Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CARI MASALAH
Setelah meletakkan bungkusan kain kecilnya di atas kasur jerami yang sederhana itu, Liam tidak langsung berbaring atau beristirahat seperti murid baru lainnya. Ia bangkit berdiri kembali, berjalan perlahan menuju jendela kayu besar yang menghadap ke arah timur, tempat pemandangan paling indah dan luas di seluruh wilayah padepokan itu. Jendela itu tidak berlapis kaca, hanya berjeruji kayu kasar yang membiarkan udara segar dan cahaya matahari pagi masuk dengan bebas.
Dari tempat itu, pandangan mata bisa menjangkau sangat jauh. Di bawah sana, terhampar luas hamparan sawah berwarna hijau keemasan yang berkilauan terkena sinar matahari, beraliran sungai kecil yang berkelok-kelok seperti pita perak, serta gugusan pepohonan rimbun yang memisahkan perkampungan warga dengan kawasan hutan belantara. Di kejauhan, terlihat samar-samar asap tipis yang mengepul dari cerobong rumah-rumah warga, tempat di mana keluarga yang menerimanya tinggal dan menunggu.
Liam berdiri diam di sana, menatap lurus ke luar jendela. Wajahnya tetap datar, dingin, tanpa ekspresi apa pun, seolah pemandangan indah yang terbentang luas itu sama sekali tidak ada artinya baginya. Namun, di balik tatapan kosong itu, panca inderanya bekerja jauh lebih tajam dan jeli dibandingkan manusia biasa. Ia bisa melihat gerakan sekecil apa pun di kejauhan, bisa mendengar suara air sungai yang mengalir lembut, suara burung yang berkicau di puncak pohon tertinggi, hingga suara detak jantung dan napas setiap orang yang ada di dalam ruangan maupun di halaman luar sana. Semuanya masuk ke dalam kesadarannya, dicatat, dan disimpan rapat dalam ingatannya yang tak pernah lupa sedikit pun.
Bagi Liam, pemandangan ini indah memang, tapi ada rasa asing yang kuat. Ia merasa seolah pernah melihat pemandangan yang jauh lebih megah, jauh lebih luas, dan jauh lebih menakjubkan di tempat lain—tempat yang tertutup kabut tebal di dalam ingatannya yang hilang. Ada rasa rindu yang samar, rasa rindu pada sesuatu yang tak ia kenal, rasa rindu pada tempat yang tak ia ingat. Namun rasa itu segera ia buang jauh-jauh, dikembalikan ke dalam kekosongan hatinya yang dingin. Di sini sekarang tempatnya. Di sini tugasnya: belajar mengendalikan diri.
Keheningan Liam yang berdiri diam mematung di dekat jendela itu tak luput dari perhatian. Beberapa murid baru yang ada di dalam ruangan hanya berbisik-bisik melihat tingkah aneh pemuda berkulit seputih kapur itu. Namun, bukan hanya murid baru yang memperhatikan. Kabar tentang kedatangan anak baru yang tampan namun aneh, diam, dan berpenampilan sederhana itu sudah sampai ke telinga para senior yang merasa paling berkuasa di padepokan itu.
Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki berat dan keras mendekat ke arah kamar. Pintu didorong kasar hingga beradu dengan dinding kayu. Tiga orang pemuda berbadan besar, berotot, dan berwajah garang melangkah masuk dengan gaya angkuh dan sombong. Mereka adalah para senior yang dikenal paling nakal, paling suka membuat masalah, dan paling suka menguji atau mengganggu murid-murid baru. Mereka berjalan melenggang ke tengah ruangan, membuat semua murid baru yang ada di sana diam ketakutan, menundukkan kepala, dan menyingkir memberi jalan.
Pemuda paling besar di antara mereka, yang berotot lengan sebesar paha anak kecil dan berparas kasar bernama Jaka, menunjuk ke arah Liam yang masih berdiri diam di dekat jendela.
"Itu dia anak baru yang aneh itu," ucap Jaka dengan suara berat dan keras, sengaja agar seluruh ruangan mendengar. "Katanya mau belajar silat, katanya kuat. Mari kita lihat seberapa hebat dia, sebelum Guru Besar datang."
Mereka bertiga berjalan mendekati Liam dengan langkah mengancam. Suasana ruangan menjadi sangat hening, hanya terdengar suara napas tertahan murid-murid lain yang takut terlibat masalah.
Jaka berhenti tepat di belakang Liam. Ia menatap tinggi besar tubuh pemuda itu dari bawah ke atas, lalu tersenyum sinis melihat kulitnya yang pucat dan wajahnya yang datar. Dengan sengaja, Jaka mendorong bahu Liam dengan keras menggunakan punggung tangannya, dorongan yang cukup kuat untuk membuat orang biasa terhuyung atau jatuh.
