Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kabar pernikahan sang mantan
Kabar pernikahan sang mantan yang tidak sengaja ia dengar dari siaran radio di dalam bus seolah menjadi bumbu pelengkap bagi penderitaannya yang sudah mencapai puncak. Anindira mencengkeram pegangan kursi bus yang bergetar hebat saat suara penyiar itu membacakan pengumuman pertunangan mewah antara Rendy dan Sarah. Jantungnya terasa seperti dihantam oleh palu godam yang sangat besar hingga ia sulit untuk menarik napas barang sejenak saja.
"Selamat kepada Tuan Rendy dan Nona Sarah Adiguna atas rencana pernikahan mereka yang akan digelar secara megah bulan depan," ucap penyiar radio itu dengan nada riang.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir tanpa bisa dibendung lagi hingga membasahi kerudung tua yang ia kenakan. Sarah, adik tirinya sendiri, kini secara resmi telah mengambil satu-satunya pria yang pernah ia cintai dan harapkan menjadi pelindung hidupnya. Ia baru menyadari bahwa pengkhianatan ini sudah direncanakan dengan sangat rapi oleh ibu tiri dan saudaranya sejak lama.
"Apakah Anda baik-baik saja, Mbak? Wajah Anda terlihat sangat pucat," tanya seorang ibu paruh baya yang duduk di sebelah Anindira.
Anindira segera menghapus air matanya dengan gerakan yang sangat cepat dan berusaha memaksakan sebuah senyuman tipis yang getir. Ia tidak ingin menarik perhatian siapa pun di dalam bus yang penuh sesak ini, terutama saat dirinya menjadi incaran banyak orang. Dengan suara yang sangat lirih, ia menjawab pertanyaan ibu itu sambil menatap ke luar jendela yang buram.
"Saya hanya merasa sedikit mual karena guncangan bus ini, Bu, terima kasih sudah bertanya," jawab Anindira sambil membuang muka.
Pikiran Anindira kini dipenuhi oleh kenangan masa lalu saat Rendy berjanji akan menjaganya selamanya di bawah pohon kenari sekolah. Janji-janji itu kini terasa seperti racun yang sangat mematikan dan membakar seluruh sisa harga diri yang ia miliki saat ini. Ia merasa sangat bodoh karena pernah mempercayai pria yang ternyata hanya menginginkan posisi di perusahaan ayahnya melalui jalur pernikahan.
Bus tiba-tiba berhenti secara mendadak di sebuah pemberhentian kecil yang dikelilingi oleh hutan jati yang sangat lebat dan gelap. Beberapa orang pria berpakaian preman naik ke dalam bus sambil membawa selebaran kertas yang sangat ia kenali dari kejauhan. Anindira merasakan seluruh otot di tubuhnya menjadi sangat kaku saat ia menyadari bahwa pengejaran ini tidak akan pernah berakhir dengan mudah.
"Mohon perhatian semuanya, kami sedang mencari seorang wanita yang membawa lari harta benda milik penguasa kota ini!" teriak salah satu pria preman itu dengan suara yang mengancam.
Ibu di sebelah Anindira menatap selebaran itu lalu menatap wajah Anindira secara bergantian dengan tatapan mata yang penuh dengan keraguan. Anindira menahan napasnya dan mulai berdoa di dalam hati agar Tuhan menutupi pandangan orang-orang jahat ini dari keberadaannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba bersikap setenang mungkin meskipun keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.
"Coba periksa wanita yang memakai kerudung cokelat di barisan belakang itu!" perintah pria preman lainnya sambil menunjuk ke arah posisi Anindira.
Jantung Anindira berdegup sangat kencang hingga ia merasa organ itu akan melompat keluar dari dalam rongga dadanya yang terasa sangat sempit. Langkah kaki pria itu terdengar sangat berat dan semakin mendekat ke arah kursinya dengan suara sepatu yang berdecit di atas lantai bus yang kotor. Anindira menutup matanya rapat-rapat sambil memeluk tasnya yang berisi uang sisa hasil penjualan cincin mendiang ibunya.
"Nona, tolong buka kerudung Anda sekarang juga agar kami bisa memastikan identitas Anda yang sebenarnya!" bentak pria itu tepat di depan wajah Anindira.
Ibu paruh baya di sampingnya tiba-tiba berdiri dan menumpahkan sebotol air mineral ke arah celana pria preman tersebut secara tidak sengaja. Kekacauan kecil itu membuat pria tersebut mengumpat dengan sangat kasar dan mengalihkan perhatiannya untuk membersihkan pakaiannya yang basah kuyup. Anindira memanfaatkan momen singkat itu untuk menundukkan kepalanya lebih dalam dan menyelinap ke arah pintu tengah bus.
"Kurang ajar! Lihat apa yang kamu lakukan pada pakaian mahal saya, Ibu tua yang tidak berguna!" maki pria itu dengan wajah yang merah padam.
"Maafkan saya, Pak, saya tadi sedang mengantuk dan botol ini terlepas begitu saja dari genggaman saya," jawab ibu itu dengan nada yang dibuat-buat ketakutan.
Anindira berhasil turun dari bus tanpa disadari oleh para pengejar itu saat mereka masih sibuk berdebat dengan ibu penolong yang sangat baik hati. Ia segera berlari menuju kegelapan hutan jati dan tidak peduli lagi pada arah tujuan bus yang seharusnya membawanya ke pelabuhan penyeberangan. Kakinya yang mulai membengkak terus dipaksa untuk melangkah melewati semak belukar yang berduri tajam dan sangat menyakitkan.
Suara gonggongan anjing pelacak terdengar dari kejauhan dan membuat Anindira menyadari bahwa ayahnya benar-benar tidak main-main dalam memburunya. Ia merasa seperti seekor binatang buruan yang sedang dipojokkan ke arah tebing yang sangat tinggi dan tidak memiliki jalan keluar sama sekali. Namun, dorongan dari dalam perutnya kembali mengingatkannya bahwa ia tidak sedang berjuang sendirian di tengah hutan yang sangat sunyi ini.
"Ibu tidak akan menyerah, kita pasti akan menemukan jalan untuk keluar dari kegelapan ini," bisik Anindira sambil terus merayap di bawah akar pohon besar.
Ia menemukan sebuah lubang kecil di bawah gundukan tanah yang tertutup daun-daun kering dan segera masuk ke dalamnya untuk bersembunyi sementara waktu. Di dalam sana, ia bisa mendengar derap langkah kaki banyak orang yang sedang menyisir area hutan dengan menggunakan lampu senter yang sangat terang. Anindira meringkuk dengan tubuh gemetar hebat sambil memikirkan nasibnya yang kini benar-benar berada di ujung tanduk.
Cahaya senter itu berkali-kali melewati lubang persembunyiannya namun untungnya tumpukan daun kering berhasil menyamarkan keberadaannya dari pandangan para pengejar. Anindira terus menangis tanpa suara sambil memikirkan Rendy yang mungkin saat ini sedang tertawa bahagia bersama Sarah di istana ayahnya. Dunia yang sempit ini seolah terus mengecil dan menjepitnya hingga ia tidak memiliki ruang lagi untuk sekadar menghirup udara kebebasan.