NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:342
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Sabtu Pagi yang Berisik

Jam delapan kurang dua menit.

Gua berdiri di depan gerbang kampus dengan muka bantal yang gua tutupi pakai bedak tipis-tipis biar nggak kelihatan kayak zombi.

Sabtu pagi yang harusnya gua pakai buat hibernasi sampai siang, malah harus gua korbankan demi proyek "Harmoni Nada" yang judulnya aja udah bikin dahi gua berkerut.

Tin! Tin! 

Satu motor bebek warna hitam yang kinclongnya kebangetan berhenti tepat di depan kaki gua. Pengendaranya pakai helm full face hitam, jaket denim pudar, dan di punggungnya ada tas gitar yang berdiri tegak kayak antena.

Siapa lagi kalau bukan Dedik?

"Telat dua menit, Rey," suara Dedik kedengaran mendem dari balik helm. Dia buka kaca helmnya, natap gua pakai mata yang kelihatan seger banget, berbanding terbalik sama gua yang matanya masih sepet.

"Cuma dua menit, Ded! Gak usah kaku banget napa sih," semprot gua sambil benerin posisi tas ransel gua. "Terus... lo beneran bawa motor bebek ini? Kita mau survei ke desa wisata yang jalannya nanjak-nanjak itu?"

"Motor bebek ini mesinnya lebih sehat daripada mental lo, Rey. Naik. Gua nggak mau telat nyampe lokasi."

Gua naik ke boncengan dengan gerakan males. Pas gua udah duduk anteng, gua baru sadar satu hal.

Tas gitar di punggung Dedik itu ngehalangin gua banget! Gua jadi harus duduk agak mundur ke belakang biar nggak kepentok tasnya.

"Gua nggak bisa duduk bener kalau lo bawa gitar gini, Ded! Sempit tau!"

"Pegangan yang kenceng," jawab Dedik enteng, nggak ngebales komplain gua.

"Pegangan ke mana?! Ke behel motor lo?!"

"Ke jaket gua kalau lo takut jatuh. Karena gua nggak bakal bawa motor pelan-pelan."

Belum sempet gua nanya maksudnya apa, Dedik langsung narik gas motornya. Wush!  Motor bebek itu melesat keluar gerbang kampus kayak roket. Gua refleks teriak sambil nyengkeram erat pinggiran jaket denim Dedik.

"DEDIK! PELAN-PELAN, WOI! INI JALAN RAYA, BUKAN SIRKUIT MANDALIKA!"

"Kalau pelan namanya jalan santai, Rey. Ini namanya efisiensi waktu!" teriak Dedik balik di sela-sela deru angin.

Kita ngelewatin kemacetan pagi dengan lincah banget. Dedik bawa motornya selap-selip di antara mobil dan truk, bikin jantung gua berasa mau pindah ke tenggorokan.

Berkali-kali badan gua kedorong ke depan karena Dedik ngerem mendadak, dan otomatis muka gua mentok ke tas gitarnya.

"Aduh! Hidung gua pesek lama-lama kalau gini caranya!" keluh gua pas kita berhenti di lampu merah.

Dedik nengok sedikit lewat spion. "Hidung lo emang udah pesek dari sananya, nggak usah nyalahin tas gitar gua. Udah siap? Bentar lagi kita masuk jalur nanjak."

Gua cemberut. "Ini kita beneran mau neliti harmoni nada di desa? Emang di sana ada apa sih? Konser dangdut?"

"Desa itu punya pengrajin alat musik bambu tradisional yang hampir punah. Gua mau rekam frekuensinya buat tugas akhir gua, dan lo... lo bakal bantu gua wawancara warga soal potensi ekonominya. Itu bagian Akuntansi lo, kan?"

"Oh... kirain lo mau minta gua jadi penyanyi latar lo di sana."

"Kalau suara lo nggak fals kayak di flashdisk, mungkin gua pertimbangin," ledek Dedik yang langsung bikin gua pengen nendang ban motornya.

Begitu lampu ijo, Dedik langsung tancap gas lagi. Kali ini jalannya mulai menanjak dan berkelok-kelok. Udara kota yang panas pelan-pelan berubah jadi sejuk karena kita mulai masuk area perbukitan.

Jujur, sebenernya pemandangannya bagus banget. Hijau di mana-mana. Tapi karena Dedik bawa motornya kayak kesetanan, gua nggak bisa nikmatin apa-apa selain nahan napas biar nggak muntah.

"Ded, istirahat dulu napa... perut gua mual," rengek gua pas kita udah nyampe di daerah yang jalannya makin curam.

"Dikit lagi nyampe. Tahan, Rey. Sagitarius masa lembek banget?"

