Kehidupan Nadia Clarissa berubah drastis setelah sebuah tragedi merenggut keluarganya. Ia terpaksa berlindung di bawah atap kediaman megah milik pamannya, Bramantya Mahendra, seorang pria kaya raya yang dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, kemewahan itu terasa seperti penjara bawah tanah yang dilapisi emas.
Setiap malam, Nadia merasakan kehadiran Bramantya di ambang pintunya, mengawasi setiap tarikan napasnya saat ia terlelap. Ada rahasia kelam yang disembunyikan Bramantya di balik sikap protektifnya yang berlebihan. Nadia segera menyadari bahwa "tidur" di rumah ini bukanlah sebuah istirahat, melainkan awal dari permainan manipulasi psikologis di mana Bramantya memegang kendali penuh atas kesadarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 SWMU
Malam itu, suasana mansion terasa lebih mencekam dari biasanya, meski lampu-lampu kristal menyala dengan terang benderang. Nadia berada di dalam kamarnya, jantungnya masih berdegup kencang setelah aksi nekat di ruang kerja Bramantya siang tadi. Ia baru saja selesai mengirimkan sisa foto dokumen ke alamat email anonimnya ketika terdengar langkah kaki berat di lorong.
Nadia segera menyembunyikan ponselnya di bawah bantal dan mengatur napas.
Ceklek.
Bramantya masuk. Namun, pria itu tidak tampak seperti biasanya. Tidak ada tatapan penuh gairah atau aura penguasa yang mengintimidasi. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras, dan tangannya mencengkeram ponsel dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Paman? Ada apa?" tanya Nadia, berpura-pura cemas. Ia bangkit dari tempat tidur dan mendekati Bramantya.
Bramantya tidak menjawab. Ia justru melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu adalah bara api yang panas. Nadia melirik ke layar ponsel yang masih menyala. Ada sebuah pesan singkat dari nomor luar negeri yang tidak dikenal.
"Kami tahu kau masih menyimpan 'harta' itu, Bram. Darah lebih kental daripada air, tapi uang jauh lebih menarik daripada keduanya. Kami akan kembali untuk mengambil hak kami. - Yudhistira."
Nadia tertegun. Yudhistira? Ia pernah mendengar nama itu dari arsip lama milik ayahnya. Itu adalah kakak kandung Bramantya yang dikabarkan menghilang setelah perselisihan warisan keluarga Mahendra sepuluh tahun lalu.
"Siapa mereka, Paman?" bisik Nadia, menyentuh lengan Bramantya yang gemetar.
Bramantya tiba-tiba tertawa, suara tawa yang getir dan penuh kebencian. "Keluarga. Mereka menyebut diri mereka keluarga, Nadia. Setelah membuangku saat aku tidak punya apa-apa, setelah meninggalkanku membusuk sendirian mengurus kekacauan ayahku... sekarang mereka kembali."
Ia berbalik dan mencengkeram bahu Nadia, tatapannya liar. "Mereka melihat kesuksesanku! Mereka melihat mansion ini! Mereka ingin merampas apa yang sudah kubangun dengan darah dan air mata!"
Nadia merasakan sakit di bahunya, namun ia tidak menghindar. Ini adalah celah. Sisi rapuh Bramantya yang belum pernah ia lihat. "Tenanglah, Paman. Mereka tidak bisa menyentuhmu di sini."
"Kau tidak tahu mereka, Nadia!" bentak Bramantya. Ia melepaskan bahu Nadia dan mulai berjalan mondar-mandir seperti singa di dalam kandang. "Yudhistira dan ibuku... mereka lebih licik daripada ular. Mereka datang bukan untuk berdamai. Mereka datang untuk menghancurkanku."
Ponsel Bramantya kembali berdenting. Sebuah foto terkirim. Bramantya menyambarnya dan matanya membelalak. Ia menunjukkan layar itu pada Nadia dengan tangan gemetar.
Itu adalah foto sebuah makam. Makam ibu Nadia. Di atas pusaranya, terletak sebuah karpet bunga hitam dengan catatan: 'Sesuatu yang berharga bisa hilang dalam sekejap.'
"Mereka mengancammu lewat ibuku?" tanya Nadia, suaranya bergetar—kali ini kemarahannya nyata.
"Bukan hanya itu," geram Bramantya. "Mereka tahu tentangmu, Nadia. Mereka tahu kau ada di sini. Mereka menganggapmu sebagai kelemahanku."
Bramantya tiba-tiba menarik Nadia ke dalam pelukannya, sangat erat hingga Nadia sulit bernapas. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu. Kau dengar? Kau adalah milikku! Aku lebih baik membakar seluruh kota ini daripada membiarkan mereka mengambilmu dariku!"
