NovelToon NovelToon
Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Tunangan Paksa Sang Bangsawan, Tapi Aku Ingin Jadi Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:907
Nilai: 5
Nama Author: Ulfah_muna

Semua orang iri saat tahu Solenne bertunangan dengan Zevran Ardevar—bujangan nomor satu paling diinginkan seantero kerajaan, seorang bangsawan aristokrat yang dingin, kaya, dan terlalu tampan untuk diabaikan.
Mereka mengira Solenne hanyalah gadis beruntung yang memanfaatkan hubungan masa kecil.
Padahal, mereka bahkan tidak saling mengenal.
Pertunangan ini hanyalah wasiat terakhir sang ibu dan sebuah hutang budi yang belum lunas.
Di tengah hujatan publik, karier Solenne sebagai aktris justru berada di titik terendah.
Diremehkan, disabotase, dan hampir tenggelam, ia bertekad membuktikan bahwa dirinya pantas berdiri di atas panggung.
Namun semakin ia berjuang, semakin Zevran yang awalnya dingin mulai mengejarnya dengan serius.
Di dunia hiburan yang dipenuhi sihir dan teknologi masa depan, mampukah Solenne menjadi bintang terbesar abad ini… dan menaklukkan hati pria yang seharusnya hanya menjadi tunangan kontraknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ulfah_muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi ibu

Pintu kamar perawatan terbuka perlahan.

Mireya melangkah masuk sambil membawa tas kecil di pundaknya.

Sore yang melelahkan itu belum benar-benar hilang dari tubuhnya, tetapi begitu melihat sosok di atas ranjang, semua rasa lelah berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

Ibunya sedang duduk setengah bersandar.

Bukan tidur.

Bukan juga benar-benar terjaga.

Tatapannya kosong.

Terarah lurus ke jendela besar di samping ranjang.

Sinar matahari sore yang keemasan jatuh di wajah pucat itu.

Namun tidak ada cahaya yang kembali dari kedua matanya.

“…Bu?”

suara Mireya pelan.

Wanita itu tidak langsung menoleh.

Beberapa detik berlalu sebelum kepalanya bergerak sedikit.

“Hm…”

hanya itu.

Jawaban pendek.

Nyaris seperti gumaman.

Mireya memaksakan senyum.

“Aku habis syuting hari ini.”

Ia menarik kursi dan duduk di samping ranjang.

“Taman bunganya cantik banget, Bu.”

“Banyak bunga putih… sama kubah kaca besar.”

“Hari ini aku dapat iklan parfum.”

Ibunya tetap memandang jendela.

Bibirnya bergerak sedikit.

“Mm…”

Mireya terdiam sesaat.

Dadanya terasa sesak.

Wanita yang duduk di hadapannya ini…

benarkah ibunya?

Ibunya yang dulu selalu bersinar.

Bahkan saat hidup sedang sulit, wanita itu tetap seperti membawa cahaya sendiri.

Mireya masih ingat jelas masa kecilnya.

Saat SD, dengan bangga ia pernah berkata pada teman-temannya—

“Mamaku penari yang hebat.”

Dan itu bukan kebohongan.

Di atas panggung, ibunya selalu terlihat bercahaya.

Gaun tari berkilau.

Senyum yang hangat.

Tatapan penuh kehidupan.

Seolah panggung memang diciptakan hanya untuk membiarkan wanita itu bersinar.

Namun sekarang…

cahaya itu hilang.

Yang tersisa hanya sosok rapuh yang menatap jendela tanpa fokus.

Mireya menunduk.

Matanya memanas.

Ia hampir tidak mengenali wanita ini lagi.

Namun buru-buru ia mengangkat wajahnya dan tersenyum lagi.

Tidak boleh menangis di depan ibu.

Tangannya mengusap lembut punggung tangan sang ibu.

“Bu, aku pamit dulu ya.”

“Besok aku datang lagi.”

Tepukan lembut di tangan itu terasa seperti menyentuh seseorang yang sangat jauh.

Ibunya hanya bergumam pelan.

“Mm…”

Mireya berdiri.

Lalu melangkah keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, seorang dokter yang berjaga di lorong menghampirinya.

“Bagaimana kondisi ibu saya, Dok?”

Dokter itu tersenyum tipis.

“Untuk saat ini sudah lebih stabil.”

“Denyut jantungnya lebih teratur dibanding minggu lalu.”

“Dan respons emosinya mulai sedikit membaik.”

Mireya mengembuskan napas lega.

“Syukurlah…”

Dokter melanjutkan dengan nada hati-hati.

“Kemungkinan besar karena penggantian obat.”

