SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.
Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebelum Kejadian di Gor belakang
(POV Kevin)
Suasana di dalam kelas X-3 terasa panas dan menyesakkan, meskipun kipas angin di langit-langit berputar cukup kencang. Bagi sebagian besar siswa, jam pelajaran Matematika ini adalah momen membosankan yang hanya diisi dengan deretan angka dan rumus yang sulit dicerna. Namun bagi Kevin, pemuda yang duduk bersandar malas di kursi barisan paling belakang kanan ini, waktu berjalan dengan perasaan yang jauh lebih rumit: campuran antara rasa penasaran yang menggebu-gebu, kecemasan yang terpendam, dan amarah yang perlahan mendidih di dasar perutnya.
Dari tempat duduknya, matanya tak lepas menatap punggung lebar Rio Adhitama, anak baru yang sejak pagi itu menjadi buah bibir satu sekolah.
“Sialan banget sih anak itu,” batin Kevin mengumpat dalam hati, jari-jarinya memutar-mutar pulpen plastik di atas meja dengan gerakan gelisah dan cepat. “Baru masuk gerbang aja udah bikin keributan. Ngelawan Dimas, terus malah diselamatin sama Bang Bara? Apa-apaan sih nasib anak baru itu? Apa dia emang sengaja nyari perhatian? Atau… dia emang anak buah rahasianya Bang Bara yang disusupin ke sini buat ngintip-ngintip?”
Pikiran Kevin berputar liar. Bagi siswa biasa, kejadian di lorong gedung A tadi pagi mungkin hanya terlihat seperti pertolongan biasa dari kakak kelas yang berhati baik. Tapi bagi Kevin, yang sejak kelas satu SMP sudah hidup dan bernapas di dalam dunia geng, di dalam aturan main SMA Merdeka yang kejam, kejadian itu punya arti yang jauh lebih besar dan berbahaya. Di sini, di sekolah ini, tidak ada kebaikan tanpa pamrih. Tidak ada pertolongan yang gratis. Setiap gerakan, setiap kata, setiap tatapan mata punya arti politik kekuasaan yang mendalam.
Kevin tahu persis siapa Dimas. Dimas adalah anak buah langsung dari Anto, dan Anto adalah tangan kanan kepercayaan Bang Raka pemimpin tertinggi kelompok Naga Hitam, penguasa wilayah barat dan utara sekolah, serta musuh bebuyutan Bang Bara dan kelompok Macan Putih. Persaingan antara dua kelompok raksasa ini bukan lagi soal rebutan wilayah atau uang jajan, tapi sudah masuk ranah gengsi, harga diri, dan perebutan kendali mutlak atas seluruh SMA Merdeka. Dua kubu yang berlawanan arah, seperti air dan api, tidak pernah bisa disatukan.
Lalu tadi pagi, anak buah Raka mau tidak mau harus mundur dan diam saja cuma gara-gara satu kata dari Bara. Dan itu terjadi di depan anak baru itu.
“Ini kacau banget sih,” batin Kevin lagi, matanya menyipit menatap punggung Rio yang masih tenang-tenang saja seolah tidak ada apa-apa. “Kalau dibiarin gini aja, nanti anak-anak lain ngira kalau ngelawan anak Naga Hitam terus lari ke pelukan Macan Putih itu aman-aman aja. Kalau sampe pola pikir gitu nular, otomatis wibawa Bang Raka bakal turun drastis. Dan kalau wibawa Bang Raka turun… nasib gue, nasib Anto, nasib kita-kita yang ada di bawah sini juga bakal ancur lebur. Gue gak mau sampe kejadian itu.”
Kevin mengubah posisi duduknya, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat kedua tangan di dada. Senyum miring yang licik dan penuh ambisi mulai terukir di bibirnya. Di dalam kelas X-3 ini, Kevin adalah penguasa tunggal. Semua siswa tahu itu. Guru-guru mungkin melihatnya sebagai siswa yang agak nakal tapi lumayan berprestasi di olahraga, tapi di mata teman-teman sekelasnya, Kevin adalah hukum. Dialah yang menentukan siapa yang aman, siapa yang harus bayar, dan siapa yang harus dihindari. Posisi ini ia dapatkan bukan cuma karena ototnya yang besar, tapi karena koneksinya yang kuat. Ia adalah salah satu anggota muda berpotensi tinggi di kelompok Naga Hitam, anak didik kesayangan Anto. Posisi ini ia bangun dengan susah payah selama dua tahun terakhir, dan ia tidak akan membiarkan anak baru yang asing dan aneh ini merusak semuanya dalam satu hari saja.
