Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Jendela yang Berbisik
Tiga bulan berlalu sejak peresmian yayasan, dan hidup ternyata punya cara yang lucu untuk membuat kita tetap sibuk. Kalau dulu aku merasa hidupku seperti novel thriller yang penuh dengan adegan kejar-kejaran dan konspirasi gelap, sekarang hidupku lebih terasa seperti genre slice of life. Ada drama, tentu saja, tapi dramanya lebih seputar anggaran cat tembok panti atau perdebatan kecil dengan Bimo soal siapa yang seharusnya mencuci piring saat asisten rumah tangga kami sedang pulang kampung.
Pagi ini, studio baruku di lantai teratas gedung yayasan mandi cahaya matahari. Studio ini sudah tidak lagi kosong. Rak-rak bukunya kini penuh dengan tumpukan naskah, beberapa tanaman hias yang untungnya masih hidup berkat ketelatenan Bimo, dan sebuah papan tulis besar yang penuh dengan coretan ide cerita.
Aku sedang duduk di depan mesin ketik tua—hadiah dari Bimo—mencoba menulis sesuatu yang sudah lama kupendam. Bukan novel fiksi, melainkan memoar. Aku ingin mencatat semuanya sebelum ingatanku mulai memudar atau terdistorsi oleh waktu.
Pintu studio terbuka pelan. Bimo masuk dengan gaya khasnya: santai, tanpa jas, dan membawa dua gelas smoothie buah naga yang warnanya merah membara.
"Penulis kita sedang mencari inspirasi atau sedang melamunkan plot baru?" tanyanya sambil meletakkan gelas itu di samping mesin ketikku.
"Sedang mencoba jujur pada kertas, Bim," jawabku sambil meregangkan otot leher. "Menulis kebenaran itu ternyata jauh lebih menguras energi daripada mengarang kebohongan yang indah."
Bimo duduk di sofa kecil di pojok ruangan, menyilangkan kaki. "Begitulah kenyataan. Tapi setidaknya, sekarang kamu nggak perlu takut kalau ada orang yang nggak suka sama tulisanmu. Kamu punya kritikus paling setia di sini."
"Kritikus yang sering tertidur saat aku bacakan bab pertama?" godaku.
Bimo tertawa lepas. "Hei, itu karena suaramu terlalu menenangkan, bukan karena ceritanya membosankan!"
Siang harinya, kami kedatangan tamu yang cukup mengejutkan di kantor yayasan. Panji masuk ke ruanganku dengan raut wajah yang sedikit bingung.
"Mbak Nara, Pak Bimo... ada kiriman paket dari Swiss. Tapi bukan dari rumah sakit tempat Ibu Ratih dirawat. Ini dari firma hukum di Zurich," ucap Panji sambil meletakkan sebuah kotak kayu kecil di mejaku.
Aku dan Bimo saling pandang. Nama "Swiss" selalu memberikan sedikit getaran di hati kami. Meskipun Ratih sudah dinyatakan tidak memiliki hak hukum atas Wijaya Group, bayang-bayangnya masih terasa samar.
Bimo mengambil pisau kecil dan membuka kotak itu. Di dalamnya tidak ada bom, tidak ada dokumen sitaan. Hanya ada sebuah kunci kuno, seuntai kalung mutiara yang sangat kukenali sebagai milik Ratih, dan sebuah surat pendek.
“Untuk Bimo dan Istrinya. Aku tidak meminta maaf, karena aku tahu kata itu tidak akan cukup. Tapi di dalam kotak perwalian nomor 402 di Bank Central Jakarta, ada sesuatu yang seharusnya menjadi milik Adrian sejak tiga puluh tahun lalu. Itu adalah royalti dari penemuan teknologi pemurnian air yang dia kembangkan bersama Hendra, yang selama ini dicuri oleh perusahaan lewat jalur ilegal. Ambillah. Gunakan untuk yayasan kalian. Anggap saja ini sebagai cara untuk membersihkan tanganku yang mulai gemetar. – R.”
Kami terdiam cukup lama. Ratih Wijaya, wanita yang begitu keras dan dingin, akhirnya menyerahkan kartu terakhirnya. Bukan karena dia mendadak menjadi malaikat, tapi mungkin karena di usianya yang senja dan dalam kesunyian rumah sakit di Swiss, dia menyadari bahwa harta yang dia kumpulkan dengan cara kotor tidak bisa menemaninya tidur dengan tenang.
"Dia menyerah," bisik Bimo. "Benar-benar menyerah."
"Atau mungkin dia baru saja menemukan cara untuk merasa bebas," sahutku pelan. "Uang itu... royalti milik ayah kandungku. Ini adalah hak yang tertunda, Bim."
