Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.
Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.
Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.
Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Getaran Kecil Di Hati Tasya
Steven menyodorkan secarik kertas yang sudah agak lusuh namun terlipat rapi. "Tempat ini agak jauh dari Jakarta. Biasanya cuma senior angkatan gue yang punya akses ke sana... tapi santai aja, gue udah atur semuanya. Kalian tinggal jalan."
Tasya menerima kertas itu, matanya menyisir baris alamat yang tertera. "Lo tetap tanggung jawab ya kalau ada apa-apa," gumamnya tanpa menatap Dimas.
"Iya, iya... bawel banget sih," sahut Dimas sambil menyeruput teh hangat, membiarkan aroma melati menenangkan pikirannya yang kusut.
Lima belas menit berlalu. Setelah beberapa pertanyaan ringan dan tatapan penuh makna dari Steven, Dimas dan Tasya akhirnya pamit. Steven sendiri yang mengantar mereka sampai basement. Seperti wasit yang tak ingin pertarungan ronde kedua terjadi di hadapan petugas security yang masih memasang wajah kaku.
Saat Dimas membuka pintu mobil, Steven menepuk pelan bahunya. Ragu. "Dim... bokap lo tadi malam nelpon gue. Dia cuma pengin ngobrol. Katanya penting."
Dimas menoleh, sorot matanya tajam. "Bilang ke dia... balikin nyokap gue dulu, baru gue dengerin," ucapnya pelan tapi dalam. Tangannya mencengkeram gagang pintu sebelum masuk dan menutupnya rapat.
Dari kursi penumpang, Tasya hanya mencuri pandang lewat kaca spion. Tak satu pun kata keluar dari mulutnya, tapi pikirannya sudah penuh. Jadi... ini alasan dia keliatan makin gelap sejak tadi. Ia menarik napas dalam, tapi tak berkata apa-apa. Bukan haknya menyentuh luka itu.
Mobil melaju meninggalkan gedung. Tak ada suara, hanya bunyi mesin dan lalu lintas kota. Tapi bukan kegagalan penelitian yang membungkam mereka-Tasya tahu, Dimas sedang memikul sesuatu yang jauh lebih berat dari hasil survei kosong.
Begitu sampai di kampus, Dimas menyodorkan kunci mobil tanpa banyak bicara. "Besok gue aja yang ke Bandung. Lo tinggal tunggu data yang gue kirim." Suaranya datar. Hanya itu, sebelum ia berbalik dan pergi begitu saja.
"Syaa!" panggilan Nina terdengar dari arah taman. Ia berlari kecil, menghampiri dengan napas memburu. "Lo... berantem lagi sama dia?"
Tasya tak langsung menjawab. Matanya mengikuti langkah Dimas yang kini duduk sendirian di bawah pohon, membenamkan wajah di antara kedua lututnya.
"Penelitian gue gagal, Na..." suaranya pelan, tertahan.
"Gagal? Maksudnya?"
"Dia adu jotos sama security," jawab Tasya cepat, lalu menyerahkan alamat dari Steven.
Nina menatap kertas itu sekilas, lalu mengikuti arah pandang Tasya. Dimas masih di sana. Diam. Pundaknya sedikit bergerak naik-turun, entah sedang berpikir atau menahan sesuatu.
"Sya..." Nina menyentuh bahu sahabatnya.
Tasya menoleh. "Gue... ngerasa bersalah. Harusnya gue gak nyuruh dia pergi sendiri besok."
"Maksud lo?" tanya Nina.
"Gue nyuruh dia gantiin data hari ini. Jalan sendiri ke tempat penelitian." Jawab Tasya cepat.
Nina menggeleng. "Sya... please, stop. Lo mau sampai kapan kayak gini terus? Lo tahu dia capek, lo juga capek."
Tasya terdiam. Angin sore menyapu rambutnya pelan. Tapi hati di dadanya seperti tak kunjung tenang.
Nina menarik lengan Tasya pelan, mengajaknya mendekati Dimas yang duduk membisu di bawah pohon. Ia tahu betul-bukan hanya penelitian yang dipertaruhkan, tapi juga kebebasan Tasya dari tekanan rumah.
"Dim..." suara Nina lirih, mencoba menembus dinding diam itu. Ia duduk di samping Dimas, lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya agar Tasya ikut duduk. "Gue tahu lo lagi capek. Tapi gue harap... kalian berdua bisa ketemu di tengah."
Tak ada jawaban. Dimas hanya menatap tanah, jarinya menggenggam rumput kering.
"Kalau lo gak mau sendiri, gue bisa bantu ngomong ke Tante Ivone...bilang lo bakal bareng Tasya, biar dia gak terlalu khawatir," ucap Nina, kini menatap Tasya, memberi isyarat dengan kedipan mata agar temannya membuka diri.
Namun, Dimas perlahan berdiri. Tanpa menatap siapa pun, ia berkata pelan, "Gue aja yang ke Desa Haruman. Ada orang yang pengin gue temuin juga di sana."
Langkahnya berat saat pergi, seolah ada beban yang menggantung di pundaknya. Tasya hanya diam, matanya tak lepas dari punggung Dimas yang perlahan menjauh.
Nina refleks hendak mengejarnya, tapi tangan Tasya menahan pergelangan tangannya.
"Biarin," bisiknya.
Nina menoleh, bingung. "Lo yakin? Lo keliatan khawatir..."
Tasya menatap kosong ke depan. "Kasih dia ruang. Dia butuh itu sekarang."
Lalu ia menyandarkan kepalanya sejenak ke bahu Nina. "Temenin gue balik ke apart, ya. Gue gak pengin sendirian hari ini."
Nina mengangguk pelan. Tanpa kata-kata, ia membiarkan Tasya melingkarkan tangan di lengannya. Dan mereka pun berjalan menjauh, meninggalkan bangku taman yang kini kosong dan sunyi.
Sepanjang perjalanan pulang, Tasya menceritakan ulang insiden di mall dengan nada datar, meski matanya sesekali melirik ke luar jendela. Di balik ceritanya, Nina menangkap satu hal-Tasya sedang mencoba memahami Dimas.
"Aneh ya," gumam Tasya pelan, "gue ngerasa dia nyimpen sesuatu...dan Steven itu, jelas bukan orang biasa."
"Kenapa lo jadi peduli?" tanya Nina sambil tetap fokus menyetir, satu alisnya terangkat.
"Gue bukan peduli," Tasya mendengus, lalu menyandarkan kepala di kaca jendela. "Cuma...ternyata cowok kayak dia bisa juga kena mental."
Nina tersenyum miring. "Kedengerannya lo mulai merhatiin dia."
Tasya mengabaikannya, lalu bergumam, "Ya elah, jangan halu lo."
Tiba-tiba Nina teringat sesuatu. "Eh, gue lupa! Coba ambilin HP gue di tas, gue mau tunjukin sesuatu."
Tasya merogoh tas Nina dan menarik ponsel itu. Begitu dibuka, Nina sudah membuka chat dari Nadine.
"Tuh, kemarin Nadin bilang...Dimas itu anak pejabat. Tapi bokapnya kena skandal, dihukum sembilan tahun. Dan katanya...nyokapnya-"
Belum selesai Nina bicara, Tasya sudah memelototi layar. Salah satu foto yang dikirim Nadine menampilkan seorang wanita muda sedang menggendong Dimas kecil. Sorot matanya penuh kasih, namun menyiratkan beban yang dalam.
Tasya menggulir layar dengan hati-hati. "Apa...kemungkinan nyokapnya meninggal karena ulah bokapnya?"
"Entahlah," jawab Nina pelan. "Tapi Nadine tuh dulu deket banget sama Dimas. Dan sampai sekarang...kayaknya belum bisa move on."
Tasya mencibir. "Yah, cewek satu itu emang gak pernah bisa liat cowok waras lewat."
"Makanya, hati-hati. Jangan sampe lo nyenggol ladang ranjau si Nadine," Nina terkekeh sambil memarkirkan mobilnya di apartemen.
Malam harinya, Nina mencoba membantu Tasya dengan menghubungi Tante Ivone. Dengan gaya bicaranya yang santai tapi meyakinkan, ia berhasil mendapat izin agar Tasya ikut ke Desa Haruman bersama Dimas.
Sambil tersenyum puas, Nina melirik ke arah Tasya. Namun sebelum sempat ia bicara, Tasya sudah sibuk dengan ponselnya.
Tasya: Dim, besok gue sama Nina jemput lo. Kita bareng ke Desa Haruman, biar cepet selesai.
Tak butuh waktu lama, balasan muncul:
Dimas: Gak usah. Gue udah OTW ke sana.
Tasya menghela napas, lalu melempar ponsel ke kasur dengan ekspresi kesal.
"Cowok bangsat!" desisnya.
"Ya ampun, Sya!" pekik Nina, kaget karena hampir kena lemparan. Dia buru-buru meraih ponsel Tasya, lalu membaca isi pesan itu.
"Baru aja kelar gue laporan ke nyokap lo, lo udah langsung japri dia duluan? Ih, dasar drama!"
Tasya hanya menghela napas panjang, lalu membenamkan wajahnya di bantal. "Males gue!"
Nina hanya bisa memutar mata, lalu menyodorkan ponselnya ke wajah Tasya. "Tuh, dia video call."
Wajah Dimas muncul di layar dengan senyum setengah iseng. "Cewek lo marah tuh," ucapnya ke Nina, lalu melirik ke arah bantal tempat Tasya bersembunyi.
Tasya tak menjawab, hanya menarik selimut lebih dalam seolah dunia luar tak layak ia lihat malam ini