"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"
Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.
Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.
Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: Tamu dari Negeri Dua Benua
Suasana Mansion Tarkan pagi ini terasa lebih sibuk dari biasanya. Para pelayan berlarian menyiapkan ruang tamu agung. Amora, yang masih terngiang ucapan Hamdan semalam tentang "gelang rumput", terpaksa menuruti keinginan Zahra untuk mengenakan gaun simpel namun berkelas berwarna putih tulang.
"Ingat, Amora," bisik Zahra sambil merapikan rambut Amora. "Tamu kali ini adalah Farr Burhan. Dia rekan bisnis Abang dari Turki, tapi dia punya reputasi sebagai penakluk wanita. Abang pasti akan sangat sensitif hari ini."
Amora hanya mendengus. "Biarkan saja. Lagipula, aku bukan siapa-siapa kakakkmu."
Saat mereka turun ke aula utama, Hamdan sudah berdiri di sana. Ia tampak luar biasa tampan dengan setelan jas navy yang pas di badannya yang tegap. Begitu melihat Amora, matanya berkilat sekejap—perpaduan antara kekaguman dan kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik wajah kaku.
Pintu besar terbuka. Seorang pria dengan wajah khas Mediterania masuk dengan langkah percaya diri. Farr Burhan (30 tahun). Ia memiliki senyum yang mematikan dan gaya yang jauh lebih santai dibanding Hamdan.
"Hamdan, sahabatku!" Farr memeluk Hamdan singkat, lalu matanya langsung tertuju pada sosok di belakang Hamdan. "Dan... siapa mawar indah yang tersembunyi di mansion gelapmu ini?"
Farr tidak menunggu diperkenalkan. Ia melangkah mendekati Amora, meraih tangannya, dan mengecup punggung tangan Amora dengan sangat sopan namun berani. "Aku Farr. Dan kau pasti malaikat yang jatuh di Sukawangi itu, bukan?"
Amora sedikit tersipu. Belum pernah ada pria yang memperlakukannya selembut ini. "Saya Amora."
Hamdan berdeham sangat keras, suaranya seperti es yang retak. Ia segera melangkah maju, meletakkan tangannya di pinggang Amora—tindakan posesif yang sangat nyata—lalu menariknya sedikit menjauh dari Farr.
"Dia bukan urusanmu, Farr. Mari kita bahas kontrak di ruang kerja," ujar Hamdan dengan nada bicara yang sangat rendah dan berbahaya.
Farr tertawa santai, ia menyadari kegelisahan Hamdan. "Kenapa terburu-buru? Aku baru saja sampai. Amora, maukah kau menemaniku minum teh di taman nanti sore? Aku membawa baklava terbaik dari Istanbul."
Amora melirik Hamdan yang rahangnya kini mengeras hingga otot lehernya terlihat. Karena kesal dengan sikap kaku Hamdan semalam, Amora justru tersenyum manis pada Farr.
"Tentu, Tuan Farr. Saya sangat suka mencoba hal baru."
Wajah Hamdan menggelap seketika. Ia menatap Amora dengan tatapan yang seolah berkata, 'Kau sedang bermain api'.
--------
Sore Hari di Taman Mansion
Sesuai janjinya, Amora duduk bersama Farr di paviliun taman. Farr sangat pandai bercerita, membuat Amora tertawa beberapa kali. Namun, Amora merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya.
Benar saja. Di balkon lantai dua, Hamdan berdiri diam seperti patung, menatap mereka dengan tatapan yang sangat dingin. Di tangannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi air mineral yang ia remas begitu kuat hingga tangannya memutih.
"Abangmu itu sangat protektif," celetuk Farr sambil menyesap tehnya. "Atau mungkin dia tidak menganggapmu sebagai adik?"
Amora terdiam. "Dia bukan abangku. Dia... hanya pria yang membawaku ke sini."
Farr memajukan tubuhnya, menatap Amora dengan intens. "Kalau begitu, aku punya peluang? Kau terlalu berharga untuk dikurung di tempat kaku seperti ini, Amora."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Hamdan datang dengan aura yang begitu menekan hingga suasana taman terasa mencekam.
