NovelToon NovelToon
Menyingkirkan Gundik Suamiku

Menyingkirkan Gundik Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Obsesi / Pelakor jahat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.

Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.

Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.

Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.

Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.

Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Sepanjang perjalanan pulang dari bandara, pikiran Kiandra tak pernah benar-benar tenang. Deru mesin mobil yang melaju di jalanan terasa seperti dengung panjang di kepalanya, menyatu dengan berbagai pertanyaan yang terus berputar tanpa jawaban. Bayangan tentang Nayla dan suaminya muncul silih berganti, mengusik ketenangan yang selama ini ia jaga. Entah itu sekadar kebetulan yang tak berarti, atau memang ada sesuatu yang sengaja dirancang oleh takdir, atau oleh manusia, hingga mereka berada di tempat dan waktu yang sama. Semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin kuat rasa tidak nyaman itu mencengkeram dadanya.

Ucapan sang adik kembali terngiang jelas di telinganya, seolah diputar berulang-ulang tanpa henti. Saat itu Kiandra sempat menepisnya, menganggapnya sebagai kekhawatiran berlebihan. Namun kini, setelah semua yang ia lihat dan rasakan, keraguan mulai tumbuh perlahan. Ada celah kecil di hatinya yang dipenuhi rasa curiga, dan celah itu kian melebar. Untuk pertama kalinya, Kiandra menyadari bahwa mungkin selama ini ia terlalu percaya, terlalu yakin bahwa semuanya baik-baik saja. Ia menghela napas panjang, merasa lelah bukan karena perjalanan, melainkan karena pikiran yang terlalu penuh. Mungkin sudah waktunya ia mulai mencari tahu tentang suaminya, menggali kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manis.

Kiandra memejamkan matanya sejenak, bersandar pada sandaran kursi mobil. Ia mencoba menenangkan diri, mengusir kegelisahan yang menggerogoti hatinya. Di dalam pelukannya, sang putra tertidur lelap, napasnya teratur dan wajahnya tampak damai. Pemandangan itu sedikit menguatkannya. Demi anaknya, ia harus tetap tegar, meski di dalam hatinya badai sedang mengamuk.

Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di depan rumah. Kiandra membuka mata, menatap bangunan yang selama ini ia sebut sebagai tempat paling aman, meski kini, rasa aman itu terasa rapuh.

Dengan hati-hati, Kiandra menggendong putranya keluar dari mobil. Langkahnya pelan saat memasuki rumah, seolah takut mengganggu ketenangan malam yang menyelimuti setiap sudut ruangan.

Lampu-lampu redup menerangi jalan yang ia lalui, menciptakan bayangan panjang di lantai. Setiap langkah terasa berat, bukan karena beban di lengannya, melainkan karena pikiran yang terus menekan dadanya. Rumah itu sunyi, terlalu sunyi, seakan ikut menyimpan rahasia yang belum terungkap.

Sesampainya di kamar, Kiandra berdiri sejenak di samping ranjang, menatap wajah putranya dengan penuh kasih. Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia merebahkan tubuh kecil itu di atas ranjang. Tangannya membetulkan selimut, memastikan sang anak merasa nyaman dan hangat. Ia menatapnya beberapa saat lebih lama, merasakan campuran rasa cinta, takut, dan tekad yang menguat di dalam dirinya.

Malam itu, Kiandra tahu bahwa ketenangan yang ia miliki mungkin hanya sementara. Di balik keheningan rumah, sebuah keputusan perlahan tumbuh keputusan untuk mencari kebenaran, apa pun risikonya.

Tak lama Kiandra ikut merebahkan tubuhnya di samping putranya, dan terlelap sambil memeluk sang buah hati.

******

Kiandra berjongkok di hadapan putranya, menyamakan tinggi badan mereka. Tangannya merapikan poni Zayyan yang sedikit berantakan, lalu mengusap lembut pipi tembam itu dengan penuh kasih.

“Sayang, kamu hari ini sama Aunty Marsha dulu ya. Mama mau keluar sebentar. Nanti mommy belikan mainan.” ucap Kiandra lembut.

Zayyan menggeleng pelan, wajah kecilnya terlihat serius seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting. “Nda ucah beli mainan, mommy. Nanti Zay jajan aja sama onty Malcha.” katanya dengan logat khasnya yang selalu berhasil meluluhkan hati Kiandra.

Kiandra tersenyum, ada rasa hangat yang mengalir di dadanya. Anak sekecil itu sudah tahu cara menghibur dan mengerti keadaan. “Oke deh. Tapi jangan jajan sembarangan ya. jajan yang sehat.” katanya akhirnya, mengalah.

“Iya, mommy,” jawab Zayyan cepat, lalu berhenti sejenak. Matanya menyipit nakal, sebelum ia menambahkan, “Tapi Zay nda janji ya.”

Ia tersenyum lebar, memperlihatkan deretan gigi kecilnya yang rapi.

Kiandra terkekeh pelan. Tangannya gemas mencubit pipi putranya. “Dasar bocah,” gumamnya penuh sayang.

Belum sempat Kiandra berdiri, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah, memecah suasana hangat di antara mereka.

Tin.

Tin.

Zayyan langsung melonjak kecil, matanya berbinar. “Mommy! Itu onty Malcha!” serunya heboh sambil menunjuk ke arah luar.

