Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taring Sang Pewaris
keesokan harinya ...
Aelira merebahkan diri ke atas kasur. Ia menghela napas pelan, lalu meraih ponsel di sisi bantal.
Lalu, iseng, ia buka kamera depan. Satu foto selfie—wajah polos tanpa riasan, rambut tergerai, tanktop putih sederhana. Ia senyum kecil, lalu meng-upload ke story dengan caption:
Goodnight, clean face and peace ♡
Tak sampai semenit kemudian—notifikasi WA masuk.
Ravian ♡: HAPUS SEKARANG!
Ravian ♡: Mau caper ke siapa lo cuma pakai tanktop gitu?
Aelira: Berisik. Cuma foto doang.
Ravian ♡: Nggak di hapus, gue cium lo sampai mampus nanti.
Aelira menggeram frustasi. "Norak banget heran." Gumamnya.
Dengan jari malas, ia menghapus story itu. Bukan karena takut, tapi malas berdebat panjang.
Aelira: Udah aku hapus.
Aelira: Kapan kamu pulang? Aku laper. Mau nitip nasi goreng depan komplek.
Ravian ♡: Lo kira gue ojek?
Ravian ♡: Gak usah manja! Notif lo ganggu. Gue mau latihan.
"Sialan. Nyebelin banget sih nih cowok." Wajah Aelira mengeruh.
Lalu jempolnya bergerak ke pojok kanan atas.
Klik.
Blokir kontak.
Layar langsung sunyi.
"Makan tuh blokiran!"
Aelira memutuskan keluar dari kamar sambil meraih jaketnya.
---
Vespa pink-nya melaju pelan di jalanan depan komplek. Lampu jalanan menyorot aspal basah yang baru diguyur hujan sore tadi.
Aelira menoleh ke kiri—penjual nasi goreng langganannya masih buka.
Drrrttt drrrttt!!
Ponselnya bergetar terus-menerus.
Notifikasi WhatsApp masuk satu per satu.
Mas Miko: Aelira cantik, ngambeknya nanti dulu, ya? Dia ngamuk minta latihannya dibatalin, Eli :(
Ravel: AELIRA, BUKA BLOKIRANNYA! COWOK LO NGAMUK DI TEMPAT LATIHAN.
Zaven: Lo apain dia lagi sih
Elzo: Cowok lo hampir ancurin tempat latihan. Ngamuk minta pulang :(
Aelira menghela napas berat. Akhirnya dengan terpaksa dia membuka blokirannya.
Ting!
Ravian ♡: Berani lo ya, blokir nomor gue?
Aelira: APA?
Ravian ♡: Kok jadi lo yang marah, sih? Harusnya kan gue.
Aelira: Kamu ngumpatin aku, aku nggak suka.
Ravian ♡: Ngambek segala, gue ngumpat dikit.
Aelira: Nggak minta maaf, nggak usah chat aku.
Ravian ♡: MAAF
Aelira: Gak mau, gak ikhlas.
Ravian ♡: Maaf, anj.
Aelira: TUH KAN. KAMU TUH EMANG NYEBELIN.
Ravian ♡: Maaf sayang. Udah?
Aelira mencibir sinis walau akhirnya tersenyum heran.
"Mang Didin, Nasi goreng satu. Pedas sedang. Nggak pakai acar."
"Siap Neng Aelira."
Suara motor mendekat. "Aelira? Sendirian aja?"
Aelira menoleh cepat. Senyumnya terangkat begitu melihat sosok jangkung dengan hoodie hitam.
"Kak Alvandra?"
"Hai!" sapa Alvandra tersenyum. "Kamu gimana keadaannya? Udah sembuh?"
"Udah, Kak. Besok udah mulai sekolah."
"Sorry ya, nggak sempat jenguk! Kata Ziva, kalau cowok nggak boleh jenguk. Iya, kan?"
Aelira tersenyum kikuk. "Ya... gitu deh, Kak."
Alvandra mengangguk. "Vokalis ZEYON itu beneran pacar kamu, ya?"
"Eum... iya." Aelira mengangguk. "Tapi backstreet, soalnya dia artis."
"Oh." Ekspresi Alvandra berubah seperti kecewa. "Dia panik banget mukanya waktu kamu pingsan."
Aelira terkekeh. "Kakak suka beli nasi goreng di sini juga, ya?"
Alvandra mengangguk. "Cukup sering. Kebetulan tadi lewat—Mamaku titip, malah ketemu kamu."
Sementara itu... di seberang jalan—di dalam mobil hitam yang berhenti dengan lampu mati, seseorang mengangkat kameranya.
Cekrek!
Ilham—teman Ravian di dunia artis—mengirim foto.
Ilham: [Send a Picture]
Ilham: Van, itu cewek lo, kan? Yang lagi rame.
Ting!!
Aelira mengerjap dan menunduk ke HP-nya.
Ravian ♡: [Send a Picture]
Ravian ♡: Sama siapa lo?
Ravian ♡: Pulang atau gue seret?
Aelira tersentak.
"Eli, kenapa?"
"Nggak papa, Kak. Aku pulang dulu, ya!" Aelira meraih nasi gorengnya. "Duluan, Kak!"
Drrrt drrrtt!
Ravian ♡ Is Calling...
"Ya Tuhan, apa sih?" Geram Aelira mengangkatnya. "Aku udah mau naik motor."
"Berani ya lo ngobrol sama cowok lain sekarang? Siapa dia? Jawab gue! Ngelunjak banget lo gue baikin."
"Itu Kak Alvandra. Kakak kelas aku." Jawab Aelira sabar.
"Kakak kelas atau inceran lo?" sewot Ravian.
"Dia mantan ketua OSIS tahun lalu. Apaan, sih?"
"Gue nggak suka. Jauhin dia atau kakak kelas lo habis di tangan gue."
"Kenapa sih, Van? Kamu cemburu?"
Ada jeda panjang. Lalu suara Ravian terdengar rendah—tapi keras.
"Banget. Gue cemburu. Puas?"
Aelira tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat. Walau toxic dan posesif, cowok itu jarang banget mengakui kalau dia cemburu. Biasanya dia marah, mengancam, atau langsung bertindak. Tapi mengaku?
Ini pertama kalinya.
"Van, aku—"
"Gue otw ke rumah. Jangan kemana-mana. Lo denger gue? JANGAN. KEMANA-MANA."
Tut.
Telepon ditutup.
Aelira menatap layar ponselnya dengan dada naik turun. "Ravian gila. Gila beneran."
Dia memacu vespa pinknya pulang sekencang mungkin.
---
BRAK!
Pintu kamar Aelira terbuka dengan paksa—bukan karena ditendang, tapi karena dibuka dengan gerakan seseorang yang menahan amukannya.
Aelira nyaris terlonjak dari duduknya di tepi kasur.
Ravian berdiri di ambang pintu. Hoodie hitamnya basah oleh keringat. Dadanya naik turun—bukan karena kelelahan, tapi karena amarah yang ditahan mati-matian.
Matanya gelap.
Tapi... mulutnya tidak membentak.
Dia masuk. Menutup pintu di belakangnya dengan gerakan pelan. Terlalu pelan.
Aelira mundur sedikit. "Van, aku—aku bisa jelasin. Kak Alvandra cuma—"
"Gue tau siapa dia."
Suaranya datar. Dingin. Tapi nadanya seperti pisau yang baru diasah.
"Gue tau dia kakak kelas lo. Gue tau dia mantan ketua OSIS. Gue tau dia nembak lo dua tahun lalu. Gue tau semuanya, Eli."
Aelira membeku. "Lo—lo tahu?"
