Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: SANDIWARA DI ATAS SANDIWARA
Livia tahu caranya menyembunyikan rasa sakit di ototnya, tapi menyembunyikan luka di hatinya jauh lebih sulit.
Mendengar Rangga menyebutnya sebagai "pion" yang bisa "dibuang" setelah saham pelabuhan didapat, rasanya lebih perih daripada kekalahan di final Olimpiade.
Namun, darah keluarga Liang yang mengalir di tubuhnya bereaksi dengan cara berbeda. Alih-alih lari dan menangis, insting bertahannya menyalak.
Kalau Rangga mau main catur, mari kita mainkan sampai skakmat.
Livia menghapus air matanya dengan kasar, menarik napas panjang, dan memasang wajah "gadis hancur yang butuh pelindung". Begitu Rangga mendekat di koridor itu, Livia langsung menabrakkan tubuhnya ke dada bidang pria itu.
"Ngga..." bisik Livia, suaranya dibuat bergetar hebat. Ia mencengkeram kemeja putih Rangga yang masih rapi meskipun baru saja menghajar orang. "Aku takut banget. Mateo... dia nggak bakal balik lagi kan?"
Rangga tertegun sejenak. Tangannya yang besar ragu-ragu di udara sebelum akhirnya melingkar di pinggang Livia, memeluknya dengan protektif—atau setidaknya, itulah akting yang Rangga berikan.
"Dia sudah di tangan polisi, Liv. Dia nggak akan bisa menyentuh kamu lagi," suara Rangga terdengar begitu tulus, begitu hangat, hingga Livia hampir percaya jika ia tidak mendengar percakapan telepon tadi. "Kamu aman sama aku."
Aman? Livia membatin pahit. Aman untuk dikhianati, maksudmu?
"Malam ini... bisa jangan tinggalin aku sendiri?" Livia mendongak, menatap mata Rangga dengan tatapan paling rapuh yang bisa ia kerahkan. "Aku nggak mau balik ke kamar asrama sendirian. Aku takut Mateo punya orang lain yang ngawasin aku."
Rangga menatap Livia dalam-dalam. Ada kilat kepuasan yang lewat di matanya—mungkin dia pikir rencananya berjalan mulus karena Livia kini sepenuhnya bergantung padanya. "Tentu. Aku akan temani kamu. Kita bisa—"
"RANGGA! LIVIA!"
Suara bariton yang menggelegar memotong ucapan Rangga.
Di ujung lorong, Sekjen PBSI berjalan dengan langkah cepat, wajahnya sewarna kepiting rebus. Di belakangnya, Coach Hendra tampak pasrah dan beberapa pengurus teras organisasi mengikuti dengan wajah tegang.
"Ikut saya ke kantor pusat. SEKARANG!" gertak Sekjen itu tanpa basa-basi.
***
Kantor Pusat PBSI – 21:00 WIB
Ruangan itu terasa sangat formal dan mengintimidasi. Tidak ada lagi suasana kekeluargaan. Di atas meja besar, tumpukan koran malam dan tablet yang menampilkan berita headline tentang "Pemukulan di Gerbang Cipayung" dan "Isu Kehamilan Livia Liang" bertebaran.
"Kalian berdua benar-benar sudah gila!" Sekjen PBSI menggebrak meja hingga cangkir teh di sana bergetar. "Rangga, kamu itu atlet senior, panutan! Dan Livia, kamu aset emas kami! Tapi apa ini? Baku hantam di depan wartawan? Isu hamil? Kalian pikir ini sinetron?!"
"Pak, itu semua fitnah dari Mateo—" Livia mencoba bicara, tapi langsung dipotong.
"Dulu Mateo, sekarang Rangga! Kami nggak peduli itu fitnah atau bukan! Dampak branding-nya hancur!" Coach Hendra menimpali dengan nada kecewa yang berat. "Sponsor mulai menelpon. Mereka nggak mau brand mereka diasosiasikan dengan drama kriminal dan asmara murahan."
Rangga berdiri, wajahnya kembali ke mode "Pangeran Dingin". "Saya sudah jelaskan, saya akan meng- handle semua kerugian material. Keluarga Adiwinata akan—"
"Keluarga Adiwinata tidak bisa membeli harga diri organisasi ini, Rangga!" Sekjen itu berdiri, menatap mereka berdua dengan murka. "Kalian berdua dicoret dari daftar keberangkatan Kejuaraan Asia minggu depan. Sampai masalah ini selesai secara hukum dan medis, kalian DISKORS dari semua kegiatan latihan dan kompetisi."
