NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULAU BATAM MEMBARA

BAB 7

Bayangan di Pelabuhan

Feri merapat perlahan di Pelabuhan Batam Center. Dentuman lambung menyentuh dermaga terdengar berat namun menenangkan—sebuah tanda bahwa satu etape telah dilewati. Matahari pagi menyinari antrian penumpang yang mulai bergerak turun.

Namun bagi mereka, Batam bukan tujuan akhir. Ia hanya persinggahan—dan setiap persinggahan selalu menyimpan risiko.

Sertu Bima berdiri paling depan, mata tajam menyapu area pelabuhan. Seragam sipilnya sederhana, tapi posturnya tak bisa menyembunyikan disiplin militer.

“Agung, Eren—kanan kiri,” perintahnya pelan.

“Dok Sandi, tetap dekat Laura.”

Dr. Sandi mengangguk singkat. Tangannya refleks menyentuh tas kecil Laura—bukan untuk mengambil, hanya memastikan ia ada.

Laura menelan ludah. Keramaian pelabuhan mendadak terasa menyesakkan. Wajah-wajah asing. Kamera ponsel. Petugas berseragam. Semua tampak normal—terlalu normal.

Dr. Hadijah menggenggam tangan Anisa.

“Dekat ibu,” bisiknya.

Mereka melangkah turun bersama arus penumpang. Bau laut bercampur solar dan kopi kios pelabuhan. Suara pengumuman bergaung.

Tiba-tiba—

Bima berhenti.

“Berhenti,” katanya pelan, nyaris tak terdengar.

Di seberang pintu keluar, seorang pria berdiri bersandar pada tiang. Topi ditarik rendah. Kacamata hitam. Ia berpura-pura memainkan ponsel—namun kepalanya sedikit miring, jelas mengamati.

Bima mengenali pola itu.

“Kontak,” gumamnya.

Eren mendekat.

“Bukan petugas.”

Dr. Sandi mengikuti arah pandang Bima. Nalurinya sebagai dokter lapangan—yang berkali-kali bekerja di zona konflik—langsung berteriak.

“Bukan satu orang,” katanya pelan. “Lihat refleksi kaca.”

Di kaca besar pintu pelabuhan, bayangan beberapa orang tampak bergerak. Menyebar. Mengurung perlahan.

Laura merasakan dadanya mengencang.

“Mereka…?” bisiknya.

Bima tidak menjawab. Ia menekan ear-piece kecil.

“Rencana Delta. Sekarang.”

Agung berpura-pura menjatuhkan tas. Seorang petugas pelabuhan mendekat untuk membantu—tanpa sadar menjadi penghalang alami.

“Jalan!” bisik Bima.

Mereka berbelok tajam ke koridor samping—jalur kru dan logistik. Pintu darurat terbuka. Alarm kecil berbunyi sebentar sebelum Bima menutupnya kembali.

Di belakang—

“Hei! Mereka ke sana!” terdengar teriakan.

Langkah kaki berlari.

Lorong sempit. Bau besi dan oli. Lampu berkedip.

Dr. Sandi menggiring Laura di tengah, tubuhnya menjadi tameng. Anisa hampir menangis, namun Dr. Hadijah membisikkannya doa—tenang, stabil.

“Pak Dok…” suara Laura bergetar.

“Aku di sini,” jawab Dr. Sandi tegas. “Lihat aku. Tarik napas.”

Dari depan lorong, dua pria muncul. Salah satunya mengeluarkan senjata setrum.

Bima melesat.

DUK!

Sikut menghantam rahang.

KRAK!

Lutut menghajar perut.

Agung dan Eren menyusul—cepat, brutal, senyap.

Namun tembakan peringatan terdengar dari belakang.

DOR!

Peluru menghantam dinding baja, memercikkan bunga api.

“BERHENTI!” teriak seseorang.

Bima memutar badan.

“Tidak ada tembakan di pelabuhan!” bentaknya. “Kalian mau cari masalah besar?”

Keraguan itu—satu detik—cukup.

Sirene keamanan pelabuhan meraung. Petugas bersenjata datang berlarian.

