Deanada Kharisma, hampir 3 tahun menjalani kehidupan remaja diantara toxic circle. Memiliki teman yang toxic, menindas, bertindak sesukanya, dan melakukan diskriminasi.
Namun siapa sangka di balik itu, sebenarnya ia menyimpan rahasia bahkan dari teman-temannya sendiri, hingga Tuhan mempertemukannya dengan Rifaldi yang merupakan pemuda broken home sekaligus begundal sekolah dan naasnya adalah musuh bebuyutannya di sekolah.
Bagaimana Tuhan membolak-balikan perasaan keduanya disaat faktanya Dea adalah seorang korban victim blaming?
Conquer me ~》Taklukan aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25🩷 Arti sahabat
Dua hari berlalu sejak Rifal dan Dea menghabiskan waktu bersama di mall itu, Gibran dan Willy sudah kembali bersekolah.
"De, kita jenguk Inggrid? Sekalian gue wajib lapor." Gibran mengajaknya yang diangguki Dea.
"Ngga lupa lagi bawa inhaler kan? Pelajaran olahraga?" tanya nya berbisik berjalan sebelum Willy turun dari kursi pengemudi, digelengi Dea, "inget dong." Dea menepuk saku celana olahraganya.
"Lo ngga akan percaya De..." kekeh Gibran usil saat sudah berjalan bersama, yang kemudian mengundang desisan Willy, "ember, Lo."
"Dea ngga kaya Ing, kalii Wil..."
"Apa sih?" tanya Dea penasaran.
"Dia dijenguk Kirana." senyum Gibran usil.
"Ihhh, sejak kapan?!" seru Dea begitu bersemangat langsung menempel ke arah Willy.
"Sejak..."
"Lo emangnya ngga tau, Kirana pindah lagi ke deket Nara."
Dea lalu membuat gerakan mulut o besar namun itu nampak mencibir sekali, memancing Willy untuk mencebik, "apa tuh o nya berisyarat banget."
"Cinta lama bersemi kembali ya?" Dea bahkan sudah menepuk-nepuk pipi Willy manis, dan hal itu memang sudah lama terjadi, baik dirinya dan Willy atau dirinya dan Gibran termasuk Inggrid.
Tapi rupanya hal itu tak terlihat biasa sekarang di mata seseorang. Ia baru saja datang ketika melihat dari tempatnya Gibran dan Willy sudah kembali membersamai Dea. Itu artinya, waktunya bersama Dea mulai terganggu. Tidak akan sebebas kemarin-kemarin.
Kini di hadapannya, sebuah bangunan bercat coklat dengan logo khas kepolisian negri terbuka pintunya.
Dea menghela nafasnya, dan masuk dengan membawa paper bag berisi beberapa makanan yang sempat ia beli tadi.
Dan, matanya ikut berkaca-kaca ketika ia melihat Inggrid dengan baju casualnya nampak digiring polisi.
"Dea,"
"Ing..." keduanya langsung berpelukan, "ya ampun..."
Tak ada lagi yang dilakukan Dea selain dari menangis melihat gadis pertama yang menyapanya, gadis pertama yang mengajaknya berteman setelah sekian lama ia tak memiliki teman, dan gadis pertama yang menjenguknya kala sakit itu, mengucap kata sahabat meskipun Dea tau, apa yang dilakukan Inggrid memang salah. Sifatnya pun menyebalkan.
"Gue bawain lo lava cake, sama ada sushi, sama..." Dea tak melanjutkan ucapannya hanya diangguki oleh Inggrid, "sorry...pasti Lo susah ya, selama gue ngga sekolah, Lo digosipin orang?" Inggrid mengurai pelukannya.
Dea menggeleng, "kapok ngga, Lo?"
Keduanya lantas tertawa. Inggrid mengangguk menangis sambil tertawa, "Lo kenapa bisa gini, Ing?"
"Gue lebih denger apa yang Kenzi bilang, gue....emang udah di ambang batas. Gue----" Dea lantas beranjak, mengambil duduk di samping Inggrid, bukan lagi di depannya.
"Gue ngga dengerin Lo semua. Gue---- diteken Kenzi."
"Gue sama Kenzi, udah----" Inggrid tak melanjutkan dan hal itu membuat Dea membelalakkan matanya tak percaya, "Lo ngga prawan?" bisik Dea diangguki Inggrid, "astaga..."
Inggrid menunjuk sudut bibirnya, bawah mata kanan dan di bawah hidung, "sebenernya Kenzi beberapa kali mukul gue. Tapi----"
Air mata Dea tak bisa untuk tak lagi mengalir mendengar itu.
"Gue ngga mau sampai orang lain tau. Gue kemakan omongan dan obsesi sendiri, gue lebih ke malu, mungkin ini karma buat gue..."
"Astaga...." bisik Dea menggumam lirih, Inggrid terlihat seperti tertekan mentalnya, lantas Dea membuka kotak kue yang ia bawa, kemudian menyendok cake lava di bagian pinggirnya, sehingga cairan coklat di tengahnya meleleh membuat siapapun akan tergiur, "kata orang, coklat bisa naikin lagi mood, gue suapin." Dea menyodorkan itu ke depan mulut Inggrid.