Ia membuka terminal data kecil di tangannya.

“Kami mengganti kombinasi obat jantung dan obat penenangnya.”

“Efeknya cukup baik.”

Jantung Mireya kembali menegang.

“Tapi…”

Dokter berhenti sejenak.

“Obat yang baru ini jauh lebih mahal.”

Tatapan dokter menjadi lebih serius.

“Kami perlu memastikan apakah Anda sanggup melanjutkan terapi ini.”

Lorong rumah sakit mendadak terasa lebih dingin.

Mireya menggenggam tasnya erat.

Pertanyaan itu menggantung berat di udara.

Sanggup?

Dengan gajinya sekarang…

bahkan untuk hidup saja ia hampir tidak mampu.

...****************...

Perjalanan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya.

Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu.

Kendaraan udara melintas seperti bintang yang bergerak di langit malam.

Namun bagiku semuanya terasa kabur.

Pikiran tentang kata-kata dokter terus berputar di kepala.

obat yang baru ini jauh lebih mahal

Lebih mahal.

Lebih mahal.

Kalimat itu seperti gema yang tidak mau pergi.

Aku menggigit bibir sambil menatap angka di terminal pribadiku.

Hari ini adalah hari gajian.

Setidaknya…

aku masih punya sedikit harapan.

Begitu sampai di rumah, aku bahkan belum sempat mengganti baju.

Aku langsung duduk di meja kecil dan membuka rincian pembayaran dari agensi.

Jemari tanganku sedikit gemetar saat layar hologram muncul.

Gaji pokok.

Honor syuting hari ini.

Bonus figuran tambahan.

Mataku sedikit berbinar.

Lumayan.

Setidaknya untuk ukuran proyek sehari penuh.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

Karena di bawahnya…

tertera potongan.

Potongan fasilitas asrama.

Potongan pelatihan.

Potongan administrasi agensi.

Potongan penggunaan kostum.

Potongan makan siang set.

Potongan komisi perusahaan.

Mataku membelalak.

“Ha…?”

Aku membaca ulang.

Lalu sekali lagi.

Dan sekali lagi.

Angka akhir yang tersisa…

terlalu kecil.

Sangat kecil.

Tanganku langsung menekan meja.

Hampir seperti mencari tumpuan agar tidak jatuh.

Ini…

ini hasil seharian penuh?

Syuting dari pagi sampai sore?

Ganti kostum berkali-kali?

Jatuh berkali-kali?

Hanya segini?

Dadaku terasa sesak.

Air mata langsung menggenang.

Aku tertawa kecil.

Tertawa yang lebih mirip putus asa.

Lalu tanpa sadar air mata itu jatuh.

Satu.

Dua.

“Kenapa…”

suaraku pecah.

“Kenapa sedikit banget…”

Bahkan setelah ditambah pembayaran proyek hari ini…

uang ini tetap tidak cukup untuk melanjutkan obat ibu.

Aku menutup wajah dengan tangan.

Bahuku sedikit bergetar.

Selama ini…

ternyata aku benar-benar diinjak.

Bukan hanya karierku yang direbut.

Bahkan hasil kerjaku pun dipotong habis-habisan.

Tanganku perlahan turun.

Tatapanku jatuh pada tas di samping kursi.

Dan di sana…

kartu hitam itu masih tersimpan.

Menara Ardevar.

Aku menatapnya lama.

Lalu perlahan mengeluarkannya.

Permukaan hitam mengilap dengan lambang perak itu terlihat begitu asing.

Begitu mewah.

Begitu jauh dari duniaku.

Namun malam ini…

rasanya itu adalah satu-satunya cahaya.

Aku menggenggam kartu itu erat.

Mana ada kontrak pernikahan sebaik ini?

Bahkan…

orang yang menjual diri sebagai sugar baby pun mungkin tidak akan mendapat jaminan sebesar ini.

Biaya rumah sakit.

Operasi.

Terapi.

Biaya hidup.

Dan bahkan kesempatan untuk keluar dari agensi ini.

Aku menggigit bibir.

Tidak.

Aku tidak sedang menjual diri.

Aku sedang membeli masa depan.

Untuk ibu.

Untuk diriku.

Dan untuk karier yang selama ini dirampas.

Tatapanku menajam.

“Aku harus terima.”

Kalimat itu keluar pelan.

Namun untuk pertama kalinya terdengar mantap.

“Aku harus membuktikan…”

“kalau aku mampu.”

“Untuk ibu.”

“Untuk karierku.”

Aku menggenggam kartu itu lebih erat.

Besok.

Aku akan datang ke Menara Ardevar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!