Kehidupan Jasmine sebagai pemimpin tunggal wilayah Alistair berubah drastis saat dia menyadari keganjilan pada pertumbuhan putra kembarnya, Lucian dan Leo. Di balik wajah mungil mereka, tersimpan kekuatan dan insting yang tidak manusiawi.
Tabir rahasia akhirnya tersingkap saat Nyonya Kimberly mengungkap jati dirinya yang sebenarnya, sebuah garis keturunan manusia serigala yang selama ini bersembunyi di balik gelar bangsawan.
Di tengah pergolakan batin Jasmine menerima kenyataan tersebut, sebuah harapan sekaligus luka baru muncul, fakta bahwa Lucas Alistair ternyata masih hidup dan tengah berada di tangan musuh.
Jasmine harus berdiri tegak di atas dua pilihan sulit, menyembunyikan rahasia darah putra-putranya dari kejaran para pemburu, atau mempertaruhkan segalanya untuk menjemput kembali sang suami.
"Darah Alistair tidak pernah benar-benar padam, dan kini sang Alpha telah terbangun untuk menuntut balas."
Akankah perjuangan ini berakhir dengan kebahagiaan abadi sebagai garis finis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SENAJATA PELEDAK
Setelah sarapan yang penuh tawa itu selesai, suasana di kediaman Alistair kembali berubah menjadi lebih serius.
Jasmine tidak ingin membuang waktu, sesuai janjinya, dia membiarkan anak-anak bermain sejenak di rumah kaca bersama Nyonya Kimberly, sementara dia mengajak Ethan dan Tuan Steven ke ruang kerja Duke yang terletak di lantai dua.
Ruangan itu masih menyisakan aroma parfum kayu cendana khas Lucas, yang sempat membuat pertahanan hati Jasmine goyah sejenak. Namun, dia segera menarik napas dalam dan duduk di kursi besar di balik meja kerja milik Duke Lucas, yang masih sangat kokoh.
"Ethan, bagaimana dengan para prajurit Serigala Hitam?" tanya Jasmine tanpa basa-basi.
"Sandi sudah dikirim, Yang Mulia, mereka akan tiba di pintu rahasia hutan belakang secara bertahap mulai sore ini hingga tengah malam," jawab Ethan, tegas dan lugas.
"Mereka sangat terkejut saat menerima sandi itu, karena mereka pikir Duke tidak akan pernah memanggil mereka kembali kecuali dalam keadaan darurat tingkat tinggi," lanjut Ethan, mengakhiri laporan nya.
"Ini memang darurat tingkat tinggi," ucap Jasmine, dingin.
"Ayah, bagaimana dengan stok perak murni di gudang?" tanya Jasmine,. melihat ke arah Ayah mertua nya.
"Kita punya cukup banyak untuk melapisi senjata, Jasmine, tapi untuk campuran bubuk yang kamu tulis di kertas tadi, aku sudah meminta beberapa orang kepercayaan untuk membelinya secara terpisah di pasar gelap agar tidak menarik kecurigaan pihak kerajaan," jawab Tuan Steven menganggukkan, kan kepala nya, sambil menjelaskan.
"Bagus! Aku butuh ruang bawah tanah terdalam itu dibersihkan sekarang juga, karena aku akan mulai meracik kejutan untuk para penyihir itu di sana," ucap Jasmine, tersenyum miring.
Setelah urusan nya dengan Tuan Steven dan Ethan selesai, Jasmine menepati janjinya pada Leo.
Jasmine menemani bocah kecil itu di rumah kaca yang hangat, kontras dengan salju yang turun di luar.
"Ibu, lihat bunga matahari ini! Warnanya seperti rambut Kak Lucian kalau kena lampu!" seru Leo sambil menunjuk bunga matahari besar yang tumbuh di sudut.
"Benar, Leo, dan mawar merah ini mengingatkan Ibu padamu, penuh semangat dan, sedikit tajam kalau sedang marah," jawab Jasmine tertawa lembut sambil memetik beberapa tangkai mawar tanpa duri.
"Leo tidak tajam, Bu! Leo kan hangat!" protes Leo sambil memeluk kaki Jasmine.
"Iya, Sayang, hangat sekali," ucap Jasmine mengusap kepala lembut, putra bungsu nya
Di sisi lain rumah kaca, Lucian duduk dengan tenang bersama kakeknya, Tuan Steven, di pangkuannya terdapat sebuah buku tebal bersampul kulit tua tentang sejarah wilayah Alistair.
"Kakek, di sini tertulis bahwa leluhur kita pernah memenangkan perang hanya dengan seratus ksatria melawan ribuan musuh. Bagaimana caranya?" tanya Lucian, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.
"Strategi, Lucian, mereka menggunakan strategi dan formasi perang, untuk menjebak musuh, kekuatan itu memang penting, tapi otak adalah senjata yang sebenarnya," jawab Tuan Steven tersenyum bangga.
