"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Sunyi
Masih di ruangannya, setelah Rania keluar…
Radit kembali duduk, tangannya memijat pelipis. Namun, belum lima menit berlalu, ponselnya kembali bergetar.
Reyhan. Lagi.
Dengan malas, Radit menjawab, “Kenapa, lagi?”
“Sorry ganggu. Barusan Papa nelpon aku.”
“Ngomong apa lagi?”
“Kayaknya dia lagi semangat banget urus warisan dan saham itu. Dan—ya, dia pengen ajak dinner kita semua.”
Radit mengerutkan alis. “Dinner?”
"Iya. Sama kamu. Dan... calon istrimu.”
Radit terdiam.
Reyhan melanjutkan, “Katanya, Papa pengen kejelasan soal rencana kalian. Soalnya kemarin cuma ngobrol sebentar. Lagipula... kamu tahu, kalau Papa udah penasaran, susah banget buat ditolak.”
“Aku gak bisa janji cepat,” ucap Radit akhirnya.
"Lho? Bukannya dia calon istrimu? Harusnya gampang dong.”
Radit berpikir cepat, lalu menjawab, “Dia sibuk. Pekerjaannya padat, dan semua hal harus dijadwalkan jauh-jauh hari. Kamu harus tahu, dia bukan perempuan pengangguran yang siap diajak dinner dadakan.”
Reyhan tertawa pelan di seberang. “Oke, tenang. Aku cuma sampaikan. Tapi tolong kabarin Papa ya. Soalnya beliau minta dalam minggu ini.”
“Kalau bukan weekend, jangan harap dia bisa.”
“Ya udah, kamu atur aja. Tapi jangan ngilang. Kalau dia beneran calon istrimu, bujuk dia sebisanya”
Radit hanya mengangguk pelan, meskipun Reyhan tak bisa melihatnya.
“Oke. Aku tutup ya. Ada kerjaan .”
“Reyhan...” panggil Radit sebelum Reyhan menutup.
“Hmm?”
“Papa ngasih tahu apa aja soal Soraya?"
“Namanya doang, itu juga gak sengaja kedengeran. Kenapa?”
“Gak apa-apa. Jangan sampai ganggu dia. Biar aku yang urus semuanya.”
“Tenang aja. Aku diem. Lagian... Papa juga kayaknya gak bakal gangguin dia.”
Radit mengangguk lega. “Thanks.”
Selesai panggilan.
Radit menyandarkan tubuhnya. Otaknya langsung bekerja keras. Dinner? Secepat ini?
Ia segera mengambil ponselnya. Mencari nama “Rania” alias "Soraya", lalu mengirim pesan:
"Ada rencana baru. Papa ngajak dinner minggu ini. Sama kamu. Urgent."
Beberapa saat...
"Hah?? Dinner keluarga lagi?"
"Iya. Dan dia maunya cepet. Makin tertarik sama sisi kamu sebagai ‘Soraya’."
"Astaga Radit. Kita bahkan belum siap..."
"Justru itu. Makanya aku kabarin dari sekarang. Kita harus bikin waktu, siapin cerita, dan... atur identitas kamu biar gak bocor."
Radit menunggu...
"Gimana kalau Reyhan ikut dinner?"
"Nah, itu dia masalahnya."
Pesan terhenti. Tak lagi ada balasan dari Rania. Mungkin perempuan itu bingung, atau takut.
---
Siang harinya...
Suasana kantor terasa tenang hari ini. Tidak banyak proyek besar yang harus dikejar. Beberapa staf asik makan siang, yang lain ada yang beristirahat di ruang lounge.
Rania memilih tetap duduk di ruang kerjanya, menyesap kopi hangat sambil menatap layar laptop yang terbuka.
Namun, belum sempat ia kirim hasilnya ke email atasan…
DING!
Layar laptop menampilkan notifikasi internal message dari Radit Mahendra.
“Lagi sibuk?”
Rania mengerutkan alis, lalu membalas tanpa banyak ekspresi:
“Sedikit.”
“Kamu bisa tolong bawa hardcopy laporan Q3 ke ruanganku sekarang?”
“Emang kamu gak bisa ambil sendiri?”
“Nanti kalo aku ke sana, kamu bisa aku ambil sekalian.”
Rania hampir tersedak kopinya.
Ia berdiri cepat, lalu berjalan menuju printer.
---
Di Ruang Radit, 12.43.
Rania membuka pintu, menatap ruangan itu yang sudah diberi tanda "Meeting Internal". Hanya mereka berdua. Lagi.
“Aku tahu kamu bukan tipe bos yang rajin jalan,” ucap Rania sambil menyodorkan map.
“Karena aku tahu, kamu bakal datang kalau aku yang minta,” jawab Radit santai.
Rania meletakkan map di atas meja, lalu hendak berbalik.
“Sebentar.”
“Hmm?”
“Aku... cuma pengen lihat kamu,” ucapnya pelan. “Kayaknya seminggu terakhir ini kamu lebih sering menghindar.”
“Enggak kok,” ucap Rania sambil menatap ke jendela. “Aku cuma sibuk.”
Radit mendekat. Napasnya mulai terasa di leher Rania. Ruangan sunyi.
“Kalau aku cium kamu sekarang… kamu marah nggak?” bisik Radit, nyaris tak terdengar.
Rania menelan ludah.
“Kalau aku marah, kamu yakin bakal berhenti?”
Radit mengerling. “Tergantung marahnya kayak gimana.”
Dan sebelum Rania sempat membalas, Radit menyambar bibirnya. Lembut. Perlahan.
Ciuman itu cukup lama, membuat Rania kehilangan pijakan selama beberapa detik.
“Radit…”
“Iya?”
“Kita masih di kantor.”
“Aku tahu. Makanya aku gak bawa kamu ke sofa. Belum.”
Rania menggeleng, lalu mendorong pelan dada Radit.
“Aku harus kerja lagi.”
Radit tidak menahan.
Ia hanya berkata, “Jam 6 nanti, aku yang anter kamu pulang. Ada tugas tambahan yang harus kamu kerjain."
“Hmm. Aku belum tentu pulang jam 6.”
“Gak apa-apa. Aku bakal tunggu.”
Rania tak menjawab. Ia hanya melangkah pelan, membuka pintu… lalu sebelum benar-benar keluar, ia menoleh dan berucap:
“Pak Radit Mahendra.”
“Ya?”
“Kalau kamu makin begini, aku bisa makin gak profesional.”
Radit tersenyum menantang.
“Buktikan.”