NovelToon NovelToon
JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

JEJAK LUKA DI BALIK SENYUMAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Menjadi Pengusaha / Preman
Popularitas:898
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Dyon Syahputra, anak yatim piatu yang hidup dari kerja serabutan, harus menghadapi perundungan sadis di SMA Negeri 7. Ketika ia jatuh cinta pada Ismi Nur Anisah—gadis dari keluarga kaya—cinta mereka ditolak mentah-mentah. Keluarga Ismi menganggap Dyon sampah yang tidak pantas untuk putri mereka. Di tengah penolakan brutal, pengkhianatan sahabat, dan kekerasan tanpa henti dari Arman, Edward, dan Sulaiman, Dyon harus memilih: menyerah pada takdir kejam atau bangkit dari nol membuktikan cinta sejati bisa mengalahkan segalanya.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: ISMI MULAI DEKAT

#

Pagi itu Dyon bangun jam empat—telat sejam dari biasanya. Tubuhnya masih remuk, rusuk masih nyeri tiap kali napas. Tapi... dia tetep bangun. Tetep paksa diri.

Nggak kerja cuci motor hari ini—Pak Soleh dia kasih tau lewat SMS kalau dia sakit. Pak Soleh cuma bales: "Istirahat yang cukup ya, Nak. Semoga cepat sembuh."

Orang baik masih ada. Dikit. Tapi ada.

Dyon mandi air dingin—gigil, tapi dia tahan. Pake seragam yang sama—belum sempet nyuci, jadi ya masih bau keringetan dikit. Tapi udahlah. Ditutup-tutupin pakai minyak wangi sachet yang dia beli Rp 1.000 di warung.

Berangkat ke sekolah jalan kaki. Pelan. Setiap langkah bikin rusuk nyeri—tapi dia tetep jalan. Nggak ada pilihan lain.

Sampai di gerbang sekolah, dia lihat mereka.

Arman. Edward. Sulaiman.

Berdiri di tempat biasa—deket gerbang, ngrokok sembunyi-sembunyi di balik tembok. Mereka lihat Dyon. Senyum miring.

Jantung Dyon langsung dag-dig-dug. Tangannya ngepal—bersiap. Kalau mereka nyerang lagi...

Tapi... nggak.

Arman cuma ketawa—keras, ngejekin. "Wah, bangke ini masih hidup! Gue kira udah mati di gudang!"

Edward nyengir. "Kayak kecoa emang. Susah mati."

Sulaiman diem aja. Nonton. Ada... sesuatu di matanya. Ragu? Bersalah? Tapi cuma sedetik. Terus dia alisnya naik, senyum ikutan—meskipun senyumnya kayak dipaksa.

Dyon jalan terus. Nggak nengok mereka. Nggak jawab. Cuma jalan—masuk sekolah, ke kelas.

Duduk di bangku paling belakang. Meja yang udah dicoret-coret "DYON SAMPAH" pakai spidol. Dia usap pakai tangan—nggak ilang. Ya udah. Biarin.

Buka buku pelajaran. Matematika. Integral. Nggak ngerti. Angka-angka kayak alien di matanya.

Tapi dia tetep baca. Tetep coba pahamin. Karena... apa lagi yang bisa dia lakukan?

Bel istirahat pertama bunyi. Anak-anak pada keluar—berisik, berebut ke kantin. Dyon tetep duduk. Perut keroncongan sih—tapi dia tahan. Masih ada uang Ismi—tapi dia nggak mau boros. Mending ditabung buat bayar listrik gubuk.

Dia buka buku lagi. Coba fokus.

"Dyon."

Suara lembut dari depan.

Dyon ngangkat kepala.

Ismi.

Berdiri di depan meja, pegang kotak makan plastik warna pink. Senyum tipis—malu-malu.

"Ismi?" Dyon berdiri cepat—terus meringis, rusuk protes. "Kamu... kamu kenapa ke sini?"

"Aku... aku bawain bekal," kata Ismi pelan. Mukanya merah—kayak malu. "Tadi pagi aku masak extra. Buat... buat kamu."

Dyon terdiam. Nggak tau harus bilang apa.

Ismi taruh kotak makan di meja Dyon. Buka tutupnya—nasi putih pulen, ayam goreng yang masih anget, tumis kangkung, telur dadar. Wanginya... astaga, wanginya bikin perut Dyon langsung bunyi keras.

