Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 — Rahasia di Balik Reno
Alya masih memandangi Reno dengan bingung setelah pria itu mematikan panggilan dari ayahnya.
Ekspresinya berubah drastis.
Tatapan hangat yang tadi ada kini menghilang, digantikan wajah dingin dan tegang.
“Kamu nggak angkat?” tanya Alya hati-hati.
Reno meletakkan ponselnya di meja tanpa menjawab.
“Ada masalah?”
“Biasa.” Reno tersenyum kecil, tapi terlihat dipaksakan. “Hubunganku sama beliau memang nggak pernah baik.”
Alya terdiam.
Ia teringat ucapan Reno di proyek tempo hari—tentang ayahnya yang keras.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Alya merasa penasaran tentang kehidupan pria itu.
Sebelum ia sempat bertanya lagi, ponsel Reno kembali berdering.
Kali ini Reno langsung mengangkatnya.
“Iya.”
Suara pria dewasa terdengar samar dari seberang telepon, cukup keras hingga Alya bisa mendengar nada marahnya.
“Kamu lupa malam ini ada makan malam keluarga?!”
Rahang Reno langsung mengeras.
“Aku lagi ada urusan.”
“Urusan apa lebih penting dari perusahaan?!”
“Aku datang nanti.”
“Jangan bikin malu keluarga lagi, Reno.”
Telepon langsung terputus.
Suasana mendadak hening.
Alya bisa melihat jelas emosi yang Reno tahan mati-matian.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya pelan.
Reno tertawa hambar. “Pertanyaan itu terdengar aneh dari kamu.”
“Aneh kenapa?”
“Karena dulu aku orang terakhir yang peduli perasaan kamu.”
Jawaban itu membuat Alya tidak bisa berkata-kata.
Reno perlahan berdiri meski tubuhnya masih sedikit lemas.
“Aku harus pergi.”
“Kondisi kamu belum fit.”
“Nggak bisa nolak kalau soal keluarga.”
Tatapan Reno terlihat kosong sesaat.
Dan Alya mulai sadar…
Mungkin kehidupan Reno tidak sesempurna yang selama ini orang lihat.
Setelah Reno pergi, Alya tidak bisa tidur dengan tenang.
Bayangan wajah Reno tadi terus muncul di pikirannya.
Ketakutan.
Tekanan.
Kesepian.
Perasaan itu terlihat jelas di mata pria tersebut.
Alya membalik tubuhnya di atas kasur sambil mendesah pelan.
“Kenapa aku jadi mikirin dia terus sih…”
Namun semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin Reno memenuhi pikirannya.
Keesokan paginya, Alya datang ke kantor lebih awal.
Ia sedang menyiapkan revisi desain ketika Siska tiba-tiba datang sambil membawa ponsel.
“Alya! Kamu lihat berita ini belum?”
“Berita apa?”
Siska langsung menunjukkan layar ponselnya.
Foto Reno terpampang jelas di sana bersama seorang wanita cantik berpakaian elegan.
Judul artikelnya membuat dada Alya terasa aneh.
Putra Mahardika Group Akan Segera Bertunangan dengan Putri Pebisnis Terkenal.
Alya langsung membeku.
“Tunangannya cantik banget ya,” ujar Siska tanpa sadar. “Cocok sih sama Pak Reno.”
Entah kenapa, Alya mendadak kehilangan mood.
“Oh…”
Hanya itu jawaban yang keluar dari bibirnya.
Padahal ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya terasa sesak membaca berita itu.
Bukankah ia memang membenci Reno?
Bukankah seharusnya itu bukan urusannya?
Namun sepanjang pagi, Alya tidak bisa fokus bekerja.
Sampai akhirnya pintu ruang kerja terbuka.
Dan Reno masuk.
Tatapannya langsung mencari Alya seperti biasa.
Namun kali ini Alya buru-buru mengalihkan wajah.
Reno mengernyit bingung.
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
“Kamu marah lagi?”
Alya tertawa kecil hambar.
“Harusnya aku yang tanya.” Ia menatap Reno dingin. “Selamat ya atas pertunangannya.”
Ekspresi Reno langsung berubah.
“Apa?”
Alya mengambil ponselnya lalu menunjukkan artikel tadi.
Beberapa detik Reno hanya diam sebelum akhirnya mengusap wajah frustrasi.
“Berita itu nggak benar.”
“Tapi fotonya nyata.”
“Itu cuma anak rekan bisnis papa.”
“Tetap aja kalian cocok.”
Nada suara Alya terdengar lebih dingin dari biasanya.
Dan Reno langsung menyadari sesuatu.
Alya cemburu.
Kesadaran itu membuat sudut bibir Reno perlahan terangkat.
Namun Alya justru semakin kesal melihatnya tersenyum.
“Kamu malah senyum?”
“Aku baru tahu ternyata kamu bisa cemburu.”
Wajah Alya langsung memerah.
“Aku nggak cemburu!”
“Terus kenapa marah?”
