Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Jendela Langit
Malam itu, di kamar kecil yang penuh dengan aroma martabak manis dan janji masa depan, Langit tidak langsung pulang. Ia membaringkan kepalanya di pangkuan Senja, membiarkan istrinya mengelus rambutnya hingga ia hampir terlelap, menikmati setiap detik kebersamaan yang sangat mahal harganya di lingkungan pesantren ini.
Malam semakin larut, dan jam dinding di kamar Senja sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Langit tahu dia tidak bisa berlama-lama lagi jika tidak ingin aksinya berakhir di meja sidang Abah. Namun, melepaskan diri dari Senja rasanya jauh lebih sulit daripada memanjat tembok setinggi apa pun.
Mereka berdua kini berdiri di ambang jendela kayu yang terbuka sedikit. Angin malam yang dingin menusuk kulit, namun suhu di antara mereka terasa begitu hangat. Langit sudah berada di sisi luar jendela, kakinya berpijak pada dahan pohon besar yang menjadi jembatan rahasianya.
"Saya balik ya, Ja," bisik Langit, suaranya terdengar sangat berat dan penuh keengganan. Tangan kanannya masih menggenggam erat jemari Senja yang ada di dalam kamar.
Senja menatap wajah suaminya dengan tatapan yang layu karena kantuk sekaligus rindu. "Hati-hati, Lang. Jangan sampai jatuh."
Langit tidak langsung bergerak. Ia justru menarik tangan Senja, memaksa tubuh istrinya sedikit condong ke arah jendela. Dengan gerakan cepat namun penuh perasaan, Langit menangkup dagu Senja dan mendaratkan sebuah ciuman singkat namun sangat dalam di bibir Senja.
Sebuah ciuman yang terasa manis, hangat, dan meninggalkan sensasi terbakar yang membuat jantung Senja berdebar liar.
"Itu biar mimpinya tetap manis," bisik Langit tepat di depan bibir Senja, membuat napas mereka saling bersinggungan.
Senja hanya bisa mematung dengan wajah yang memerah hebat, jemarinya meremas kusen jendela. "Langit... nakal," gumamnya pelan, namun matanya memancarkan binar kebahagiaan yang tulus.
Langit menyeringai nakal, lalu dengan gerakan atletis yang luar biasa, ia mulai memanjat dahan pohon itu ke arah atas. Ia melompat dari satu dahan ke dahan lain dengan lincah, lalu mendarat di atas tembok tinggi yang membatasi area asrama putri dan putra.
Di atas tembok, Langit sempat berhenti sejenak. Ia menoleh ke arah jendela Senja, melambaikan tangan dengan gaya cool-nya, lalu dalam sekejap ia melompat turun dan menghilang ditelan kegelapan malam ke arah asrama santri putra.
Senja berdiri di sana sampai bayangan suaminya benar-benar hilang. Ia menutup jendela perlahan, menguncinya rapat-rapat, lalu menyentuh bibirnya sendiri yang masih terasa hangat karena ciuman Langit tadi.
Sambil berjalan menuju tempat tidur, Senja tidak bisa berhenti tersenyum, membayangkan betapa beruntungnya ia memiliki "pangeran pemanjat pohon" yang begitu mencintainya.
Pagi harinya, konsekuensi dari aksi nekat semalam akhirnya tiba. Di aula besar pesantren, saat seluruh santri sedang khusyuk menyimak hafalan kitab Alfiyah Ibnu Malik, kepala Langit berkali-kali tertunduk. Rasa kantuk yang luar biasa akibat hanya tidur kurang dari dua jam membuatnya tak mampu lagi menahan beban kelopak matanya.
BRAK!
Suara penggaris kayu yang diketukkan ke meja membuat Langit terlonjak kaget. Ia mendongak dan mendapati Abah (KH. Danardi) sudah berdiri di depannya dengan tatapan yang tenang namun sangat berwibawa.
"Langit Sterling... sepertinya kitab ini lebih cocok jadi bantal bagimu daripada jadi ilmu," ujar Abah pelan namun tegas.
