NovelToon NovelToon
Ketika Cinta Berbohong

Ketika Cinta Berbohong

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Wanita perkasa / Konflik etika / Kehidupan di Kantor / Penyesalan Suami
Popularitas:275
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HARI PERTAMA TANPA RIZKY

Hari setelah acara keluarga yang meriah, Arini bangun dengan mata yang masih sedikit berat akibat kantuk.

Saat dia membuka matanya, sinar matahari pagi sudah menerobos celah tirai kamar di rumah ibunya.

Dia berbalik ke arah sisi tempat tidur yang biasanya ditempati Rizky, namun hanya menemukan seprai yang rapi dan kosong.

Meskipun sudah sepakat untuk tinggal terpisah sementara, rasanya berbeda ketika benar-benar menghadapi hari tanpa kehadiran suaminya di sampingnya.

Dia menarik selimut lebih erat ke tubuhnya, mencoba meraih sedikit pun kehangatan yang mungkin masih tersisa, namun hanya merasakan dinginnya kasur yang sudah lama tidak digunakan berdua.

"Dek, sudah bangun belum?" suara ibu Arini terdengar dari luar kamar, diikuti dengan ketukan lembut pada pintu. "Saya sudah siapin sarapan pagi nih."

"Sebentar Bu, saya sudah mau turun," jawab Arini dengan suara yang masih sedikit serak. Dia segera bangun, mandi dengan cepat, dan berpakaian sederhana – kaos putih dan celana panjang yang membuatnya merasa nyaman.

Saat dia turun ke ruang makan, aroma bubur ayam hangat dan teh jahe manis memenuhi udara.

Tara sudah duduk di mejanya, sedang asik menyantap sarapan sambil menonton kartun di televisi kecil yang ditempatkan di sudut ruangan.

Anak itu langsung menoleh dan memberikan senyum lebar ketika melihat ibunya datang.

"Mama bangun nih! Papa bilang dia akan datang menjemput saya sore ini ya," ujar Tara dengan suara ceria. "Kita mau main ke taman kan Mama?"

Arini tersenyum lembut sambil mengelus rambut anaknya. "Ya nak, kita akan pergi bersama Papa sore ini. Sekarang kamu makan dulu ya agar badan kamu kuat."

Setelah sarapan, Arini mulai bersiap untuk bekerja di dapur kecil yang telah dia jadikan sebagai tempat produksi bisnis kue nya.

Dia membuka lemari pendingin dan melihat stok bahan yang cukup untuk memenuhi pesanan hari ini.

Beberapa sketsa desain dari Lina tersimpan rapi di atas meja kerja – dia telah memutuskan untuk menggunakan sebagian dari ide tersebut, terutama yang berkaitan dengan kemasan baru yang lebih menarik dan ramah lingkungan.

Dia mulai menyiapkan adonan dengan gerakan yang terbiasa dan lancar. Namun meskipun tangan nya bekerja dengan cepat, pikirannya terus melayang ke arah Rizky.

Dia merindukan suasana dapur yang dulu selalu ramai dengan obrolan mereka berdua ketika bekerja bersama, atau bagaimana Rizky selalu suka mencicipi adonan yang belum jadi dengan alasan untuk memastikan rasanya pas.

"Saya harus fokus," bisiknya pada diri sendiri sambil mengocok adonan dengan kekuatan lebih banyak. "Bisnis ini adalah hasil dari kerja keras saya, dan saya harus menjaganya dengan baik."

Sementara itu, Rizky juga bangun lebih awal dari biasanya di rumah lama mereka. Ruang tamu yang sunyi membuatnya merasa tidak nyaman – biasanya pagi hari selalu diisi dengan suara tawa Tara atau aroma kopi yang dibuat Arini.

Dia memasak telur ceplok dan roti bakar untuk sarapan sendiri, namun makanan itu terasa hambar di lidahnya tanpa kehadiran keluarga nya.

Setelah sarapan, dia pergi ke kantor dengan tekad yang baru. Saat masuk ke ruangan kerjanya, dia melihat bahwa karyawan-karyawannya sudah mulai bekerja dengan penuh semangat.

Beberapa dari mereka menyapa dia dengan senyum ramah, menunjukkan bahwa dukungan yang diberikan bukan hanya dari keluarga tapi juga dari rekan kerja nya.

Dia segera mulai bekerja pada proyek baru yang fokus pada pembangunan rumah tinggal hemat energi untuk keluarga berpenghasilan rendah.

Tim nya telah menyusun beberapa konsep awal, dan mereka menghabiskan seluruh pagi untuk membahas dan menyempurnakan desain tersebut.

Rizky merasa sangat termotivasi dengan proyek ini – dia merasa bahwa ini adalah cara yang tepat untuk membuktikan bahwa dia bisa menggunakan keahliannya untuk membantu orang lain dan membangun kembali nama baik nya.

Pada tengah hari, Arini berhenti sejenak dari pekerjaannya untuk istirahat dan makan siang.

Dia duduk di teras belakang rumah ibunya, melihat taman yang penuh dengan tanaman hijau dan bunga-bunga warna-warni.

Ibunya datang dan duduk bersebelahan dengannya, membawa secangkir teh hangat.