"Mundur sana! Jangan menghalangi pemandangan orang lain, anak baru!" bentak Jaka kasar.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat ketiga senior itu tertegun dan saling pandang heran. Tubuh Liam tidak bergeming sedikit pun. Ia berdiri tegak seperti tiang kayu kokoh yang tertanam kuat di tanah. Dorongan keras itu seolah hanya seperti sentuhan halus angin sore baginya. Liam tidak bergerak selangkah pun, tidak jatuh, tidak terhuyung, bahkan tidak mengubah posisi berdiri atau pandangannya sedikit pun. Ia tetap menatap lurus ke luar jendela, wajahnya tetap datar dan dingin, seolah dorongan kasar itu sama sekali tidak terjadi, seolah orang-orang di belakangnya itu tak ada.
Jaka mengerutkan kening, merasa tersinggung karena diabaikan. Ia maju selangkah lagi, kini berdiri tepat di samping Liam, menatap wajah pucat itu dari dekat.
"Heh! Kamu tuli ya? Atau memang bodoh? Tadi pagi sudah aku dengar, kamu datang-datang pakai baju buruk, mukanya dingin, sok diam saja. Kamu kira kamu siapa hah? Di sini aku yang pegang kendali, bukan kamu. Kalau mau tinggal di sini, harus tahu aturan, harus tahu siapa yang lebih tua dan lebih hebat!" seru Jaka lantang, wajahnya mendekat ke wajah Liam, berusaha mengintimidasi.
Liam tetap diam. Ia sama sekali tidak menoleh, tidak menatap balik, tidak menjawab sepatah kata pun. Matanya tetap terpaku pada pemandangan di luar sana, napasnya tetap teratur dan tenang, tidak ada tanda-tanda marah, takut, atau terganggu sedikit pun. Baginya, kata-kata kasar, ancaman, dan wajah mengancam di dekat wajahnya itu tidak lebih dari sekadar suara bising yang tidak penting. Ia ke sini bukan untuk bertengkar, bukan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, bukan untuk mencari musuh. Ia ke sini hanya untuk satu tujuan: belajar mengendalikan kekuatan berbahaya di dalam tubuhnya. Dan untuk tujuan itu, ia rela menelan apa saja, diam menerima apa saja, sebesar apa pun penghinaan yang datang.
Melihat Liam yang hanya diam dan tidak melawan, teman-teman Jaka yang berdiri di belakang tertawa mengejek.
"Lihat tuh, Kak Jaka. Dia cuma patung hidup saja, hahaha! Takut dia, makanya diam saja. Mana berani lawan Kakak. Lemah dan penakut rupanya, cuma muka saja yang tampan," ucap salah satu teman Jaka sambil menyenggol pinggang Liam dengan kakinya.
Jaka semakin berani. Ia mengulurkan tangannya, menarik kasar kerah baju Liam yang sederhana itu, menggoncangkan tubuh pemuda itu ke sana kemari dengan kasar. Baju itu tertarik sampai mencekik leher Liam, namun tetap saja Liam tidak bereaksi. Matanya tetap kosong, tubuhnya tetap kaku dan berat seperti batu, membuat Jaka justru kesulitan menggoncangkannya karena rasanya seperti menarik pohon besar yang berakar kuat.
"Bicara kalau ditanya! Kamu bisu ya?! Atau memang otakmu kosong seperti wajahmu yang pucat itu?!" bentak Jaka semakin keras, emosinya mulai naik karena merasa tidak dihargai.
Baju Liam mulai robek sedikit di bagian leher akibat tarikan kasar itu. Kulitnya yang putih bersih terlihat makin jelas, halus, dan tanpa noda sedikit pun. Murid-murid lain yang melihat mulai merasa kasihan, namun tidak ada yang berani menolong atau bersuara. Mereka tahu betapa kejamnya perlakuan para senior ini pada murid baru yang dianggap lemah atau aneh.
Namun di tengah kekacauan kecil itu, di tengah tangan kasar yang masih mencengkeram kerah bajunya, di tengah suara teriakan dan ejekan yang memenuhi telinganya, pikiran Liam tetap tenang dan dingin. Ia ingat kejadian di sungai kemarin. Ia ingat betapa mudahnya ia nyaris membunuh Seruni hanya karena refleks tubuhnya yang tak terkendali. Ia ingat pesan Pak Suryo: jadilah kuat untuk melindungi, bukan untuk menyakiti.