"Gue tahu semuanya karena gue selalu pantau. Lo pikir gue sibuk syuting terus nggak peduli?" Ravian melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. "Setiap cowok yang pernah deket sama lo, gue catat. Gue hapal nama, muka, bahkan nomor HP mereka."
"Gila..."
"Baru tau?"
Ravian berhenti tepat di depan Aelira. Tubuhnya menjulang. Bayangannya menutupi seluruh tubuh gadis itu.
Dia tidak menyentuh Aelira. Tidak seperti biasanya—yang langsung mencengkram atau mencium.
Kali ini dia hanya berdiri. Menatap.
Dan itu justru lebih menakutkan.
"Lo hapus foto selfie lo," katanya pelan. "Lo blokir gue. Lo keluar malam-malam. Lo ketawa sama cowok lain. Lo panggil dia 'Kak' dengan manis."
Satu per satu dia sebutkan. Seperti membaca daftar dosa.
"Dan lo pikir... gue bakal diem aja?"
"Van..."
"Gue udah tahan, lho." Ravian tertawa kecil—tapi matanya tidak ikut tertawa. "Gue udah coba jadi pacar yang baik. Nggak terlalu keras. Nggak terlalu posesif. Gue biarin lo punya temen, punya kegiatan, punya hidup di luar gue."
Tangannya terangkat. Aelira memejamkan mata—tapi yang mendarat di pipinya bukan tamparan.
Tapi elusan. Lembat.
"Tapi lo lupa satu hal, Eli." Ravian mencondongkan wajah. Dahi mereka hampir menempel. "Gue ini pewaris nama besar. Ayah gue ngajarin satu hal: kalau lo punya sesuatu yang berharga, lo jaga. Bukan dengan kata-kata manis. Tapi dengan taring."
"Ravian, kamu—"
"Gue nggak akan nyakitin lo. Jangan takut." Bisiknya. Bibirnya menyapu pelan kening Aelira. "Tapi gue akan bikin semua orang tahu—bahwa lo punya gue. Dan gue nggak bakal biarkan siapa pun—termasuk lo sendiri—meragukan itu."
Aelira menggigit bibir. Jantungnya berdebar kencang—antara takut dan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hangat.
"Mulai besok," lanjut Ravian, matanya menatap lurus ke dasar mata Aelira, "gue akan pindah sekolah. Ke sekolah lo."
Aelira membelalak. "A—apa?"
"Halo! Gue mau masuk sekolah umum. Daftarin gue di sekolah yang sama kayak Aelira. Untuk jadwal manggung, syuting dan lainnya—lo yang atur. Gue terima beres." Ravian pura-pura bicara ke seseorang di telepon, lalu menatap Aelira dengan seringai licik.
"Gue nggak mau lo makin bebas tanpa pengawasan gue."
"Kamu gila! Manajer kamu bakalan—"
"Manajer gue bakalan nurut. Karena gue yang bayar mereka." Ravian mengangkat bahu. "Gue pewaris, Eli. Bukan cuma artis. Dan pewaris nggak pernah—pernah—kehilangan apa yang dia mau."
Aelira terdiam. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara keluar.
Ravian tersenyum—bukan senyum manis, tapi senyum puas milik predator yang tahu mangsanya tak akan kemana-mana.
"Tidur sekarang. Besok gue antar lo sekolah."
"Van..."
"Tidur." Ravian menekan bahu Aelira pelan hingga gadis itu merebahkan diri. Dia menarik selimut, menutupinya—lalu mengecup keningnya.
"Selamat malam, milik gue."
Ravian keluar kamar. Lampu dimatikan.
Dan di kegelapan itu, Aelira meraba dadanya yang berdebar tidak karuan.
Dia gila. Tapi kenapa aku... justru merasa aman?
Taring pewaris tidak pernah tumpul. Dan malam ini, Ravian menunjukkan bahwa dia akan merobek siapa pun yang berani mendekati mahkotanya yang paling berharga.
Aelira.