Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hagia Merana
Langkah kaki Hagia terasa ringan saat ia meninggalkan tamu yang ternyata hanya urusan logistik sanggar itu. Pikirannya tidak di sana. Pikirannya melayang pada rencana yang sudah ia susun di kepala. Ia mau nembak Azalea. Sebuah restoran di perbukitan dengan lampu kota yang berkelap-kelip sebagai latar belakang, sebuah buket bunga, dan sebuah kotak beludru berisi kalung serta gelang couple pintar yang bisa bergetar dan menyala jika keduanya saling menjauh.
Langkahnya terhenti di dekat pendopo saat seorang wanita berpakaian modis tiba-tiba mencegatnya. "Hagia! Ya ampun, makin ganteng aja sih pemilik sanggar ini!"
Hagia mengeryit, berusaha mengingat-ingat. "Mbak Niken? Yang dulu sempat ikut kelas tari singkat?"
"Ih, kok Mbak sih? Panggil Niken aja." Wanita itu tertawa renyah, dan tanpa permisi, tangannya mendarat di lengan Hagia, mencubitnya gemas sembari sok akrab. "Lama nggak ketemu, kamu apa kabar? Dengar-dengar sukses banget ya videonya viral terus?"
Hagia merasa tidak nyaman. Ia menarik lengannya halus guna menciptakan jarak.
"Kabar baik. Maaf, Niken, aku agak buru-buru ada urusan penting."
"Buru-buru banget? Padahal aku baru mau ngajak minum kopi lho di depan," Niken cemberut, tangannya kembali mencoba menyentuh bahu Hagia seolah-olah mereka adalah kawan lama yang sangat akrab. Tapi kali ini Hagia bergeser selangkah ke belakang, memberikan senyum profesional.
"Lain kali saja ya. Titip salam untuk teman-teman yang lain." Tanpa menunggu balasan, Hagia langsung berbalik arah menemui Cong yang sedang duduk di pendopo.
"Cong," panggil Hagia to the point begitu Niken menghilang dari pandangan. "Tadi aku dapat pesan dari kamu. Kamu bilang Lea pergi sama Adi? Ke mana?"
Cong meletakkan gitarnya. Wajahnya tampak ragu, namun ia tahu Hagia berhak tahu. "Tadi aku ngikutin pelan-pelan, Lur. Mereka ke rumahmu."
Hagia tersentak.
"Rumahku?"
"Iya, ke rumahmu. Tadi Azalea ngobrol sama Bima. Aku ora bisa dengar jelas mereka ngomong apa karena ada si Adi yang jaga di depan gerbang kaya ajudan. Tapi muka Lea pas keluar dari sana... gimana ya, Lur? Kelihatan mendung tanpa udan. Kayak habis dengar berita duka."
Hagia berdecak kesal sembari menyugar rambutnya dengan kasar. "Bima pasti cerita panjang lebar."
Ia sudah menduga. Bima pasti menceritakan tentang calon istri yang sempat dilontarkan Bima tempo hari. Hagia yakin, Azalea sedang salah paham besar.
"Terus jam tangan aku ketemu nggak?" Tanya Hagia lagi, karena Cong ditugaskan untuk mencari ketika laki-laki itu pergi. Hagia kehilangan jam tangan itu ketika ia lepas sebentar pas lagi berwudhu.
"Nggak ada, Lur. Kemana tuh ya? Padahal kalau hilang di sini pasti ketemu."
Hagia menghela nafas. Satu-satu dulu ia bereskan kekacauan ini. Hagia pun memilih pamit membersihkan diri dulu, agar fresh menyelesaikan satu persatu kepelikan.
Satu jam berikutnya adalah waktu yang paling sibuk bagi Hagia. Ia mandi dengan sangat teliti, menyemprotkan parfum favoritnya yang pernah dipuji Azalea. Ia mengenakan kemeja linen berwarna biru navy yang lengannya digulung hingga siku.