"Kamu sedang merindukan dia bukan?" tanya ibu Arini dengan suara yang lembut dan penuh pengertian.

Arini mengangguk perlahan tanpa bisa menyembunyikan ekspresi sedih di wajahnya.

"Ya Bu. Meskipun saya tahu bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk kita berdua, rasanya tidak mudah menghadapi hari-hari tanpa dia. Kadang saya merasa seperti ada bagian dari diri saya yang hilang."

Ibu nya mengambil tangannya dengan lembut dan memeluknya dengan erat. "Cinta yang sejati tidak akan mudah patah, sayang. Kadang kita membutuhkan jarak untuk menyadari betapa berharganya orang yang kita cintai. Yang penting adalah kamu dan dia benar-benar ingin memperbaiki hubungan ini dengan tulus."

Pada sore hari, Rizky datang menjemput Tara seperti yang telah dijanjikan. Anak itu langsung berlari ke arahnya dengan penuh kegembiraan, memeluk kakinya dengan erat.

Arini melihat mereka dari kejauhan – bagaimana Rizky mengangkat Tara dan mencium pipinya dengan penuh cinta, bagaimana wajah anaknya bersinar bahagia ketika berada di pangkuan ayahnya.

"Mama juga mau ikut ya!" suara Tara membuat Arini terkejut. Anak itu membentangkan tangan nya ke arah ibunya, meminta untuk dibawa bersama.

Tanpa berpikir panjang, Rizky mendekat dan mengajak Arini untuk ikut pergi. Mereka pergi ke taman yang dulu sering mereka kunjungi bersama – taman yang memiliki kolam kecil dengan ikan warna-warni dan area bermain yang selalu disukai Tara.

Saat anak mereka asik bermain dengan ayunan dan seluncuran, Arini dan Rizky duduk bersama di bangku taman yang sama seperti dulu.

Mereka tidak banyak berbicara, hanya menikmati suasana yang tenang dan melihat Tara yang bermain dengan bahagia.

Namun tanpa perlu kata-kata, mereka saling mengerti bahwa ada ikatan kuat yang masih menghubungkan mereka berdua.

"Saya sudah mulai mengerjakan proyek baru di kantor," ujar Rizky akhirnya dengan suara lembut. "Proyek sosial untuk membangun rumah hemat energi bagi keluarga yang membutuhkan. Saya merasa bahwa ini adalah cara yang tepat untuk menggunakan keahlianku."

Arini mengangguk perlahan dengan senyum hangat. "Itu adalah ide yang sangat baik. Saya tahu bahwa kamu selalu ingin membantu orang lain. Dan tentang bisnis saya... saya sudah memutuskan untuk menggunakan sebagian ide desain dari Lina. Mereka benar-benar membantu banyak untuk mengembangkan bisnis saya."

Rizky melihatnya dengan mata yang penuh rasa syukur. "Sangat baik sayang. Kamu benar-benar orang yang luar biasa dengan hatimu yang luas dan kemampuanmu untuk memaafkan."

Mereka terdiam kembali, menyaksikan matahari yang mulai merambat ke arah ufuk barat.

Tara datang berlari ke arah mereka, membawa beberapa daun dan bunga yang dia kumpulkan dari sekitar taman.

"Ini untuk Mama dan Papa," ujarnya dengan senyum ceria. "Bunga ini cantik kan? Kayak Mama dan Papa yang selalu cantik."

Arini dan Rizky saling melihat dengan mata yang berkaca-kaca. Di wajah anak mereka yang polos dan penuh cinta, mereka melihat alasan utama mengapa mereka harus berusaha keras untuk membangun kembali keluarga mereka yang bahagia.

Ketika malam mulai menjelang, Rizky mengantar mereka pulang ke rumah ibunya. Sebelum dia pergi, Arini mengambil tangannya dengan lembut.

"Terima kasih sudah menjemput Tara dan membawanya bermain," ujarnya dengan suara lembut. "Kita bisa melakukan ini lagi besok jika kamu mau."

Rizky tersenyum dengan penuh harapan. "Tentu saja sayang. Saya akan selalu ada untuk kamu berdua, tidak peduli apa pun."

Setelah Rizky pergi, Arini dan Tara masuk ke dalam rumah. Dia membangunkan anaknya untuk mandi dan makan malam, kemudian membacakan buku cerita sebelum tidur.

Saat Tara tertidur dengan tenang, Arini duduk di sisi tempat tidur anaknya, melihat wajahnya yang damai dan tenang.

Dia mengambil ponsel dan melihat foto keluarga yang tersimpan di dalamnya – foto mereka berdua dengan Tara di pantai, atau saat merayakan ulang tahun anak mereka.

Meskipun hari pertama tanpa Rizky di sampingnya terasa sulit, dia merasa bahwa ini adalah langkah penting yang harus mereka lalui untuk menjadi lebih kuat dan siap untuk masa depan yang lebih baik.

"Sekarang hanya ada kita berdua ya nak," bisiknya pelan sambil mencium dahi Tara.

"Tetapi Mama tahu bahwa suatu hari nanti, kita akan kembali bersama Papa dan membangun keluarga yang lebih bahagia dari sebelumnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!