Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Arkan muncul dari balik pepohonan tanpa suara, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan. Ia berhenti tepat di samping Naura, napasnya teratur meski ia baru saja bergerak cepat menembus medan hutan yang sulit.
"Bersih. Bimo sudah membawa mereka kembali ke kamp," lapor Arkan rendah. Ia melirik perangkat di tangan Naura.
"Frekuensinya?"
"Makin kuat. Tepat di balik gundukan tanah itu," jawab Naura, menunjuk ke arah struktur alami yang tampak seperti gua kecil yang tertutup rimbunnya tanaman rambat. "Suara tangisan itu bukan sekadar rekaman loop. Ada modulasi emosi yang berbeda. Arkan, ini bukan cuma umpan teknologi."
Keduanya bergerak sinkron, mematikan semua sumber cahaya dan hanya mengandalkan night vision pada lensa kontak taktis mereka. Saat mereka mendekat, suara tangisan itu berhenti, digantikan oleh isak kecil yang pilu. Di balik semak berduri, mereka menemukan sebuah pintu baja yang disamarkan dengan tekstur batu.
Pintu itu tidak terkunci sempurna. Arkan mendorongnya perlahan, senjata di tangannya sudah dalam posisi siap tembak. Namun, pemandangan di dalamnya membuat napas Naura tercekat.
Bukan mesin pemancar atau laboratorium dingin yang mereka temukan, melainkan sebuah ruang bawah tanah luas yang disekat-sekat dengan jeruji besi. Di dalamnya, belasan anak kecil berusia lima hingga sepuluh tahun duduk meringkuk di atas kasur tipis. Mereka tampak pucat, ketakutan, dan beberapa di antaranya memiliki kabel sensor menempel di pelipis mereka.
"Eksperimen saraf..." desis Naura, matanya berkilat marah. "Black Ledger menggunakan mereka sebagai subjek uji coba untuk sistem enkripsi biologis."
Baru saja Naura hendak mendekati salah satu sel, suara langkah kaki berat bergema dari lorong di seberang ruangan. Arkan dengan cepat menarik Naura ke balik pilar beton.
"Ada tamu tidak diundang," bisik Arkan. Dari arah lorong, muncul enam orang penjaga dengan seragam taktis lengkap dan senjata otomatis. Mereka bukan sekadar preman; dari cara mereka bergerak, mereka adalah tentara bayaran profesional.
"Kita tidak bisa bertarung di sini, Naura. Ruangannya terlalu sempit, risiko peluru nyasar mengenai anak-anak terlalu besar," Arkan menganalisis situasi dalam hitungan detik.
Naura mengangguk, otaknya berputar cepat. "Gue akan memancing mereka keluar. Lo beri perintah ke tim."
Arkan menekan komunikatornya. "Raisa, Rio, Bimo. Dengar baik-baik. Kami menemukan fasilitas penahanan di koordinat X-12. Ada belasan anak di sini. Gue dan Naura akan menggiring para penjaga menjauh ke arah sektor utara. Begitu area bersih, kalian masuk dan evakuasi semua subjek. Lakukan dalam senyap."
"Diterima, komandan. Kami bergerak sekarang," jawab suara Bimo yang kini terdengar sangat serius.
Naura mengambil sebuah granat asap dari saku taktisnya. "Siap lari, Cowok Kulkas?"
"Hanya jika lo bisa mengimbangi kecepatan gue," balas Arkan dengan seringai tipis yang jarang terlihat.
BOOM!
Asap putih pekat memenuhi ruangan dalam sekejap. Naura sengaja melepaskan satu tembakan ke arah langit-langit untuk menarik perhatian.
"DI SANA! ADA PENYUSUP!" teriak salah satu penjaga.
Naura dan Arkan melesat keluar dari pintu rahasia, sengaja membiarkan diri mereka terlihat sekilas sebelum menghilang ke dalam hutan lebat. Para penjaga itu terpancing, mereka berteriak memanggil bantuan melalui radio dan mulai mengejar Naura serta Arkan dengan penuh emosi.
"Terus lari ke arah tebing, Arkan! Kita buat mereka berpikir kita terpojok!" seru Naura sambil meloncati akar pohon besar.
Di belakang mereka, lampu senter para penjaga mulai menari-nari di antara pepohonan, menjauh semakin jauh dari gudang rahasia tempat anak-anak itu disekap.
Di kegelapan yang lain, tiga bayangan Raisa, Rio, dan Bimo mulai bergerak mendekati pintu baja dengan peralatan medis dan evakuasi, siap menyelamatkan nyawa yang terancam.
......................
Arkan dan Naura melesat menembus hutan, gerakan mereka secepat bayangan. Di belakang, enam penjaga Black Ledger, yang dipancing oleh jebakan suara dan kepulan asap, kini tertinggal di belakang, terengah-engah mengejar. Arkan melirik Naura. Gadis itu berlari dengan sangat cepat dan lincah, ekspresi ceria di wajahnya telah lenyap digantikan fokus tajam seorang agen terlatih.
