Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
******
Seperti yang sudah diperkirakan Damar, Arkana benar-benar muncul di rumah sakit ketika malam telah melewati tengahnya. Jam dinding di lorong menunjukkan lewat pukul dua dini hari. Suasana lengang, hanya terdengar langkah sepatu dan bunyi alat medis dari kejauhan.
Arkana datang dalam keadaan berantakan—rambutnya acak-acakan, kemeja kusut, napasnya masih memburu seolah ia berlari sejak turun dari mobil. Wajahnya tegang dan penuh amarah yang ditahan. Siapa yang tidak akan uring-uringan? Ia terpaksa meninggalkan Calista dalam kondisi yang bahkan tidak bisa disebut baik-baik saja.
Lebih menyebalkan lagi, suami pertama Calista itu—pria brengsek yang selalu membuat darahnya mendidih—dengan santainya mengabaikan puluhan pesan dan panggilan yang ia kirimkan.
“Brengsek! Kenapa kamu mengabaikan pesan dan panggilan teleponku, hah?!” Arkana langsung mencecar begitu melihat Damar keluar dari ruang dokter. Suaranya ditekan serendah mungkin, namun tetap sarat emosi. Ia sadar ini rumah sakit, bukan tempat untuk berteriak sembarangan.
Damar menoleh dengan ekspresi datar, seolah tidak terpengaruh sedikit pun oleh amarah di hadapannya. “Ponselku kehabisan daya baterai,” jawabnya santai.
Arkana berdecak keras. Mana mungkin ia percaya alasan semurah itu. Damar pasti sengaja. “Bagaimana kondisi Calista? Apa ada kemajuan?” tanyanya akhirnya, memaksa dirinya fokus pada hal yang lebih penting.
“Dia sudah sadar sejak sore tadi,” jawab Damar singkat.
Langkah Arkana terhenti sesaat. “Benarkah?” Suaranya berubah, tak lagi setajam tadi. “Lalu bagaimana kondisinya sekarang? Tidak ada yang mengkhawatirkan lagi, kan?”
“Sudah jauh lebih baik setelah melewati masa kritisnya.” Damar berjalan lebih dulu menyusuri lorong, Arkana mengikutinya. “Tadi aku baru saja konsultasi dengan dokter. Besok Calista sudah boleh pulang ke mansion.”
“Apa?” Arkana spontan menolak. “Calista baru saja sadar dari komanya. Tidak sebaiknya dia dirawat intensif beberapa hari lagi? Setidaknya seminggu sampai benar-benar pulih.”
Bayangan ucapan dokter beberapa hari lalu saat di pulau Moonveil Shore kembali menghantam pikirannya—detak jantung Calista sempat terhenti beberapa detik sebelum akhirnya kembali berdetak, meski melambat. Saat itu, rasanya jantung Arkana sendiri ikut berhenti.
“Calista sendiri yang memohon ingin segera pulang,” ujar Damar tanpa menoleh. “Dia sudah tidak tahan dengan bau obat dan suasana ruang rawat. Tidak perlu khawatir. Setiap tiga hari sekali dokter akan datang ke mansion untuk memeriksa keadaannya.”
Arkana terdiam sejenak, napasnya mengembus berat. “Kalau begitu… itu lebih baik.” Bahunya sedikit mengendur. “Setidaknya aku bisa bernapas lega sekarang.”
Damar berdecak pelan dan melirik sinis ke arahnya. “Tenang saja. Aku bukan dirimu yang bersumbu pendek.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia mempercepat langkah menuju ruang rawat Calista, meninggalkan Arkana beberapa langkah di belakang.
Arkana mengepalkan tangan. “Pria sialan itu… mulutnya benar-benar berbisa.”
Namun kali ini, ia menahan diri. Amarahnya tak ada artinya dibandingkan satu hal—Calista sudah sadar.
Dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya tetap berdiri di sini.
******
Keesokannya, saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi menjelang siang. Calista sudah bersiap meninggalkan rumah sakit, berlama lama di tempat berbau obat obatan ini yang ada membuatnya semakin sakit karena pusing mencium aroma itu.
"Ayah mertua sudah berada di mansion beberapa hari ini, beliau tidak mengetahui bahwa kamu tengah sakit sekarang. " beritahu Damar saat ketiganya sudah berada di dalam mobil menuju ke mansion utama Pranawijaya.
"Kenapa kalian tidak memberitahukan ayah? " tanya Calista penasaran, ia juga tidak masalah bila lelaki tua yang menjadi ayah kandungnya sekarang itu tidak mengetahui keadaanya.
Calista malas melihat perdebatan dan drama kecil nantinya.