Livia merasa dunianya runtuh. Bulu tangkis adalah hidupnya. Diblokir dari turnamen sama saja dengan hukuman mati. Ia melirik Rangga, berharap pria itu akan membela karier mereka, namun Rangga justru terlihat sangat tenang—terlalu tenang.
"Baik kalau itu keputusan PBSI," ujar Rangga datar. "Tapi saya punya satu syarat."
"Kamu nggak dalam posisi menawar, Rangga!"
"Syaratnya sederhana," Rangga melirik Livia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Biarkan Livia tinggal di apartemen saya selama masa skorsing ini. Di bawah pengawasan tim keamanan saya. Karena saya nggak bisa menjamin keselamatannya kalau dia tetap di asrama yang gerbangnya bisa ditabrak siapa saja."
Livia terkesiap. Apartemen? Itu artinya dia akan terjebak bersama pria yang sudah berencana membuangnya.
Sekjen itu menghela napas, tampak lelah. "Terserah. Yang penting jangan ada lagi keributan di depan kamera. Bawa dia pergi."
Lobby Apartemen Mewah Rangga – 22:30 WIB
Begitu mereka masuk ke dalam unit apartemen yang luas dan minimalis itu, Rangga melepaskan kunci pintunya. Klik.
"Kamu bisa pakai kamar utama. Aku di kamar tamu," kata Rangga sambil melepaskan jam tangannya.
Livia berdiri di tengah ruangan, menatap punggung Rangga. Ia tahu ini saatnya dia bermain. "Ngga... kenapa kamu setuju kita skors? Kamu kan bisa lawan mereka tadi."
Rangga berbalik, menatap Livia dengan senyum tipis yang kini terasa sangat manipulatif di mata Livia. "Kadang kita harus mundur satu langkah untuk menang dua langkah, Liv. Lagipula, di sini kita bisa lebih... fokus pada 'pernikahan' kita, kan?"
Livia tersenyum manis, senyum yang ia harap bisa menipu iblis di depannya. "Iya, kamu bener. Makasih ya udah selamatin aku terus."
Livia berjalan menuju kamar, tapi saat ia melewati Rangga, ia sengaja menjatuhkan ponselnya.
Rangga membungkuk untuk mengambilkannya. Di saat itulah, Livia melihat sebuah notifikasi muncul di layar jam tangan pintar (smartwatch) milik Rangga yang tergeletak di meja.
[Notifikasi Pesan - Mama]: "Rangga, sore ini Mama sudah bertemu dengan anak Pak Darmawan. Dia cantik sekali. Segera selesaikan urusan saham dengan keluarga Liang itu. Jangan sampai tunangan aslimu menunggu terlalu lama."
Rangga memberikan ponsel itu kembali ke Livia dengan tatapan lembut. "Ini ponselmu, Liv."
Livia menerima ponsel itu dengan tangan gemetar.
Ia menatap langsung ke mata Rangga, berusaha menahan teriakannya. Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Mau marah? Tidak bisa. Mau melabrak orangtua juga tidak mungkin. Memang benar kata Mami kalau dia ini suka sekali menggali kuburannya sendiri. Ini adalah pahala yang harus dia terima karena bermain api.
Livia membiarkan kesunyian sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya. Kenapa dia menjadi lemah seperti ini.
Tentu saja Rangga menyadari Livia kelihatan aneh. Ya Tuhan, Livia ingin menampar wajah tampannya.
"Kamu baik-baik aja kan, Liv?" Suaranya terdengar begitu peduli dan santun.
Livia hanya mengangguk lalu otaknya berpikir keras untuk memikirkan apa yang harus dia lakukan tanpa dicurigai.
"Ngga, boleh aku pinjam laptopmu? Aku mau kabari keluargaku kalau aku aman di sini."
Rangga terdiam sejenak, matanya menyipit curiga. "Laptopku ada sandinya, Liv. Biar aku saja yang kirim pesannya."
Livia tersenyum tipis.
"Kenapa, Ngga?" bisik Livia, suaranya kini sehalus beludru, penuh dengan nada provokasi yang nakal. "Takut kalau aku tahu kalau di balik wajah 'Pangeran Santun' ini, ternyata ada monster yang lebih lapar dari Mateo?"
Checkmate.