POV:
Kamu jatuh cinta pada dosen dingin dan tampan… lalu berusaha keras mengejarnya.
Mulai dari cari perhatian, pura-pura kebetulan ketemu, sampai diam-diam cemburu pada perempuan lain di dekatnya.
Tapi plot twist-nya—
Dosen itu ternyata tunanganmu sendiri. 😭
Tunangan hasil perjodohan yang dulu kamu tolak sebelum sempat bertemu!
Sekarang siapa yang sebenarnya sedang mengejar siapa?
✨ Romance kampus
✨ Professor x mahasiswa
✨ Lucu, manis, bikin gemas
✨ Banyak momen salting & cemburu
Baca gratis di NovelToon:
Mr. Profesor�
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amabillis.13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Arlo sangat tahu betapa Zoya memanjakan hewan kecil itu.
BenBen bahkan memiliki lemari sendiri berisi pakaian, mainan, vitamin, hingga camilan impor. Cara Zoya memperlakukan anjing itu hampir seperti memperlakukannya seperti anak kecil.
Dan justru karena mengetahui hal itu…
Arlo semakin merasa tidak tenang.
Jika Tuan Muda Saksomo semakin dekat dengan BenBen, bukankah itu berarti hubungan pria itu dengan Zoya juga akan semakin dekat?
Tatapan Arlo jatuh pada tumpukan makanan anjing mahal di samping Jaiden. Setelah diam beberapa detik, ia akhirnya membuka mulut dengan nada datar.
“Aku tidak tahu kalau Tuan Muda Saksomo ternyata menyukai anjing.”
Kalimat itu terdengar biasa saja… Namun jelas mengandung sindiran. Karena Arlo mengenal Jaiden.
Pria itu sama sekali bukan tipe orang penyayang. Di luar sana, Tuan Muda Saksomo terkenal dingin, arogan, dan sulit didekati. Bahkan terkadang tindakannya begitu kejam hingga membuat orang selalu tegang ketika siapapun melihatnya.
Tetapi sekarang… pria yang arogan itu justru duduk di lantai sambil mengelus perut BenBen dengan lembut.
BenBen bahkan menggulingkan tubuhnya dengan nyaman di pangkuannya, sesekali mengibas-ngibaskan ekornya.
Melihat pemandangan itu, Arlo semakin yakin. Tuan Muda Saksomo pasti sengaja. Pria itu jelas sedang berusaha menarik perhatian Zoya.
Mungkin ia tahu Zoya sangat menyayangi BenBen, jadi ia sengaja mendekati anjing itu untuk mendapatkan hati pemiliknya.
Arlo awalnya mengira Jaiden akan membalas sindirannya dengan ketus.
Namun di luar dugaan, Jaiden hanya menunduk sambil terus mengelus perut BenBen dengan senang hati.
“Tentu saja,” gumamnya pelan.
Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Apa yang kamu tahu?”
Tatapannya melembut saat melihat BenBen.
“BenBen kita sangat baik dan pintar.”
Suara Jaiden rendah dan tenang.
Tidak ada nada provokasi.
Tidak ada kepura-puraan.
Seolah ia benar-benar tulus menyayangi hewan itu.
Sikap lembut yang muncul secara alami itu justru membuat Arlo sedikit terdiam… Namun yang tidak diketahui Arlo adalah alasan sebenarnya.
Dulu, Jaiden memang sama sekali tidak tertarik memelihara hewan.
Hingga suatu hari, saat ia masih kecil, dirinya pernah menjadi target penculikan akibat konflik politik keluarga Saksomo.
Sebagai keluarga militer besar, hidup mereka memang tidak pernah benar-benar aman. Musuh politik selalu ada.
Dan saat itu… yang menyelamatkan Jaiden bukanlah pengawalnya. Melainkan seekor anjing hitam besar.
Anjing itu menggigit pelaku penculikan dan melindunginya mati-matian sampai bantuan datang.
Jaiden membawa anjing hitam itu pulang, memberinya nama Moeba dan merawatnya selama beberapa bulan. Namun pada akhirnya, anjing itu tetap tidak bisa bertahan. Luka-luka yang dideritanya saat melindungi Jaiden terlalu parah.
Sejak hari itu, Jaiden sangat terpukul.