"Ismi... ini... ini banyak banget—"

"Makan aja," Ismi potong. Dia tarik kursi sebelah Dyon—duduk. Dekat. Jarak cuma beberapa senti. "Kamu... kamu kurus, Dyon. Harus makan yang banyak biar cepet sembuh."

Dyon lihat makanan itu. Terus lihat Ismi. Matanya panas—mau nangis lagi.

"Kenapa... kenapa kamu baik banget?" bisiknya.

Ismi senyum lebar—hangat. "Karena... karena aku peduli."

Peduli.

Dyon ambil sendok dengan tangan gemetar. Mulai makan—pelan. Nasi masuk mulut—lembut, gurih. Ayam goreng renyah di luar, lembut di dalam. Enak. Enak banget.

Dia nggak sadar air matanya ngalir—turun ke pipi, netes ke nasi.

"Eh, kenapa nangis?!" Ismi panik. "Nggak enak ya? Maaf, aku... aku masih belajar masak, mungkin—"

"Enak," Dyon potong. Suaranya serak. "Enak banget, Ismi. Ini... ini makanan paling enak yang pernah aku makan."

Ismi tersenyum lega. Tangannya ngelap air mata Dyon pakai ujung jilbab—lembut. "Kalau gitu makan yang banyak. Nggak usah nangis."

Dyon makan sambil sesekali ngelap mata. Ismi cuma nonton—senyum kecil, seneng liat Dyon makan.

Dari pojok mata, Dyon sadar... ada yang nonton mereka.

Anak-anak kelas sebelah. Bisik-bisik. Ada yang nunjuk-nunjuk. Ada yang ketawa kecil.

"Eh, liat tuh... Ismi duduk sama Sampah."

"Gila, dia kenapa sih? Kasihan banget."

"Mungkin lagi main-main doang. Nggak mungkin lah serius."

Dyon dengar semuanya. Dadanya sesak—malu, marah, sedih campur jadi satu.

Tapi Ismi... Ismi kayak nggak denger. Atau pura-pura nggak denger. Dia tetep duduk di sana—tenang, senyum.

"Ismi," kata Dyon pelan. "Kamu... kamu nggak malu duduk sama aku?"

Ismi nengok—bingung. "Malu? Kenapa harus malu?"

"Karena... karena aku ini sampah. Kamu... kamu anak orang kaya. Cantik. Pintar. Kamu... kamu nggak pantas—"

"Diam," Ismi potong—tegas tapi lembut. Matanya natap Dyon dalam-dalam. "Jangan pernah bilang kamu nggak pantas. Manusia itu sama di mata Allah, Dyon. Yang beda cuma takwanya. Dan aku... aku yakin takwamu jauh lebih baik dari orang-orang yang ngaku sholeh tapi hatinya busuk."

Dyon terdiam.

Ismi senyum lagi. "Lagipula... aku suka duduk sama kamu. Kamu... kamu beda. Kamu jujur. Nggak pura-pura."

Hati Dyon... hangat. Hangat banget sampe dadanya sesak.

Mereka ngobrol—pelan, santai. Tentang pelajaran. Tentang guru yang galak. Tentang hal-hal kecil yang bikin Dyon ketawa—pertama kalinya ketawa beneran sejak lama.

"Eh, Dyon," kata Ismi tiba-tiba. Mukanya serius. "Kamu... kamu punya cita-cita nggak?"

Dyon berhenti kunyah. Cita-cita?

"Dulu... dulu aku pengen jadi arsitek," jawab Dyon pelan. Matanya kosong—ngeliatin langit-langit kelas. "Pengen bangun rumah-rumah bagus. Pengen... pengen bangun rumah buat orang-orang miskin kayak aku. Gratis. Biar mereka nggak tidur di gubuk lagi."

Ismi tersenyum—mata berbinar. "Bagus banget! Terus kenapa sekarang nggak?"

"Karena... karena itu mustahil," Dyon tertawa pahit. "Arsitek butuh kuliah. Kuliah butuh uang. Uang... aku nggak punya. Jadi... jadi mimpi itu cuma mimpi. Nggak akan pernah jadi kenyataan."

Ismi geleng keras. Tangannya pegang tangan Dyon—erat.

"Nggak ada yang mustahil, Dyon," katanya tegas. Matanya serius. "Kamu cuma perlu percaya sama dirimu sendiri. Allah nggak akan sia-siain usaha orang yang berjuang. Kamu... kamu harus terus berusaha. Terus berdoa."

