Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Siswa Baru yang Salah Tempat

Matahari pagi bersinar terik, memantulkan cahayanya pada atap-atap bangunan SMA Merdeka, sebuah institusi pendidikan yang berdiri kokoh di tengah kota, dikenal luas bukan hanya karena prestasi akademisnya yang membanggakan, tetapi juga karena sejarah panjang kekerasan dan dominasi yang melekat pada namanya. Dari luar, sekolah ini tampak seperti tempat pendidikan biasa dengan pagar tinggi berwarna abu-abu, lapangan upacara yang luas, dan gedung-gedung kelas yang rapi. Namun, bagi mereka yang telah berada di dalamnya selama bertahun-tahun, SMA Merdeka adalah sebuah kerajaan kecil yang diatur oleh hukum rimba, di mana kekuatan fisik dan pengaruh sosial menentukan posisi seseorang dalam hierarki sosial yang tak tertulis namun sangat dipatuhi.

Rio Adhitama mematikan mesin sepeda motornya di depan gerbang utama. Ia duduk diam sejenak di atas kendaraannya, mengenakan helm berwarna hitam pekat yang menutupi sebagian besar wajahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedikit meningkat. Bagi sebagian besar siswa, hari pertama masuk sekolah di tempat baru adalah momen yang penuh dengan kegembiraan atau kecemasan biasa. Namun bagi Rio, hari ini memiliki beban yang jauh lebih berat. Ia telah berjanji kepada ibunya yang sedang menjalani perawatan intensif di rumah sakit, bahwa ia akan bersikap tenang, menjauhi masalah, dan fokus sepenuhnya pada pendidikannya. Janji itu adalah harga mati, sesuatu yang harus ia pegang teguh demi kebahagiaan dan ketenangan hati ibunya.

Dengan gerakan perlahan, Rio melepas helmnya dan menggantungkannya di stang motor. Wajahnya terlihat biasa saja, namun ada kilatan tajam di balik matanya yang gelap, sisa-sisa dari masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Rambutnya yang hitam sedikit berantakan tertiup angin pagi, dan seragam putih abu-abu yang ia kenakan terlihat agak longgar di bagian bahu, menutupi tubuhnya yang sebenarnya berotot dan kekar hasil latihan bela diri bertahun-tahun lamanya. Ia turun dari motor, menguncinya dengan hati-hati, lalu melangkah masuk melewati gerbang utama yang dijaga oleh beberapa petugas keamanan.

Begitu melangkahkan kaki melewati gerbang itu, Rio seolah masuk ke dalam dunia yang berbeda. Suasana di dalam sekolah jauh lebih riuh dan padat dibandingkan jalanan di luar. Siswa-siswa berjalan berkelompok, tertawa, berbicara, atau sekadar berdiri bergerombol di koridor. Namun, mata Rio yang jeli segera menangkap sesuatu yang lain. Ada pola dalam keramaian itu. Ada ruang-ruang tertentu yang secara otomatis dikosongkan oleh siswa lain ketika sekelompok anak laki-laki berjalan melintas. Ada tatapan hormat, takut, atau sekadar waspada yang terlempar ke arah individu-individu tertentu. Di sinilah hukum rimba itu bekerja. Di balik senyum dan tawa, terdapat ketegangan yang terasa menekan udara di sekelilingnya.

"Gila sih, rame banget di sini," gumam Rio pelan, suaranya hampir tak terdengar. Ia menyesuaikan letak tas punggungnya yang berat, berisi buku-buku pelajaran yang belum sempat ia baca. "Semoga aja gue bisa lewatin tahun-tahun ini tanpa bikin keributan apa pun."

Ia berjalan menuju ruang tata usaha untuk mengurus administrasi dan mendapatkan jadwal serta nomor kelasnya. Sepanjang jalan, ia merasa sepasang mata mengawasinya. Bukan sekadar tatapan penasaran terhadap siswa baru, melainkan tatapan pengamatan yang penuh penilaian, seperti seekor mangsa yang baru masuk ke dalam sarang pemangsa. Rio berusaha bersikap biasa saja, menunduk sedikit dan berjalan lurus ke depan, berusaha tidak menatap mata siapa pun. Ia tahu betul bahwa kontak mata yang salah di tempat seperti ini bisa diartikan sebagai tantangan atau penghinaan.

Setelah selesai mengurus berkas-berkasnya dan mendapatkan nomor kelas, yaitu X-3, Rio berjalan menuju gedung kelas. Lorong-lorong sekolah ini panjang dan bercabang-cabang, seolah menjadi labirin yang mudah menyesatkan orang yang belum mengenalnya. Di dinding-dinding terpasang papan pengumuman, piala-piala penghargaan, dan foto-foto kegiatan sekolah, namun di sudut-sudut yang tersembunyi, masih terlihat sisa-sisa coretan atau tanda-tanda simbol tertentu yang kemungkinan besar adalah lambang dari kelompok-kelompok yang menguasai sekolah ini.

