NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:136
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fragmen Masa Lalu yang Berdarah

Aku berlari tanpa arah. Sepatu flat yang kupakai rasanya nyaris lepas, tapi aku tidak peduli. Napas yang keluar dari tenggorokanku terasa panas dan perih, seperti menghirup debu sisa kebakaran. Map besar di pelukanku terasa seberat beton. Di dalamnya ada sesuatu yang sanggup membakar habis seluruh panggung sandiwara yang kubangun bersama Bimo selama ini.

Aku berhenti di sebuah taman kota yang cukup jauh dari panti asuhan. Napasku tersengal, dadaku naik-turun dengan liar. Aku duduk di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, lalu perlahan membuka map itu dengan tangan yang masih gemetar hebat. Di dalamnya ada tumpukan dokumen lama yang kertasnya sudah menguning. Foto-foto hitam putih, salinan berita koran tahun 2005 yang tidak pernah masuk arsip digital, dan yang paling mengerikan: sebuah surat pernyataan bermaterai yang ditandatangani oleh almarhum pengacara ayahku.

Nama ayahku adalah Hendra. Di dalam dokumen itu, dia bukan hanya seorang akuntan biasa di Wijaya Group. Dia adalah orang yang menemukan adanya aliran dana gelap yang masuk ke kantong pribadi Kakek Bimo—dana yang seharusnya digunakan untuk membangun jembatan dan sekolah di daerah terpencil. Ayahku mencoba melaporkannya, tapi sebelum laporan itu sampai ke pihak berwajib, dia justru dituduh sebagai pelakunya.

"Dijebak..." bisikku, air mata jatuh tepat di atas foto seorang pria muda yang menggendong bayi perempuan. Itu ayahku. Dan bayi itu... itu aku.

Dokumen itu menjelaskan bagaimana ayahku dipaksa tutup mulut di dalam penjara. Ada laporan medis yang mencurigakan tentang 'kematian mendadak' akibat gagal jantung, padahal ayahku baru berusia tiga puluh tahun dan sangat sehat. Di bawahnya, ada coretan tangan dari pria bertopi hitam tadi: 'Ayahmu tidak mati karena sakit. Dia dibuat mati agar kebenaran tidak pernah keluar.'

"Nara!"

Suara itu membuatku tersentak. Aku langsung menutup map itu rapat-rapat. Bimo berdiri di sana, beberapa meter dariku. Dia sendirian. Wajahnya yang biasanya tenang dan berkuasa kini tampak hancur. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan CEO di sana. Dia hanya terlihat seperti seorang pria yang tertangkap basah menyimpan dosa besar yang bukan miliknya, tapi dia harus menanggungnya.

"Jangan mendekat," kataku dengan suara bergetar. "Aku serius, Bimo. Kalau kamu maju satu langkah lagi, aku bakal lari ke kantor polisi sekarang juga."

Bimo berhenti. Dia mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. "Aku tidak akan menyakitimu. Sumpah. Aku cuma mau bicara."

"Bicara apa? Tentang gimana keluarga kamu menghancurkan hidup ayahku? Atau tentang gimana kamu pura-pura nggak tahu apa-apa dan jadikan aku istri kontrak cuma buat mengawasiku?!"

Bimo memejamkan mata sejenak, seolah kata-kataku adalah peluru yang tepat sasaran. "Awalnya... iya. Aku menemukan berkas itu di brankas rahasia Kakek setahun yang lalu. Aku terkejut. Aku muak. Aku ingin memperbaikinya, tapi aku tidak tahu caranya. Sampai aku melihatmu di kafe itu. Aku tahu siapa kamu sejak detik pertama. Nama lengkapmu, asal pantimu... semuanya cocok."

Aku tertawa getir, air mata terus mengalir tanpa bisa dibendung. "Jadi pertemuan di kafe itu bukan kebetulan? Kamu sudah merencanakannya?"

"Tidak, pertemuannya kebetulan. Tapi tawaran kontrak itu? Itu caraku untuk menarikmu masuk ke dalam jangkauanku. Aku ingin memastikan hidupmu terjamin tanpa harus membongkar luka lama yang mungkin tidak ingin kamu tahu. Aku ingin melindungimu dari Kakek, karena kalau Kakek tahu siapa kamu sebenarnya, dia tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Nara!"

"Melindungi?" Aku berdiri, menunjuknya dengan jari gemetar. "Kamu membohongiku! Kamu membiarkan aku tinggal satu atap dengan keluarga yang membunuh ayahku!"

"Aku mulai mencintaimu!" teriak Bimo tiba-tiba.

Suasana taman mendadak sunyi. Bimo menatapku dengan mata yang memerah. "Itu kesalahan terbesarku, Nara. Rencananya cuma kontrak, cuma penebusan dosa secara diam-diam. Tapi melihatmu setiap hari, melihat caramu berjuang... aku lupa kalau aku seharusnya cuma jadi 'penjaga'. Aku benar-benar jatuh cinta padamu, dan itu bikin aku jadi pengecut. Aku takut kalau aku jujur, kamu bakal pergi. Dan sekarang... itu terjadi."

Aku terdiam. Sebagai penulis, aku sering menulis adegan pengakuan cinta di saat-saat paling tragis. Tapi rasanya tidak pernah sesakit ini. Cinta yang dibangun di atas fondasi kebohongan dan darah masa lalu.

"Pulanglah, Bimo," kataku dingin. Aku memeluk map itu erat-erat. "Jangan cari aku. Aku butuh waktu."

"Nara, Kakek sudah tahu kamu pergi. Kamu nggak aman di luar sana."

"Aku nggak akan aman di mana pun selama aku masih berhubungan sama keluarga Wijaya!" seruku. Aku berbalik dan mulai berjalan pergi, meninggalkan Bimo yang terpaku di tengah taman.

Aku kembali ke dermaga tua tempat Panji menungguku. Dia tidak banyak bicara, hanya membukakan pintu jip dan membawaku menuju pelabuhan yang lebih sepi. Di sana, di sebuah kapal nelayan yang tampak tua namun terawat, aku melihat seorang pria duduk membelakangiku.

"Dia menunggumu," kata Panji singkat.

Aku melangkah maju dengan jantung yang berdegup kencang. Ketika pria itu berbalik, duniaku seolah berhenti berputar. Wajah itu... wajah yang ada di foto tadi, kini jauh lebih tua, penuh kerutan, dan memiliki sorot mata yang letih.

"Nara?" suaranya serak.

"Ayah?"

Kami berpelukan di tengah bau garam dan solar. Ayahku menceritakan bagaimana dia tidak benar-benar mati. Ayah Bimo—Andra—ternyata yang menyelamatkannya dan memalsukan kematiannya karena merasa bersalah atas tindakan ayahnya sendiri (Kakek Bimo). Ayahku disembunyikan selama bertahun-tahun dengan identitas palsu, menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam.

"Andra meninggal dalam kecelakaan sebelum dia sempat membersihkan namaku," kata Ayah dengan nada getir. "Setelah itu, aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dipercaya. Sampai akhirnya Panji menemukanku atas perintah Bimo."

Aku tersentak. Jadi Bimo yang menemukan Ayah? Dia tahu Ayah masih hidup?

"Bimo yang mengatur semua ini, Nara," Ayah memegang bahuku. "Dia ingin aku muncul saat Kakek benar-benar terdesak, supaya Kakek tidak bisa lagi mengelak."

Tiba-tiba, suara helikopter memecah kesunyian malam. Lampu sorot besar menyapu permukaan air, tepat ke arah kapal kami. Melalui pengeras suara, suara yang sangat aku kenali terdengar dingin dan berwibawa. Itu suara Kakek Wijaya.

"Serahkan dokumen itu, Nara. Jangan buat aku melakukan hal yang akan disesali oleh cucuku sendiri."

Ayahku mendorongku masuk ke dalam kabin kapal. "Lari, Nara! Bawa dokumen itu ke polisi! Biarkan Ayah yang menghadapi dia!"

"Nggak, Yah! Aku nggak mau kehilangan Ayah lagi!"

Di luar, suara tembakan mulai terdengar. Panji membalas tembakan dari balik jipnya. Area dermaga yang tadinya tenang kini berubah menjadi medan perang. Aku melihat Bimo tiba-tiba muncul dari arah lain, dia berlari menembus garis tembakan, mencoba mencapai kapalku.

"Nara! Keluar!" teriak Bimo.

Satu ledakan keras menghantam sisi kapal. Aku terlempar ke sudut ruangan, pandanganku mengabur. Hal terakhir yang kulihat adalah Bimo yang melompat ke atas geladak, menarikku keluar dari kabin yang mulai terbakar, sementara Kakek Wijaya berdiri di kejauhan dengan senyum tipis yang mematikan.

Permainan ini bukan lagi soal kontrak. Ini soal hidup dan mati. Dan di bab ini, aku menyadari bahwa cinta Bimo mungkin nyata, tapi darah yang mengalir di antara keluarga kami jauh lebih kental daripada air mata mana pun yang pernah kuteteskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!