"Tapi—"

"Nggak ada tapi," Ismi senyum. "Aku percaya sama kamu. Kamu... kamu pasti bisa."

Dyon menatap Ismi lama. Mata cewek ini... penuh keyakinan. Penuh... harapan.

Dan entah kenapa... Dyon mulai percaya juga.

"Kamu?" tanya Dyon. "Kamu punya cita-cita apa?"

"Dokter," jawab Ismi cepat. Mukanya berseri. "Aku pengen jadi dokter. Pengen nolong orang-orang yang sakit. Terutama... terutama yang nggak punya uang buat berobat. Aku pengen mereka tetep bisa sehat meskipun nggak punya apa-apa."

Dyon senyum—tulus. "Kamu... kamu pasti jadi dokter yang hebat."

"Kita berdua," Ismi pegang tangan Dyon lebih erat. "Kita berdua pasti berhasil. Kamu jadi arsitek. Aku jadi dokter. Terus kita... kita bantu orang-orang yang susah. Bareng-bareng."

Bareng-bareng.

Kata itu bikin hati Dyon penuh. Kayak ada yang ngisi ruang kosong yang udah lama banget nggak tersentuh.

Mereka senyum—bersamaan. Tanpa sadar, jari-jari mereka masih bertautan di atas meja.

Dan saat itu...

Dyon ngerasa.

Ngerasa ada cahaya.

Cahaya pertama di hidupnya yang gelap gulita.

Cahaya bernama Ismi.

---

**BERSAMBUNG**

**HOOK:** *Tapi cahaya itu terlalu terang. Dan di dunia penuh kegelapan ini—cahaya yang terlalu terang selalu jadi target pertama untuk dipadamkan.*

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏
Dri Andri: Terima kasih semoga sehat selalu ya... simak kisah kelanjutannya dan jangan lupa cek juga cerita lainnya barang kali ada yg lebih cocok dan lebih seru
total 1 replies
checangel_
Nangis dalam diam itu, sekuat apa sih batinnya 🤧🤭
Dri Andri: 🤣 gimana caranya
total 3 replies
checangel_
Belum nikah, tapi sudah layaknya suami istri /Sob/
checangel_
Lelah hati lebih melelahkan dari semua lelah yang menyapa di dunia ini😇, karena yang tahu hanya dirinya sendiri
checangel_
Janji mana yang kau lukiskan, Dyon/Facepalm/ janji lagi, lagi-lagi janji 🤭
checangel_
Dengar tuh kata Dyon, kesempatan kedua tidak datang untuk yang ketiga /Facepalm/
Dri Andri
seperti kisah cinta ini maklum cinta monyet
checangel_
Iya musuh, kalian berdua tak baik berduaan seperti itu, bukan mahram /Sob/
Dri Andri: tenang cuma ngobrol biasa ko gak ada free nya 😁🤣😁🤣😁
total 3 replies
checangel_
Ismi, .... sebaiknya jangan terlalu lelap dalam kata 'cinta', karena cinta itu berbagai macam rupa /Facepalm/
checangel_
Sampai segitunya Ismi🤧
checangel_
Nggak semua janji kelingking dapat dipercaya, maka dari itu janganlah berjanji, jika belum tentu pasti, Dyon, Ismi /Facepalm/
checangel_
Ingat ya, kisah cinta di masa sekolah itu belum tentu selamanya, bahkan yang bertahan selamanya itu bisa dihitung 🤧
checangel_
Ismi kamu itu ya /Facepalm/
checangel_
Nah, tuh kan, jadi terbayang-bayang sosok Ismi /Facepalm/. Fokus dulu yuk Fokus /Determined/
checangel_
Jangan balas dendam ya/Sob/
Dri Andri: balas dendam dengan bukti... bukti dengan kesuksesan dan keberhasilan bukan kekerasan💪
total 1 replies
checangel_
Jangan janji bisa nggak/Facepalm/
checangel_
Jangan gitu Dyon, mencintai itu wajar kok, mereka yang pergi, karena memang sudah jalannya seperti itu 😇
checangel_
Bisa kok, tapi ... nggak semudah itu perjuangannya 🤧, karena jurusan itu memang butuh biaya banyak/Frown/
checangel_
Ismi kamu ke realita aja gimana? banyak pasien yang membutuhkan Dokter sepertimu /Smile/
checangel_
Iya Dyon, don't give up!/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!