Langit mengusap wajahnya yang kuyu. "Maaf, Abah. Saya... saya sedang tidak enak badan."
"Kalau begitu, udara segar dan air kolam akan menyembuhkanmu. Setelah ini, bersihkan kolam ikan di belakang Ndalem. Pastikan airnya jernih sebelum ashar," titah Abah tanpa bisa dibantah.
Siang harinya, di bawah terik matahari yang menyengat, Langit tampak berpeluh. Ia menggulung celana sarungnya hingga selutut dan kaos hitamnya sudah basah oleh keringat, memperlihatkan otot lengannya yang bekerja keras menyikat dinding kolam.
Meski lelah, Langit sesekali tersenyum sendiri mengingat ciuman singkat di jendela semalam. Baginya, hukuman ini tidak ada apa-apanya dibandingkan momen manis itu.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki ringan mendekat. Langit menoleh dan matanya langsung berbinar. Di sana berdiri Senja, mengenakan gamis cokelat muda dengan kerudung yang senada. Ia membawa sebuah nampan berisi segelas besar es sirup melon dan sepiring kecil gorengan hangat.
"Lemas ya, 'Pangeran Pemanjat Pohon'?" goda Senja sambil meletakkan nampan di pinggir kolam.
Langit langsung naik ke tepian, duduk dengan kaki masih menjuntai di air kolam yang dangkal. "Wah, bidadari saya datang bawa amunisi. Tahu saja kalau imamnya sedang kekeringan."
Senja memberikan gelas es itu. "Makanya, jangan nekat terus. Kalau kamu sakit atau dihukum berat begini, aku juga yang sedih, Lang."
Langit meneguk es sirup itu sampai tandas, lalu menatap Senja dengan tatapan yang sangat dalam dan mesra. Ia meraih tangan Senja yang sedang memegang piring, menariknya sedikit hingga Senja harus merunduk agar tidak jatuh.
"Hukuman ini nggak ada rasanya kalau yang bawain minum secantik kamu, Ja," bisik Langit. Ia memanfaatkan suasana taman belakang yang sepi untuk mencuri pandang. "Nanti malam, saya mau istirahat dulu. Biar kamu bisa tidur nyenyak tanpa nungguin saya di jendela."
Senja tersenyum lembut, tangannya terulur untuk mengusap keringat di dahi Langit dengan ujung jarinya. "Iya, kamu istirahat ya. Jangan manjat-manjat lagi untuk sementara. Aku nggak mau suamiku jatuh karena ngantuk."
Langit menangkap tangan Senja yang ada di dahinya, lalu mengecup telapak tangan itu dengan lama. "Siap, Istriku. Tapi jangan kangen ya kalau nggak ada yang nyium di jendela nanti malam."
Senja hanya tertawa kecil, hatinya terasa begitu tenang melihat Langit yang meski dihukum tetap terlihat bahagia hanya karena kehadirannya.
****
Hari ujian akhir sekolah tiba, Suasana kamar asrama putra tampak sangat berbeda dari biasanya. Meja kayu kecil milik Langit kini penuh sesak dengan tumpukan kitab kuning, buku teks biologi, hingga kamus bahasa Inggris.
Targetnya jelas: lulus dengan nilai sempurna agar bisa membanggakan keluarga Surya Agung dan terutama, membuktikan kepada Abah Danardi bahwa menantunya bukanlah sekadar pemuda kota yang manja.
Australia sudah menanti di depan mata. Sebulan lagi, ia akan melanjutkan studi ke Melbourne. Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Selama dua minggu terakhir, Langit benar-benar membatasi diri.
Rindu kepada Senja sudah berada di titik nadir. Bertemu di masjid pun hanya bisa saling lirik sedetik, tanpa kata, tanpa sentuhan, apalagi ciuman manis di jendela yang biasanya menjadi "vitamin" harian Langit.
Seminggu penuh ujian akhir sekolah dilewati Langit dengan perjuangan luar biasa. Saat teman-temannya sudah menyerah pada soal matematika yang rumit, Langit tetap fokus demi martabat istrinya.
Sementara itu, Senja terpaksa "libur" karena kamarnya di kompleks santri putri digunakan untuk tempat ujian, sehingga ia diminta Abah untuk tidur di rumah utama (Ndalem).
Malam setelah ujian sekolah berakhir, Langit sudah tidak tahan lagi. Ia merasa butuh "imbalan" setelah seminggu otaknya diperas habis-habisan. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali melakukan aksi ninja-nya. Ia memanjat pohon, melewati tembok, dan mendarat di depan jendela kamar Senja di asrama putri.
Namun, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat jendela itu tertutup rapat dengan gorden yang tersibak sedikit, memperlihatkan kamar yang kosong melompong. Langit baru teringat, Senja pindah ke rumah utama selama musim ujian ini.
"Sial... kenapa gue lupa," keluh Langit sambil memukul dahan pohon pelan. Dengan langkah lunglai dan perasaan kecewa yang mendalam, ia kembali ke asramanya. Rindunya gagal terobati malam itu.
Baru saja Langit merebahkan tubuhnya yang lelah di kasur asrama, tiba-tiba pintu diketuk. Ustaz Hasan muncul dengan wajah serius.
"Langit, kamu belum tidur? Syukurlah. Mari ikut saya ke Ndalem. Pak Kyai memanggilmu sekarang juga," ucap Ustaz Hasan.
Jantung Langit berdegup kencang. Apa aksiku tadi ketahuan? Apa aku mau disidang? pikirnya cemas. Namun, di balik rasa takut itu, ada secercah harapan yang membuat matanya berbinar. Ke Ndalem artinya ada kemungkinan besar ia akan bertemu Senja.
Langit segera merapikan bajunya dan mengikuti Ustaz Hasan menembus dinginnya malam menuju kediaman Kyai Danardi.
Begitu masuk ke ruang tamu, aroma teh melati yang khas dan suasana hangat menyambutnya. Di sana, di balik meja kayu besar, Abah Danardi duduk dengan tenang.
Namun yang membuat nafas Langit tercekat adalah sosok yang duduk di sofa samping, sedang merapikan beberapa berkas.
Senja. Istrinya itu mengenakan daster panjang yang dilapisi jaket rajut, wajahnya tampak segar namun ada guratan rindu yang sama di matanya saat melihat suaminya masuk.
"Duduk, Langit," ujar Abah Danardi sambil tersenyum tipis. "Abah memanggilmu karena baru saja mendapat laporan awal hasil ujian sekolahmu dari kepala sekolah. Katanya, nilaimu luar biasa."
Langit duduk dengan kaku, namun matanya terus mencuri pandang ke arah Senja yang kini menunduk sambil tersenyum malu.
Di bawah meja, Langit menggerakkan kakinya, mencoba menyentuh ujung kaki Senja dengan ujung kakinya sebagai kode rahasia.
Senja tersentak kecil, ia melirik Langit dengan tatapan "jangan-sekarang-ada-Abah", namun Langit justru memberikan senyuman paling manis yang ia punya. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan.
Langit duduk dengan punggung tegak di hadapan Abah Danardi. Di sudut ruangan, Senja yang masih duduk di kelas sepuluh SMA itu tampak sibuk menata kitab-kitab di rak, namun gerakannya melambat setiap kali ia mendengar suara Langit. Senja masih punya dua tahun lagi untuk menyelesaikan sekolahnya di pesantren, sementara Langit sudah berada di ambang keberangkatan menuju Australia.
"Nilaimu sangat memuaskan, Langit. Abah bangga. Sepertinya persiapanmu untuk kuliah di Melbourne sudah matang," ujar Abah Danardi sambil menutup map laporan.
Langit mengangguk sopan, meski hatinya mencelos. "Terima kasih, Abah. Tapi... sejujurnya berat bagi saya meninggalkan pesantren, terutama meninggalkan Senja."