NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21_PERHATIAN YANG TAK TERUCAP

Keesokan harinya di sekolah, suasana tetap terasa canggung.

Azka tidak lagi mencari-cari Nayla dengan tatapan tajam. Ia tetap dingin, tetap pendiam, tapi jarak itu kini berbeda. Bukan jarak karena tidak peduli, melainkan jarak karena ragu.

Di kelas, Nayla duduk seperti biasa. Ia fokus, tertawa kecil bersama Dani dan Sena, tapi tidak berlebihan. Ia tidak mencari perhatian, juga tidak menghindar.

Saat guru meminta kerja kelompok, Nayla satu kelompok dengan Dani dan satu siswa lain. Mereka berdiskusi serius. Nayla aktif, memberikan pendapat dengan tenang.

Azka memperhatikan seolah memantau pergerakan gadis itu. Tidak ada sikap menantang. Tidak ada usaha membuatnya cemburu.

Nayla hanya menjalani harinya. Dan entah kenapa, itu membuat Azka merasa tersisih.

***

Di lapangan parkir sepulang sekolah, Devan berdiri di samping mobil Azka.

“Lo kelihatan kayak orang kehilangan sesuatu,” kata Devan sambil bersandar santai.

Azka membuka pintu mobil. “Lo nggak capek nyeramahin gue?”

Devan tersenyum tipis. “Capek. Tapi lo lebih capek pura-pura nggak peduli.”

Azka berhenti. “Apa lagi sekarang?”

Devan menatapnya serius. “Cewek kayak Nayla nggak akan teriak minta diperhatiin. Kalau lo terus diam, dia bakal terbiasa tanpa lo.”

Azka menghela napas kasar. “Gue nggak tahu harus gimana.”

“Mulai dari berhenti nyakitin,” jawab Devan. “Itu aja dulu.”

Azka tidak menjawab.

Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin. Tapi kata-kata itu menempel di kepalanya sepanjang perjalanan pulang.

***

Malam itu, Nayla duduk di ranjang dengan buku di tangannya. Ia membaca, tapi tidak benar-benar fokus.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

“Nayla.”

Ia menutup buku. “Iya?”

Pintu terbuka sedikit. Azka berdiri di sana, membawa segelas air.

“Minum,” katanya.

Nayla mengernyit. “Aku nggak sakit.”

Azka mengangguk. “Aku tahu.”

Ia meletakkan gelas itu di meja kecil, lalu mundur selangkah.

“Tidur,” katanya.

Nayla menatapnya. “Azka.”

“Apa?”

“Kamu aneh,” ucap Nayla pelan.

Azka menaikkan satu alisnya. "Aneh kenapa?"

Nayla menggeleng kecil. "Kamu berubah".

Azka terdiam. “Itu masalah?”

Nayla menggeleng. “Aku cuma… kaget.”

Azka menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Tidur.”

Ia menutup pintu.

Nayla menatap gelas air itu lama.

***

Pagi itu, Azka bangun lebih awal dari biasanya.

Bukan karena alarm. Tapi karena pikirannya sudah terjaga sejak subuh. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke dinding beberapa saat sebelum akhirnya berdiri dan turun ke lantai bawah.

Dapur masih sepi.

Azka menuang kopi ke dalam cangkir, lalu duduk di meja makan. Ia menyesapnya perlahan, pandangannya sesekali melirik ke arah tangga.

Beberapa menit berlalu. Langkah kaki terdengar.

Nayla turun dengan seragam sekolah, rambutnya diikat sederhana. Ia berhenti sejenak saat melihat Azka sudah duduk di sana.

“Oh,” ucapnya singkat.

Biasanya, Nayla akan langsung lewat. Atau sekadar mengangguk. Hari ini pun begitu. Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air.

Azka memperhatikannya tanpa suara.

Cara Nayla bergerak tenang. Tidak tergesa. Tidak gelisah. Seolah ia sudah berdamai dengan keberadaan Azka, bukan sebagai pusat hidupnya, tapi hanya sebagai orang lain yang kebetulan tinggal serumah.

“Kamu nggak sarapan?” tanya Azka tiba-tiba.

Nayla menoleh, jelas tidak menyangka. “Aku makan di sekolah.”

Azka mengangguk. “Jangan telat.”

Itu saja.

Nayla menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil. “Iya.”

Tidak ada senyum. Tidak ada sindiran. Tapi juga tidak ada penolakan.

Saat Nayla pergi lebih dulu, Azka tetap duduk di sana. Kopinya sudah dingin, tapi ia tidak peduli.

Ia baru sadar, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil.

***

Di sekolah, Azka tidak lagi duduk santai tanpa arah.

Matanya bergerak mengikuti kebiasaan Nayla dari jauh. Cara Nayla berbicara dengan guru. Cara ia tertawa kecil bersama Dani dan Sena. Cara ia diam ketika ada siswa lain yang berbisik di belakangnya.

Azka melihat semuanya.

Saat jam olahraga, Nayla duduk di pinggir lapangan karena kondisinya belum sepenuhnya pulih. Seorang guru menghampirinya, menanyakan keadaannya.

Azka melihat itu dari seberang lapangan. Ia berhenti bermain.

Dion menoleh heran. “Az, lo kenapa?”

“Nggak,” jawab Azka singkat. Tapi matanya tetap ke satu arah.