“Rio Adhitama…,” nama itu ia ucapkan pelan di dalam hati, seolah sedang mengecap rasa dari nama itu. “Lo kira dengan diem-diem aja lo bakal aman? Lo kira dengan punya ‘koneksi’ sama Bang Bara dikit, lo bisa lepas dari aturan gue? Salah besar, Bangsat. Di kelas ini, gue yang pegang kendali. Mau lo anaknya siapa aja, mau lo temen deketnya siapa aja, kalau lo masuk wilayah gue, lo harus nurut aturan gue.”
Rencana sudah mulai terbentuk di kepalanya sejak ia pertama kali melihat Rio masuk ke pintu kelas. Awalnya ia hanya ingin mengintimidasi biasa, meminta uang saku standar anak baru, lalu memaksa Rio bergabung agar kekuatannya bisa dipakai untuk menambah pasukan Naga Hitam. Tapi setelah mendengar kabar dari Dimas dan melihat sikap Rio yang dingin dan tidak tergoyahkan, rencana itu berubah total. Ini bukan lagi sekadar soal pemalakan atau perekrutan anggota. Ini soal perang psikologis.
“Gue harus bikin contoh dari lo, Rio,” pikir Kevin dengan tatapan tajam dan dingin. “Gue harus nunjukin ke seluruh anak kelas, ke seluruh anak sekolah, walaupun lo udah diliat sama Bang Bara, walaupun lo berani ngelawan Dimas… tetep aja di depan Naga Hitam, lo cuma sampah. Gue bakal bikin lo nyerah, gue bakal bikin lo nangis minta ampun, dan saat lo akhirnya minta perlindungan… lo bakal minta sama kita, sama Naga Hitam. Bukan sama Macan Putih. Kalau itu kejadian, gengsi Bang Raka bakal naik berkali-kali lipat, dan posisi gue bakal makin kuat. Ini kesempatan emas buat gue naik pangkat.”
Tiba-tiba sebuah siku menyenggol lengannya. Kevin menoleh cepat, melihat wajah Rian, sahabat sekaligus tangan kanannya yang kurus berkacamata itu sedang mencondongkan badan sambil pura-pura memperhatikan papan tulis. Rian adalah otak dari semua rencana kotor Kevin, orang yang paling mengerti jalan pikiran Kevin tanpa perlu banyak bicara.
“Psst… Vin,” bisik Rian pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara suara kapur dan suara guru yang menjelaskan. “Lo liat-liatin anak baru itu dari tadi deh. Ada rencana seru nih kayaknya?”
Kevin menyeringai, mendekatkan mulutnya ke telinga Rian, matanya tetap waspada mengawasi gerak-gerik guru di depan.
“Iya dong, Yan. Lo pikir gue bakal diem aja ngeliat dia sok jago gitu? Dia pikir dia sih coba? Baru dateng udah jadi pusat perhatian, apalagi ada berita dia ketemu Bang Bara. Kalau gue diemin, nanti dikira gue takut sama dia, dikira gue lemah. Nanti otomatis posisi kita di kelas jadi goyang.”
Rian mengangguk pelan, matanya berkilat penuh intrik. “Bener juga sih. Lagian Dimas udah ngabarin kalau anak baru itu mulutnya kenceng banget. Pas Dimas minta uang, dia malah ngeles gak bawa. Gak tau diri banget kan? Harus dikasih pelajaran nih biar sadar diri.”
“Nah, itu dia,” jawab Kevin pelan namun penuh penekanan. “Gak cuma dikasih pelajaran biasa. Kali ini harus beda. Kasus dia spesial. Dia dianggap deket sama Bang Bara, jadi kalau kita bisa bikin dia jatuuh, itu kemenangan besar buat Bang Raka. Gue udah telepon Bang Anto pas jam istirahat pertama mau mulai. Bang Anto setuju banget, malah dia bilang dia bakal dateng bawa anak buah buat ngawasin. Katanya Bang Raka sendiri juga pengen liat kelakuan si anak baru ini.”