Jika ia melawan sekarang, jika ia membalas sedikit saja cengkeraman tangan kasar ini dengan kekuatan aslinya, maka pasti tangan itu akan hancur seketika, dan nyawa orang ini mungkin melayang. Itu adalah bahaya terbesarnya. Itulah sebabnya ia harus diam. Diam adalah cara menjaga mereka agar tetap selamat dari kekuatannya yang tak sadar itu.
"Maaf..." bisik Liam pelan, sangat pelan, hanya terdengar oleh dirinya sendiri. Bukan minta maaf pada mereka, tapi minta maaf pada dirinya sendiri karena harus menahan diri, minta maaf karena harus menjadi patung bisu yang menerima semua ini.
Jaka makin marah karena Liam sama sekali tidak bereaksi atau menunduk takut seperti murid baru lainnya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap menampar pipi pucat dan dingin itu agar pemuda itu sadar siapa tuannya di sini.
"Dasar anak kurang ajar! Ini baru hukuman kecil buatmu!" teriak Jaka, tangannya siap melayang turun.
Namun, tepat saat itu... terdengar suara genta besar berbunyi nyaring dari arah gerbang utama padepokan. TING... TING... TING... Bunyinya panjang dan bergema keras ke seluruh penjuru bukit, bunyi yang hanya dibunyikan untuk satu tujuan khusus.
Langkah tangan Jaka terhenti di udara. Ketiga senior itu seketika mengubah ekspresi wajah mereka dari angkuh menjadi kaget dan sedikit gugup. Mereka saling pandang, melepaskan cengkeraman mereka pada Liam, dan buru-buru merapikan pakaian mereka yang berantakan akibat tingkah kasar tadi.
"Itu... itu bunyi kedatangan..." gumam Jaka pelan, matanya melebar tak percaya. "Guru Besar... Guru Besar datang dari kota! Cepat keluar, jangan sampai ketahuan kita berbuat ulah!"
Tanpa menoleh lagi ke arah Liam, ketiga pemuda itu berbalik cepat dan bergegas keluar dari kamar, meninggalkan Liam yang masih berdiri diam di dekat jendela, tetap dalam posisi yang sama persis seperti sebelum mereka datang. Suasana kamar yang tadinya tegang seketika menjadi lega dan hening kembali. Semua murid baru saling pandang dengan mata berbinar penuh rasa hormat dan penasaran.
Liam perlahan mengedipkan matanya, satu-satunya gerakan yang ia lakukan sejak tadi. Ia kembali menatap ke luar jendela. Di jalan setapak menanjak ke arah gerbang padepokan, terlihat rombongan kecil berjalan mendekat. Di paling tengah, berjalan seorang pria tua berpostur tegap, berambut memutih namun berwajah tegas dan berwibawa, mengenakan jubah panjang berwarna putih bersih dengan sulaman benang emas di ujung lengan. Di belakangnya berjalan beberapa pengawal dan murid inti yang setia.
Itulah Guru Besar Ardi, pendiri dan pemimpin tertinggi perguruan silat ini, orang yang paling dihormati dan ditakuti di seluruh wilayah, orang yang keahlian silatnya dikatakan sudah mencapai tingkat yang hampir mustahil dikalahkan. Beliau biasanya tinggal dan mengajar di kota besar yang jauh, sangat jarang turun ke desa dan ke padepokan cabang ini. Kedatangannya yang tiba-tiba ini menjadi hal besar yang mengguncang seluruh penghuni padepokan.
Liam menatap sosok tua itu dari kejauhan dengan tatapan dingin dan tajam. Ada sesuatu yang aneh yang terasa di dalam dada Liam saat melihat sosok itu mendekat. Ada getaran halus, ada rasa kewaspadaan yang sedikit naik, ada rasa seolah-olah sosok tua itu memiliki kekuatan yang bisa melihat jauh ke dalam diri Liam, bisa melihat rahasia besar yang tersembunyi di balik wajah pucat dan kosong itu.
Namun Liam tetaplah Liam. Ia tidak bergerak, tidak pergi ikut berkerumun menyambut seperti murid-murid lain yang sudah berlarian keluar kamar dengan semangat. Ia tetap berdiri diam di dekat jendela, menyaksikan kedatangan Guru Besar itu dari jauh, menyimpan setiap detail gerak-gerik dan aura yang dipancarkan orang itu ke dalam ingatannya.
Di dalam hatinya yang dingin, Liam tahu... pertemuannya dengan orang besar ini akan menjadi titik balik yang penting. Entah itu baik atau buruk, entah itu membantu atau justru membahayakan jati dirinya yang hilang, Liam tidak tahu. Ia hanya tahu, babak baru yang lebih besar dan lebih berat baru saja dimulai, bersamaan dengan kedatangan orang yang dianggap paling hebat di dunia manusia ini.