NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:571
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Cakra buru-buru turun dari motor begitu melihat ekspresi Narisa mulai berubah tidak enak.

"Gak ada yang harus dipilih," katanya cepat sambil mendekat. "Pacarku cuma kamu."

Sonya langsung tertawa pendek, tapi nadanya sakit hati.

"Najis amat." Dia menunjuk Cakra penuh emosi. "Baru kemarin kamu beliin aku boneka sambil bilang tinggal nunggu waktu buat putus."

Narisa yang tadi masih berusaha tenang langsung menoleh pelan.

"Kamu mau putusin aku?"

"Enggak lah,"

"Kemarin siang kamu bilang sibuk." Narisa makin menyipit. "Itu maksudnya ketemu dia?"

Cakra tidak langsung menjawab. Dan diam itu justru bikin dada Narisa makin panas.

"Tadi pas istirahat juga sama dia?"

Cakra masih diam. Sonya malah nyambar duluan. "Tadi kita ke kafe. "

Narisa langsung ketawa kecil saking kesalnya.

"Ohh..." Dia mengangguk pelan. "Anak kepala sekolah enak juga ya. Bisa keluar pas jam sekolah."

"Sang, jangan ngomong gitu," Cakra buru-buru memegang pundaknya. "Dia cuma temen."

Narisa langsung melirik tangan di pundaknya.

"Temen?" Dia mendecih. "Temen rasa cicilan."

"Hah?"

"Kemarin jalan. Hari ini jalan. Dibeliin boneka." Narisa mulai ngomel cepat. "Besok apaan? Tukeran cincin?"

"Itu gak serius."

"Nah berarti kamu emang kurang kerjaan."

Sonya yang dari tadi ditinggal denial langsung tersulut.

"Kurang serius gimana? Tiap hari dia nempel mulu sama gw."

"Sonya." Nada suara Cakra mulai menegang.

"Gak usah sok galak." Sonya tertawa sinis. "Aku capek dibikin kayak cadangan."

Narisa langsung menoleh lagi ke arah Cakra. Mukanya mulai berubah.

"Jadi lo emang main dua kaki."

"Sang, dengerin aku dulu."

"Dengerin apaan?" suara Narisa mulai naik. "Belakangan lo ilang mulu. Chat lama bales. Ketemu gw bentar doang. Ternyata sibuk ngapel.!"

"Itu gak kayak yang kamu pikirin,"

"TERUS KAYAK GIMANA?!"

Cakra refleks menoleh ke sekitar yang sudah sepi, takut ada penonton dadakan. Tapi Narisa sudah telanjur emosi. Sementara Sonya langsung mengeluarkan ponsel.

"Gw punya bukti kalau lo masih denial."

Cakra refleks mendekat. "Jangan aneh-aneh."

Tapi Sonya sudah keburu menunjukkan layar ponselnya ke Narisa. Di layar, foto Cakra sedang merangkul pundak Sonya yang memeluk boneka kucing besar.

Narisa terdiam beberapa detik.

"Anjir.." Dia mengusap wajah sendiri. "Jadi gw doang yang bego di sini?"

"Itu cuma-"

"Cuma apa?" Narisa langsung menunjuk layar itu. "Ini apaan? Study tour boneka?"

Sonya langsung menyahut dengan emosi yang tidak kalah tinggi.

"Dia juga cium gw."

Hening.

Cakra langsung pucat. Sedangkan Narisa perlahan menoleh.

"Cium?"

"Itu cuma sekali."

Plak!

Tamparan Narisa langsung mendarat keras di pipi Cakra. Bahkan Sonya ikut kaget. Napas Narisa mulai berantakan karena terlalu marah.

"Najis banget lo."

Bukan hanya kaget karena ditampar, Cakra juga asing dengan cara bicara Narisa. Biasanya Narisa selalu memilih kata, manja, dan riang.

"Sayang," dia mengambil napas panjang. "Kamu tenang dulu. Aku bisa jelasin semuanya."

"Jelasin pala lo." Narisa menepis tangan Cakra yang mencoba mendekat lagi. "Gw tuh percaya sama lo, bego."

