NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *24

Hujan turun sangat deras malam itu. Airnya menghantam kaca jendela dengan suara berisik dan berat, seolah langit pun ikut menangis. Suara guntur dan kilat petir sesekali terdengar menggelegar dari luar apartemen, membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin dingin, sepi, dan suram. Angin malam yang masuk lewat celah jendela yang sedikit terbuka membawa hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

Di ruang tamu yang remang-remang, Merlin duduk sendirian di sofa empuknya. Ia hanya menyalakan lampu hias sudut ruangan saja. Sehingga, sebagian besar ruangan itu tertutup bayangan gelap.

Di atas pangkuannya, selembar kertas kecil berisi hasil foto USG masih berada dalam genggamannya. Sudah berjam-jam lamanya. Sejak ia pulang dari klinik siang tadi, benda itu tidak pernah lepas dari tangannya.

Ia menatap gambar samar itu berulang kali. Menatap titik kecil yang menjadi bukti nyata keberadaan kehidupan baru di dalam dirinya.

Tatapannya kosong dan terlihat sangat hampa. Menembus jauh ke dinding di hadapannya, namun pikirannya melayang ke mana-mana.

Seharusnya hari ini menjadi hari paling bahagia dalam hidupnya. Hari di mana ia tahu dirinya tidak sendirian lagi. Hari di mana ia sadar bahwa ada makhluk kecil yang bergantung padanya. Hari di mana ia berencana memeluk Reyno, menangis bahagia, dan berteriak tentang kabar gembira ini. Hari di mana seharusnya penuh pelukan dan tawa.

Namun sekarang, di jam-jam larut malam begini, ia justru duduk diam sendirian di dalam rumah yang terasa makin lama makin asing. Rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman, kini terasa dingin dan sepi meski penuh perabotan.

Tepat pukul sebelas malam, suara kunci diputar di luar. Klik. Pintu depan akhirnya terbuka. Reyno pulang juga akhirnya.

Begitu melangkah masuk dan menutup pintu kembali, pria itu langsung melihat sosok istrinya yang masih duduk diam di posisi yang sama. Di bawah cahaya lampu yang redup itu, wajah Merlin terlihat pucat, lelah, dan matanya terlihat bengkak sehabis menangis. Dan entah kenapa, hanya dengan melihat pemandangan itu saja, dada Reyno langsung terasa tidak nyaman, terasa sesak dan penuh rasa bersalah.

"Kok belum tidur? Masih nungguin aku?" tanyanya pelan sambil melepaskan jas kerjanya yang basah terkena percikan air hujan. Ia menggantungkan pakaian itu dengan gerakan lambat.

Merlin menoleh sekilas saja. Matanya menatap suaminya sebentar, lalu kembali menunduk ke arah kertas di pangkuannya.

"Aku nunggu," jawabnya singkat. Dua kata yang sederhana, namun langsung menghantam dada Reyno dengan keras.

Pria itu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat ke arah sofa. Wajahnya terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam di bawah matanya. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda dari biasanya. Ia juga terlihat kacau, gelisah, dan pikirannya seolah masih tertinggal di tempat lain.

"Maaf ya. Maaf banget aku pulang malam lagi. Macet parah di jalan, terus tadi ada hal yang harus diselesaikan dulu," ucapnya beralasan, meski ia tahu alasan itu terdengar lemah.

Merlin tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Udah biasa kok," jawabnya santai, nada bicaranya datar saja.

Kalimat itu terdengar ringan, seolah hal itu bukan masalah besar. Namun justru kalimat itulah yang paling menghantam perasaan Reyno. Lebih sakit daripada jika Merlin berteriak marah atau mengamuk.

"Mer ..." Reyno memanggil lembut, nadanya memohon.

"Aku serius," potong Merlin pelan. Ia mengusap perlahan permukaan kertas hasil USG itu dengan ibu jarinya. "Aku mulai terbiasa sekarang. Terbiasa nunggu. Terbiasa sendiri. Terbiasa kalau kamu pulang malam."

Ucapan itu membuat Reyno benar-benar merasakan ketakutan yang aneh dan menyesakkan. Karena biasanya, Merlin akan menunggunya dengan wajah hangat. Atau kalau kesal, wanita itu akan marah kecil, mengomel, mengambek sedikit, atau cerewet menanyakan kenapa ia telat makan, kenapa baju kotor, dan lain-lain. Selalu ada reaksi. Selalu ada perhatian.

Namun sekarang? Istrinya mulai terbiasa tanpanya. Mulai tidak peduli. Mulai pasrah. Dan itu jauh lebih mengerikan bagi Reyno. Pria itu langsung duduk di sebelah Merlin, lalu memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah wanita itu lekat-lekat.

"Jangan ngomong kayak gitu. Denger ya, jangan pernah bilang kamu terbiasa tanpa aku," ucapnya tegas, meski suaranya rendah.

"Terus harus gimana?" tanya Merlin. Suaranya masih pelan, namun kali ini terdengar sangat lelah. Sangat letih. "Terus aku harus ngomong apa? Terus aku harus bersikap gimana biar kamu nggak merasa bersalah?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu lagi. Hanya suara hujan di luar yang terdengar semakin deras, semakin riuh, seolah ikut mewakili kekacauan hati mereka berdua.

"Aku capek, Rey."

Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Merlin, dibawa keluar bersama napas panjang yang berat. Dan begitu kalimat itu terdengar, dada Reyno langsung terasa seperti diremas kuat.

"Aku capek terus-terusan harus ngerti," lanjut Merlin lagi. Matanya mulai memerah kembali, air mata mulai berkumpul di pelupuk matanya. "Aku capek pura-pura gak apa-apa tiap kali kamu ninggalin aku buat dia. Aku capek selalu jadi yang ngalah, selalu jadi yang ngasih izin, selalu jadi yang ngertiin keadaan dia."

"Merlin, kan aku udah jelasin. Yara ... itu lagi susah banget sekarang," potong Reyno pelan, berusaha membela diri, meski ia tahu posisinya salah.

"Aku tau!" seru Merlin, suaranya sedikit meninggi namun masih terdengar tertahan. Air matanya mulai jatuh pelan membasahi pipi. "Aku tau dia lagi susah! Aku tau dia kesepian! Aku tau dia kehilangan orang yang dia sayang! Aku nggak jahat sampe berharap dia sakit atau kenapa-napa! Tapi aku juga manusia, Rey."

Reyno langsung diam. Mulutnya terkatup rapat. Ia tidak bisa memotong, tidak bisa membela diri, tidak bisa berkata apa-apa. Semua yang dikatakan istrinya benar. Semuanya fakta pahit yang ia abaikan.

"Setiap kali aku butuh kamu, setiap kali aku sakit, setiap kali aku pengen ngomong sesuatu yang penting, selalu ada Yara di antara kita," lanjut Merlin, suaranya mulai bergetar hebat. "Selalu ada nama itu. Selalu ada alasan itu. Selalu ada hal tentang dia yang lebih penting dari aku."

Kalimat itu terasa seperti tamparan keras di wajah Reyno. Tamparan yang menyadarkannya akan kenyataan pahit. Karena Reyno sadar betul. Selama ini memang begitu adanya. Selama ini, Yara selalu menjadi prioritas utamanya, di atas segalanya, bahkan di atas istrinya sendiri.

Pria itu langsung meraih kedua tangan Merlin dengan cepat, menggenggamnya erat. "Aku gak pernah milih dia dibanding kamu. Kamu istriku, Merlin. Kamu yang paling utama," ucapnya cepat, berusaha meyakinkan, berusaha menutupi kebohongan kecil yang bahkan ia sendiri tidak yakin.

Merlin tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu pahit, begitu menyakitkan. "Bener?" tanyanya singkat, matanya menatap tajam ke manik mata suaminya.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!