"Ini bukan soal lembek, ini soal usus gua yang berantakan karena lo bawa motornya ugal-ugalan!"

Tiba-tiba, motor Dedik suaranya berubah. Brebet... brebet... Terus mendadak mesinnya mati total tepat di tengah tanjakan yang lumayan tinggi.

"Loh? Mati?" gua panik. "Ded! Rem! Entar kita mundur!"

Dedik dengan sigap nahan rem kaki dan rem tangan. Kita berdua berhenti di posisi nanjak yang curam banget. Gua bisa ngerasa motor ini berat banget karena nahan beban kita berdua.

"Turun dulu, Rey! Turun!" perintah Dedik.

Gua buru-buru turun dari boncengan dengan kaki gemeteran.

Dedik berusaha nyalain motornya lagi pakai kick starter, tapi nggak nyala-nyala. Dia turun, buka jok motornya, terus mukanya langsung berubah jadi datar banget. Lebih datar dari biasanya.

"Kenapa? Busi? Karburator?" tanya gua sok tau.

Dedik natap gua, terus natap tangki bensinnya. Dia diem seribu bahasa.

Gua punya firasat buruk. Gua maju, ngintip ke dalem tangkinya yang ternyata... kering kerontang.

"Lo... lo tadi nyuruh gua isi bensin, tapi lo sendiri nggak isi bensin?!" teriak gua nggak percaya. "DEDIK! INI DI TENGAH HUTAN, JALANNYA NANJAK, DAN BENSIN LO ABIS?!"

Dedik benerin kacamatanya, tetep tenang seolah-olah dunia nggak lagi kiamat. "Tadi gua terlalu fokus nyiapin alat rekam sama senar gitar. Secara logika, gua kira sisa bensin kemarin masih cukup buat sampe atas."

"Logika lo rusak, Ded! Sekarang gimana?!"

Dedik ngeliat sekeliling. Gak ada tanda-tanda pom bensin atau warung bensin eceran. Cuma ada pohon pinus dan jurang di sebelah kiri jalan.

"Gak ada cara lain," kata Dedik sambil nuntun motornya pelan ke pinggir jalan. "Gua harus nuntun motor ini ke atas sampai nemu warung. Dan lo..."

"Gua apa? Jangan bilang gua harus dorong?!"

Dedik natap gua serius. "Bukan dorong. Lo pegangin gitar gua. Gua nggak bisa nuntun motor sambil bawa tas gitar di punggung, beratnya nggak imbang di tanjakan curam gini."

Gua pasrah. Gua ambil tas gitar itu, gua gendong di punggung gua. Sumpah, berat banget! Gua yang mungil gini berasa bawa kulkas di punggung.

Jadilah kita berdua: Dedik nuntun motor bebeknya, dan gua jalan di belakangnya sambil nanggung beban gitar kesayangannya di tengah hutan pinus yang sunyi sepi.

"Partner sialan..." gumam gua berkali-kali.

Baru aja kita jalan sekitar lima puluh meter, tiba-tiba ada suara motor dari arah belakang. Motor besar, suaranya gahar banget. Begitu motor itu berhenti di samping kita, pengendaranya buka helm dan senyum ke arah gua.

"Loh, Reyna? Ngapain di sini bawa-bawa gitar?"

Gua melongo. Jantung gua rasanya mau copot buat kesekian kalinya hari ini. Cowok itu... cowok yang barusan disebut Mama di grup WhatsApp.

"Arlan?!"

Dedik langsung berhenti nuntun motornya. Dia nengok ke arah cowok itu, terus natap gua dengan tatapan yang sulit diartiin.

"Siapa dia, Rey?" tanya Dedik singkat. Suaranya berubah jadi lebih dingin, sedingin es kutub utara.

Gua baru mau jawab, tapi Arlan udah lebih dulu turun dari motor gedenya dan jalan deketin gua dengan gaya sok asik.

"Partner lo ya? Kok lo disuruh bawa gitar sementara dia asik nuntun motor doang? Cupu amat," kata Arlan sambil ngelirik Dedik sinis.

Mata Dedik menyipit. Dia narik napas panjang, narik motornya makin deket ke gua, seolah-olah mau ngehalangin Arlan.

"Gua nggak nanya pendapat lo," sahut Dedik pelan tapi tajem banget.

Suasananya mendadak jadi tegang. Gua berdiri di tengah-tengah dua cowok yang auranya mendadak jadi kayak mau perang dunia ketiga.

Satu jenius Aquarius yang lagi kesel karena bensin abis, satu lagi sepupu Sagitarius gua yang mulutnya nggak kalah pedas.

Dan yang paling parah, gue baru sadar satu hal... Dedik itu orangnya cemburuan nggak sih?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!