Perhatian!!!
Harap bijak dalam membaca.Terima kasih 🙏 🫶
Elian sang Ice Prime Ministry selalu bersitegang
dengan Lyra the Iron Rose, CEO De La Vega Corporate yang menangani cyber security dan peralatan militer. Namun, siapa sangka keduanya memiliki hubungan terlarang yang sangat panas dan romantis dan penuh tantangan. Dimulai dari perjodohan dengan orang lain yang dilakukan oleh keluarga dan partai mereka, sehingga mereka memiliki misi untuk membatalkan perjodohan. Selain itu pengkhianatan yang dilakukan keluarga mereka sendiri tidak kalah peliknya.
Apak Elian dan Lyra bisa bersatu dan memiliki hidup normal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat untuk Pulang
Apartemen rahasia yang terletak di pinggiran distrik industri Valerossa adalah sebuah paradoks. Dari luar, bangunan itu tampak seperti gudang tekstil tua yang terbengkalai dengan jendela-jendela berdebu dan cat yang mengelupas. Namun, begitu melewati lift barang yang telah dimodifikasi dengan sistem keamanan biometrik tingkat militer, lantai teratasnya berubah menjadi sebuah perlindungan mewah yang kedap suara dan tidak terdeteksi oleh radar intelijen mana pun.
Ini adalah satu-satunya tempat di Aethelion di mana protokol, etika partai, dan tuntutan keluarga tidak memiliki suara. Di sini, tidak ada dinding marmer yang mendengarkan, tidak ada mikrofon tersembunyi, dan tidak ada mata-mata yang menyamar sebagai pelayan.
Begitu pintu berat itu menutup dengan bunyi klik yang solid, suasana tegang yang dibawa Lyra dan Elian dari dunia luar seolah luruh seketika. Lyra berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan jas formalnya, namun bahunya yang biasanya tegak kini tampak layu oleh beban berita dari ayahnya. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung menghambur ke pelukan Elian yang baru saja tiba.
"Ayah sudah menetapkan tanggalnya, Elian," bisik Lyra, suaranya parau dan bergetar di dada Elian. "Count Julian... dia memperlakukanku seperti barang akuisisi yang harus segera diberi label harga. Aku merasa seperti sedang dijual di pelelangan terbuka."
Elian memeluk Lyra dengan kekuatan yang hampir menyakitkan, seolah-olah ia mencoba menyerap semua kesedihan wanita itu ke dalam tubuhnya sendiri. Tangan besarnya membelai rambut hitam Lyra yang biasanya tertata sangat rapi, kini sudah sedikit berantakan. "Viktor juga melakukan hal yang sama padaku, Lyra. Dia sudah menyiapkan draf pidato pengumuman pertunanganku dengan Isabella Von Strauss untuk siaran nasional minggu depan. Mereka pikir mereka bisa mengatur hidup kita seolah kita adalah pion tanpa nyawa."
Keresahan itu mengalir di antara mereka, menciptakan tegangan yang bukan lagi berasal dari kecemasan politik, melainkan dari kebutuhan primitif untuk saling memiliki sebelum dunia merenggut hak mereka atas satu sama lain. Di apartemen ini, mereka bukan lagi pemimpin; mereka adalah dua pelarian yang saling mendambakan.
Elian menjauhkan sedikit tubuh Lyra untuk menatap matanya yang berkilat oleh amarah dan air mata yang belum tumpah. Tanpa aba-aba, ia menunduk dan melumat bibir Lyra dengan ciuman yang dalam, penuh dengan rasa haus yang brutal dan kerinduan yang menuntut pelepasan segera.
Pelepasan di Atas Sofa
Ciuman itu menjadi katalis bagi gairah yang telah mereka tahan sepanjang hari di koridor kekuasaan yang dingin. Mereka bergerak secara naluriah menuju sofa kulit besar berwarna hitam di tengah ruangan. Elian mendorong Lyra perlahan hingga wanita itu terlentang di atas sofa, sementara ia sendiri segera melepas kemejanya, memperlihatkan tubuh atletisnya yang penuh dengan bekas luka masa lalu.