Bimo menggenggam tanganku. "Kita akan urus besok bersama Panji. Dan semua itu akan masuk ke tabungan abadi untuk beasiswa. Nama Adrian akan benar-benar menghidupi anak-anak itu, seperti yang seharusnya terjadi dulu."
Sore itu, untuk merayakan "kemenangan kecil" yang terasa damai itu, aku mengajak Bimo pulang ke panti asuhan. Bukan untuk urusan dinas, tapi hanya ingin makan bakso langganan kami yang sering lewat di depan pagar panti setiap jam empat sore.
Kami duduk di bangku kayu panjang di bawah pohon mangga besar. Anak-anak panti sedang asyik bermain bola di halaman yang sekarang sudah berumput rapi. Perosotan spiral yang Bimo pilihkan sudah terpasang dan menjadi rebutan paling sengit sore itu.
"Mbak Nara! Pak Bimo! Sini main!" teriak Dito sambil melambaikan bola plastiknya.
"Nanti ya, Dito! Mbak mau habisin baksonya dulu!" balasku sambil tertawa.
Melihat anak-anak itu, aku menyadari sesuatu yang sangat mendalam. Kejahatan keluarga Wijaya dulu memang merenggut masa kecilku, tapi cinta yang diberikan Ayah Hendra dan kehadiran Bimo sekarang telah mengembalikan warna-warna yang sempat hilang itu.
"Bim," panggilku sambil menusuk butiran bakso terakhir.
"Ya, Sayang?"
"Apa kamu pernah menyesal? Maksudku... kehilangan jabatan CEO, kehilangan kemewahan yang dulu kamu punya, dan sekarang harus sibuk ngurusin perosotan rusak?"
Bimo menatapku, matanya memantulkan cahaya senja yang hangat. Dia menggeleng pelan tanpa ragu sedikit pun.
"Nara, dulu aku punya semuanya tapi aku nggak punya siapa-siapa. Aku punya gedung tinggi tapi aku takut ketinggalan. Sekarang? Aku mungkin cuma punya yayasan dan apartemen yang cicilannya belum lunas, tapi aku punya kamu. Aku punya Ayah Hendra. Dan aku punya perasaan tenang setiap kali aku menutup mata. Itu kemewahan yang nggak bisa dibeli pakai saham mana pun."
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku di bahunya yang kokoh. Di kejauhan, aku melihat Ayah Hendra keluar dari dalam panti, membawa nampan berisi teh hangat untuk kami. Beliau tampak sangat sehat, senyumnya lebar, dan jalannya masih tegap. Beliau telah memenangkan pertarungannya dengan waktu dan rasa bersalah.
Malam harinya, kembali di studio, aku membuka laptopku lagi. Aku menghapus beberapa baris memoar yang tadi pagi kutulis. Terlalu formal, pikirku. Aku ingin menulis sesuatu yang lebih santai, sesuatu yang lebih "manusia".
Aku mulai mengetik:
Hidup itu bukan tentang bab penutup yang sempurna. Hidup itu tentang bagaimana kita berani membalik halaman, meskipun halaman sebelumnya penuh dengan noda tinta dan coretan salah tulis. Hari ini, aku menerima paket dari masa lalu yang pahit, tapi aku membukanya dengan tangan yang tidak lagi gemetar. Karena aku tahu, di sampingku ada seseorang yang siap membantu memegang kertasnya jika aku merasa lelah.
Bimo sering bilang kalau aku adalah penulis yang hebat. Tapi kenyataannya, dia adalah karakter terbaik yang pernah muncul dalam hidupku. Karakter yang tidak aku ciptakan, tapi dikirimkan semesta untuk membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh bahkan di atas puing-puing kehancuran.
Aku berhenti sejenak, menatap bayanganku di kaca jendela studio. Di balik jendela itu, Jakarta masih riuh. Tapi di dalam sini, hanya ada suara detak jam dinding dan napas teratur Bimo yang sedang membaca buku di sofa belakangku.
"Nara," panggil Bimo tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya.
"Iya?"
"Jangan lupa tambahkan di bukumu... bahwa bab 21 adalah bab favoritku. Karena di sini, kita nggak lagi bahas soal musuh. Kita bahas soal masa depan."
Aku tersenyum dan melanjutkan ketikanku.
Masa depan bukan lagi sebuah misteri yang menakutkan. Ia adalah kanvas kosong yang harum, siap diisi dengan warna-warna baru. Mungkin akan ada konflik lagi, mungkin akan ada tantangan yang lebih besar, tapi selama kita memegang penanya bersama-sama, tidak ada cerita yang tidak bisa kita selesaikan dengan bahagia.
Aku menutup laptop dengan perasaan puas. Studio ini, gedung ini, dan pria di belakangku ini adalah kenyataan yang jauh lebih indah dari fiksi mana pun yang pernah kubayangkan.