"Itu khilaf."

"Oh jadi biasanya lebih parah?"

"Bukan gitu maksud aku."

Narisa menunjuk Cakra dengan telunjuk gemetar. Matanya mulai merah.

"Lo tau gak yang paling bikin gw emosi?"

Cakra diam.

"Lo tuh mukanya alim banget. Taunya kelakuan kayak kecoa got."

"Ya jangan gitu juga ngomongnya," Sonya mulai ikut tersinggung.

Narisa langsung menoleh cepat.

"Dan lo juga aneh."

"Hah?"

"Udah tau dia punya cewek, masih aja mau dicium."

"Gw juga diboongin!"

"Derita lo."

Sonya langsung bungkam.

Narisa mendecih kasar. "Cocok dah kalian. Yang satu tukang bohong. Yang satu doyan nyolek punya orang."

Di saat suasana makin panas, Kara tiba-tiba muncul sambil menguap kecil. Cewek itu lewat begitu saja di belakang mereka seolah tidak habis nguping drama dari tadi. Narisa langsung berjalan cepat menghampiri.

"Santen. Nebeng."

Kara cuma melirik sekilas lalu mengangguk santai sambil memakai helm.

Sesimpel itu.

"Sayang, bentar dulu." Cakra buru-buru menarik tangan Narisa lagi. Dan langsung ditepis kasar.

"Jangan pegang-pegang gw.'

"Jangan gini."

"Terus harus gimana?" Narisa melotot. " Gw tepuk tangan karena lo sukses selingkuh?"

"Itu gak seserius itu."

"Wah gila." Narisa geleng-geleng kepala. "Lo abis nyium cewek lain terus bilang gak serius."

"Aku gak mau kehilangan kamu."

"Idih, najis goblok. Lo tau gak? Yang gampang nyosor itu biasanya labil. Ya kayak lo gini."

Cakra langsung terdiam. Sementara Kara ikut tertohok. Dia jadi teringat lagi soal tadi malam.

Tapi Narisa belum selesai. Dia menunjuk mukanya dengan emosi yang akhirnya benar-benar pecah.

"Gw udah males sama lo."

Kalimat itu keluar begitu saja, bahkan tanpa dipikirkan. Cakra terlihat panik sekarang.

"Kita udah hampir dua tahun..."

"Terus kenapa? Mau sepuluh tahun juga kalau lo nyebelin tetep aja nyebelin."

"Sayang..."

"Capek gw."

Narisa langsung berbalik dan naik ke motor Kara. Tapi sebelum motor itu jalan, Cakra masih nekat menahan pergelangan tangannya. Kara langsung menunjuk tangan itu.

"Eh. Jangan maksa." Nada suaranya santai, tapi matanya tajam.

Cakra mengernyit kesal. "Ini bukan urusan lo."

"Tapi yang lo tarik-tarik itu bini-eh !"

Kara langsung menoleh saat Narisa mencubit pinggangnya dari belakang. Dia pura-pura batuk kecil.

"Dia temen gw. Jangan macem-macem lo."

Cakra langsung menoleh bingung ke Narisa.

"Sejak kapan kalian temenan?"

"Bukan urusan lo. Santen, buru jalan,"

Motor Kara akhirnya melaju keluar parkiran. Dan tepat sebelum benar-benar pergi, Narisa masih sempat menoleh sekali lagi ke arah Cakra.

Mukanya kusut. Matanya merah. Tapi mulutnya tetap nyolot.

"Cowok cool tai anjing. Kelakuan aja busuk banget. Awas aja besok."

Setelah motor Kara benar-benar hilang dari gerbang sekolah, Cakra mengepalkan tangan sambil menatap Sonya tajam.

"Puas lo sekarang?"

Sonya melipat tangan tanpa gentar.

"Biar dia tau aja kamu tuh aslinya gimana." Dia tertawa hambar. "Dikira aku gak capek dijanjiin mulu."

"Kamu kira habis ini aku bakal milih kamu?"

Sonya langsung mendecih.

"Tenang aja. Aku juga udah ilfeel."

Cakra terdiam. Sonya menatap cowok itu beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas.