Para pengejar mundur cepat, menyatu dengan kerumunan. Menghilang—seperti asap.

Hening tersisa.

Bima mengatur napas. Keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Dr. Sandi memeriksa Laura—bahunya, tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Laura mengangguk, meski wajahnya pucat.

“Mereka… tidak berhenti.”

Dr. Sandi menatap lurus.

“Dan kita tidak boleh lengah.”

Petugas pelabuhan mendekat.

“Ada apa ini?”

Bima menunjukkan identitasnya—singkat, tegas. Beberapa kata kunci cukup membuat petugas itu mengangguk dan memberi jalur aman.

Mereka dikawal keluar—menuju kendaraan yang sudah disiapkan.

Saat mobil melaju meninggalkan pelabuhan, Laura menoleh ke jendela belakang.

Di kejauhan, di antara kerumunan—

pria bertopi itu berdiri lagi.

Kacamata hitam terangkat sedikit. Senyum tipis terlukis.

Laura meremas tas kecilnya.

“Dok… mereka belum menyerah.”

Dr. Sandi menjawab tanpa menoleh.

“Dan kita juga tidak.”

Mobil mempercepat laju.

Batam tertinggal di belakang.

Jakarta menanti di depan—

dengan risiko yang lebih besar,

dan kebenaran yang tak bisa lagi disembunyikan.

Malam Berdarah di Pulau Industri

Batam menyambut mereka dengan wajah ganda.

Siang hari kota itu tampak sibuk—pabrik, pelabuhan, dan gedung-gedung kaca. Namun ketika malam turun, lorong-lorong gelap di pinggir kawasan industri berubah menjadi sarang predator.

Mobil hitam yang membawa Laura dan rombongan melaju meninggalkan pelabuhan, masuk ke jalanan semi kosong menuju safe house sementara. Lampu jalan jarang. Gudang-gudang tua berdiri seperti bayangan raksasa.

Sertu Bima duduk di kursi depan, rahangnya mengeras.

“Terasa nggak?” gumamnya.

Agung mengangguk pelan dari jok belakang.

“Kita diikuti. Lebih dari satu.”

Dr. Sandi menoleh ke kaca spion. Jauh di belakang, dua motor tanpa plat menyelinap di antara kendaraan. Dari arah lain, sebuah van tua muncul perlahan, menjaga jarak.

Laura memeluk tas kecilnya erat. Jantungnya berdetak keras.

“Mereka datang…” bisiknya.

Bima menekan tombol interkom.

“Rencana Alfa. Semua siap.”

Tiga Geng, Satu Target

Mobil tiba-tiba direm mendadak.

SCREEEET!

Dari depan, sebuah truk kecil melintang menutup jalan.

Dari kiri dan kanan—motor-motor mendadak mengepung. Dari belakang, van tua berhenti. Pintu geser terbuka.

Belasan pria meloncat turun.

Tato ular hitam di leher—Geng Ular Selat.

Rompi kulit dan rantai besi—Geng Besi Pelabuhan.

Wajah-wajah keras, bersenjata api rakitan—Geng Merah Batu Ampar.

Tiga geng lokal Batam.

Tiga kepentingan.

Satu flash disk.

“CEPET! AMBIL CEWEK ITU!” teriak seseorang.

Bima membuka pintu mobil lebih dulu.

“LINDUNGI LAURA!”

Ledakan pertama terjadi.

DOR!

Peluru menghantam aspal. Kekacauan pecah seketika.

Agung dan Eren bergerak cepat, membentuk setengah lingkaran. Tinju, popor senjata, dan pisau bertemu dalam jarak dekat. Tidak ada tembakan sembarangan—terlalu banyak risiko. Maka pertarungan berubah brutal dan dekat.

Bima menghajar satu orang hingga terpental ke kap mesin.

“BATAM BUKAN MEDAN MAINAN!” bentaknya.

Eren—meski belum pulih—menahan dua orang sekaligus, memukul satu, membanting yang lain ke aspal.

“ARGH!”

Dr. Hadijah menarik Anisa ke balik mobil, berdoa lirih.