Nadia terdiam di dalam pelukan pria itu. Pikirannya berputar cepat. Di satu sisi, ini adalah berita buruk karena keselamatannya terancam oleh pihak ketiga. Namun di sisi lain, ini adalah kesempatan emas. Jika keluarga Bramantya kembali untuk menyerangnya, maka fokus Bramantya akan terbagi.
"Apa yang akan Paman lakukan?" tanya Nadia pelan di dada Bramantya.
Bramantya melepaskan pelukan, matanya kini berkilat penuh tekad yang gelap. "Aku akan memanggil mereka. Aku akan menghadapi mereka sebelum mereka sempat melangkah ke pintu gerbang ini. Tapi aku butuh kau, Nadia. Aku butuh kau tetap di sampingku. Jangan pernah tinggalkan kamar ini tanpa pengawal."
Bramantya berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, mengambil segelas wiski dan meneguknya dalam sekali telan. "Dulu, Yudhistira yang memegang kendali. Dia adalah anak emas. Tapi sekarang... aku yang memiliki kunci brankas Mahendra. Aku yang memegang semua bukti kecurangan mereka di masa lalu."
Nadia teringat dokumen yang ia potret siang tadi. Ternyata dokumen itu bukan hanya tentang bisnis ilegal, tapi juga tentang bagaimana Bramantya menjebak keluarganya sendiri agar ia bisa berkuasa.
"Paman... kenapa mereka begitu membencimu?" tanya Nadia, mencoba menggali lebih dalam.
Bramantya menatap kosong ke arah jendela. "Karena aku adalah cermin dari dosa-dosa mereka. Ayahku menginginkan penerus yang kejam, dan dia mendapatkannya padaku. Yudhistira terlalu lemah untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Jadi aku menyingkirkannya. Aku mengirimnya ke pengasingan dengan sedikit uang agar dia tidak pernah kembali."
Bramantya mendekati Nadia lagi, kali ini ia berlutut di depan Nadia, menyandarkan kepalanya di pangkuan gadis itu. "Hanya kau yang punya hatiku sekarang, Nadia. Jangan biarkan mereka meracuni pikiranmu. Jika mereka menghubungimu, jangan dengarkan."
Nadia membelai rambut Bramantya dengan gerakan mekanis, sementara hatinya dipenuhi rasa jijik. Jadi kau menyingkirkan kakakmu sendiri demi harta ini? pikir Nadia.
"Aku tidak akan pergi, Paman," ucap Nadia bohong. "Tapi Paman harus kuat. Jangan biarkan pesan-pesan itu membuatmu goyah."
Bramantya mendongak, menatap Nadia dengan tatapan memuja yang mengerikan. "Kau benar. Aku adalah Bramantya Mahendra. Tidak ada yang bisa mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
Malam itu, Bramantya tidak tidur. Ia duduk di sofa kamar Nadia dengan pistol di atas meja dan ponsel yang terus ia pantau. Ia terjaga, melindungi "harta" miliknya dari ancaman masa lalu yang mulai membayangi.
Sementara itu, Nadia berbaring di tempat tidur, pura-pura terlelap. Di balik kegelapan, ia menyadari bahwa perang besar akan segera terjadi. Bukan hanya antara dirinya dan Bramantya, tapi antara Bramantya dan monster-monster lain dari masa lalunya.
Bagus, batin Nadia. Biarkan mereka saling menghancurkan. Dan di tengah puing-puing itu, aku akan keluar sebagai pemenang.
Ia meraba liontin emas di lehernya. Pesan dari Yudhistira tadi memberinya ide baru. Jika ia bisa diam-diam berkomunikasi dengan kakak Bramantya itu, mungkin ia bisa mempercepat kehancuran pria yang mengurungnya ini. Namun ia harus sangat berhati-hati. Yudhistira mungkin sama berbahayanya dengan Bramantya.
Fajar mulai menyingsing, namun kegelapan di mansion Mahendra justru terasa semakin pekat. Bramantya akhirnya tertidur karena kelelahan di sofa. Nadia bangkit dengan perlahan, memastikan pria itu benar-benar terlelap.
Ia mengambil ponsel Bramantya yang tergeletak. Ada pesan masuk baru, sebuah alamat hotel di pinggir kota.
"Jam 10 pagi ini. Sendirian. Atau foto makam itu bukan lagi sekadar bunga. - Yudhistira."
Nadia menghapus notifikasi itu agar Bramantya tidak segera melihatnya saat bangun nanti. Ia harus mengatur strategi. Jika Bramantya pergi menemui keluarganya dalam keadaan emosi yang tidak stabil, itulah saat paling tepat bagi Nadia untuk melakukan langkah terakhirnya.
"Paman," bisik Nadia lembut sambil mengusap kening Bramantya yang berkeringat dalam tidurnya. "Bersiaplah. Karena saat kau sibuk menghadapi keluargamu, kau tidak akan menyadari bahwa musuh yang paling nyata ada tepat di depan matamu."