"Cewek tuh kadang emang bego ya. Gampang percaya cuma karena dikasih perhatian dikit." Dia mundur pelan. "Tapi kalau udah tau busuknya...ya ngapain dipungut lagi."

Setelah itu Sonya pergi begitu saja meninggalkan Cakra sendirian di parkiran yang sepi.

~

~

Di jalan, tidak ada percakapan apa pun, Kara tahu kondisi hati Narisa sedang tidak baik-baik saja. Dia tidak menggoda Narisa yang sejak tadi menempelkan kepala di punggungnya. Bahkan Kara sengaja mencari jalan alternatif karena Narisa tidak pakai helm. Jalanan sempit, padat, bau got, semua diterobos begitu saja.

Awalnya Kara berniat mampir beli makan dulu. Soalnya Nuri bilang, Narisa biasanya berubah jadi monster lapar tiap pulang sekolah.

"Bonar, lo mau makan gak?"

Hening.

Kara memperlambat laju motornya sedikit.

"Bonar, mau makan gak? Kita mampir warteg depan aja kalau mau, "

Tetap sunyi.

Akhirnya Kara langsung membawa motor masuk ke area rumah. Setelah berhenti di depan pagar, dia bicara lagi.

"Bonar, bukain pagar."

Masih tidak ada reaksi.

Kara mengernyit. Kalau Narisa tidur, tidak mungkin pelukannya di perut Kara seerat ini. Akhirnya dia melepas paksa tangan Narisa dan turun dari motor.

Dan ternyata... Narisa sedang menangis tanpa suara.

Dia tidak bilang apa-apa. tanya membuka pagar, memasukkan motor ke garasi, lalu menutupnya lagi.

Setelah itu Narisa turun sendiri dengan langkah gontai. Dia membuka pintu rumah tanpa bicara, lalu langsung masuk ke kamar. Kara yang mengikuti di belakang cuma menatap heran.

Begitu sampai di kamar, Kara melepaskan jaket lalu terdiam.

"Anjir, dia bikin pulau di sini."

Punggung jaketnya basah semua. Kara membuka kemejanya, menyisakan kaos putih tipis. Setelah itu dia mengambil ponsel yang dari tadi berisik sendiri.

Beberapa panggilan tak terjawab dari Harum dan anak basket lainnya. Kara langsung menelepon balik.

"Woy, Ra!" sembur Harum begitu panggilan tersambung. "Lo ke mana dah? Tiba-tiba kagak dateng."

"Gw gak latihan hari ini. Bilangin ke yang lain,"

"Lah, ngapa? Lo sakit? Sejak kapan lo bisa sakit?"

"Lagi ada urusan,"

Harum mendengus.

"Lo kemarin udah libur seminggu. Ini libur lagi. Kita bentar lagi turnamen. Ketua apaan lo?"

Kara mengernyit sambil duduk di kasur.

"Masih dua minggu lagi. Ganti hari Minggu sore aja latihannya."

"Yee, peak." Harum terdengar pasrah. "Yaudah deh. Anak-anak hari ini fokus ngajarin anak baru aja."

"Oke."

Tut.

Kara melempar ponselnya ke atas kasur.

Biasanya sepulang sekolah dia langsung latihan sampai sore. Tiba-tiba pulang cepat begini malah bikin bingung sendiri.

Karena perutnya mulai lapar, akhirnya dia berjalan ke kamar Narisa dan mengetuk pintu tiga kali.

Tidak ada jawaban,

"Nih anak pingsan apa ya?" gumamnya mulai curiga.

Ceklek.

Pintu terbuka pelan. Narisa. ternyata sedang telungkup sambil memeluk bantal.

"Bonar. Makan gak? Gw laper."

Narisa bangkit pelan lalu menoleh. Mukanya kusut. Matanya sembab. Sesekali masih sesenggukan.

"GW mau makan," katanya parau.

Kara meringis kecil, lalu mendekat dan duduk di tepi kasur.

"Lo jelek banget, njir."

Narisa tidak langsung menjawab. Dia cuma menatap Kara sambil sesekali mengusap air mata yang turun lagi.