Ketika melewati koridor lantai satu yang agak sepi, langkah Rio tiba-tiba terhenti. Di ujung lorong, ada sekelompok pemuda berjumlah sekitar lima orang yang berdiri menghalangi jalan. Mereka mengenakan seragam yang tidak rapi, kemeja dikancing setengah, lengan digulung, dan rambut yang ditata sedemikian rupa agar terlihat garang dan menonjol. Salah satu dari mereka, pemuda yang bertubuh agak gemuk dengan bekas luka kecil di dekat alis, sedang bersandar santai di dinding sambil memutar-mutar sebatang rokok di jari-jarinya, meskipun ia tidak menyalakannya. Siswa-siswa lain yang berjalan dari arah berlawanan memilih untuk memutar jalan masuk ke kelas lain atau menundukkan kepala sambil berjalan cepat melewati pinggiran dinding, jelas-jelas takut menarik perhatian kelompok tersebut.

Rio menghela napas pendek. Ia tidak ingin berputar arah, itu akan membuang waktunya, dan ia juga tidak ingin terlihat takut secara berlebihan. Ia memilih untuk tetap berjalan lurus, namun menjaga jarak aman dan berusaha melewati sisi paling pinggir dari lorong itu.

Sayangnya, takdir seolah tidak berpihak padanya hari itu. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah lagi melewati kelompok itu, salah satu pemuda yang bertubuh tinggi besar dengan wajah yang terlihat sombong, tiba-tiba mengulurkan kakinya ke depan, tepat di jalur langkah Rio.

"Woi, anak baru!" seru pemuda itu dengan nada suara yang keras dan menantang, disusul dengan tawa rekan-rekannya yang lain. "Mata lo ada di mana, hah? Gak liat ada orang lewat di sini?"

Rio mengerem langkahnya tepat pada waktunya, ujung sepatunya hampir saja menyentuh kaki pemuda itu. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap pemuda itu dengan tatapan datar dan kosong, tanpa emosi apa pun. "Maaf, gue buru-buru mau ke kelas. Boleh gue lewat?" jawab Rio dengan nada tenang, berusaha menahan diri sekuat tenaga agar tidak terpancing emosi.

Pemuda itu, yang ternyata bernama Dimas, anggota inti dari kelompok yang menguasai wilayah lantai satu gedung A, tertawa mengejek. Ia menarik kembali kakinya lalu melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke arah Rio, menatap tajam tepat ke dalam mata Rio. Bau tembakau dan keringat bercampur aroma parfum murah tercium samar oleh hidung Rio.

"Buru-buru apaan sih, lu? Baru dateng udah sok sibuk banget," ucap Dimas sambil menyeringai. Tangannya yang besar dan kasar tiba-tiba menyentuh kerah baju seragam Rio, menariknya sedikit ke atas agar tubuh Rio lebih condong ke arahnya. "Denger ya, anak baru. Di sini ada aturan mainnya. Lu baru masuk, jadi lu belum bayar 'uang jajanan' buat kami, kan? Kalau mau lewat sini atau mau sekolah tenang-tenang, ada biayanya. Ngerti gak, lu?"

Jantung Rio berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa marah yang mulai merayap naik ke ulu hatinya. Ia sangat benci diperlakukan seperti ini, direndahkan dan dimintai uang perlindungan yang tidak masuk akal. Ingatannya melayang kembali pada wajah ibunya, pada janji yang ia ucapkan dengan sungguh-sungguh di rumah sakit sebelum berangkat pagi tadi. Tenang, Rio. Jangan cari masalah. Demi Ibu.

Rio melepaskan pegangan tangan Dimas dari kerah bajunya dengan gerakan halus namun tegas, tidak kasar namun cukup kuat untuk membuat Dimas sedikit terkejut. "Maaf banget, Kak. Gue gak bawa uang lebih hari ini. Kalau boleh, gue mau lewat aja ya, nanti kalau ada rezeki lebih gue kasih deh," jawab Rio, berusaha menggunakan nada yang paling sopan dan pasrah yang ia mampu.

Respon santun Rio ternyata tidak membuat Dimas puas, malah membuat egonya terinjak. Bagi para penguasa lorong ini, kepatuhan saja tidak cukup, mereka butuh ketundukan mutlak dan rasa takut yang nyata. Dimas merasa bahwa sikap tenang Rio adalah bentuk kesombongan.

"Eh, lu nih ya, mulutnya enak banget ngomong," ucap Dimas dengan nada yang meninggi, tangannya kembali bergerak, kali ini mendorong dada Rio cukup keras hingga tubuh Rio mundur selangkah ke belakang. "Lu kira kami ini pengemis yang nunggu rezeki lu hah?! Denger baik-baik ya, kalau lewat sini gak ada uangnya, berarti ada bayaran lain. Atau... lu mau gue cacatin muka lu biar lu inget siapa yang punya tempat ini?"

Suasana lorong mulai terasa semakin tebal dan menyesakkan. Siswa-siswa yang ada di sekitar menjauh, pura-pura tidak melihat apa-apa, karena terlibat atau sekadar menjadi saksi mata bisa berakibat fatal bagi keamanan diri mereka sendiri. Rekan-rekan Dimas tertawa renyah, menikmati tontonan pemalakan rutin yang berjalan di depan mata mereka. Bagi mereka, mengintimidasi anak baru adalah cara paling ampuh untuk menunjukkan eksistensi dan kekuasaan kelompok mereka.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!