"Seperti Ibu, ya? Ibu bilang, dia akan melawan sihir dengan ilmu pengetahuan," ucap Lucian mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah ibunya
Tuan Steven terdiam sejenak, menatap menantunya yang sedang tertawa bersama Leo.
"Benar, Lucian, ibumu mungkin tidak punya taring serigala, tapi dia punya kecerdasan yang bisa membuat musuh gemetar tanpa perlu menyentuh mereka," jawab Tuan Steven.
Setelah menghabiskan waktu selama beberapa jam bersama kedua anak-anak nya, akhir nya Jasmine membiarkan mereka bersama Luna.
"Kalian bersama Luna dulu, Ibu ada urusan sebentar," ucap Jasmine, mengusap lembut kepala anak-anak nya.
"Nanti sebelum jam tidur kalian, ibu akan kembali dan menemani kalian tidur," lanjut Jasmine.
Lucian dan Leo mengangguk kan kepala nya, mereka mengerti bahwa ibu mereka sedang sibuk, untuk menyiapkan penjemputan sang Ayah.
"Luna, jaga mereka berdua," perintah Jasmine, tegas.
"Baik Yang Mulia," jawab Luna, mengangguk kan kepala nya.
"Mari Tuan muda," ucap Luna, membawa Leo dan Lucian pergi dari sana.
Setelah memastikan anak-anak nya pergi, Jasmine berjalan di ruang bawah tanah, untuk mengerjakan pekerjaan nya.
Menjelang malam, suasana di kediaman kembali menegang.
Satu per satu, pria-pria bertubuh tegap dengan jubah hitam pekat mulai masuk melalui lorong rahasia di bawah tanah, mereka adalah sepuluh ksatria Serigala Hitam, unit paling mematikan milik Duke Lucas.
Jasmine masih berada di ruang bawah tanah, menunggu kedatangan mereka, namun kali ini dia tidak sendirian.
Jasmine berdiri di depan meja yang dipenuhi botol-botol kimia, bubuk belerang, dan sketsa senjata aneh.
"SALAM YANG MULIA DUCHES!"
Sepuluh ksatria itu berlutut serempak di depan Jasmine.
Pemimpin mereka, seorang pria bernama Rocy mendongak dengan wajah penuh luka parut namun penuh rasa hormat.
"Kami datang memenuhi panggilan, Yang Mulia, kami mengira Duke telah tiada, namun sandi rahasia itu menghidupkan kembali sumpah kami," ucap Rocy dengan suara berat.
Jasmine melangkah maju, auranya kini kembali menjadi pelatih yang dingin.
"Duke Lucas masih hidup, selama lima tahun ini dia sedang disiksa di sebuah benteng yang dilindungi sihir hitam," ucap Jasmine, menjeda ucapan nya.
"Saya memanggil kalian bukan untuk mati sia-sia demi mahkota kerajaan, tapi untuk menjemput tuan kalian pulang," lanjut Jasmine tegas, dengan aura yang menguar.
Jasmine mengambil sebuah tabung kecil berisi bubuk mesiu yang sudah dicampur dengan serbuk perak murni dan belladonna.
"Penyihir hitam itu kebal terhadap pedang biasa, tapi mereka tidak akan kebal terhadap ini," ucap Jasmine melemparkan tabung itu ke arah sebuah balok kayu besar di ujung ruangan.
Duar!
Ledakan kecil terjadi, namun yang luar biasa adalah api yang dihasilkan berwarna biru pucat dan mengeluarkan asap yang sangat menyengat.
Kayu itu bukan hanya hancur, tapi tampak melepuh dengan cara yang tidak alami.
Kesepuluh ksatria itu terkesiap, mulut mereka menganga, merasa kagum, selama ini mereka belum pernah melihat senjata seperti itu.
"Itu adalah campuran kimia yang akan merusak aliran mana para penyihir. Malam ini, aku memberikan kalian pilihan," ucap Jasmine menatap mereka satu per satu dengan mata yang tajam.
"Kalian bisa pergi sekarang dan aku akan menganggap kalian tetap ksatria yang setia pada perbatasan! Atau, kalian tetap di sini, belajar menggunakan senjata gila milikku ini, dan bersiap menyerbu neraka bersamaku dalam tiga bulan! Tidak ada jalan kembali. Pilihannya adalah kemenangan, atau kematian yang bermartabat!" ucap Jasmine tegas, tidak ingin buang-buang waktu.
Rocy dan sembilan rekannya saling berpandangan, dan tanpa ragu, mereka menghunuskan pedang dan menancapkannya ke lantai batu, kembali berlutut lebih rendah dari sebelumnya.
"Ke mana pun Anda melangkah, Pelatih, kami adalah bayangan Anda. Nyawa kami milik keluarga Alistair!" seru mereka serempak.
Jasmine tersenyum tipis, sebuah seringai yang akan membuat musuhnya ketakutan.