"Tehnya sudah habis, Farr. Sopir sudah menyiapkan mobil untuk mengantarmu ke hotel," ucap Hamdan tanpa basa-basi.
Farr berdiri sambil tersenyum miring. "Kau sangat tidak sabaran, Hamdan. Baiklah. Amora, sampai jumpa di perjamuan malam besok. Aku akan memastikan kita berdansa."
Begitu Farr pergi, Hamdan langsung mencengkeram lengan Amora pelan namun tegas, memaksanya berdiri menghadapnya. "Apa yang kau lakukan? Kau sengaja menggunakannya untuk memancing kemarahanku?"
"Aku hanya bersikap ramah, Hamdan! Tidak semua orang harus kaku dan kasar sepertimu!" balas Amora berani.
Hamdan mendekatkan wajahnya, napasnya yang panas menerpa kulit Amora. "Dia pria berbahaya, Amora. Dia tidak menginginkan hatimu, dia hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku. Masuk ke rumah sekarang, atau aku akan menyuruh penjaga mengunci pintumu dari luar!"
Amora menghentakkan kakinya dan berlari masuk, meninggalkan Hamdan yang berdiri sendirian di taman dengan kepalan tangan yang bergetar. Hamdan tahu, ia mulai kehilangan kendali atas perasaannya sendiri.
Amora berbalik di ambang pintu paviliun, tidak tahan lagi dengan sikap diktator pria itu. "Kau selalu bilang aku dalam bahaya, tapi sejauh ini, kaulah satu-satunya orang yang membuatku merasa tercekik, Hamdan!"
Rahang Hamdan mengeras. Ia melangkah cepat, menyusul Amora hanya dalam dua langkah besar dan menghalangi jalannya. "Aku melakukan ini agar kau tidak berakhir sebagai pion di meja judi orang-orang seperti Farr, Amora!"
"Setidaknya Farr memperlakukanku seperti manusia, bukan seperti tawanan yang harus diawasi setiap detiknya!" Amora mencoba mendorong dada Hamdan, namun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Hamdan tiba-tiba merendahkan suaranya, sebuah nada yang jauh lebih berbahaya daripada bentakan. "Kau ingin tahu rasanya diperlakukan seperti wanita dewasa, bukan tawanan?"
Hamdan maju satu langkah lagi, memaksa Amora mundur hingga punggungnya menyentuh pilar marmer paviliun. Jarak mereka begitu dekat hingga Amora bisa mencium aroma tobacco dan sandalwood dari jas Hamdan. Jantung Amora berdegup kencang, antara takut dan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.
Tangan Hamdan terangkat, namun alih-alih mencengkeram, ia hanya menyelipkan helai rambut Amora yang tertiup angin ke belakang telinganya. Sentuhan jarinya yang kasar namun hangat membuat Amora merinding.
"Jangan pernah tersenyum pada pria lain seperti kau tersenyum padanya tadi," bisik Hamdan dengan nada posesif yang sangat dalam. "Aku tidak bisa menjamin keselamatannya jika aku melihat itu lagi."
Amora menahan napas. "Kau... kau cemburu?"
Hamdan terdiam sejenak. Matanya menatap bibir Amora dengan intensitas yang membuat Amora merasa terbakar. Bukannya menjawab, Hamdan justru menjauhkan dirinya secara tiba-tiba, seolah baru saja tersengat listrik. Ia kembali mengenakan topeng "kulkas dua pintunya".
"Masuk. Udara malam tidak baik untukmu," ujar Hamdan datar sebelum berbalik pergi dengan langkah cepat menuju sayap mansion yang lain.
Amora berdiri terpaku, menyentuh telinganya yang tadi bersentuhan dengan jari Hamdan. Ia benci betapa mudahnya pria itu mengacak-acak perasaannya. Namun jauh di dalam hatinya, ia mulai menyadari satu hal: Hamdan Tarkan tidak hanya ingin melindunginya dari musuh luar, tapi ia sedang berjuang melawan perasaannya sendiri yang bisa meledak kapan saja.
To be continued...