Mulut Inggrid bergetar, ia kembali menangis memeluk Dea, sehingga satu tangan Dea kini mengelusi punggung Inggrid, "udah ya...ini ujian, buat Lo, buat kita semua, buat pertemanan kita."
Dan isakan Inggrid masih berlanjut ketika ia menceritakan semuanya pada Dea seraya menikmati setiap suapan yang Dea berikan, dan sebaliknya.
"Gue ngga tau mau bilang apa lagi. Papa, mama, Kak Sintya. Gue..." bahunya bergetar.
"Kita bangkit sama-sama, gue temenin." Dea, lagi-lagi mengusap pundak Inggrid, "Lo jangan ngerasa sendirian. Ada gue, Gibran, sama Willy."
Inggrid mengangguk, "janji sama gue, De...jangan pernah pacaran sama cowok breng sek apalagi berandalan. Gue ngga ikhlas. Yang keliatannya baik-baik aja ternyata iblis, apalagi yang berandalan."
Dea mengatupkan bibirnya, tak mau bicara apapun tentang itu.
"Janji ya, De..." pintanya penuh harapan, Dea menyunggingkan senyumannya, seketika teringat Rifal.
"Kelanjutan kasusnya gimana sekarang, tapi Lo bisa lanjutin sekolah, kan? Ujian, kuliah?"
Inggrid diam, "gue ngga tau. Tapi mama sama papa lagi perjuangin itu, termasuk ngobrol sama keluarga Nara sama Rama."
Hofft! Dea dan Gibran baru saja turun dari mobil Willy, byee! Namun ia melihat mobil terparkir di depan rumah, entah mobil siapa pasalnya ia mengenalnya. Hingga tak lama mama keluar dengan orang asing, tepatnya sepasang suami istri yang rupanya pemilik mobil itu.
"Udah ketemu sama Inggrid, De?" tanya mama ketika melihat Dea beranjak mendekat.
Bunyi, beep! Sekali memancing mama untuk berdadah ria pada si wanita.
"Siapa, ma?"
Mama menghela nafas, "relasi." begitu jawab mama, hingga Dea akhirnya hanya ber-oh ria.
"Ma, aku mau cerita...tapi mama bisa keep kan, tadi...." Dea masuk bersama mama.
**MIPA 3**
(**Yusuf**) *Hei pujaan hati, apa kabarmu. Kuharap, kau baik-baik saja, pujaan hati, andai kau tau ku sangat mencintai dirimu....Yolandaaaaa* ..
(***Dian ucul***) *Lah, gue kira Mutiara, tapi ternyata ada yang baru. 🤣🤣*
(***Fal nak caem***) *kagak nyambung bang sat*.
(***Rio de Janeiro***) *Lah, gue kira belakangnya Deanada*....
(***Hero Tian***) *Wkwkwkwk. Tembak lah, hubungan aja diajakin tidur, ngga paham gue*.
(***Fal nak caem***) *si an jing*.
(***Vian gans***) *gok...gok...auuuu*.
(***Just\_Rama***) *aku sakit melihatmu dengan yang lain, sekalipun dia.....ehhhh Mak sudip, aku ada cincin tembaga. Engkau ada apa*?
(***Mutiara***) *🤣🤣🤣 aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu, ngga punya nyaliii*.....
(***Ande-ande lumut***) *seluruh kota merupakan tempat pacaran yang asik, sang gajah terkena flu, pilek, bersin dan sakit hatiiii*
(***Sheila\_Nara***) *Dea kalo di rumah pake kacamata, Fal...cantik banget loh 😍*
(***Yusuf***) *Wahhh😱 telah dibuka sayembara buat para jomblowan, memenangkan hati Dea, sebelum dicomot pendekar Thunderbolt, tenang aja, besok gue kasih ctm biar tepar di kelas, ngga bangun-bangun. Mumpung nenek sihir masih di jeruji besi*.
(***Fak nak caem***) *gue ban tai hiji-hiji*.
(***Bo\_Lang***) *lari secepat cheetah🐢🐢*
(***Tasya mutz***) *Udah deh berisik, om Fal ngamuk abis Lo semua*.
Inggrid akhirnya berhasil keluar bersyarat, termasuk ia yang dijadikan saksi korban atas kasus Kenzi itu.
Squad
(Deanada) Welcome Ing 🥳🤩
(Inggrid) 🥹thanks.
(Gibran) kapan mulai masuk lagi?
(Inggrid) gue masih belum tau. Sumpah gue takut...malu.
(Willy) Ada kita. Ngga usah takut.
(Inggrid) big hug buat Lo semua ❤️
(Deanada) Lo mesti minta maaf secara langsung baby, sama Rama sama Nara. Yuk gue temenin.🤗
.
.
.
.
ini air mataku balek lagi nih, aku sedih... kenapa kamu bikin jokes bapak² sih Rio 🥺
jadi LDR nggak ada di kamus percintaan mu kan fal
tapi gak tau juga seh kalau kamu tipe nya mengusahakan nggak LDR, misal Dea pindah tempat tinggal , kamu nyusul
blm baca tp komen dulu ini...
kaget bngt kenapa udah puluhan bab tp GK dpt notif auto nangis kejer ini AQ
😭😭😭😭😭 pdhl AQ tengok bolak balik profil teh sin juga GK ada.... hah gilakkk....