Laura hampir terseret—tangan kasar menarik tasnya.

Namun—

Dr. Sandi muncul seperti bayangan.

BRAK!

Siku menghantam tenggorokan penyerang. Tubuh itu ambruk tanpa suara.

“Jangan sentuh dia,” kata Dr. Sandi dingin.

Namun dari balik van—

tepuk tangan pelan terdengar.

CLAP… CLAP…

Seorang pria keluar dari bayangan.

Seragam taktis hitam. Pangkat di bahu. Mata tajam, dingin, berpengalaman.

Letnan Benjamin.

Perwira dari isriwil yg di tugaskan atasannya untuk mengambil flash disc yg ada di tangan Laura . Nama itu dikenal Dr. Sandi.

“Dokter,” ucap Benjamin sambil tersenyum tipis.

“Masih suka bermain pahlawan?”

Dr. Sandi menegakkan tubuhnya.

“Benjamin. Jadi kau yang mengatur ini.”

“Tiga geng. Tiga jalur. Satu hadiah,” jawabnya santai.

“Flash disk itu… terlalu berharga untuk bocah perempuan.”

Laura menggigil.

Bima menoleh.

“Dok, yang ini biar kau.”

Dr. Sandi mengangguk pelan.

“Mereka jangan dibiarkan ikut campur.”

Duel di Tengah Api

Benjamin melepas jaketnya.

“Aku hanya butuh dua menit.”

Ia menerjang.

Pertarungan mereka cepat—liar—mematikan.

Pukulan beradu dengan siku. Tendangan rendah disambut kuncian. Dua profesional. Tidak ada teriakan. Hanya napas berat dan benturan tulang.

Benjamin memukul rusuk Dr. Sandi—

DUK!

Dr. Sandi terhuyung, membalas dengan tendangan lutut—

KRAK!

Benjamin tersenyum meski berdarah.

“Masih sekuat dulu.”

“Dan kau masih serakah,” jawab Dr. Sandi.

Di sekeliling mereka, pertempuran memuncak.

Bima menjatuhkan pemimpin Geng Ular Selat dengan kuncian leher.

Agung memukul kepala lawan dengan rantai besi miliknya sendiri.

Eren—berdarah—masih berdiri, menahan jalan.

Benjamin mengeluarkan pisau lipat.

“Kau kalah jumlah.”

Dr. Sandi menyipitkan mata.

“Tapi tidak kalah niat.”

Benjamin menyerang brutal.

SWISH!

Pisau menggores bahu Dr. Sandi. Darah mengalir.

Laura menjerit.

“DOK!”

Dr. Sandi menahan sakit, memutar pergelangan tangan Benjamin—

KRAK!

Pisau terlepas.

Benjamin mundur setengah langkah—namun terlalu lambat.

Dr. Sandi menghantam dadanya dengan seluruh tenaga.

DUK!

Benjamin terlempar, menghantam sisi van. Ia jatuh berlutut—darah mengalir deras dari perut dan bahu.

Napasnya tersengal.

“Kau… tidak berubah…” katanya terputus-putus.

Dr. Sandi berdiri di depannya.

“Kau yang memilih jalan ini.”

Sirene polisi terdengar dari kejauhan.

Para anggota geng yang tersisa panik, berhamburan melarikan diri ke gang-gang gelap.

Bima mendekat.

“Dok?”

Dr. Sandi mengangguk, meski wajahnya pucat.

“Masih berdiri.”

Benjamin terjatuh ke samping—tak sadarkan diri, luka parah.

Laura berlari mendekat, menangis tertahan.

“Ini tidak akan berhenti, kan?”

Bima menatap jalan gelap Batam.

“Tidak… sampai flash disk itu aman.”

Dr. Sandi menatap Laura.

“Dan itu berarti—kita harus segera ke Jakarta.”

Lampu biru-merah semakin dekat.

Malam Batam kembali sunyi.

Namun darah di aspal menjadi saksi—

bahwa perburuan telah berubah menjadi perang terbuka.

Dan mereka—

sudah tidak bisa mundur lagi.