"Mungkin gara-gara itu Cakra selingkuh," katanya pelan.

Kara langsung pura-pura kaget.

"Hah? Lo diselingkuhin ?" Dia geleng geleng kepala lebay. "Gila sih tuh cowok."

Narisa malah makin ingin nangis.

"Terus lo ngapa nangis?" lanjut Kara. "Harusnya lo jambak aja dua-duanya sampe botak,"

Narisa tiba-tiba terisak lagi. Kara langsung garuk- garuk kepala.

Menangani cewek nangis caranya beda-beda. Mantannya dulu ada yang cukup dibelikan es krim langsung diam. Ada yang cuma butuh dipeluk. Nah ini Narisa maunya apa?

"Lo mau es krim?" tanya Kara hati-hati.

Narisa menggeleng.

"Permen? Coklat?"

Geleng lagi.

"Terus lo mau apa?"

Narisa mengusap hidungnya.

"Gw mau tongkol balado."

Kara langsung mendelik. "Et dah. Gw sampe bosen makan itu di rumah,"

Hening sebentar.

"Yaudah, gw beliin dulu"

Baru juga Kara mau bangkit, Narisa tiba-tiba menarik ujung kaosnya.

"Kenapa?" Nada suara Kara langsung melunak. "Lo mau yang lain lagi? Bilang aja-"

Tiba-tiba Narisa memeluknya. Tangisnya langsung pecah lagi di dada Kara.

"Gw sayang banget sama tuh monyet," isaknya berantakan. "Kok tega dia cium cewek lain."

Kara memutar mata ke atas.

Perasaan tadi galak banget di parkiran. Sampai rumah malah nangis brutal, batinnya.

Meski begitu, tangannya tetap menepuk-nepuk punggung Narisa pelan.

"Gw udah curiga. Tapi tetep aja gak nyangka. Gw kira Cakra serius sayang sama gw."

"Nanti cari cowok lain aja," kata Kara santai. "Yang mau sama lo bayak kok,"

Narisa diam. Kara melanjutkan seenaknya.

"Paling ntar dapetnya cowok budeg. Soalnya yang normal biasanya takut sama lo-aduh!"

Cubitan Narisa langsung mendarat di pinggangnya.

"Anjir." Kara meringis. "Lo udah dua kali nyubit gw hari ini."

Narisa masih diam sambil tetap memeluk. Akhirnya Kara ikut diam. Sampai beberapa saat kemudian Narisa bicara pelan.

"Ternyata lo beneran punya tete."

Kara lansung mendelik.

"Anjir, bacot lo. Dari dulu juga punya, peak."

"Paket hemat soalnya. Gw gak ngeh."

Kara mendecak kesal. Tapi penyakit gilanya kambuh juga.

"Makanya gw suka dada cewek." Dia melirik kepala Narisa yang masih nempel di dadanya. "Empuk banget. Nih, kayak sekarang."

"Sayangnya gw bukan pacar lo. Dilarang mesum."

Kara nyengir tipis.

"Ya masa qw kalah sama mantan lo."

"Najis. Dia nyenggol pun gak pernah. Gini-gini gw masih tau jaga diri."

Kara terkekeh kecil. Nah, ini baru Narisa yang normal. Tapi lama-lama dia mulai heran sendiri. Pelukan Narisa belum lepas juga.

Setelah beberapa menit, Kara akhirnya bersuara lagi.

"Lo betah banget meluk gw. Punggung gw mulai pegel."

Tidak ada jawaban.

"Nyaman lo? Tiati cinta."

Masih hening.

Kara menunduk pelan.

Nafas Narisa ternyata sudah teratur.

"Tidur?" Dia langsung geleng geleng kepala. "Capek nangis malah tidur. Kayak bayi aja."

Pelan-pelan Kara melepaskan pelukan itu lalu membaringkan kepala Narisa ke bantal. Sebelum keluar kamar, dia sempat menatap wajah sembab yang sekarang sudah tenang itu beberapa detik.

"Lo goblok nangisin cowok ampas begitu," gumamnya pelan.

Setelah itu Kara keluar begitu saja dan langsung ke dapur membuat mie instan.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!