JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Pelabuhan seluas dua puluh hektar itu perlahan-lahan menjadi ramai. Air sungai Yangtze berkilauan dibawah cahaya pagi, seperti pita emas yang mengalir.
Kapal kargo penuh barang dengan lambung yang sedikit kendur, karena sebagian muatan telah dibongkar angkut oleh para buruh kasar.
Kapal layar khusus penumpang, mulai menjajakan karcisnya diloket-loket dermaga yang telah tersedia.
Perahu-perahu nelayan ringan berkerumun bersama dipesisir sungai, haluannya masih tergantung jaring berisi hasil tangkapan malam sebelumnya.
Lebih jauh disungai beberapa kapal besar perlahan mendekat, layarnya berkibar gagah menbentang tertiup angin.
Berbagai kios jajanan berjejer tertib dilahan-lahan yang sudah ditetapkan pengelola.
Sebagian besar tirai telah terbuka, menu sarapan siap dijajakan. Asap mengepul tipis dari cerobong dan panci, membaur bersama aroma kayu dan asin air sungai.
Lapak yang menjual ikan dan udang segar berdiri terpisah, didekat hulu guna memudahkan para pemilik lapak dalam membuang limbahnya.
Lin Yao dan dua saudaranya tiba agak terlambat, semua lokasi yang bagus sudah ditempati oleh meja pedagang dan gerobak dorong.
Hanya tersisa tempat terpencil disudut area dan sangat tidak strategis. Jauh dari pandangan orang-orang pejalan kaki.
Tak ada pilihan, mereka pun mendirikan kios dadakan disana.
Dilahan itu siapa pun bebas mendirikan lapak dengan biaya sewa keamanan tiga wen.
Sementara toko-toko bagus berada dijalur utama pelabuhan dengan biaya sewa sepuluh sampai lima belas tahil pertahun.
Setelah kios dengan atap kain linen lusuh berdiri, anglo sudah menyalakan api. Lin Yao mengeluarkan bahan-bahan dari keranjang dan mulai mengolahnya.
Pertama-tama Lin Yao mengambil sebongkah besar lemak babi lalu memanaskan kewajan tembaga.
Minyak auto mendesis ketika wajan mulai panas.
Mata Lin Shun menatap ragu, Lin Song meringis ngilu. Melihat Lin Yao menggunakan lemak yang amat berharga seboros itu.
"Kakak, kenapa sebanyak itu...?" tanya Lin Song pada akhirnya.
"Ketika kita berjualan makanan, warna, aroma, dan rasa sangat penting. Kalau tidak, mana ada orang yang mau mengeluarkan uang untuk membelinya..?" jawab Lin Yao.
Lin Shun berfikir sejenak, kemudian mengangguk setuju "Yao'er benar...!"
Bibi Lie yang berjualan bubur disebelah, melirik mereka berulang kali. Dalam kediamannya wanita berusia kisaran tiga puluh lima tahunan membatin pilu, bagaimana bisa Lin Yao begitu boros dengan menggunakan banyak minyak.
Lin Yao yang tidak mungkin tahu pemikiran bibi Lie, fokus dengan wajannya sendiri.
Gadis itu menuangkan adonan yang telah dia siapkan pagi tadi kewajan.
Satu sendok sayur menghasilan pancake berukuran sedang dengan ketebalan dua inci.
Begitu adonan menyentuh wajan panas, lapisan gelembung halus langsung terbentuk.
Lin Yao mengambil spatula, mendorong tepi pancake untuk memastikan pemanasan secara merata.
Saat suhu naik, tepi pancake secara bertahap berubah kering menciptakan warna cantik cokelat keemasan.
Aroma gurih dari daun bawang, aneka bumbu, telur dan minyak, menguap kepermukaan, menghasilkan aroma kelezatan yang menggoda.
Hingga radius satu kilo meter, panekuk telur kucai, melayang rendah diudara, mengusik indra penciuman.
Melihat satu sisi mulai sedikit menguning, Lin Yao segera membalik pancake.
Tak lama kemudian sisi lainnya juga berubah warna, lapisan renyahnya mulai terbentuk sempurna.
