NovelToon NovelToon
Hasrat Majikan

Hasrat Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Selingkuh / Hamil di luar nikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: MomSaa

Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.

Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Duri dan Rahasia yang Menyakitkan

Pagi itu, Jakarta diguyur hujan lebat, seolah langit turut merasakan sesak yang menghimpit dada Almira. Di dalam penthouse mewah yang terletak di lantai tiga puluh itu, suasana terasa mencekam. Aroma kopi espresso yang biasanya memenuhi ruangan kini bercampur dengan aroma parfum maskulin milik Alexander yang tajam, menciptakan kombinasi yang membuat perut Almira bergejolak hebat.

Almira berdiri di depan wastafel kamar mandi, kedua tangannya mencengkeram pinggiran porselen hingga buku-buku jarinya memutih. Ia baru saja memuntahkan cairan bening untuk ketiga kalinya pagi ini. Wajahnya yang biasanya merona meski tanpa riasan, kini tampak seputih kertas. Matanya yang jernih kini digeluti lingkaran hitam, saksi bisu atas malam-malam tanpa tidur yang ia lalui.

Ia meraba perutnya yang masih datar dengan telapak tangan yang gemetar. Ketakutan itu nyata. Siklus bulanannya yang biasanya teratur kini telah terlambat dua minggu. Di tengah segala penderitaan fisiknya, batin Almira jauh lebih tersiksa. Ia merasa seperti pengkhianat bagi dirinya sendiri, bagi ibunya, dan bagi Tuhan. Bagaimana ia bisa menjelaskan pada ibunya kelak, bahwa biaya rumah sakit yang mahal itu dibayar dengan cara seperti ini? Bahwa di dalam rahimnya mungkin sedang tumbuh benih dari seorang pria yang bahkan tidak menganggapnya sebagai manusia?

Almira keluar dari kamar mandi dengan langkah gontai, berusaha menstabilkan napasnya sebelum menghadapi sang majikan. Di ruang makan yang luas, Alexander sudah duduk dengan angkuh. Ia sedang membaca koran digital di tabletnya, sementara tangan kirinya memegang cangkir kopi.

Begitu Almira mendekat untuk menuangkan air putih, Alex tidak menoleh sedikit pun. Namun, suaranya yang dingin segera menyayat keheningan.

"Kau lambat hari ini," ucap Alex tanpa ekspresi. "Apa kau berpikir karena aku membayar operasi ibumu, kau bisa bersantai dan melupakan kewajibanmu?"

"Maaf, Tuan. Saya... saya merasa sedikit kurang enak badan," bisik Almira, suaranya nyaris hilang.

Alex meletakkan cangkirnya dengan dentingan keras yang membuat Almira tersentak. Ia mendongak, menatap Almira dengan pandangan menghina. "Kurang enak badan? Jangan jadikan itu alasan untuk malas. Aku tidak membayar ratusan juta hanya untuk melihatmu bermalas-malasan dengan wajah pucat seperti mayat. Kau di sini untuk melayaniku, bukan untuk menjadi beban tambahan."

Alex bangkit, berjalan mendekati Almira hingga gadis itu terpojok di dekat meja makan. Ia mencengkeram dagu Almira, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam dan tak berbelas kasih.

"Dengar, Almira. Kau harus ingat posisimu. Kau bukan tamu di sini. Kau bukan kekasihku. Kau hanyalah barang yang kubeli. Jika barang itu rusak atau tidak bisa digunakan, aku tidak akan ragu untuk membuangnya. Apa kau mengerti?"

Almira hanya bisa mengangguk pelan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Setiap kata yang keluar dari mulut Alex adalah duri yang menusuk harga dirinya. Pria ini tidak pernah memandangnya dengan rasa hormat. Baginya, Almira tidak lebih dari sekadar alat pelampiasan amarahnya terhadap Elara.

"Bagus," Alex melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Siapkan pakaianku untuk pertemuan malam ini. Dan pastikan kau tidak terlihat menjijikkan saat aku pulang nanti. Aku butuh hiburan, bukan ratapan."

****

Setelah Alex berangkat ke kantor, penthouse itu kembali sunyi, namun bagi Almira, kesunyian itu justru lebih menyakitkan. Ia duduk di lantai kamar, memeluk lututnya sendiri. Di sekelilingnya terdapat kemewahan yang diimpikan banyak orang—pakaian bermerek, perhiasan, dan pemandangan kota yang menakjubkan. Namun baginya, semua itu hanyalah ornamen di dalam penjara emasnya.

Setiap sudut ruangan ini menyimpan memori tentang kekasaran Alex. Di sofa itu, Alex pernah membentaknya karena ia tidak sengaja menjatuhkan segelas anggur. Di ranjang itu, Alex berulang kali menghancurkan kehormatannya sambil menyebut nama wanita lain.

Penderitaan batin Almira mencapai puncaknya ketika ia teringat ibunya. Kemarin, saat ia menjenguk ke rumah sakit, sang ibu tersenyum bahagia dan memuji "kebaikan" Tuan Eduardo.

"Almira, Nak, Tuan Alex itu pasti orang yang sangat mulia. Dia sangat peduli pada rakyat kecil seperti kita," ucap ibunya dengan tulus.

