Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Dosa terbesar.
Setelah kejadian di rumah Hanna yang membuat kepalanya sakit, Bang Rico pulang dengan membawa perasaan berantakan. Setiap langkahnya terasa berat, pikirannya hanya terisi pertanyaan....
'Apa yang sebenarnya terjadi dua tahun lalu? Kenapa aku nggak ingat sama sekali?'
***
Di rumahnya, Kin sudah menunggu dengan penuh kecemasan. Ia melihat wajah Bang Rico yang pucat dan langsung mendekat.
"Abang baik-baik saja? Abang sudah pergi dari tadi. Lapar atau tidak??"
Bang Rico menjauh dari Kin dan meminta agar gadis itu menjauh darinya.
"Abang nggak apa-apa, tidurlah..!!! Jangan disini, Abang merokok..!!" Usir Bang Rico secara halus sambil menghisap rokoknya dan menatap ke arah taman di rumah besar itu. Tepatnya Villa yang sudah di serahkan atas nama Bang Rico yang akan di ambil paksa karena dirinya memilih menikahi Kinantan daripada villa tersebut.
Gadis bernama Gangga Margahayu Ageng Kinantan itu mendekati Bang Rico. Ia melingkarkan lengan memeluk Bang Rico dari belakang. "Dindamu tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Kinan hanya memilikimu saja, Mas. Sekarang Kinan sudah menjadi istrimu, jika Kinan salah, tegurlah sekarang..!! Kinan akan mematuhimu. Bawalah Kinan bersamamu, menjadi pelayanmu pun tak masalah."
Kedua bola mata Bang Rico berkaca-kaca. Raden ayu di belakangnya ini memang begitu lembut dan tidak pernah membantah. Ia bagai terjebak akan banyak hal. Bagaimana dirinya bisa memperlakukan putri trah terakhir sebagai bawahannya seadangkan dirinya pun adalah anak angkat keluarga tersebut sejak kecil.
Bang Rico menyentuh tangan Kinan yang masih memeluknya. "Abang tidak bisa mencintai wanita lain. Hati Abang hanya penuh dengan Rania dan kau tau itu."
Kinan menyadarkan suaminya tidak menghendaki panggilan resmi untuknya disana. Ia pun mengangguk.
"Jangan memaksakan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, kamu hanya akan menyakiti hatimu sendiri." Kata Bang Rico kemudian melepas pelukan Kinan, gadis muda yang masih belum genap dua puluh tahun.
***
Pagi ini Bang Rico membawa Kinan keluar dari Villa. Para pekerja yang berada disana menangisi Kinan tapi Kinan sama sekali tidak menangis. Ia sungguh menyembunyikan apapun yang terjadi padanya semalam.
"Gustiii.. Baik-baik ya sama DenMas"
Kinan melebarkan senyumnya. "Iyaaa.."
Bang Rico pun mengangkat tas Kinan. Kinan meninggalkan 'dunia' yang selama ini sudah membuatnya nyaman. Tidak banyak yang di bawanya, hanya beberapa saja dan yang lainnya di tinggalkan.
Setelah Kinan melewati batas pagar, barulah tangis itu pecah hingga terdengar terisak-isak. Bang Rico hanya memantaunya dari kaca spion.
//
Bang Rama berkerut mendengar pertanyaan sahabatnya. Dulu saat penugasan tak nampak ada hal mencurigakan apapun kecuali perlawanan keras pada musuh, hanya saja memang saat menemukan Bang Rico, musuh meninggalkan jejak.
"Saya tau ada jejak. Maksudnya jejak yang seperti apa selain kain hitam itu." Tanya Bang Rico memastikan melalui sambungan video call.
"Ya darah. Kalian kan, berkelahi. Kau berantakan total waktu itu. Jujur kalau ingat, aku pengen ketawa, dia brutal sekali. Mungkinkah dia g*y???????" Jawab Bang Rama sambil terdengar tawa renyah.
"Aduuuhh.." Bang Rico terdengar menepuk dahinya. Seketika kepalanya pening tujuh keliling.
Melihat ada sesuatu yang aneh, Bang Rama berdehem memberi waktu pada sahabatnya yang menengadah memejamkan mata seakan penuh pikiran.
"Ada apa??" Tanya Bang Rama kemudian.
"Kau ingat Hans??" Kini tatapan mata itu berubah tajam dan serius.
"Iya. Bukannya kamu sudah bertemu lagi sm si Hans???" Bang Rama mulai merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya.
"Ram........."
"Dia perempuan, sempat hamil anak ku." Ucap Bang Rico lirih terlihat begitu frustasi.
"Maksudmu bagaimana sih???? Ceritakan pelan-pelan..!! Perlu ku sambungkan sama Arben juga atau tidak, biar kau yakin."
