Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Angin yang Terbelah
Matahari mulai meninggi di atas arena Sekte Awan Hijau, membakar semangat ribuan penonton yang semakin riuh. Babak eliminasi terus berlanjut dengan kecepatan tinggi.
"Pemenang: Ren Zhaofeng!"
Suara pengawas kembali menggema.
Di atas panggung, lawan kedua Zhaofeng—seorang murid Tahap 3 Menengah—sudah tergeletak pingsan. Sekali lagi, pertarungan berakhir dalam hitungan detik. Sekali lagi, Zhaofeng menang tanpa menarik pedangnya sepenuhnya.
Bisik-bisik di tribun penonton berubah menjadi diskusi panas.
"Dia menang lagi? Siapa sebenarnya anak itu?" "Aku dengar dia menyerap esensi batu iblis!" "Omong kosong, dia pasti menyembunyikan kultivasinya. Tidak mungkin Tahap 2 secepat itu."
Di ruang tunggu peserta, Li Dong duduk dengan wajah gelap. Dia memandang Zhaofeng yang turun dari panggung dengan tatapan penuh kebencian. Setiap kemenangan Zhaofeng terasa seperti tamparan di wajahnya.
"Jangan khawatir, Saudara Li," kata Wang Gang yang duduk di sebelahnya, matanya terpejam meditasi. "Dia hanya mengandalkan trik murahan untuk mengecoh lawan yang lemah. Di hadapan kekuatan mutlak Tahap 4 Puncak milikmu, trik seperti itu tidak akan berguna."
Li Dong mengangguk, kepercayaan dirinya kembali. "Kau benar, Kakak Wang. Tulang Besi Tahap 4 tidak bisa ditembus oleh pedang karat itu."
Tepat saat itu, papan pengumuman sihir di tengah arena berubah nama.
"Pertandingan Berikutnya: Li Dong VS Ren Zhaofeng!"
Sorak sorai meledak. Ini adalah pertandingan yang ditunggu-tunggu. Murid Senior yang populer melawan Kuda Hitam yang buta.
Zhaofeng berjalan naik ke arena dengan tenang. Di sisi lain, Li Dong melompat naik dengan gaya akrobatik, mendarat dengan dentuman keras yang memamerkan kekuatan kakinya.
"Akhirnya," desis Li Dong, mencabut pedang baja murninya. "Aku sudah menunggu saat ini, Penyapu Ren. Di sini, tidak ada daun untuk kau belah. Tidak ada nyamuk untuk dijadikan alasan."
Zhaofeng berdiri diam. Tangan kanannya tergantung santai di samping gagang Pedang Karat.
"Kakak Senior Li," kata Zhaofeng sopan. "Pedangmu berisik sekali hari ini. Apakah hatimu sedang gelisah?"
Wajah Li Dong memerah. "Tutup mulutmu! Mati kau!"
"MULAI!"
Li Dong tidak menahan diri. Dia langsung meledakkan Qi Tahap 4-nya. Angin puyuh kecil terbentuk di sekitar kakinya.
"Teknik Pedang Angin Membelah: Badai Ganda!"
Li Dong menebas dua kali dengan kecepatan tinggi, mengirimkan dua gelombang udara tajam ke arah Zhaofeng. Ini adalah serangan jarak jauh!
Penonton menahan napas. Zhaofeng buta. Bagaimana dia bisa melihat gelombang udara yang transparan?
Zhaofeng tidak melihat. Dia mendengar.
Wusss... Wusss...
Gelombang udara itu membelah atmosfer, menciptakan distorsi suara yang bagi telinga Zhaofeng terdengar seperti jeritan.
Zhaofeng tidak mundur. Dia melangkah maju, lalu memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan dengan gerakan minimalis, seolah sedang menari menghindari tetesan hujan.
Dua gelombang udara itu lewat di samping bahu dan pinggangnya, hanya merobek sedikit kain bajunya, tapi tidak menyentuh kulit.
"Apa?! Dia menghindarinya?!"
Li Dong terbelalak. "Mustahil! Itu serangan tak terlihat!"
"Tidak ada yang tak terlihat jika kau mendengarkan," bisik Zhaofeng.
Li Dong menggertakkan gigi. "Kalau begitu coba hindari ini! Serangan jarak dekat!"