“Aku nggak marah!”
Reno tertawa pelan, lalu mendekat beberapa langkah hingga jarak mereka menjadi sangat dekat.
Tatapannya melembut.
“Kalau memang kamu nggak peduli…” bisiknya lirih, “kenapa wajah kamu kelihatan kecewa begitu?”
Alya langsung mundur satu langkah.
“Aku nggak kecewa.”
“Bohong.”
Reno mengatakannya dengan tenang, seolah sudah mengenal Alya luar dalam.
Dan itu membuat Alya semakin gugup.
Beberapa karyawan mulai melirik ke arah mereka karena suasana mendadak terasa tegang. Alya buru-buru merapikan map di meja agar terlihat sibuk.
“Kita lagi di kantor,” katanya pelan menahan malu. “Jangan bicara sembarangan.”
Reno menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil.
“Oke. Aku nggak akan ganggu kamu sekarang.”
“Syukurlah.”
“Tapi satu hal yang harus kamu tahu…” Reno sedikit membungkuk mendekat. “Aku nggak bertunangan dengan siapa pun.”
Deg.
Jantung Alya kembali berdebar tidak karuan.
Sebelum Alya sempat membalas, Reno sudah berjalan pergi menuju ruang meeting. Namun senyum kecil di wajah pria itu tidak hilang sedikit pun.
Siska langsung datang menghampiri Alya begitu Reno pergi.
“Ya ampun, tadi tuh kayak adegan drama!”
Alya menutup wajahnya frustasi. “Berisik.”
“Tapi serius deh…” Siska menatapnya penasaran. “Kalian sebenarnya ada hubungan apa sih?”
Alya terdiam sesaat.
Hubungan apa?
Mantan pembully dan korban?
Musuh lama?
Atau sesuatu yang perlahan berubah menjadi lebih rumit?
“Aku juga nggak tahu,” jawab Alya lirih.
Malam harinya, Alya lembur sendirian di kantor karena revisi proyek hotel harus selesai besok pagi. Hampir seluruh ruangan sudah kosong dan lampu beberapa divisi mulai dimatikan.
Alya mengusap lelah tengkuknya sambil menatap layar laptop.
“Sedikit lagi…”
Namun tiba-tiba lampu di ruangannya padam.
“Eh?!”
Alya langsung panik.
Suasana kantor mendadak gelap gulita.
“Astaga…” gumamnya sambil mencari ponsel.
Belum sempat ia berdiri, suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong kantor yang gelap.
Jantung Alya langsung berdegup cepat.
Ia memang tidak suka suasana gelap sejak dulu.
Apalagi kantor sudah hampir kosong.
Langkah kaki itu semakin dekat.
“Alya?”
Suara Reno terdengar dari kegelapan.
Alya langsung mengembuskan napas lega tanpa sadar.
“Ya Tuhan… kamu bikin kaget.”
Tak lama kemudian, cahaya senter dari ponsel Reno menerangi ruangan.
“Kamu belum pulang?” tanya Reno sambil mendekat.
“Masih revisi desain.”
“Sendirian?”
“Iya.”
Reno menghela napas panjang. “Kamu nggak takut?”
Alya tersenyum kecil. “Harusnya enggak. Tapi ternyata masih takut gelap.”
Tatapan Reno langsung berubah lembut.
“Aku ingat.”
Alya menoleh bingung.
“Dulu waktu mati lampu di sekolah, kamu pernah nangis karena takut.”
Wajah Alya langsung memanas.
“Kamu masih ingat itu?”
“Aku ingat banyak hal tentang kamu.”
Kalimat itu sukses membuat suasana menjadi canggung lagi.
Reno lalu duduk di kursi sebelah Alya sambil menaruh ponselnya di meja agar cahaya tetap menerangi mereka.
“Kenapa belum pulang?” tanya Alya pelan.
“Aku lihat lampu ruangan kamu masih nyala.” Reno tersenyum kecil. “Aku nggak mau kamu sendirian.”
Hati Alya kembali terasa aneh.
Perhatian kecil seperti itu seharusnya biasa saja.
Tapi entah kenapa, jika datang dari Reno, semuanya terasa berbeda.
Tiba-tiba suara petir menggelegar cukup keras di luar gedung.
Alya refleks sedikit terkejut.
Dan tanpa sadar, tangannya mencengkeram lengan Reno.
Keduanya langsung terdiam.
Alya buru-buru melepaskan tangannya dengan wajah malu.
“Maaf…”
Namun Reno justru tersenyum tipis.
“Aku senang.”
“Senang apa?”
“Kamu mulai nyaman sama aku.”
Alya tidak bisa langsung menyangkalnya.
Karena jauh di dalam hati, ia mulai menyadari sesuatu yang berbahaya—
Perlahan, Reno bukan lagi orang yang paling ingin ia hindari.
Melainkan seseorang yang diam-diam mulai membuatnya merasa aman.
Dan perasaan itu membuat Alya takut kehilangan kendali atas hatinya sendiri.