Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Aku selalu ingat
Untuk kasus orang yang menyebabkan Alicia seperti sekarang, di lepaskan oleh Agha dan di berikan ke Andra untuk di proses secara hukum, jadi sekarang Tio belum di penjara sebab pengadilan belum memutuskan hukuman untuk Tio. Awalnya Agha marah, tapi di cegah sama Andra mengingat sistem hukum di negara nya.
Sekarang Agha sedang ada di cafe shop yang ada di rumah sakit, Helmi datang dengan berkasnya dan mereka sempat zoom meeting sebentar dan akhirnya Agha balik ke ruangan rawat inap Alicia, sebelum itu Agha berhenti sejenak untuk memesan kopi latte untuk menemaninya memeriksa berkas yang di bawa Helmi tadi.
Sampai di ruangan, Agha di sambut sapaan Alicia dan bapak mamak nya lalu Agha duduk di sofa sambil mulai kerja. Saat sedang asik memeriksa berkas, Alicia memanggil dirinya dengan suara yang sangat pelan dan lemah.
"Bang."
"Iya." Ujar Agha melirik sekilas wajah Alicia.
"Boleh ngomong dekat sini, dekat bapak." Tak banyak tanya, Agha langsung turuti apa mau Alicia.
"Kenapa nak?." Tanya mamak nya karena bingung.
"Umah sama Abah belum datang bang?." Tanya Alicia yang membuat semuanya makin bingung.
"Udah di Malaysia kok, bentar lagi sampai, ada apa emang nya?" Jawab Agha dan di akhiri dengan pertanyaan atas maksud Alicia.
"Alice mau ngomong, tapi tunggu umah dan Abah datang."
Tak lama kemudian Abah dan umah datang membawa beberapa makanan dan buah-buahan, setelah itu Alicia meminta ke lima orang itu untuk duduk dan mendengarkan apa yang akan di bicara nya.
"Begini, Alice berpesan untuk kalian agar tidak berharap lebih ke Alice yah, Alice mau minta maaf juga ke kalian atas kesalahan yang di sengaja ataupun tidak, terutama ke mamak dan bapak maaf belum bisa jadi anak yang di banggakan." Ucap Alicia membuat para orang tua memasang wajah bingung, tidak dengan Agha dia memasang wajah marah sampai tangannya mengepal.
Agha tau arah pembicaraan Alicia, rasanya Agha ingin marah tapi dia gak bisa.
"Kamu kenapa ngomong gitu, Alice udah buat mamak dan bapak bangga kok." Ucap mamak.
"Iya nak, kamu gak ada salah sama kami, malah umah yang mungkin masih belum bisa jadi calon mertua yang baik untuk kamu."
"Kamu juga jangan ngomong gitu, kamu pasti sembuh." Ucap bapak meyakinkan Alicia dan yang lain.
"Iya Alice tau, makasih yah semuanya, cuman Alice ngerasa gak kuat untuk nahan sakit nya."
"Kalau gitu Abah panggil dokter yah." Ucap Abah sambil berjalan ke arah pintu namun di cegah sama ucapan Alicia.
"Gak usah Abah. Abang, maafin Alice karena gak bisa temani Abang di masa depan." Agha tidak menjawab, agak lama Agha dia sampai Alicia bicara lagi.
"Bang, Abang marah sama Alice, maaf yah bang."
"Kamu, kapan aku marah, lebih baik kamu jangan bicara omong kosong. Kamu bakalan sembuh, aku akan cari dokter terbaik di dunia sekalipun." Ucap Agha sambil menahan emosi dan air matanya.
"Gak perlu bang, Alice, ugh!." Ucap Alicia sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan bagian jantungnya terasa sesak dan berdetak cepat.
Agha langsung menekan tombol merah yang ada di dekat brankar Alicia, tak lama dokter masuk ke ruangan dengan nafas tersengal. Dokter langsung mengambil tindakan, namun di hentikan Alicia yang ingin bicara ke Agha, Alicia merasa harus mengatakan hal penting ini sebelum waktunya tiba, jika tidak maka akan membuat Agha bersalah dan terpuruk.