Kiandra menoleh ke depan, senyum tipis terukir di wajahnya. Ia menghela napas pelan, seakan sedang menguatkan dirinya sendiri sebelum benar-benar melangkah pergi. “Ayo, kita ke depan,” ucapnya lembut.

Ia menggenggam tangan kecil Zayyan, lalu melangkah bersama menuju teras. Dari kejauhan, mobil Marsha sudah berhenti, dan sosok adiknya terlihat keluar sambil melambaikan tangan.

Di balik senyum Kiandra, ada banyak hal yang berputar di kepalanya, tentang rencana yang akan ia jalani hari ini, tentang pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, dan tentang hati yang perlahan mulai gelisah.

Namun untuk saat ini, ia memilih menyingkirkan semua itu. Fokusnya hanya satu, memastikan putranya baik-baik saja sebelum ia pergi.

Marsha menunduk sedikit, menyamakan tinggi badannya dengan Zayyan yang sudah berdiri tegap di samping Kiandra. Tangannya dengan gemas mencubit pipi tembam bocah itu.

“Hai, jagoan Aunty. Sudah siap belum?” tanyanya ceria.

“Cudah! Ayo, onty, kita pelgi jalan-jalan!” jawab Zayyan lantang, matanya berbinar penuh antusias. Ia bahkan langsung meraih tangan Marsha.

Marsha tertawa kecil mendengar semangat keponakannya. Ia mengangguk-angguk seolah ikut terbawa euforia, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Kiandra.

“Kakak titip Zayyan dulu, Ada hal penting yang harus kakak urus.” ucap Kiandra pelan namun tegas. Tatapannya menahan banyak hal yang tak ia ucapkan.

Marsha menangkap keseriusan di wajah sang kakak. Tanpa banyak bertanya, ia mengangguk paham. “Tenang aja, Kak. Zayyan aman sama aku.”

“Kalau begitu kita pergi dulu,” lanjut Marsha sambil menuntun Zayyan menuju mobil.

“Iya, mommy!” seru Zayyan sambil melambaikan tangan riang. “Dadah!”

Kiandra membalas lambaian itu dengan senyum tipis, meski dadanya terasa sedikit sesak. Ia berdiri di tempat, menunggu sampai pintu mobil Marsha tertutup dan kendaraan itu benar-benar melaju meninggalkan halaman rumah.

Begitu mobil adiknya menghilang di ujung jalan, Kiandra menghela napas panjang. Bahunya sedikit turun, seolah beban yang sedari tadi ia tahan perlahan menekan lebih dalam. Tak ada lagi senyum yang ia paksakan.

Ia berbalik, melangkah menuju mobilnya sendiri. Tangannya sempat terhenti di gagang pintu, ragu sepersekian detik, sebelum akhirnya ia masuk dan menutup pintu dengan mantap.

Mesin mobil dinyalakan, dan Kiandra pun melajukan kendaraannya meninggalkan rumah. Di kepalanya sudah tersusun rencana. Ia telah membuat janji dengan salah satu temannya, seseorang yang selama ini menjadi orang kepercayaannya. Hari ini, ia berniat mencari jawaban. Tentang kecurigaan yang telah mengganggunya, dan tentang kebenaran yang mungkin akan mengubah hidupnya.

1
pink blossoms
ini kowh ga lanjut2 pdhal seru lho thor
Sunarmi Narmi
lnjutt thor
Sunarmi Narmi
Fi blokir Adam...ngapain cuma dimatikan...🥴🥴
Sunarmi Narmi
Demi moment ini kita memang hrs berjuang bertahan Kiandra....Semangat hempaskan pelakor 💪💪💪💪
Sunarmi Narmi
Kiadra..klo kmu pngen menang permainan Ranjangmu hrs lebih binal dri pelakor..toh suami SAH..aman ngak usah malu " Gass kan....sampai menttok dn milik suamimu kebas dn kenyang ...ngak ada wktu melirik yg lain🤣🤣🤣
Sunarmi Narmi
Perjuangan yg amat berat bagi seorang berstatus istri dan seorang ibu..klo demi ego jelas males buat kembali sama suami..tpi klo demi anak dn keluarga hrs jdi prioritas..disitulah kdang kita merasa berat buat memilih..rata" EGO yg dominan..baca kisah ini jujur jiwa dn hatiku tersentuh Thor....pokoke karyamu is the best 👍👍👍👍♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Sunarmi Narmi
Kata" tulisanya keren Thor...mengena di hati dn bermakna dlm...👍👍👍👍
louis
dasar gundik tak tahu malu dan tidak ada akhlak
louis
dasar laki2 bejat. lihatlah karma akan menimpamu karena telah mengkhianati istrimu.
Sunarmi Narmi
Blm mau Coment karena cerita ino terlalu bagus..cuma satu kata untukmu Thor LANJUTKAN💪💪💪💪
Isabela Devi
laki laki gitu buat dia menyesal seumur hidup aja thor, apa lagi ga menghargai wanita gitu
Isabela Devi
lanjut thor, buat laki laki itu jadi gembel aja thor
Bunda Kevin
Lanjut
Sunarmi Narmi
Wah keren karyamu Thor..kita di sini bila berhadapan dgn pelakor balasnya hrs elegan,cantik dn kontrol emosi....berat jg ya...lanjut thor 💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘🤔♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!