NovelToon NovelToon
Surat Cinta Dari Langit

Surat Cinta Dari Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Denyut Jantung di Ujung Cahaya

Kegelapan di ruang bawah tanah itu terasa hidup, sebuah entitas yang memiliki massa dan beratnya sendiri. Bukan sekadar absennya cahaya, melainkan kegelapan yang kental, berbau belerang, dan bergetar dengan denging frekuensi tinggi yang menyerang gendang telinga Elian seperti ribuan jarum mikro. Senter di tangannya mati total bukan karena kehabisan baterai, tapi karena seluruh energinya seolah diisap habis oleh atmosfir ruangan yang kini terdistorsi oleh kehadiran entitas asing.

"Alana? Kau masih di sana? Jawab aku!" Elian berbisik, namun suaranya tidak bergema. Suara itu seolah mati hanya beberapa sentimeter dari bibirnya, teredam oleh ribuan botol kaca arsip yang kini tak lagi berpendar.

Tidak ada jawaban batin. Frekuensi hangat Alana yang biasanya menetap di dasar kesadaran Elian kini menghilang, menyisakan keheningan yang dingin dan hampa, sebuah kekosongan yang membuat Elian merasa seolah ia adalah satu-satunya manusia yang tersisa di alam semesta.

Sret... sret... sret...

Suara langkah kaki itu mendekat, lambat dan penuh keyakinan. Elian mencengkeram gagang sekopnya hingga sendi-sendi jarinya memutih dan gemetar. Tiba-tiba, suara Bu Ratna atau apa pun yang kini menghuni raga tua itu terdengar tepat di belakang telinganya, meski sedetik lalu bayangannya terlihat berada beberapa meter di depan.

"Kau tahu, Elian? Surya adalah orang yang paling egois di semesta ini," bisik suara itu. Suaranya terdengar ganda nada lembut Bu Ratna yang tumpang tindih dengan pekikan logam Martha yang penuh kebencian. "Dia menciptakan 'Akar Bumi' bukan untuk menyelamatkan Sang Navigator, tapi untuk memanen emosi manusia sebagai bahan bakar bagi keabadiannya sendiri. Botol-botol di sekelilingmu ini? Ini adalah residu jiwa penduduk Navasari yang dia curi selama lima puluh tahun untuk menjaga agar mercusuar ini tetap berdiri."

"Bohong! Kakek Surya tidak mungkin melakukan itu!" teriak Elian. Ia mengayunkan sekopnya secara membabi buta ke arah suara, namun alat itu hanya menghantam udara kosong yang dingin.

"Tanya saja pada Alana... oh, aku lupa, Alana sudah tidak punya mulut untuk bicara, bukan? Dia sedang menguap, Elian. Menjadi bagian dari angin yang takkan pernah bisa kau genggam lagi."

Di Atas – Menara Observasi

Pada saat yang sama, di lantai atas, Alana sedang mengalami sensasi mengerikan yang belum pernah ia bayangkan dalam mimpi terburuknya: ia sedang kehilangan definisi dirinya. Tangannya telah berubah menjadi partikel-partikel indigo yang melayang seperti debu di bawah sinar lampu, dan kini dadanya mulai terasa transparan, memperlihatkan rasi bintang Cygnus yang berdenyut lemah di tempat jantungnya seharusnya berada. Ia tidak lagi merasakan lantai kayu di bawah kakinya; gravitasi bumi telah melepaskan cengkeramannya pada raga Alana.

Jika ia tidak segera melakukan sesuatu, jiwanya akan terlepas sepenuhnya dari atmosfer bumi dan tersedot ke dalam kekosongan langit yang tak berujung, menjadi bagian dari Navigasi Langit tanpa jalan pulang.

Namun, di tengah keputusasaan itu, mata batin Alana melihat sebuah pola. Di bawah lapisan lantai kayu yang kini tampak transparan di matanya, ia melihat aliran energi dari "Jantung Mekanis" di bawah tanah. Mesin itu sedang sekarat, diperas oleh frekuensi perak yang dibawa oleh sosok yang merasuki Bu Ratna. Akar-akar tembaga yang seharusnya menjadi fondasi Navasari kini melilit mesin itu seperti ular yang sedang mencekik mangsanya.