"Iya, tolong..!!" Kata Bang Rico.
tttt......
"Assalamu'alaikum, piye??"
Wa'alaikumsalam." Jawab Bang Rico dan Bang Rama bersamaan.
"Begini, Ben.............." Bang Rama memulai ceritanya.
Bang Arben menyimaknya dengan baik. Sampai kemudian ia menarik nafas panjang.
"Kau pun sudah curiga dari awal. Nyatanya instingmu sebagai intel tak pernah meleset. Yang saya heran, kenapa di kamar itu..........., hmm... Kenapa dia tidak membunuhmu padahal sudah berkali-kali kalian berdua terlibat baku hantam." Kata Bang Arben.
"Menurutmu dia perempuan?????" Tanya Bang Rico.
"Bisa jadi. Untuk ukuran laki-laki, seperti yang kamu bilang, kuda-kudanya tidak bersiku tegas, dia lebih gemulai." Jawab Bang Arben.
"Astaghfirullah....." Bang Rico lemas tanpa kata.
"Ricoooo..!!!!!!"
\=\=\=
Satu minggu kemudian Bang Rico baru kembali ke rumah yang ia sewa. Ia memutuskan pergantian kepemimpinan team mendekati eksekusi. Peringatan keras pun ia dapat sebagai sanksi.
Sempat terjadi prahara besar yang begitu menyiksa batin. Bukan hal yang mudah juga mengambil keputusan yang berat dalam hidupnya. Langkahnya berat, kurang tidur, banyak pikiran, pakaiannya pun nampak lusuh.
"Abaaang.. Abang sakit???" Tanya Kinan menyambut suaminya tapi Bang Rico langsung menepisnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar suara mual dan muntah yang begitu menyiksa. Baru kali ini Kinan melihat Bang Rico seperti ini. Bang Rico memang mabuk hari ini.
:
Kinan menyuguhkan teh hangat untuk suaminya tapi Bang Rico sama sekali tidak peduli.
"Minum dulu, Bang. Biar mabuknya hilang."
"Abang nggak mabuk. Kamu tidur sana, ini sudah mau pagi." Jawab Bang Rico.
Kinan tersentak, ia mulai takut mendengar suara keras ini. Perlahan Kinan menjauh.
Setelah Kinan pergi, Bang Rico mengingat kejadian tadi.
Flashback Bang Rico on..
Pistol berada di pelipis Hanna. "Menyerahlah..!!"
Hanna tersenyum manis namun terlihat sinis. "Kamu mau membunuhku, ibu dari anakmu???"
Pertahanan diri Bang Rico mulai goyah. Tangannya gemetar meskipun tidak pernah menampakan hal tersebut di hadapan lawannya.
"Aku melihatnya bergerak dari layar USG, ingin kuhilangkan dia saat itu tapi aku sadari, aku seorang ibu. Kudengar detak jantungnya, dia yang tidak pernah di sayangi ayahnya bahkan ayahnya ingin membunuh ibunya." Kata Hanna.
Saat itu Bang Rico merasa tertekan oleh keadaan, pertemuannya saat itu membuatnya nyaris menjadi seorang ayah.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk menebus dosa saya sama kamu??" Tanya Bang Rico.
"Keluar dari tentara, bergabunglah dengan kelompok kami..!!!!" Jawab Hanna. "Saya akan memberimu waktu.. Ingat, dosamu tidak terampuni. Aku tau, meskipun kamu terkenal 'brutal', sebenarnya kamu adalah laki-laki yang taat. Tak takut dengan Tuhanmu?? Anakmu sampai meninggal, kau tidak tau bagaimana wajahnya." Hanna menepis tangan Bang Rico kemudian pergi.
:
"B*d*h, kau ini prajurit macam apa??? Lalai dalam tugas, tidak bertanggung jawab. Dimana slogan hidup yang kita punya, 'LEBIH BAIK PULANG MEMBAWA NAMA DARIPADA GAGAL DI MEDAN TUGAS'. Kau.. Gagal di medan tugas, tentara tidak ada yang banci sepertimu. Mengurusi hal seperti ini saja tidak mampu, bagaimana kau bisa memimpin keluargamu." Bentak komandan. "SP mu akan segera turun, pindah kau di perbatasan..!!!!"
"Siap, komandan..!!" Bang Rico menelan mentah-mentah semuanya.
Entah sudah berapa botol yang sudah di teguknya.
"Aku memang pendosa. Aku pengecut."
Flashback Bang Rico off..
Lelehan air matanya semakin deras mengalir. Ingin rasanya berteriak mengungkapkan rasa bersalahnya namun suara itu seakan terpatri dalam hati. Mendadak nafasnya tercekat, dadanya begitu nyeri. Ia hanya bisa meremas dadanya tanpa suara.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara