Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Mama Prameswari keluar dari kamar dengan bahu yang merosot, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan hari.
Ia duduk di bangku tunggu rumah sakit, bersandar di bahu Angela yang terus mencoba menguatkannya.
Keduanya hanya bisa terdiam, mendengarkan deru napas rumah sakit yang dingin.
Sementara itu, Abi kembali masuk ke dalam ruang perawatan.
Ia duduk di kursi kayu yang sama, menatap punggung Liana yang masih meringkuk membelakangi pintu.
Abi tidak bicara, ia hanya ingin berada di sana, memastikan istrinya masih bernapas, meski ia tahu kehadirannya mungkin adalah alasan Liana menutup diri.
Sore pun tiba, matahari senja yang berwarna jingga pucat menyelinap masuk melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang di lantai kamar.
Seorang perawat masuk dengan langkah ringan, membawa nampan baru berisi makanan hangat dan segelas susu.
"Selamat sore, Nyonya Liana," sapa perawat itu dengan ramah, mencoba mencairkan suasana.
Ia meletakkan nampan itu di atas meja dorong.
"Waktunya makan sore. Menunya hari ini enak sekali, ada sup hangat. Ayo, makan sedikit ya?"
Perawat itu mendekat, mencoba membantu Liana untuk duduk, namun Liana tetap pada posisinya. Tubuhnya kaku seperti batu.
"Li, ayo makan. Mas bantu ya?" Abi mencoba memegang tangan Liana, namun Liana sedikit menarik tangannya, tanda penolakan yang halus namun sangat menyakitkan.
"Nyonya, Anda harus ingat bahwa ada janin yang membutuhkan asupan nutrisi. Jika Anda tidak makan, bayi Anda akan sangat lemah," perawat itu mencoba mengingatkan dengan nada penuh permohonan.
Liana tetap diam. Ia tidak memberikan jawaban, tidak pula membuka mata.
Baginya, kata-kata tentang "bayi" atau "nutrisi" justru membuatnya semakin ingin menutup diri.
Ia merasa dunia terus memaksanya untuk memikirkan orang lain—memikirkan janin itu, memikirkan perasaan Mamanya, memikirkan penyesalan Abi—sedangkan tidak ada yang benar-benar mengerti bahwa jiwanya sudah mati rasa.
Kamar itu kembali jatuh dalam keheningan yang menyesakkan.
Abi menunduk, menatap lantai dengan perasaan kalah yang amat sangat.
Ia mulai menyadari bahwa memberikan kebebasan pada Liana mungkin bukan sekadar menceraikan Genata, melainkan benar-benar menghilang dari pandangan Liana selamanya.
Abi menghela napas berat. Ia mengambil sendok, mencoba mengaduk pelan sup hangat yang dibawa perawat tadi agar aromanya tercium.
Ia berlutut di samping ranjang Liana, mencoba mencari celah untuk melihat wajah istrinya yang selalu dipalingkan.
"Li, sedikit saja. Dua suap saja ya?" bujuk Abi dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti rintihan.
"Mas tahu kamu marah, Mas tahu kamu benci melihat wajah Mas. Tapi tolong, jangan hukum tubuhmu sendiri."
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama membisu, bibir Liana yang kering dan pucat itu bergerak.
"Aku tidak lapar," ucap Liana singkat. Suaranya terdengar sangat dingin, datar, dan tanpa emosi sedikit pun.
Mendengar suara Liana, jantung Abi berdegup kencang. Setidaknya Liana merespons, meski kata-katanya menyakitkan.
"Kamu belum makan dari pagi, Sayang. Perutmu kosong, nanti kamu sakit kepala lagi. Ingat anak kita..."
Liana perlahan membuka matanya, lalu menoleh menatap Abi dengan tatapan yang sangat tajam sekaligus kosong."Anak kita?" Liana mengulang kata itu dengan nada sinis
"Kamu hanya peduli pada anak ini, kan? Kamu takut 'mesin' ini rusak sebelum menghasilkan apa yang kamu mau?"
"Bukan begitu, Li! Aku peduli padamu! Aku mencintaimu!" seru Abi putus asa.
"Kalau kamu mencintaiku, kamu akan membiarkan aku tenang. Aku tidak lapar karena hatiku sudah kenyang dengan semua sandiwara ini," Liana kembali memejamkan mata dan menarik selimutnya sampai ke dagu.
"Keluar, Mas. Aku mau tidur."
Abi terpaku dengan tangan yang masih memegang sendok.
Ia menyadari bahwa rasa lapar fisik Liana sudah mati, terkalahkan oleh rasa sakit hati yang teramat dalam.
Setiap suapan yang ia tawarkan justru terasa seperti racun bagi harga diri Liana.
Pintu kamar terbuka dengan derap langkah yang tegas.
Dokter spesialis kandungan masuk diikuti oleh dua orang perawat yang membawa peralatan medis tambahan.
Wajah dokter tersebut tampak tidak lagi bisa berkompromi setelah melihat laporan asupan nutrisi Liana yang kosong sejak kemarin.
"Nyonya Liana, kondisi Anda sudah masuk dalam tahap mengkhawatirkan," ujar dokter itu sambil memeriksa denyut nadi Liana yang semakin lemah.
"Asam lambung Anda meningkat, dan janin Anda mulai menunjukkan tanda-tanda stres karena kekurangan glukosa dari ibunya."
Liana tetap diam, menatap langit-langit kamar dengan pandangan hampa.
"Jika Anda terus menolak makan secara sukarela, kami tidak punya pilihan lain demi prosedur penyelamatan nyawa," lanjut dokter dengan nada serius.
"Kami akan memasang selang NGT—selang makan yang dimasukkan melalui hidung langsung ke lambung Anda—untuk menyalurkan nutrisi cair secara paksa."
Mendengar kata "selang" dan "paksa", mata Liana yang tadinya sayu seketika membelalak.
Ada kilat ketakutan sekaligus penolakan yang sangat kuat di sana.
"Tidak..." bisik Liana parau.
Ia menggelengkan kepalanya dengan lemah namun berkali-kali.
"Jangan, aku tidak mau."
"Kami harus melakukannya, Nyonya. Ini demi keselamatan janin Anda," tegas perawat sambil mulai menyiapkan selang plastik tipis yang tampak mengerikan bagi Liana.
"Tidak! Jangan sentuh aku!" Liana mencoba menggerakkan tangannya yang lemas untuk menutupi wajahnya.
"Aku tidak mau ada benda asing lagi masuk ke tubuhku! Pergi!"
Abi yang melihat pemandangan itu merasa hatinya seperti disayat sembilu.
Ia melihat ketakutan yang luar biasa di mata istrinya.
Ia maju ke depan, mencoba menghalangi perawat sejenak.
"Dok, tolong beri saya waktu lima menit lagi," mohon Abi dengan suara gemetar.
"Saya akan mencoba membujuknya sekali lagi. Saya mohon, jangan gunakan selang itu sekarang, itu akan semakin membuatnya trauma."
Dokter menghela napas, melihat jam tangannya.
"Lima menit, Tuan Abi. Jika setelah ini dia tetap menutup mulutnya, kami harus bertindak. Kami tidak bisa membiarkan nyawa janin ini terancam lebih lama."
Abi berlutut di samping ranjang Liana, menggenggam tangan istrinya yang dingin.
"Li... dengar Mas. Mas mohon kali ini saja. Makanlah satu suap saja agar mereka tidak memasang selang itu. Mas tidak tega melihatmu kesakitan lagi, Li. Tolong..."
Abi mengembuskan napas lega yang luar biasa saat melihat Liana akhirnya mau membuka mulutnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru, ia menyuapkan sesendok kecil bubur ke mulut istrinya.
Air mata Liana jatuh membasahi pipinya saat ia mengunyah makanan itu dengan susah payah, bukan karena rasa makanannya, tapi karena rasa sakit di hatinya yang belum juga padam.
Setelah suapan ketiga, Liana memalingkan wajahnya sejenak.
Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan yang masih pucat.
"Aku mau martabak telur," bisik Liana lirih.
Abi tertegun sejenak. Permintaan itu terdengar sangat sederhana, namun bagi Abi, itu adalah tanda bahwa Liana mulai memiliki keinginan untuk bertahan hidup. Ia segera mengangguk cepat.
"Iya, Sayang. Apapun. Mas carikan sekarang juga," jawab Abi penuh semangat.
Abi segera bangkit dan keluar dari kamar untuk mencari dokter yang tadi berjaga.
Ia menemukan dokter tersebut di meja perawat sedang menulis rekam medis.
"Dokter, istri saya mau makan martabak telor. Apakah boleh? Dia baru saja makan beberapa suap bubur," tanya Abi dengan nada penuh harap.
Dokter itu mendongak dan tersenyum tipis melihat gurat harapan di wajah Abi.
"Sebenarnya untuk pasien yang baru saja pulih dari trauma dan gangguan pencernaan, makanan berminyak seperti itu harus dihindari. Tapi, melihat kondisi psikis Nyonya Liana yang sangat menolak makanan, ini adalah kemajuan besar."
Dokter itu mengangguk. "Boleh, silakan dibelikan. Tapi ingat, Tuan Abi, hanya sedikit dulu. Jangan biarkan dia makan terlalu banyak karena lambungnya masih sangat sensitif. Pastikan juga martabaknya tidak terlalu pedas."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak!"
Abi segera berlari menuju parkiran dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Ia merasa seolah martabak telur itu adalah kunci untuk membawa kembali Liana-nya.
Ia memacu mobilnya mencari kedai martabak terbaik, bertekad memberikan apapun yang diinginkan istrinya agar Liana tidak lagi berpikir untuk pergi selamanya.
Abi masuk ke dalam kamar dengan napas sedikit tersengal, membawa kantong kertas yang masih terasa hangat.
Aroma harum rempah dan telur dari martabak itu seketika memenuhi ruangan yang sebelumnya hanya berbau obat-obatan.
Ia melihat Liana masih bersandar di bantal, menatap kosong ke arah jendela. Namun, saat mencium aroma makanan tersebut, ada sedikit pergerakan di mata Liana.
"Li, ini martabaknya. Mas sudah belikan yang paling enak," ucap Abi pelan sambil membuka kotak martabak itu dengan hati-hati.
Ia memotong satu bagian kecil, memastikan bagian pinggirnya yang renyah tidak terlalu tajam untuk mulut Liana yang sedang sensitif.
Dengan penuh kesabaran, Abi meniup potongan itu agar suhunya pas.
"Ayo, Sayang. Pelan-pelan saja," Abi menyodorkan potongan kecil itu ke bibir Liana.
Liana membuka mulutnya sedikit, menerima suapan itu.
Ia mengunyah dengan sangat pelan. Rasa gurih martabak itu seolah menjadi satu-satunya hal nyata yang ia rasakan setelah berhari-hari hidup dalam kehampaan. Namun, setiap kunyahan itu diiringi oleh tetesan air mata yang kembali jatuh ke pipinya.
"Enak?" tanya Abi lembut, mencoba mencari sedikit saja senyuman di wajah istrinya.
Liana tidak menjawab. Ia menelan martabak itu dengan susah payah, lalu bergumam pelan,
"Mas..."
"Iya, Li? Mau lagi?"
Liana menatap mata Abi dengan sorot mata yang masih menyimpan luka mendalam.
"Setelah aku makan ini, biarkan aku pulang ke rumah Mama. Aku tidak mau kembali ke rumah itu. Terlalu banyak darah dan air mata di sana."
Tangan Abi yang memegang potongan martabak berikutnya seketika membeku.
Ia tahu "rumah itu" adalah tempat di mana semua penderitaan Liana bermula.
Permintaan Liana adalah sebuah pengingat bahwa meskipun ia sudah menceraikan Genata, bekas luka di hati Liana tidak akan bisa sembuh hanya dengan sepotong makanan.