Kalimat itu terasa seperti belati yang diputar di jantung Almira. Ingin rasanya ia berteriak, memberitahu ibunya bahwa pria yang ia sebut mulia itu adalah monster yang setiap malam merobek martabat putrinya. Namun, ia hanya bisa tersenyum getir dan mengangguk. Demi kesembuhan ibunya, Almira harus menelan semua kehinaan itu bulat-bulat.

Ia mulai membersihkan kamar Alex, merapikan kemeja-kemeja sutra yang harganya mungkin bisa menghidupi keluarganya selama setahun. Saat ia sedang merapikan laci nakas, ia menemukan sebuah foto kecil yang terselip. Foto Alex dan Elara yang tampak bahagia. Di sana, Alex tersenyum tulus—senyuman yang tidak pernah ia perlihatkan pada Almira.

"Kau mencintainya begitu besar, Tuan," bisik Almira pada foto itu. "Lalu kenapa kau harus menghancurkan hidupku hanya karena dia tidak menginginkanmu?"

Rasa iri bercampur sedih menyergapnya. Bukan iri karena ia mencintai Alex—ia sangat membenci pria itu—tapi iri karena Elara memiliki kekuatan untuk membuat Alex merasa lemah, sementara ia sendiri bahkan tidak memiliki kekuatan untuk melindungi tubuhnya sendiri.

Sore harinya, mual itu kembali menyerang. Kali ini lebih hebat dari sebelumnya. Almira tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri. Dengan tangan gemetar, ia mengambil alat tes kehamilan yang sempat ia beli secara sembunyi-sembunyi saat di rumah sakit kemarin.

Ia mengunci diri di kamar mandi, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinga. Menunggu hasil tes itu terasa seperti menunggu hukuman mati.

Saat dua garis merah itu muncul secara perlahan, Almira terjatuh di atas lantai marmer yang dingin. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakannya tidak terdengar sampai ke luar.

"Tuhan... apa yang harus kulakukan?" ratapnya dalam hati.

Hamil adalah satu hal yang paling dilarang oleh Alex. Pria itu sudah menegaskan berkali-kali bahwa ia tidak ingin ada keterikatan permanen, apalagi seorang anak. Jika Alex tahu, Almira yakin pria itu akan memaksanya melakukan hal yang mengerikan, atau mungkin mengusirnya dan menghentikan pengobatan ibunya.

Tiba-tiba, suara pintu depan yang terbuka dengan keras mengejutkan Almira. Alex pulang lebih awal. Suara langkah kakinya yang berat terdengar menuju kamar utama.

"Almira! Di mana kau?!" teriak Alex, suaranya terdengar tidak stabil. Sepertinya pria itu sedang dalam kondisi emosional yang buruk lagi.

Almira segera menyembunyikan alat tes itu di dalam saku blusnya dan keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat pasi. Ia melihat Alex berdiri di tengah kamar, dasinya sudah ditarik lepas, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan.

"Tuan... Anda sudah pulang?" tanya Almira gemetar.

Alex berjalan mendekat, aromanya yang khas bercampur dengan bau alkohol tipis menyergap indra penciuman Almira, memicu rasa mualnya kembali. Alex mencengkeram bahu Almira dengan sangat kuat.

"Wanita itu... Elara... dia bertunangan, Almira! Dia bertunangan dengan pria lain!" Alex berteriak tepat di depan wajah Almira. Ia tampak hancur sekaligus mengerikan. "Sepuluh tahun aku menunggunya, dan dia membuangku begitu saja!"

Alex mendorong Almira ke tempat tidur. Ia mulai menciumi leher Almira dengan kasar, gerakan yang lebih mirip serangan daripada gairah. "Hanya kau... hanya kau yang bisa kubayar untuk tetap berada di sini. Kau tidak bisa pergi, kan? Kau butuh uangku untuk ibumu yang penyakitan itu, bukan?"

Almira mencoba mendorong dada Alex karena rasa mual yang sudah sampai di tenggorokan. "Tuan, tolong... saya sedang sakit... jangan sekarang..."

"Diam!" bentak Alex. "Aku tidak peduli kau sakit atau tidak! Aku pemilikmu malam ini, dan aku ingin kau membuatku melupakan Elara!"

Dalam kekasaran Alex malam itu, Almira hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat, memeluk perutnya di dalam hati. Ia merasa sangat hina. Ia merasa seperti wadah sampah tempat Alex membuang segala emosi negatifnya. Namun di balik itu semua, ketakutan terbesarnya adalah keselamatan janin yang baru saja ia ketahui keberadaannya.

Bagaimana jika Alex merasakannya? Bagaimana jika rahasia ini terbongkar di saat Alex sedang kehilangan akal sehatnya seperti ini?

Almira menangis dalam diam, membiarkan tubuhnya diguncang oleh pria yang secara fisik memilikinya, namun secara batin justru menghancurkannya. Di dalam kamar mewah itu, di bawah rembulan yang tertutup awan, dua jiwa terperangkap dalam siklus rasa sakit yang tak berujung—satu jiwa yang terluka karena cinta yang ditolak, dan satu jiwa yang hancur karena dipaksa menjadi tameng dari luka tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!