Bibi Lie tak kuasa menahan diri untuk mengendus. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya, guna melihat olahan apa yang dijual pedagang baru disebelahnya.
"Nona, apa yang sedang kau buat..? Baunya enak sekali."
Lin Yao mendongak, tersenyum ramah sembari menundukkan kepalanya "salam bibi, ini pancake bawang daun."
Tak lama kemudian, beberapa panekuk matang telah tersusun rapi dinampan kayu.
Lin Yao memilih yang paling bagus, membungkusnya dengan daun palem "Bibi, silakan dicoba..!
Bibi Lie buru-buru melambaikan tangan "Oh, tidak, tidak, kalian anak-anak bekerja keras untuk mencari uang, bagaimana mungkin aku tega menerimanya secara gratis..?"
Lin Yao kukuh menyodorkan bungkusan ditangannya "bibi, tolong jangan menolak, kami mungkin membutuhkan bantuanmu di masa depan. Maklum saja kami ini orang baru, jadi mohon bimbingannya bibi..!"
Setelah mendengar itu, barulah bibi Lie mau menerima hadiah perkenalan dari tiga bersaudara itu.
"Terimakasih ya...?"
"Sama-sama bibi...!"
Bibi Lie kembali kekursinya, menatap penuh binar makanan yang baru ia lihat.
Begitu gigitan pertama, lidah bibi Lie sontak berdecak terkesima. "Enak, sangat enak." serunya.
"Nona, keahlianmu sungguh luar biasa. Padahal ini hanya daun bawang, tapi rasanya bisa seenak ini." sambung bibi Lie dengan pioi menggelembung bak hamster.
Lin Yao, Lin Shun dan Lin Song tersenyum senang. Kepercayaan diri ketiganya meningkat.
Mereka yakin akan mampu menjual pancake itu sampai habis dan menghasilkan uang banyak.
Bibi Lie menelan makanan dimulutnya "aku sudah berjualan dipelabuhan hampir disepanjang hidupku, untuk pertama kalinya aku makan panekuk seenak ini."
Padahal pancake bawang daun telur amat mudah dibuat. Tapi diabad ini minyak belum ditemukan dan lemak babi adalah komoditas langka yang hanya mampu digunakan lebih banyak oleh orang kalangan bawah selama festival.
Bagi kaum kaya raya membeli lemak hewan tentu perkara mudah, tapi tetap saja penggunaannya cuma untuk masakan terbatas saja.
Oleh sebab itu olahan makanan yang berjenis gorengan atau menggunakan banyak minyak belum banyak diciptakan oleh para koki.
Per bumbuan juga tak seberagam abad modern, karena rempah-rempah disini dijadikan ramuan herbal untuk obat.
Lin Yao tersenyum lebih manis mendengar pujian itu, tangannya masih sibuk membuat pancake.
"Terimakasih bibi..! nama keluargaku Lin." gadis itu mulai memperkenalkan diri.
"Ini kakakku Lin Shun dan ini adikku Lin Song, aku sendiri Lin Yao."
"Nama keluargaku Lie, kalian bisa memanggilku bibi Lie saja."
Seorang pejalan kaki melintas didepan lapak mereka, sembari mengendus udara bak kucing. Ia sedang mencari aroma yang mengusik ketenangan penghuni perutnya.
"Makanan apa ini..?" tanya orang itu kala mendapati sumber aroma.
"Salam tuan..!" sambut Lin Yao "ini pancake bawang daun."
"Pancake..? berapa harganya?"
"Tiga wen untuk satu buah tuan..!"
Mendengar itu, pria tersebut mengerutkan kening dengan dalamnya.
"Itu terlalu mahal, tiga wen bisa untuk membeli dua bakpao kosong." ketus pria itu sebelum berbalik pergi.
Lin Yao dan kedua saudaranya merasa sedikit kecewa, pelanggan pertama terlepas.
Lin Yao tak patah arang, ia mengambil satu panekuk lalu memberikan kepada Lin Shun.
"Kakak, adik, kalian pasti lapar. Ayo makan ini dulu."
Lin Shun menggeleng "berikan saja kepada A-Song, kakak belum lapar."
Lin Song yang sudah ngiler karena penasaran, dengan penuh semangat mengulurkan tangan kecilnya.
Lin Yao pun memberikannya.
Dengan tak sabaran Lin Song menggigit setiap bagian pancake yang renyah diluar lembut didalam itu. Pipinya menggembung dengan mata mengecil, seolah-olah dia sedang menikmati makanan lezat yang langka.
Adegan itu disaksikan oleh beberapa pejalan kaki yang langsung tertarik padanya.
Melihat kesempatan itu, Lin Yao berdeham dan berseru dengan suara jernih nan lantang "pancake kucai telur tiga wen per buah. Mari tuan, nyonya, dicicipi..!"
Lin Shun turut serta membantu, mengikuti apa yang dilakukan sang adik.
"Paman, bibi, silahkan dicoba pancake kucai telur buatan adikku. Harganya tiga wen saja."
Lin Song yang berdiri diantara kedua kakaknya ketularan menjadi lebih berani. Ia menelan panekuk dimulutnya, mengangkat wajah tirus yang penuh remahan lalu ikut berseru dengan suara kekanakan yang riang.
Lin Song melambaikan tangan sambil berbicara "Tuan muda, nona muda, ini enak sekali. Ayo beli..!"
Energinya yang lincah penuh keceriaan menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan kemarin.
"Nona, berapa harga panekukmu..?" tanya seseorang yang baru melintas.
"Tiga wen tuan muda..!" jawab Lin Yao ramah.
Kerumunan itu terlihat ragu-ragu. Bekerja di dermaga menghasilkan tiga puluh koin sehari, tiga koin untuk satu panekuk bukanlah harga yang murah dan tidak semua orang sudi membelinya.
Beberapa orang miskin membawa panekuk sendiri dari rumah dan memakannya dengan air dingin saat istirahat.
Bibi Lie yang menyaksikan dari lapaknya tersenyum sebelum ikut menimpali "panekuk ini benar-benar enak, aku baru saja mencicipinya. Selain itu ukurannya juga lumayan besar, bisa mengenyangkan perut kalian."
"Benarkah..?"
Bibi Lie mengangguk tegas "tiga koin itu sangat pantas untuk harga panekuk ini, dari pada kalian membeli bakpao kosong. Aku sudah menjalankan warung ini selama bertahun-tahun, dan aku belum pernah mencicipi panekuk seenak buatan gadis ini."
Beberapa orang yang tidak dapat menahan godaan aroma, makin tergiur mendengar ucapan bibi Lie.
Meski pun masih skeptis, akhirnya dua ornag dari mereka pun membeli.
Yang lain memandang orang itu, menanti respon setelah memakan pancake yang dibeli.
Satu gigitan, binar bahagia menyembul dinetranya.
Gigitan kedua, matanya terpejam, meresapi rasa yang pecah memenuhi rongga mulutnya.
Orang-orang yang berkerumun didepan meja Lin bersaudara menelan dengan susah payah.
"Berikan aku satu..!" pinta seorang paman tak sabaran, merogoh kantong koinnya.
Lin Shun sigap melayani, sedangkan Lin Yao mulai menggoreng lagi adonan.
Sontak saja aroma nikmat kembali menguar.
Dengan terburu-buru paman tadi langsung menggigit panekuk ditangannya.
"Yaa, kenapa bisa seenak ini..? sangat berbeda dengan buatan istriku." ujar paman tadi.
"Sungguh...?"
Sang paman mengangguk, mengunyah cepat makanan yang sudah masuk dimulutnya.
"Renyah diluar, lembut dan kenyal dibagian dalamnya. Gurih, segar dan rasa telurnya lebih dominan."
Paman itu tidak lagi peduli dengan citranya, tetap menyantap dengan rakus.
"Aku mau satu lagi..!" seru paman itu.
Orang disekitar tercengang, mereka makin tergiur saja.
"Berikan satu padaku..!"
"Aku juga mau..!"
"Bungkus tiga untukku..!"
semangat trs updatenyaaa 💪