pikirannya berantakan ke mana-mana. Di depannya ada ponsel, diam, seolah sudah lelah ikut jatuh bersamanya.

“Ibu enggak tahu lagi harus masak apa hari ini.”

Suara Bu Ratih terdengar dari arah dapur. Pelan, tapi cukup untuk membuat Aditya mengangkat kepala. Wanita itu muncul sambil membawa dompet kecil yang sudah tampak tipis. Ia membukanya, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah lecek.

“Tinggal segini uang kita, Adit,” kata Bu Ratih lirih. “Kalau dipakai beli beras, maka enggak ada buat beli lauknya.”

Aditya menatap uang itu tanpa bergerak. Rahangnya mengeras. Ia berdiri, mendekat, lalu mengambil uang tersebut tanpa banyak bicara.

“Aku mau keluar cari kerja lagi, Bu,” ucap Aditya bersiap-siap.

“Adit ...!” panggil Bu Ratih cepat, langkahnya ikut mendekat. “Dari kemarin kamu sudah keliling cari pekerjaan, tapi pulang tetap dengan tangan kosong.”

Aditya diam. Ia tahu jawabannya.

“Enggak ada yang nerima, kan?” Suara Bu Ratih melemah, tapi nadanya seperti menekan.

Aditya menghela napas kasar. “Aku tetap harus cari.”

Bu Ratih tertawa kecil, tetapi terdengar pahit. Ia menutup wajahnya sebentar, lalu mengusap mata dengan ujung bajunya.

“Ibu capek, Adit,” Suara Bu Ratih mulai bergetar. “Dulu kita enggak pernah mikirin makan. Sekarang tiap hari Ibu harus putar otak.”

Aditya memalingkan wajah. Ucapan itu seperti mengorek sesuatu yang tidak ingin ia sentuh.

“Semua berubah sejak perempuan itu datang!” lanjut Bu Ratih tiba-tiba, nada suaranya naik. “Lavanya! Enggak tahu diri! Dulu nempel terus, sekarang hilang begitu saja!”

Aditya langsung menatap tajam. “Iya! Dia cuma cari enaknya aja!” Ia mengepalkan tangan. “Waktu aku punya segalanya, dia dekat. Sekarang aku jatuh, dia kabur!”

“Dari awal Ibu sudah enggak suka!” sahut Bu Ratih cepat. “Perempuan seperti itu enggak mungkin tulus!”

Nama Lavanya terus disebut, diulang-ulang, seolah itu cukup untuk menjelaskan semua yang terjadi. Seolah semua kegagalan ini memang salahnya. Padahal ada satu nama yang tidak mereka berani sentuh, Kemuning. Nama itu seperti berdiri diam di sudut ruangan, tidak disebut, tetapi terasa.

Aditya menelan ludah. Wajah Kemuning muncul begitu saja di pikirannya. Senyum tenangnya, cara ia menyambut tanpa banyak tanya. Dan yang lebih penting dia selalu ada untuknya.

Pria itu menggeleng pelan, seperti ingin menghapus bayangan itu. “Sudah, enggak usah bahas dia lagi,” kata Aditya cepat, lebih seperti menghindar.

Bu Ratih mendengus, tetapi tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Ia kembali ke dapur dengan langkah berat.

Aditya keluar rumah tanpa menoleh lagi. Langkahnya cepat, seolah penuh tujuan. Ia mendatangi satu tempat ke tempat lain. 8 guidang, kantor kecil, bahkan proyek bangunan.

“Maaf, kami belum butuh orang.”

“Kami cari yang lebih berpengalaman.”

“Lowongan sudah penuh.”

Kalimat itu terus berulang. Wajah orang-orang berbeda, tetapi jawabannya sama. Senyum yang tadi ia pakai perlahan hilang. Bahunya turun. Cara jalannya berubah, tidak secepat tadi.

Ia berhenti di pinggir jalan. Tangannya masuk ke saku, tapi kosong. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri dan melihat orang-orang lewat.

Ponselnya bergetar.

Aditya langsung membuka, berharap ada kabar baik. Akan tetapi yang muncul justru pesan dari salah satu kerabatnya.

[Maaf ya, Dit. Lagi enggak bisa bantu.]

Aditya membaca sekali. Lalu lagi dan lagi. Dadanya terasa panas.

Dulu, rumah itu tidak pernah sepi. Hampir setiap minggu selalu ada saja yang datang. Saudara jauh, kerabat dekat, bahkan orang yang jarang terlihat pun tiba-tiba muncul dengan wajah ramah. Mereka duduk santai di ruang tamu, tertawa, bercerita panjang lebar seolah hubungan mereka sangat dekat.

Namun sekarang, semua itu seperti tidak pernah ada. Tidak ada lagi suara tawa. Tidak ada tamu yang datang membawa cerita. Pintu rumah lebih sering tertutup, dan ponsel pun jarang berdering. Jika pun ada kabar, isinya hanya penolakan halus atau alasan yang terdengar dibuat-buat.