Li Dong menerjang maju, pedangnya berubah menjadi bayangan kabur. Dia melancarkan serangkaian tebasan beruntun—atas, bawah, kiri, kanan. Teknik ini mengandalkan kecepatan dan kekuatan untuk menekan lawan sampai hancur.
TRANG! TING! TRANG!
Untuk pertama kalinya, Zhaofeng mencabut pedangnya.
Pedang Besi Karat yang jelek itu bergerak menyongsong pedang baja Li Dong. Tapi Zhaofeng tidak menangkis dengan keras. Dia menggunakan teknik Pembelokan.
Setiap kali pedang Li Dong akan mengenainya, Zhaofeng memukul sisi datar pedang Li Dong dengan lembut, mengubah arah serangannya beberapa sentimeter sehingga meleset.
Li Dong merasa seperti sedang menebas kapas. Tenaganya tidak pernah sampai. Keseimbangannya terus terganggu.
"Kenapa?! Kenapa aku tidak bisa kena?!" teriak Li Dong frustrasi. Napasnya mulai memburu. Stamina Tahap 4-nya terkuras karena serangan membabi buta.
"Karena kau terlalu keras," jawab Zhaofeng tenang. "Kau melawan angin, bukan menungganginya."
Zhaofeng tiba-tiba mengubah ritme.
Saat Li Dong mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk tebasan pemungkas yang penuh amarah, rusuk kanannya terbuka lebar.
Celah.
Zhaofeng menghentakkan kaki kirinya.
Langkah Pedang Hantu: Langkah Dua - Bilah Senyap.
Tubuh Zhaofeng meluncur masuk ke dalam pertahanan Li Dong. Pedang Karatnya menusuk lurus, tanpa suara, tanpa niat membunuh yang bocor.
JLEB!
Li Dong membeku.
Pedangnya masih terangkat di udara. Tapi dia tidak berani menurunkannya.
Karena ujung Pedang Karat Zhaofeng sudah menempel tepat di jakun lehernya. Satu dorongan kecil, dan tenggorokannya akan bolong.
Hening.
Seluruh arena terdiam. Tidak ada yang melihat kapan Zhaofeng bergerak. Satu detik mereka beradu pedang, detik berikutnya Zhaofeng sudah menodongkan pedang ke leher Li Dong.
"Kekuatan tanpa kendali hanyalah kebisingan, Kakak Senior," bisik Zhaofeng dingin, cukup keras untuk didengar barisan depan. "Dan kau... sangat bising."
Wajah Li Dong pucat pasi. Kakinya gemetar, lalu lemas. Pedang bajanya jatuh dari tangan. Klang.
Dia kalah. Kalah telak di bidang yang paling dia banggakan: Teknik Pedang.
"Pemenang: Ren Zhaofeng!"
Sorak sorai meledak, kali ini bukan ejekan, tapi kekaguman murni.
"Gila! Dia mengalahkan Tahap 4!" "Teknik apa itu? Cepat sekali!" "Penyapu Ren! Penyapu Ren!"
Zhaofeng menyarungkan pedangnya dan berbalik turun. Dia tidak merayakan kemenangan. Baginya, Li Dong hanyalah batu loncatan.
Namun, saat dia berjalan menuju ruang tunggu, sebuah aura membunuh yang sangat pekat menghantamnya.
Zhaofeng berhenti. Dia menoleh (mengarahkan telinganya) ke arah tribun peserta unggulan.
Wang Gang berdiri di sana. Dia tidak lagi memejamkan mata. Matanya menatap tajam ke arah Zhaofeng, dan otot-otot di lehernya menegang.
"Menarik," gumam Wang Gang, suaranya rendah tapi penuh ancaman. "Kau berhasil mengalahkan anjing penjagaku. Sekarang, kau berurusan dengan tuannya."
Zhaofeng tersenyum tipis.
"Aku menunggu," jawabnya tanpa suara, hanya gerak bibir.
Di tribun kehormatan, Tetua Pedang tersenyum lebar sambil mengelus jenggotnya. "Anak itu... Hati Pedangnya sudah terbentuk. Sayang sekali tubuhnya lemah. Tapi mungkin... dia layak diberi kesempatan."
💪