"Jangan biarkan mereka memenangkan ini, Elian," desah Lyra saat Elian mulai menciumi dan menjilati leher jenjangnya. Sentuhan lidah Elian di kulit sensitif leher Lyra membuat wanita itu mengerang keras, tangannya mencengkeram rambut Elian, menariknya agar semakin dalam.
Elian membuka kancing setelan jas Lyra dengan gerakan yang tidak sabar. Ketika kain abu-abu itu terbuka, ia terpana melihat tubuh mulus kekasih rahasianya yang hanya dibalut pakaian dalam renda hitam yang tipis. Elian tidak menyia-nyiakan waktu; ia mulai meremas payudara Lyra yang penuh, memberikan tekanan yang membuat Lyra melengkungkan punggungnya. Elian memainkan puncak payudara Lyra dengan ibu jarinya hingga mengeras, sebelum kemudian menunduk untuk menghisap dan memainkannya dengan lidahnya secara bergantian. Suara desahan Lyra memenuhi ruangan, mengalahkan suara rintik hujan di luar jendela.
Elian melanjutkan jilatan nafsunya ke bagian bawah, menjelajahi perut rata Lyra hingga ke paha bagian dalamnya yang sangat sensitif. Ia memberikan stimulasi manual dan oral yang sangat detail pada area paling intim Lyra, mencari setiap titik saraf yang bisa membuat wanita itu kehilangan akal sehatnya. Tangan Lyra memeluk kepala Elian erat, tubuhnya bergerak-gerak tidak karuan saat Elian memberikan kenikmatan yang belum pernah ia dapatkan dari siapa pun.
Penyatuan dan Pakta Darah
Jari jemari Elian tidak berhenti memberikan stimulasi, ia memasukkan jarinya ke dalam lubang yang sudah sangat basah dan membanjir itu, menggerakkannya maju mundur dengan ritme yang cepat dan menuntut. Lyra sudah benar-benar berada di ambang batas. Ia menarik tubuh Elian agar segera menyatukan mereka secara utuh.
Elian segera melepas sisa pakaiannya, memperlihatkan miliknya yang sudah menegang keras dan berdenyut karena hasrat yang memuncak. Ia berlutut di depan Lyra yang kakinya sudah melingkar erat di pinggangnya. Dengan satu hentakan mantap dan penuh kepemilikan, Elian membenamkan miliknya ke dalam diri Lyra.
"Ahhh... Elian!" teriakan Lyra pecah, tangannya mencengkeram sandaran sofa hingga kukunya meninggalkan bekas di kulit sofa tersebut.
Elian mengikuti ritme perlahan di awal, menikmati ekspresi wajah sayu Lyra yang dipenuhi gairah murni. Ia membungkuk, memainkan lubang telinga Lyra dengan lidahnya sambil memberikan bisikan-bisikan posesif. "Hanya aku, Lyra... katakan padaku siapa pemilikmu yang sebenarnya."
"Kau... hanya kau, Elian... selamanya kau," jawab Lyra di sela desahannya yang memburu.
Seiring dengan luapan emosi karena tekanan dari Julian dan Isabella, Elian menaikkan ritme gerakannya menjadi sangat cepat dan brutal. Hentakan Elian yang liar membuat sofa kulit itu berderit konsisten. Mereka bergerak dalam harmoni yang sempurna, melupakan konspirasi, partai, dan keluarga di luar sana. Di atas sofa itu, di bawah temaram lampu apartemen rahasia mereka, Lyra dan Elian mencapai puncak klimaks yang luar biasa secara bersamaan—sebuah ledakan kenikmatan yang menjadi pakta darah bahwa mereka akan menghancurkan siapa pun yang berani berdiri di antara mereka.
Malam itu, mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain, bersiap untuk menghadapi hari esok di mana mereka akan mulai menggunakan kepintaran dan intelijen mereka untuk menyabotase takdir yang dipaksakan kepada mereka.
lanjutkan kak