"Bang, Alice mohon dengar Alice." Ucap Alicia dengan suara yang makin pelan nyaris tak terdengar jika ada orang yang bersuara.
"Kamu mau ngomong apa?." Agha bertanya dengan kondisi yang lebih parah dari tadi, bahkan sekarang kakinya sudah lemas dan air matanya mengalir deras, katakan Agha cengeng tapi siapapun yang di posisi Agha sepertinya akan sama.
"Kedepannya, setelah Alice gak ada, Alice mohon Abang hidup bahagia yah-." Agah tidak memotong ucapan Alicia dan menunggu ucapan selanjutnya.
"Abang harus lanjutkan hidup abang, jangan berlarut dalam kesedihan yah, Alice ikhlas abang sama perempuan lain, Alice akan minta Allah untuk senantiasa membahagiakan kalian, dan terakhir setelah Alice gak sadarkan diri, Alice mohon jangan buat apapun yang bisa sebabkan tubuh Alice sakit ya bang. Mamak bapak maafin Alice yah, Alice sayang sama kalian."
Setelah mengatakan itu, di monitor Elektrokardiogram/EKG (monitor jantung), terlihat garis yang menunjukkan bahwa detak jantung lemah.
Dokter Ali yang spesial jantung dan dokter yang bertanggung jawab kondisi Alicia, lansung mengambil tindakan darurat.
"Tambah 150 joule." Ucap dokter Ali, asisten nya langsung menambah tekanan serta perawat langsung menambah gel di alat Defibrillator.
"Shock."
Tit...Tit...Tit...
suara dari Elektrokardiogram tetap belum ada kemajuan, di coba menggunakan tangan untuk memacu jantung dan tak hentinya memompa ventilator (pompa oksigen yang bentuknya bulat).
"Suntik epinefrin."
Sebelum melakukan itu, Agha langsung menghentikan dokter Ali, Agha masih ingat betul tadi permintaan Alicia yang tidak mau dapat penanganan saat dirinya tak sadar.
"Udah." Agha mengucapkan dengan nada lemah dan air mata mengalir makin deras.
"Kenapa?." Dokter lagi bertanya seperti orang bingung.
"Dia udah gak ada, dan dia pesan untuk jangan kasih tindakan yang buat tubuhnya sakit, biarkan dia hiks, istirahat dengan tenang." Ucap Agha yang tanpa sadar keluar isakan tangisnya.
"Benar, udah nak." Ucap mamak dan sebagai dokter, Ali hanya pasrah dan berdiri diam.
"Alice sayang, maafin umah yah nak hiks, maafin umah nak."
"Mak, maafin Erlan. Erlan udah gagal jaga Alice." Ucap Agha sambil berlutut di depan brankar Alicia.
"Bukan salah kamu nak, hiks ini udah kehendak Allah. Maafin mamak juga yang ada salah sama kamu yah, mamak disini gak salahin siapapun, mamak juga udah maafin Tio."
"Ngapain di maafin Mak, dia yang menyebabkan Alice seperti ini, mamak lupa?."
"Gak lupa nak, hanya saja tidak baik menyimpan dendam, biarkan dia yang menanggung kesalahannya sendiri dan Allah yang menghukum."
"Tapi Erlan gak terima Mak."
"Ikhlas ya nak, Alice juga gak bakalan suka kalau tau kamu seperti ini."
"Pak, bapak dukung Erlan kan?."
"Iya nak, tapi kita minta Allah aja yah yang hukum dia, sebab kalaupun di hukum menurut negara Tio gak akan di kasih hukuman berat, sebab dia masih di bawah umur." Jelas bapak sambil memeluk tubuh Agha, tak lama bapak merasa tubuh Agha berat dan di cek ternyata Agha pingsan.
"Nak ya Allah, bangun nak." Ucap umah panik dan yang lain tak kalah paniknya, dokter Tio yang di sana langsung membawa Agha ke UGD.
Sementara itu, bapak dan Abah lagi sibuk mengurus data dan administrasi Alicia untuk mengeluarkan surat kematian milik Alicia. Part terberat dalam hidup bapak ialah, menandatangani surat kematian milik anaknya.