Rian tersenyum lebar, senyum yang sama liciknya dengan Kevin. “Wih, parah bener nih sasaran. Sampe Bang Anto sama Bang Raka ikut campur. Berarti rencananya gimana nih, Bos?”
Kevin membetulkan letak kacamatanya yang tidak buram, lalu kembali menatap punggung Rio yang masih diam tenang di depan sana. Ada rasa puas yang mulai mengisi dadanya. Permainan sedang disusun, dan umpan sudah ada di dalam jaring.
“Gampang aja sih,” jawab Kevin santai, seolah sedang membicarakan hal sepele. “Nanti pas bel istirahat bunyi, lo pancing dia ngomong dulu, bikin dia emosi atau bikin dia ngomong kenceng. Terus gue panggil dia buat ketemu di belakang GOR. Tempat paling aman, sepi, gak ada guru yang lewat, semak-semak rimbun, pas banget buat ‘pembicaraan serius’. Di sana nanti udah nunggu Bang Anto sama sekitar sepuluh anak buah kita. Jumlahnya cukup banyak, tapi gak terlalu mencolok kalau ada yang liat dari jauh.”
“Terus kalau dia nolak dateng?” tanya Rian penasaran.
Kevin tertawa kecil, suara tertawa yang rendah dan mengancam. “Dia gak bakal nolak. Orang kayak gitu, yang sok-sok mau netral, sok-sok mau berbuat baik, biasanya punya gengsi tinggi dan rasa percaya diri berlebih. Dia bakal mikir dia bisa ngomong baik-baik, dia bakal mikir dia bisa negosiasi. Dia bakal dateng karena dia gak mau dianggap penakut atau pengecut yang kabur. Dia percaya diri banget, itu kelemahan terbesar dia.”
Kevin berhenti sejenak, matanya menatap ke arah Dinda yang duduk di barisan depan. Gadis itu selalu saja pura-pura sibuk dengan buku, tapi Kevin tahu betul Dinda itu duri dalam daging. Sebagai Ketua OSIS, Dinda sering kali menjadi penghalang, sering kali melapor ke guru kalau ada hal mencurigakan. Tapi hari ini, Kevin sudah mengantisipasi itu.
“Terus soal Dinda gimana? Nanti dia ngadu lagi ke Pak Guru kalau tau ada keributan,” sela Rian lagi, mengikuti arah pandangan Kevin.
“Biarkan aja dia,” jawab Kevin acuh tak acuh, sambil meremas-remas ujung seragamnya. “Gue udah atur anak-anak di kantin buat ngalihin perhatian. Nanti pas jam istirahat, bakal ada keributan kecil di dekat kantin depan biar guru-guru pada lari ke sana. Sementara kita urus si Rio di belakang. Lagian… Dinda itu cuma punya mulut doang. Dia tau kalau dia ngomong, dia sama OSIS-nya bakal kita ganggu terus. Dia bakal diem. Dia pinter, dia tau mana yang aman buat dia.”
Bayangan wajah Rio yang dingin dan tenang itu kembali melintas di benak Kevin. Rasa iri bercampur benci kembali muncul. Kenapa anak itu bisa setenang itu? Kenapa dia tidak terlihat takut sama sekali? Apa dia tidak tahu betapa mengerikannya dunia yang sedang ia masuki?
“Lo belum tau apa-apa, Rio,” batin Kevin penuh kemenangan. “Lo belum ngerasain gimana rasanya jadi musuh Naga Hitam. Lo pikir dengan modal berani ngelawan dikit dan ngobrol sama Bang Bara, lo udah jago? Lo salah besar. Di sini, yang menang bukan yang paling kuat, tapi yang punya pasukan terbanyak dan kekuasaan terbesar. Lo sendirian, gak punya siapa-siapa, cuma punya janji kosong mau sekolah tenang. Sementara gue? Gue punya puluhan orang di belakang gue, punya Bang Anto, punya Bang Raka. Bandingin aja.”