Jika aku tidak bisa lagi menjadi manusia yang utuh, maka aku akan menjadi mesinnya, batin Alana dengan sebuah ketetapan hati yang murni.

Alana berhenti mencoba mempertahankan bentuk raganya. Sebaliknya, ia membiarkan dirinya "larut". Ia menjatuhkan sisa kesadarannya menembus molekul kayu, mengalir ke bawah seperti air terjun cahaya indigo yang murni, langsung menuju ke ruang bawah tanah, menuju peti kristal tempat Jantung Mekanis itu berdenyut dengan sisa tenaga terakhirnya.

Di Bawah Tanah

Elian tersungkur setelah sebuah hantaman frekuensi tak terlihat mengenai dadanya, membuatnya sulit bernapas. Di tengah kegelapan yang pekat, ia melihat mata perak "Bu Ratna" mendekat, bersinar dengan cahaya predator yang dingin. Sosok itu mengangkat tangan kanannya yang kini terbungkus aura kelabu, siap untuk menghancurkan peti kristal Jantung Mekanis.

"Jika jantung mekanis ini mati, Alana akan menghilang selamanya dari sejarah, dan Navasari akan kembali menjadi desa mati yang membosankan tanpa keajaiban apa pun," desis sosok itu dengan seringai yang merobek wajah lembut Bu Ratna.

Tiba-tiba, ruangan itu meledak dalam cahaya indigo yang sangat menyilaukan, jauh lebih terang dari matahari tengah hari. Cahaya itu bukan berasal dari lampu, melainkan meledak dari dalam peti kristal itu sendiri. Alana telah sampai, dan ia telah menyerahkan seluruh eksistensinya ke dalam mesin tersebut.

Elian melihat pemandangan yang luar biasa sekaligus menyayat hati. Cahaya indigo itu membentuk siluet Alana yang membungkus Jantung Mekanis raksasa. Alana tidak lagi berada di luar mesin; dia sedang menyatu dengannya, menjadi bagian dari sirkuit dan kabelnya. Kabel-kabel tembaga yang tadinya layu dan gelap kini berpendar terang, menjalar ke seluruh dinding ruangan seperti pembuluh darah baru yang dialiri kehidupan kosmik.

"Alana! Apa yang kau lakukan?! Kau akan terjebak di sana selamanya!" Elian berteriak, mencoba mendekat namun terhalang oleh badai energi yang berputar di sekitar peti.

"Elian... dengarkan aku... ambil botol dengan label namaku di rak paling belakang!" suara Alana bergema dari seluruh penjuru dinding ruangan, seolah-olah ruangan bawah tanah itu sendiri yang memiliki pita suara. "Kakek Surya tidak mencuri jiwa... dia menyimpan frekuensi murni kami untuk saat seperti ini! Masukkan isinya ke dalam inti mesin sekarang, atau sinkronisasiku akan gagal!"

Sosok yang merasuki Bu Ratna menjerit murka, suaranya pecah seperti kaca yang digoreskan pada logam. Cahaya indigo Alana mulai membakar frekuensi perak yang menyelimuti tubuh tua itu. Dengan gerakan nekat, Elian merangkak di antara kabel-kabel yang berdenyut, menuju ke arah rak botol. Di antara ribuan botol kecil yang kini mulai berpendar kembali, ia menemukan satu botol kristal yang bersinar dengan warna amber yang hangat warna yang sama dengan bintang Arlo.

Di label botol itu tertulis dengan tulisan tangan kakek yang rapi: ALANA - SINKRONISASI AKHIR (JIWA TANAH).

Elian menyambar botol itu, namun "Bu Ratna" menerjangnya dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Tangannya yang dingin dan keras seperti batu mencengkeram leher Elian, mengangkatnya dari lantai. "Jangan berani-berani mencampuri urusan langit, manusia rendah!"