Kehangatan yang dulu memenuhi rumah itu hilang begitu saja, berganti dengan kesunyian yang terasa asing dan menyakitkan.

Aditya menghela napas panjang. Dadanya terasa penuh, seolah ada sesuatu yang mengganjal dan tidak bisa keluar. Ia menatap jalanan di depannya tanpa benar-benar melihat.

“Semua berubah cepat banget gaji” gumam Aditya pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Langkah pria itu terasa berat saat akhirnya pulang. Tubuhnya lelah, bukan karena bekerja, tapi karena terus berharap lalu dikecewakan. Seharian ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mendengar jawaban yang sama, mengulang penjelasan yang sama, dan pulang dengan hasil yang sama.

Saat masuk ke dalam rumah, Aditya melihat Bu Ratih sudah duduk di ruang tengah. Posisi tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya saling menggenggam di pangkuan. Wajahnya tampak lebih pucat, garis-garis lelah semakin jelas terlihat. Ia mengangkat kepala saat Aditya masuk.

“Gimana?” tanya Bu Ratih singkat, tapi penuh harap.

Aditya tidak langsung menjawab. Ia hanya berjalan pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi seperti orang yang kehabisan tenaga. “Enggak ada,” jawabnya akhirnya.

Hanya dua kata, tetapi cukup untuk menjelaskan semuanya. Tidak ada penjelasan lanjutan. Tidak ada usaha untuk terlihat kuat. Ia bahkan tidak menatap ibunya.

Bu Ratih menunduk pelan. Bahunya mulai bergerak, tanda ia kembali menangis. Kali ini tanpa suara keras, hanya isakan kecil yang tertahan, seolah ia sudah terlalu sering menangis sampai tidak punya tenaga lagi untuk meluapkannya.

“Apa hidup kita akan begini terus?” bisik wanita paruh baya itu lirih, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Aditya tidak langsung merespons. Tatapannya jatuh ke lantai. Ia diam cukup lama, seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat. Rahangnya mengeras, napasnya terdengar lebih dalam. Sampai akhirnya, ia berdiri tiba-tiba.

“Aku akan pergi,” kata Aditya bernada tegas.

1
antha mom
👍👍👍👍👍🏿👍🏿👍🏿👍🏿👍🏿
Katherina Ajawaila
Aeka lucu yg pengen melahirkan kemuning doa yg latah, seru juga punya suami latahan 🤭
Abinaya Albab
ini pekerjaan mereka OB kn ya... daripada buat huru hara mbokya uangnya di gunakan yg lebih bermanfaat to mas...mas
Irsyad
keren sekali
Abinaya Albab
owalahh ternyata pak pengacara juga duda toh
Abinaya Albab
pizza bukan fizza
Abinaya Albab: tetap semangat kak 🫰🏻
total 2 replies
Abinaya Albab
nnti giliran punya cucu mlh dikit² tantrum Bu 😂
Abinaya Albab
kemuning klo ngomong suka patah²
Katherina Ajawaila
sadar diri lavanyya ngk mikir kamu rusakkin rmh tangga org, ngk mau Terima solusi nya dasar jalang dombret 😆
Abinaya Albab
baru nyadar dia 🤦🏻 dari sikap perlakuan saja udh kelihatan loh ya
Mama Gezkara
panggilannya ayah atau papa sih kaaakk?
Katherina Ajawaila
waauuu, baby nya Arka meluncur nih, girang nya pasti 🤭
Mu Shofihin
sat set ceritanya ga bertele tele semangat Thor
🌸 Sunshine 🌸: ❤️❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
Katherina Ajawaila
jgn smp balik lg thour sm. Kemuning, kasihanwanita baik" jgn smpjd tatakan lendir org ngk. jelas😡
Katherina Ajawaila
Waaah Lavana alih profesi jablai. beneran. awas Daniel kena HIV loh. 😡
Katherina Ajawaila
jgn mau di manfaatin sm pecundang Kemuning kamu udh di rusak, ko ngk di sidang sih rusak nya Kemuning🤭
Mama Gezkara
owalaaahh Vanya...vanyaa.... lha wong yang salah itu kamu kq...malah nyalahin kemuning.... aneh kamu....🤭
Katherina Ajawaila
mntap jalang murahanketangkap bokep ya😁jalng
Abinaya Albab
wahhhhh Mulutnyabminta dinsumpal matanya minta dijereng ini klo gk bisa urus rumah trs yg masak enk tipa hari siapa,yg bersih² rumah siapa trs gk becus urus suami... si suami itu yg GtK becus jadi suami
Katherina Ajawaila
dasar pecundang dan jalang sama ja jd parasit ngk malu /Toasted/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!