NovelToon NovelToon
Kutukan Santau

Kutukan Santau

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: glaze dark

kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:

---

*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti

pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*

_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Pas malam harinya, rumah itu terasa asing.

Rian belum balik dari rumah Pak Ustadz. Tinggal Bibah dan Lasmi di kamar, pintu dan jendela sudah digaris pakai air ruqyah seperti yang Rian bilang tadi. Bau daun bidara dan kapur barus menyengat di udara, bikin kepala pusing tapi tenang.

Jam dinding berdetak pelan menunjukkan angka.

09:12.

09:13.

09:14.

Lasmi tidur miring, napasnya teratur. Warna pucat di wajahnya hampir hilang, tapi alisnya sesekali berkerut, kayak lagi nahan mimpi buruk. Bibah duduk di sampingnya, tidak berani terpejam. Ayat Kursi diulang-ulang pelan di bibirnya.

Tepat jam 10 malam, lilin di pojok kamar berkedip sekali.

_Wus._

Angin masuk dari celah pintu yang udah ditutup rapat.....Dingin. Lasmi menggeliat dan Matanya masih tertutup, tapi mulutnya bergerak."Dia datang, Bu..." bisiknya. Suaranya bukan suara anak 7 tahun.

Bibah langsung mencengkeram tangan anaknya. "Lasmi? Lasmi, bangun!"

Dari luar, terdengar ketukan.

_Tok. Tok. Tok._

Pelan..... Sabar! Sama persis seperti ketukan sebelum Sitoh kabur tadi siang. Bibah menahan napas dan Dia tidak berani menjawab atau membuka pintunya.

Ketukan itu berhenti, setelah beberapa detik terdengar lagi suara seretan kaki di tanah luar jendela dan semakin dekat dan berhenti tepat di bawah jendela kamar Lasmi.

Pelan. Sabar.

Sama persis seperti ketukan sebelum Sitoh kabur tadi siang. Bibah menahan napas, dan dia tidak berani menjawab atau membuka pintunya.

Hening.

Yang ada cuma suara napas Bibah yang tertahan dan napas Lasmi yang masih pelan di ranjang. Lalu, kaca jendela itu berembun dari luar,. Padahal malam ini tidak dingin. Dari balik embun, muncul telapak tangan menempel di kaca, menekan pelan. Kuku-kukunya panjang, hitam, seperti sudah lama tidak dipotong.

Pelan. Sabar.

Sama persis seperti ketukan sebelum Sitoh kabur tadi siang. Bibah menahan napas, dan dia tidak berani menjawab atau membuka pintunya.

Hening.

Yang ada cuma suara napas Bibah yang tertahan dan napas Lasmi yang masih pelan di ranjang. Lalu, kaca jendela itu berembun dari luar. Padahal malam ini tidak dingin.

Dari balik embun, muncul telapak tangan menempel di kaca, menekan pelan. Kuku-kukunya panjang, hitam, seperti sudah lama tidak dipotong.

Jari-jarinya bergerak, menggores kaca pelan-pelan.

_Cret... cret..._

Suara itu kecil, tapi seperti merambat ke tulang belakang Bibah, Setiap goresan bikin bulu kuduknya berdiri. Lasmi di ranjang tiba-tiba menggeliat dan Matanya masih terpejam, tapi kepalanya miring ke arah jendela. Dari bibirnya keluar suara serak, pelan:

"Dia mau menjemput lasmi, Bu..."mendengar suara anaknya, bibah langsung memeluk anaknya erat-erat."istighfar nak....!jangan pedulikan mahkluk itu, ya Allah.... Tolong selamatkan kami dari mahkluk tersebut".isak bibah sambil gemetar, suaminya yang menjemput ustadz sore tadi sampai sekarang belum pulang.

Tangan di luar jendela berhenti menggaruk.

Lalu telapak itu berubah posisi, menempel penuh ke kaca seolah mau merasakan kehangatan di dalam. Embun di kaca membentuk wajah, Mata cekung dan Senyum miring. Wajah itu menempel di kaca, napasnya yang dingin membuat embun makin tebal. Bibirnya bergerak tanpa suara, tapi Bibah mendengarnya jelas di kepalanya:

"Serahkan dia...Bibah!. Nanti aku tidak akan mengganggu kalian lagi."suara itu bergema dikepala bibah . Lasmi di pelukannya tiba-tiba menegang dan Tubuhnya panas mendadak, keringat dingin membasahi baju tidurnya. Matanya masih terpejam, tapi kepalanya menoleh ke jendela sendiri.

Bibah menggigit bibir sampai berdarah. Dia rapatkan Lasmi ke dadanya, mulutnya komat-kamit membaca Ayat Kursi secepat yang dia bisa. Suaranya bergetar tapi tidak berhenti. Di luar, wajah di kaca itu mendelik. Senyumnya hilang. Kaca bergetar pelan, seolah ada sesuatu yang mendorong dari luar.

Di luar, wajah di kaca itu mendelik. Senyumnya hilang, Kaca bergetar pelan. seolah ada sesuatu yang mendorong dari luar.

_Retak..._

Garis itu menjalar cepat. Dari telapak tangan hitam itu retakan menyebar ke seluruh kaca seperti jaring laba-laba.Bibah memejamkan mata, memeluk Lasmi lebih erat. "Ya Allah, kalau Engkau mendengar... jangan biarkan dia ambil anakku!"

Saat itu juga, dari luar terdengar suara keras:

_"Bismillahirrahmanirrahim!"_

Pintu kamar dibanting terbuka. Rian berdiri di ambang pintu, napas terengah, satu tangan menggenggam botol air yang berkilau biru. Di belakangnya, Pak Ustadz masuk dengan langkah cepat, tasbihnya berputar tanpa henti.

Wajah di kaca itu mendesis.

_Krak!_

Kaca pecah berantakan tepat saat Pak Ustadz mengangkat tangan dan menyemburkan air dari botol itu ke arah jendela. Uap hitam melesat keluar dari celah pecahan, menjerit.

Suara Sitoh melengking, bukan manusia lagi:

_"AKU BELUM SELESAI!"_

Lalu gelap.Lilin di kamar padam, dan semuanya senyap.

Pintu kamar dibanting terbuka. Rian berdiri di ambang pintu, napas terengah, satu tangan menggenggam botol air yang berkilau biru. Di belakangnya, Pak Ustadz masuk dengan langkah cepat, tasbihnya berputar tanpa henti.

Wajah di kaca itu mendesis.

_Krak!_

Kaca pecah berantakan tepat saat Pak Ustadz mengangkat tangan dan menyemburkan air dari botol itu ke arah jendela. Uap hitam melesat keluar dari celah pecahan, menjerit.

Suara Sitoh melengking, bukan manusia lagi:

_"AKU BELUM SELESAI!"_

Lalu gelap. Lilin di kamar padam, dan semuanya senyap dan Hening itu itu tidak akan bertahan lama.

Pak Ustadz langsung menghampiri lasmi yang terbaring diranjang kecilnya,

"Jangankan lepas dia...Bu Bibah," kata Pak Ustadz pelan. "Santau itu belum keluar, Tadi cuma diusir dari jendela dan akarnya masih di dalam."

Rian cepat-cepat menutup pecahan kaca pakai sarung, biar angin luar tidak masuk bebas. Udara di kamar masih dingin, tapi beda—dinginnya seperti bangkai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!