Elian menatap langsung ke dalam mata perak yang haus darah itu. Di ambang kesadarannya yang mulai menghilang, ia tidak mencoba memukul atau menendang. Ia mengingat satu baris kalimat dalam surat kakek Surya yang pernah ia anggap sebagai puisi kosong: "Langit hanyalah cermin, ia hanya memantulkan apa yang kau bawa di dalam hatimu."

Dengan sisa tenaga terakhir, Elian tidak menghantamkan botol itu ke mesin. Ia menghantamkannya tepat ke dahi Bu Ratna.

PRANG!

Cairan amber di dalam botol itu pecah, namun tidak melukai. Ia mengalir seperti madu cahaya yang meresap ke dalam pori-pori kulit Bu Ratna, bertindak sebagai pengingat emosional yang murni. Energi itu adalah frekuensi cinta Alana yang paling dalam. Seketika, frekuensi perak Martha yang meminjam raga tersebut dipaksa keluar. Sosok bayangan perak itu terlempar keluar dari tubuh Bu Ratna, menguap menjadi asap kelabu yang menjerit pilu sebelum akhirnya lenyap ditelan oleh cahaya indigo yang mendominasi ruangan.

Bu Ratna jatuh pingsan ke pelukan Elian, napasnya kembali normal namun lemah.

Namun, cahaya indigo di peti kristal mulai meredup dengan cepat. Alana yang menyatu dengan mesin tampak kelelahan luar biasa; mesin itu menuntut lebih banyak energi daripada yang Alana miliki. Jantung mekanis itu berdetak semakin pelan, seolah akan berhenti selamanya.

"Alana! Bertahanlah! Aku di sini!" Elian berlari ke arah peti kristal, menempelkan kedua telapak tangannya yang gemetar pada permukaan kaca yang terasa panas membara.

"Aku... aku tidak bisa menarik kembali bentuk fisikku, Elian," suara Alana melemah, terdengar seperti bisikan angin yang lewat. "Aku telah menjadi bagian dari Akar Bumi sekarang. Aku harus tetap berada di dalam mesin ini agar Navasari tetap terlindungi dari radar mereka... agar kau tetap aman."

"Tidak! Pasti ada cara lain agar kau bisa kembali!"

Tiba-tiba, dari sela-sela langit-langit ruangan yang bergetar, selembar kertas jatuh melayang perlahan. Surat itu bukan ditulis dengan tinta biasa, melainkan memiliki tulisan tangan yang bersinar dengan warna emas murni tulisan tangan Arlo.

Elian menyambar kertas itu sebelum jatuh ke lantai yang kotor. Hanya ada satu kalimat pendek namun penuh kuasa:

"Cinta bukan hanya soal menanti di bawah langit yang cerah, tapi tentang keberanian untuk menanam benih di dalam gelap yang paling dalam. Sentuhlah inti mesin itu dengan darah yang pernah kau berikan padanya sebagai janji."

Elian melihat telapak tangannya sendiri yang melepuh, bekas luka saat ia memegang pilar cahaya mercusuar demi menyelamatkan Alana tempo hari. Tanpa ragu sedikit pun, ia menekan luka itu ke arah lubang kecil di inti mesin yang sedang berdenyut.

Darah manusia bertemu dengan teknologi langit.

Saat darah Elian menyentuh inti mesin, sebuah reaksi berantai yang tidak terduga terjadi. Seluruh ruangan bawah tanah berguncang hebat oleh gempa lokal, dan suara detak jantung ketigabdetak jantung manusia yang kuat mulai terdengar beresonansi di antara deru mesin dan cahaya indigo. Namun, di luar mercusuar, ribuan lampu sorot dari ratusan kendaraan militer mulai mengepung desa Navasari. Peringatan Dr. Viktor Vance menjadi nyata: surat-surat batin Alana telah menjadi peta yang menuntun seluruh pasukan dunia menuju gerbang mereka. Alana mungkin selamat, tapi perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman rumah mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!