Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Kota Mati
Kota Seribu Menara adalah monumen kebisuan yang megah.
Jalan-jalan rayanya yang lebar terbuat dari lempengan batu putih yang kini retak dan tertimbun pasir. Di kiri dan kanan, menara-menara batu setinggi ratusan meter menjulang ke langit kelabu, sebagian besar sudah runtuh atau miring, seperti tulang rusuk raksasa yang menonjol dari bumi.
"Jangan sentuh apa pun," peringat Xiao Yu, suaranya menggema kecil di keheningan kota mati itu. "Kota ini dilindungi oleh Array Pasir Hisap. Satu langkah salah, kita akan ditelan bumi."
Li Tian dan Su Yan mengangguk. Mereka turun dari unta dan berjalan kaki, mengikuti jejak Xiao Yu yang memegang kompas.
"Guru," bisik Li Tian. "Apakah kau merasakan Sayap itu?"
"Sangat dekat," jawab Zu-Long. "Energinya berpusat di menara tertinggi di tengah kota. Tapi hati-hati, Bocah. Ada banyak 'benda' yang tidak memiliki nyawa tapi bergerak di sekitar kita."
Baru saja Zu-Long memperingatkan, tanah di depan mereka bergemuruh.
Tumpukan puing batu di pinggir jalan tiba-tiba menyatu, membentuk sesosok raksasa setinggi tiga meter. Tubuhnya terbuat dari batu bata kuno dan pasir yang dipadatkan oleh sihir. Matanya menyala kuning pudar.
Golem Pasir Kuno.
GROAAARR... (Suara gesekan batu).
Bukan hanya satu. Lima golem lain bangkit dari reruntuhan di sekitar mereka, mengepung jalan.
"Penjaga kota," kata Su Yan tenang. Dia mencabut pedangnya. "Mereka tidak punya jiwa, jadi serangan mentalku tidak berguna. Ini bagianmu, Li Tian."
Li Tian menyeringai. Dia menarik Pedang Hitam Tanpa Mata dari punggungnya.
DUM.
Ujung pedang berat itu menghantam lantai batu.
"Batu lawan besi," kata Li Tian. "Mari kita lihat siapa yang lebih keras."
Satu Golem menerjang maju, tinju batunya yang sebesar tong air mengarah ke kepala Li Tian.
Li Tian tidak menghindar. Dia mengayunkan pedang hitamnya secara horizontal.
"Hancur!"
BAM!
Pedang seberat 1.200 jin itu menghantam pinggang Golem. Tidak ada teknik rumit, hanya momentum dan berat murni.
Tubuh Golem itu meledak. Pasir dan batu bata berhamburan ke segala arah. Golem itu hancur menjadi tumpukan puing dalam satu pukulan.
"Lemah," komentar Li Tian. "Pertahanan mereka setara Tempa Tubuh Tingkat 9, tapi gerakannya lambat."
Empat Golem lainnya menyerang bersamaan.
"Su Yan, bekukan pijakan mereka!" teriak Li Tian.
Su Yan menghentakkan kakinya. "Jalur Beku!"
Lapisan es menjalar di tanah, membekukan kaki-kaki Golem itu ke lantai batu. Mereka meronta, gerakan mereka terhambat.
Li Tian memanfaatkan momen itu. Dia melompat ke udara, memegang pedang hitamnya dengan dua tangan di atas kepala.
"Tebasan Naga Jatuh!"
Dia menghantam tanah di tengah formasi Golem.
BOOOM!
Gelombang kejut gravitasi menyebar. Keempat Golem itu hancur berantakan seketika, tubuh mereka runtuh menjadi gundukan pasir.
Xiao Yu menatap dengan mata terbelalak. "Kakak Naga... kau benar-benar kuat. Penjaga ini biasanya membunuh banyak pencuri makam."
"Ayo lanjut," kata Li Tian, mengembalikan pedangnya ke punggung. "Kita tidak punya waktu bermain dengan kerikil."
Mereka mempercepat langkah. Berkat panduan Xiao Yu yang hafal jalan pintas melalui lorong-lorong sempit, mereka berhasil menghindari sebagian besar jebakan dan patroli Golem.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di Alun-alun Pusat.
Di tengah alun-alun itu, berdiri sebuah menara yang masih utuh dan menjulang tinggi menembus awan badai. Itu adalah Menara Kaisar Angin.
Namun, jalan masuk ke menara itu terhalang.
Di depan gerbang menara, pertempuran dahsyat sedang terjadi.
Seorang pemuda berjubah putih perak sedang melayang di udara, sayap cahaya di punggungnya mengepak anggun.
Ye Chen.
Lawannya adalah sebuah patung perunggu raksasa setinggi sepuluh meter yang memegang tombak berkarat. Patung itu bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar untuk ukurannya, setiap tusukan tombaknya menciptakan ledakan angin yang memotong batu.
Jenderal Perunggu.
"Itu dia," bisik Li Tian, bersembunyi di balik pilar runtuh bersama Su Yan dan Xiao Yu.
"Dia kuat," komentar Su Yan, matanya terpaku pada Ye Chen.
Ye Chen tidak menggunakan senjata fisik. Dia hanya mengulurkan tangannya ke arah tombak raksasa yang menusuk ke arahnya.
"Kurangi."
Satu kata itu terucap.
Cahaya putih dari sayap Ye Chen menyala terang.
Tombak raksasa yang seharusnya bisa menghancurkan gedung itu tiba-tiba melambat drastis saat menyentuh aura Ye Chen. Ukuran energi angin yang menyelimuti tombak itu menyusut separuh dalam sekejap mata.
Ye Chen menepis tombak itu dengan punggung tangannya seolah menepis lalat.
Tang!
Sang Jenderal Perunggu terhuyung mundur, seolah tenaganya baru saja disedot paksa.
"Menyedihkan," kata Ye Chen dingin. "Isi ulang."
Dia mengarahkan telapak tangannya ke dada patung itu. Energi yang dia serap dari tombak tadi ditembakkan balik dalam bentuk bola cahaya putih.
BLARR!
Dada perunggu patung itu meledak, meninggalkan lubang besar.
"Gila..." Li Tian menelan ludah. "Dia menyerap serangan musuh, mengurangi kekuatannya, lalu menggunakannya untuk menyerang balik? Itu curang!"
"Itulah kekuatan Naga Putih," kata Zu-Long geram. "Kekuatan yang paling kubenci. Dia tidak perlu memiliki Qi yang banyak, karena dia bisa mencuri Qi musuhnya tanpa batas. Selama dia tidak meledak karena kelebihan energi, dia tidak terkalahkan dalam pertarungan jangka panjang."
Jenderal Perunggu itu meraung (suara logam beradu), mencoba bangkit kembali. Mekanisme penyembuhan diri kota itu mulai bekerja; pasir-pasir di sekitarnya terbang menutupi lubang di dadanya.
Ye Chen mengerutkan kening. "Merepotkan. Regenerasi?"
Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Kalau begitu, aku akan menghapusmu sampai tidak ada yang tersisa untuk regenerasi."
Sayap di punggungnya membentang lebar. Partikel cahaya berkumpul, membentuk tombak cahaya raksasa di atas kepalanya.
Li Tian menegang. "Guru, serangan itu..."
"Kuat," kata Zu-Long. "Setara dengan Bangkit Jiwa Tingkat 9. Dia benar-benar jenius."
"Su Yan," bisik Li Tian. "Kita punya dua pilihan. Menunggu dia selesai dan kelelahan, atau..."
"Atau kita mencuri kesempatan saat dia sibuk dengan bos itu untuk masuk ke menara," sambung Su Yan cerdas.
Mata Li Tian berbinar. "Pintu menara itu ada di belakang patung. Saat Ye Chen meledakkan patung itu, pasti ada celah."
"Siap?"
"Siap."
Di arena, Ye Chen menurunkan tangannya.
"Lenyaplah."
Tombak cahaya itu meluncur turun.
KABOOM!
Ledakan cahaya putih menelan Jenderal Perunggu itu. Gelombang kejut menyapu alun-alun. Debu dan pasir membumbung tinggi, menghalangi pandangan.
"Sekarang!" teriak Li Tian.
Li Tian dan Su Yan melesat keluar dari persembunyian. Mereka tidak menyerang Ye Chen. Mereka berlari secepat kilat menembus debu, melewati sisa-sisa kaki patung yang hancur, menuju gerbang menara yang sedikit terbuka akibat ledakan.
Ye Chen, yang masih melayang di udara, merasakan pergerakan itu. Matanya menyipit.
"Tikus?"
Dia mengibaskan tangannya, mengirimkan bilah cahaya ke arah Li Tian.
"Jangan harap!"
Li Tian berputar, menggunakan Pedang Hitam-nya sebagai tameng di punggung.
DANG!
Serangan Ye Chen menghantam pedang hitam itu. Li Tian terdorong maju, tapi dia memanfaatkan dorongan itu untuk menambah kecepatannya masuk ke dalam gerbang.
"Terima kasih dorongannya!" teriak Li Tian sambil menarik Su Yan dan Xiao Yu masuk.
Mereka menerobos masuk ke dalam kegelapan menara.
Ye Chen tertegun sejenak di udara. Wajah dinginnya menunjukkan sedikit rasa kaget, lalu berubah menjadi senyum sinis yang menakutkan.
"Menarik," gumam Ye Chen. "Ada semut yang berani mencuri jalan di depanku."
Dia terbang turun, mendarat di depan gerbang menara.
"Baiklah. Mari kita lihat seberapa jauh kalian bisa lari di dalam sana."
Pintu masuk ke labirin Menara Seribu telah terbuka. Dan kini, Naga Hitam dan Naga Putih berada di dalam sangkar yang sama.