"Kanan! Ada cerukan di sana!" perintah Arkan.
Mereka berbelok tajam, masuk ke dalam cerukan sempit di antara bebatuan besar yang licin. Para pengejar yang kurang familiar dengan medan langsung kehilangan langkah, beberapa bahkan tersandung.
"Tembak mereka!" teriak salah satu penjaga.
Peluru mulai menghujani bebatuan di sekitar mereka. Arkan dan Naura bergerak terpisah, menggunakan formasi pancingan untuk memecah konsentrasi musuh.
Naura, dengan kelincahan bak akrobat, melompat ke atas bongkahan batu, menembakkan dua peluru bius ke arah penjaga terdepan. Dua orang itu langsung tumbang dengan cepat.
"Empat lagi!" seru Naura sambil berguling menghindari tembakan balasan.
Arkan, dengan kekuatan fisiknya, melompat di atas salah satu penjaga, menguncinya dalam kuncian mematikan hingga penjaga itu pingsan. Penjaga lain yang mencoba membantu langsung disambut tendangan cepat dari Arkan yang tepat mengenai pelipis, membuatnya tersungkur.
Pertarungan jarak dekat pecah. Arkan dan Naura bergerak seperti mesin yang sudah terkalibrasi sempurna. Gerakan mereka efisien, brutal, dan mematikan. Dalam waktu kurang dari dua menit, lima dari enam penjaga berhasil dilumpuhkan. Tinggal satu orang yang tersisa, yang tampak lebih tangguh dari yang lain.
"Menyerah saja! Kalian tidak akan bisa lolos!" teriak penjaga terakhir itu sambil mencoba menembak, namun senjatanya macet.
Arkan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melesat maju, menyarangkan pukulan telak ke rahang penjaga itu. Penjaga itu limbung, namun Arkan menahan tubuhnya sebelum sempat terjatuh, lalu ia memutar lengan penjaga itu hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Penjaga itu menjerit kesakitan.
"Selesai," desis Arkan.
Namun, belum sempat mereka bernapas lega, suara deru mesin helikopter terdengar samar dari kejauhan, semakin lama semakin jelas. Lalu, di kejauhan, mereka melihat kilatan lampu sorot menembus pekatnya malam.
"Sial! Bala bantuan!" umpat Naura. "Itu bukan cuma helikopter, Arkan! Ada tim darat juga. Gue dengar suara mobil mendekat!"
Mereka tidak salah. Dari arah yang berlawanan, enam buah mobil SUV hitam melaju kencang, lampu sorotnya membelah kegelapan. Puluhan tentara bayaran bersenjata lengkap keluar dari kendaraan, membentuk formasi pengepungan.
"Target terlihat! Jangan biarkan mereka lolos!" teriak seorang komandan melalui pengeras suara.
Arkan dan Naura terkepung. Mereka berada di tepi tebing curam yang menghadap ke jurang berbatu di bawahnya. Tidak ada jalan keluar.
"Kita tidak bisa melawan mereka semua, Arkan," kata Naura, napasnya sedikit memburu. "Jumlah mereka terlalu banyak."
Arkan mengamati sekeliling. Wajahnya mengeras. "Pilihan kita cuma satu. Melawan, atau jatuh."
"Jatuh adalah pilihan yang lebih baik," sahut Naura, matanya menatap tajam ke jurang di bawah. "Setidaknya kita tidak akan memberikan mereka kepuasan untuk menangkap kita."
"Gila!" Arkan mengerutkan kening.
"Lebih gila membiarkan diri kita ditangkap oleh orang-orang yang melakukan eksperimen pada anak-anak," balas Naura. Ia maju selangkah, ke bibir tebing.
Para tentara bayaran semakin mendekat, senjata mereka teracung. Lampu sorot helikopter menyorot tepat ke arah mereka, membutakan pandangan.
"Serahkan diri kalian! Ini adalah perintah dari Black Ledger!" teriak sang komandan.
Naura melirik Arkan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Sampai jumpa di bawah, Cowok Kulkas."
Tanpa peringatan, Naura melompat mundur, menjatuhkan dirinya ke dalam jurang.
Arkan terperangah sesaat. "Naura!"
Ia tidak punya waktu untuk berpikir. Peluru sudah mulai menghujani bibir tebing. Dengan keputusan sepersekian detik, Arkan melompat menyusul Naura, tubuhnya terjun bebas ke dalam kegelapan yang menanti di bawah.
Suara tembakan dan teriakan frustrasi para tentara bayaran bergema di malam hari, saat dua agen itu menghilang ditelan kegelapan jurang yang curam.