Di atas meja nakas, tergeletak sebuah kotak perhiasan mewah. Di dalamnya terdapat sebuah kalung berlian yang simpel tapi elegan. Di sampingnya ada dua buah gelang couple teknologi terbaru.
"Nanti kalau kamu jauh, gelang punyaku akan menyala. Disitu aku akan mencari lalu menarikmu kembali. Biar kamu tahu, kalau aku tidak bisa berjauhan denganmu." bisik Hagia melatih kalimatnya di depan cermin. Ia tersenyum sendiri. Ia merasa seperti remaja yang sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Setelah memastikan buket bunga sudah aman di dalam mobilnya, Hagia melangkah menuju area asrama putri. Senyumnya tidak luntur. Ia berharap Azalea akan terkejut dan melupakan sejenak persoalan sebelum akhirnya Hagia akan menjelaskan kalau calon istrinya itu adalah dia. Dan Hagia berharap mudah-mudahan Azalea tidak tahu bahwa ia tengah mencari jam tangan pemberiannya, yang sampai saat ini belum ditemukan.
Hagia sampai di depan pintu kamar Azalea. Ia mengetuk pelan.
"Lea? Azalea? Sudah siap?"
Hening.
Hagia mengetuk lebih keras. "Lea, ini aku. Kamu baik-baik saja kan?"
Tidak ada jawaban.
"Aku masuk ya?"
Hagia memutar knop pintu, ternyata tidak dikunci. Ia melangkah masuk dengan perasaan yang tiba-tiba berubah was-was. Kamar itu rapi. Harum sisa parfum Azalea masih tertinggal di udara, namun pemiliknya tidak ada.
Hagia mengecek ke kamar mandi, kosong. Ia membuka lemari kecil, dan jantungnya mencelos. Beberapa pakaian yang biasanya tergantung di sana sudah menghilang. Di atas meja rias, tidak ada lagi botol-botol perawatan wajah yang biasanya berjejer.
Hanya ada satu benda yang tertinggal di atas kasur yang sudah sprei-nya ditarik rapi. Sebuah jam tangan. Jam tangan yang tadi ditemukan Azalea di pendopo. Di bawahnya, terselip sebuah catatan kecil.
Terima kasih untuk semuanya, Kak. Jam ini aku kembalikan, karena aku tidak punya hak lagi untuk memberikan apapun pada calon suami orang lain. Tadi aku menemukannya di lantai, dekat barang-barang tidak terpakai. Semoga bahagia dengan pilihannya.
"Sial," umpat Hagia. Darahnya berdesir hebat. Ia berlari keluar kamar, hampir menabrak beberapa anggota sanggar yang sedang berjalan di lorong. Ia pun teringat jika Azalea juga belum memberikan kembali kunci mobil milik wanita itu.
"Ada yang lihat Azalea?!" teriak Hagia panik.
"Tadi saya lihat mobilnya keluar gerbang, Mas Hagia. Saya pikir pergi sama Mas," jawab salah satu anggota dengan wajah pias.
Hagia berlari menuju tempat parkir. Benar saja, mobil Azalea sudah tidak ada di tempatnya. Ia segera merogoh ponsel, mendial nomor Azalea berkali-kali, namun hanya suara operator yang menjawab bahwa nomor tersebut tidak aktif.
"Cong! Cari tahu posisi Azalea sekarang!" teriak Hagia pada Cong yang baru muncul.
"Gak bisa, Lur. Dia kayaknya sengaja nggak mau dicari. Tapi..." Cong menunjuk ke arah pojok koridor. "Tadi aku lihat Suci nangis di sana, bukannya dia bestienya Azalea ya?"
Hagia melangkah lebar menghampiri Suci yang sedang duduk meringkuk di kursi kayu belakang sanggar. Wajah gadis itu pucat pasi saat melihat Hagia datang dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Suci," panggil Hagia.
.
.
Bersambung.
gpp,ntar Hagia bakalan datang pakai pakaian pengantin kerumah mu ,buat jemput kamu 😆😆😆