Ketika seorang siswa lain melempar komentar asal tentang Nayla yang “selalu cari perhatian”, Azka mendekat tanpa suara.

“Jaga mulut lo,” katanya dingin.

Siswa itu terdiam. Dion dan Devan Saling pandang.

“Lo belain dia sekarang?” bisik Dion.

Azka tidak menjawab.

Karena bahkan ia sendiri belum berani mengakui alasannya.

***

Di perpustakaan, Nayla duduk membaca. Azka masuk dengan alasan meminjam buku referensi. Ia duduk dua meja di belakang Nayla, cukup jauh untuk tidak mengganggu, cukup dekat untuk mengawasi.

Ia melihat Nayla mengerutkan kening saat membaca paragraf tertentu. Melihatnya mencoret kecil di pinggir buku. Melihatnya menarik napas panjang ketika ponselnya bergetar, lalu mematikan layar tanpa membalas pesan.

Azka menunduk ke bukunya sendiri, tapi pikirannya ke mana-mana.

Sejak kapan ia peduli pada hal-hal sesederhana ini?

***

Sore hari, hujan turun tiba-tiba.

Siswa-siswa berlarian keluar gedung, sebagian menunggu jemputan. Nayla berdiri di bawah atap, menatap hujan dengan raut datar.

Azka menghentikan mobilnya beberapa meter dari sana.

Ia menurunkan kaca.

“Nayla.”

Nayla menoleh. Terkejut, tapi tidak panik.

“Masuk,” kata Azka.

Nayla ragu sejenak, lalu berjalan mendekat dan membuka pintu penumpang. Begitu ia duduk, Azka menutup kaca dan menyalakan AC.

“Kamu kehujanan,” ucap Azka.

“Belum,” jawab Nayla.

Azka menyerahkan tisu tanpa menoleh.

Nayla menerima, menatap tisu itu sejenak. “Makasih.”

Azka mengangguk.

Perjalanan pulang berlangsung sunyi. Tapi tidak canggung seperti sebelumnya.

Azka menyetir dengan tenang. Nayla menatap jalan. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada tuntutan.

Hanya dua orang yang sedang belajar berada di ruang yang sama.

Di rumah, Nayla langsung naik ke kamar.

Azka memperhatikan dari bawah. Ia melihat langkah Nayla yang stabil, bahunya yang tegak.

"Dia benar-benar nggak selemah itu", pikir Azka.

Dan itu membuatnya kagum dengan cara yang ia belum siap akui.

***

Malam itu, Azka mengetuk pintu kamar Nayla sekali.

“Nayla.”

“Iya?”

“Kamu minum obat?” tanya Azka.

“Aku udah sembuh,” jawab Nayla.

Azka mengangguk. “Kalau pusing, bilang.”

Nayla terdiam sejenak. “Kamu kenapa?”

Azka menggeleng. “Nggak kenapa-kenapa.”

Pintu ditutup lagi.

Azka berdiri di luar kamar beberapa detik sebelum kembali ke kamarnya sendiri.

Di dalam kamarnya, Azka duduk di kursi dekat jendela.

Ia mengingat kata-kata Devan. Mengingat pertengkaran mereka. Mengingat tatapan Nayla yang tidak lagi memohon.

Ia sadar satu hal yang pelan-pelan tumbuh. Perhatiannya bukan lagi soal kendali. Bukan juga soal ego.

Ia memperhatikan Nayla karena ia ingin tahu keadaannya. Karena ia peduli, meski belum tahu bagaimana menunjukkannya.

***

Malam semakin larut, tapi lampu kamar Nayla masih menyala.

Azka menyadarinya saat ia hendak mengambil air minum. Ia berhenti di depan dispenser, menatap jam dinding. Hampir jam sebelas.

Biasanya, Nayla sudah tidur.

Ia membawa gelas air itu naik ke lantai atas. Langkahnya melambat saat sampai di depan kamar Nayla. Pintu sedikit terbuka. Dari celah itu, terlihat Nayla duduk di lantai, bersandar pada ranjang, buku-buku berserakan di sekelilingnya.

Azka tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, mengamati.

Nayla terlihat lelah. Matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena terlalu lama menatap kertas. Ia menggigit ujung pulpen, lalu menghela napas panjang.

Azka mengetuk pelan.

“Nayla.”

Nayla menoleh. “Iya?”

“Udah malam.”

Nayla melirik jam, lalu mengangguk. “Iya. Aku habisin ini dulu.”

Azka mengernyit. “Besok masih sekolah.”

“Aku tahu.” Nada Nayla tenang. Tidak ketus.

Azka terdiam sejenak, lalu masuk. Ia memunguti beberapa buku dan menumpuknya rapi di meja.

“Jangan maksa,” ucapnya.

Nayla menatapnya. “Kamu jarang ngomong kayak gitu.”

Azka berhenti bergerak. “Kamu mau aku balik ke yang dulu?”

Nayla menggeleng pelan. “Nggak.”

Hening sebentar.

“Terima kasih,” kata Nayla tiba-tiba.

Azka menoleh. “Buat apa?”

“Buat hari ini.”

Azka tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil, lalu keluar dari kamar.

Di balik pintu tertutup, Nayla memeluk lututnya. Hatinya terasa aneh. Tidak hangat sepenuhnya, tapi juga tidak lagi dingin.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!