"Kami takut kepada ayah mertua, sayang. Kami tidak mau tiba-tiba saja dipecat sebagai menantu karena dituduh tidak bisa menjaga dengan baik permata Pranawijaya ini. " ujar Arkana, ia membayangkan bagaimana wajah suram ayah mertua bila lelaki tua itu tau bagaimana keadaan Calista beberapa hari ini.
Melihat ekspresi Arkana sontak membuat Calista terkekeh geli, lucu sekali. Pikirnya.
"Kamu terlalu berlebihan, Arkana. " sanggah Calista halus.
"Aku tidak berlebihan, istriku. Kamu tanya Damar bagaimana menyeramkan ayah mertua bila terjadi sesuatu kepadamu, kamu tau— kamu adalah putri kesayangan satu satunya. "
Hati Calista menghangat mendengar ucapan Arkana barusan, ia sudah lama kehilangan kedua orangtuanya dan kasih sayang mereka. Mendengar bagaimana protektif ayah barunya itu membuat Calista begitu senang dan terharu.
"Bila ayah tanya aku kemana beberapa hari ini, kalian menjawab apa? " penasaran Calista.
"Aku mengatakan bahwa kita tengah honeymoon, ayah mertua terlihat bahagia mendengar akan hal itu. Beliau bahkan meminta cucu sesegera mungkin, " Damar menjawab sembari melirik Calista dari kaca mobil.
Calista dan Arkana duduk di kursi penumpang, sedangkan ia didepan mengemudi mobil. Semua ini permintaan Arkana— pria itu tadi terlihat mengambek meminta Calista untuk duduk di kursi belakang bersamanya, ia rindu pada istrinya karena pekerjaannya dua hari ini.
Calista tersedak ludah sendiri mendengar jawaban santai Damar.
Cucu? Ayahnya itu meminta cucu?
Ah, apa karena usianya yang sudah tua jadi pria tua itu ingin sesegera memiliki cucu untuk ia ajak main bersama?
"Jadi kamu mau kapan memberikan ayah mertua cucu? " tanya Arkana, dia sengaja menampilkan wajah sok polosnya pada Calista.
Damar yang lihat dari pantulan kaca mobil berdecih pelan.
"Tinggal menunggu saja, sepertinya akan menyenangkan bila terdengar suara bayi bayi lucu di mansion. " jawab Calista.
Mata Arkana seketika berbinar terang mendengar jawaban Calista, "kalau begitu apa sebaiknya setelah tiba di mansion kita langsung saja membuat cucu untuk ayah mertua, istriku kamu pasti mau kan? "
Ciiittt…!
Damar mengerem mendadak mobilnya tepat di tikungan menuju gerbang mansion. Bunyi gesekan ban dengan aspal terdengar nyaring, membuat Calista dan Arkana yang duduk di kursi belakang sontak terdorong ke depan.
Arkana refleks menahan tubuh Calista sebelum kepalanya membentur sandaran kursi depan. Tangannya melingkar cepat di bahu wanita itu, napasnya tercekat.
“Damar! Kamu gila?! Kenapa mengerem mendadak, bagaimana terjadi kecelakaan karena ulah mu ini. ” geram Arkana, suaranya penuh amarah yang ditahan.
Calista meringis pelan. Tubuhnya masih sedikit terasa lemah pasca koma, jantungnya belum sepenuhnya stabil. Sentakan mendadak seperti itu membuat kepalanya sedikit berkunang-kunang.
"Kamu yang lebih gila, sialan! " gumam Damar pelan menjawab Arkana, ia kembali melajukan mobil.
Ia mengerem mobil mendadak karena ucapan blak-blakan Arkana tadi.
Sialan memang pria itu.
"Kamu tidak apa apa, sayang? " tanya Arkana pada Calista.
"Tidak apa apa, hanya sedikit terkejut. " jawab Calista dengan senyum tipis untuk memenangkan Arkana yang terlihat emosi.
"Untung saja istriku tidak apa apa, kalau lecet sedikit saja, habis kepalamu ku buat botak! " ancamnya pada Damar.
"Calista juga istriku kalau kamu lupa, aku ini suami pertamanya. " balas Damar tak mau kalah.
Arkana tidak menjawab, ia hanya berdecak kesal lalu mencium seluruh wajah Calista dengan gemas.
"Istriku ini cantik sekali, sangat tidak cocok dengan pria jelek di depan itu. "
Damar mendengar sindiran Arkana hanya melengos tidak peduli, memang sudah sifat alami Arkana. Menyebalkan dan kurang ajar, padahal umurnya lebih tua dua tahun darinya.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭
gx lanjuut 21 ,, 🤭