Orang tuanya pernah mencoba memberikannya anjing lain yang sangat mirip dengan Moeba, berharap bisa menghiburnya. Namun Jaiden justru mengusir semua anjing itu.
Bukan karena ia tidak suka.
Melainkan karena trauma.
Ia tidak ingin merasakan kehilangan yang sama untuk kedua kalinya.
Dan BenBen… adalah keturunan Moeba yang tinggal di sisi mereka.
BenBen sangat mirip dengan ayahnya. Bulu hitam tebalnya, mata tajamnya, bahkan cara ia menatap orang asing terkadang membuat Jaiden seolah melihat bayangan Moeba kembali hidup.
Saat mengetahui Moeba ternyata meninggalkan keturunan, Jaiden benar-benar sangat bahagia.
Ia merasa seperti mendapatkan kembali sebagian kecil dari anjing yang pernah menyelamatkan hidupnya.
Sebenarnya, Moeba tidak hanya memiliki satu anak.
Ada satu lagi bernama Oriot.
Namun berbeda dengan BenBen, Oriot kini sedang dilatih sebagai anjing militer. Sifatnya jauh lebih serius dan tenang, persis seperti Moeba. Bahkan sejak kecil Oriot sangat menyukai menonton prajurit latihan militer.
Jaiden sering bercanda bahwa Oriot ingin menjadi pahlawan seperti ayahnya.
Sedangkan BenBen… meskipun wajahnya sangat mirip dengan Moeba, sifatnya justru jauh lebih hangat dan manja.
BenBen sebenarnya juga pernah menjalani pelatihan militer bersama Oriot. Kepintarannya sangat tinggi, bahkan respons fisiknya jauh di atas anjing biasa.
Namun sayangnya… ia terlalu lengket pada Zoya.
Setiap kali Zoya pergi, BenBen akan terus mengikutinya sambil merengek. Bahkan saat masih kecil, ia pernah kabur dari area latihan hanya untuk mencari Zoya.
Pada akhirnya, semua orang menyerah… Dan BenBen tetap tinggal di sisi Zoya sampai sekarang.
Jadi melihat BenBen tumbuh sehat dan bahagia di sisi Zoya sudah cukup baginya.
Meski begitu… setiap kali bertemu BenBen, tatapan Jaiden selalu tanpa sadar menjadi lembut.
Setelah selesai memasak, Zoya membawa satu per satu hidangan keluar dari dapur.
Aroma makanan langsung memenuhi seluruh apartemen.
Ikan saus mentega dengan permukaan keemasan, sup hangat yang masih mengepul, tumis udang pedas favorit Jaiden, hingga dessert kecil buatan tangan yang terlihat cantik seperti dijual di restoran mahal.
Melihat meja penuh makanan itu, suasana hati Jaiden langsung membaik seketika.
Sejak kecil, ia selalu tahu kemampuan memasak adiknya sangat luar biasa.
Zoya adalah seorang foodie sejati. Ia sangat suka mencoba berbagai resep dan biasanya hanya memasak makanan yang benar-benar ingin ia makan sendiri.
Dan yang paling penting…di rumah, gadis ini sangat pelit. Ia hanya memasak jika dalam suasana hati yang baik.
Karena itulah, setiap kali berhasil makan masakan buatan Zoya, Jaiden selalu merasa sangat puas.
Bahkan sepanjang makan malam, sudut bibirnya tidak pernah turun. Sementara itu, Arlo diam-diam memperhatikan semuanya.
Ia melihat bagaimana Jaiden dengan alami mengambilkan sup untuk Zoya.
Bagaimana Zoya dengan santai menyuruh Jaiden menuangkannya minuman.
Dan bagaimana BenBen tidur nyaman di kaki mereka berdua seperti sudah terbiasa dengan suasana itu.
Semakin melihatnya… semakin muncul rasa tidak nyaman di hati Arlo.
Setelah menghabiskan hampir seharian di apartemen Zoya dan menikmati makan malam buatan tangan gadis itu, Jaiden dan Arlo akhirnya bersiap pulang.
Lift pribadi apartemen sudah terbuka… Namun sebelum Jaiden masuk, Arlo tiba-tiba membuka suara.
Tatapannya dingin dan serius.
“Zoya berbeda dengan wanita-wanitamu di luar sana.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan pelan,
“Jauhi dia.”