Jeda yang Rawan

Malam di Batam akhirnya memberi mereka ruang bernapas.

Rombongan tiba di rumah dinas Wali Kota Batam menjelang larut. Gerbang besi terbuka lebar. Beberapa petugas keamanan daerah sudah bersiaga—bukan dengan sorot curiga, melainkan hormat.

Wali Kota Batam sendiri menyambut di teras, mengenakan kemeja sederhana.

“Selamat datang,” ucapnya hangat namun serius. “Kami sudah menerima laporan singkat. Di sini, kalian aman.”

Bima memberi hormat singkat.

“Terima kasih, Pak.”

Laura menunduk sopan. Matanya lelah—bukan hanya oleh perjalanan, tapi oleh tekanan yang tak henti.

“Anggap rumah sendiri,” lanjut sang wali kota. “Silakan istirahat. Batam punya banyak mata… tapi rumah ini bukan tempat yang mudah disentuh.”

Jeda yang Dibutuhkan

Air hangat mengalir lama di kamar mandi. Luka-luka dibersihkan. Pakaian kotor diganti baju bersih. Aroma sabun dan makanan rumahan memenuhi rumah dinas.

Makan malam sederhana—nasi hangat, ikan bakar, sayur bening—terasa seperti kemewahan.

Anisa menguap lebar.

“Enak… tenang,” gumamnya.

Dr. Hadijah tersenyum lembut.

“Kadang ketenangan itu obat paling mahal.”

Sertu Bima membagi jadwal jaga singkat. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidur tanpa suara sirene.

Pagi datang dengan cahaya cerah.

Godaan Normalitas

Menjelang siang, suasana sedikit melonggar.

Dr. Hadijah mengajak Anisa berjalan-jalan singkat ke Mall Batam—sekadar mencari pakaian dan membiarkan anak itu tertawa seperti anak-anak lain.

Sertu Eren—wajahnya masih menyisakan memar—mengikuti dari jarak aman, mengenakan jaket dan topi.

Di lantai dua mall, musik lembut mengalun. Anisa terpaku di etalase mainan.

“Ibu… boleh lihat sebentar?”

Dr. Hadijah mengangguk.

Namun dari pantulan kaca—

dua pria berdiri terlalu dekat.

Satu berpura-pura menelepon. Satu lagi menatap Anisa terlalu lama.

Naluri Eren menegang.

Langkah mereka dipercepat.

“Sekarang,” bisik salah satu.

Tangan kasar nyaris menyentuh lengan Anisa—

Namun—

Eren sudah di sana.

BRAK!

Satu pria dihantam ke dinding. Yang lain coba lari—Eren menyapu kakinya, menjepit lengan, dan memutar keras.

“Apa kalian cari mati?” desis Eren.

Kedua pria itu pucat.

“Kami—kami cuma disuruh!”

“Pergi,” kata Eren dingin. “Dan bilang pada siapa pun yang nyuruh—Batam bukan taman bermain.”

Mereka lari terbirit-birit.

Dr. Hadijah memeluk Anisa.

“Tidak apa-apa, Nak. Sudah selesai.”

Anisa mengangguk, gemetar, namun aman.

Eren berdiri tegak, matanya menyapu area.

“Jalan-jalan selesai. Kita kembali.”

Gangguan di Balik Layar

Di sisi lain mall—

Laura dan Dr. Sandi memilih Studio 21. Ruang gelap, kursi empuk, layar besar—momen langka untuk merasa normal.

Film baru berjalan setengah.

Laura tersenyum kecil.

“Sudah lama tidak ke bioskop.”

Dr. Sandi membalas pelan.

“Jangan keterusan. Kita tetap waspada.”

Empat pria masuk—terlalu terlambat untuk jadwal film. Mereka tidak duduk. Mereka berdiri di lorong.

Satu berbisik.

“Yang itu.”

Lampu layar memantul di wajah mereka.

Dr. Sandi berdiri.

“Laura, tetap duduk.”

Satu pria menyeringai.

“Dok, jangan bikin ribet.”

Dalam gelap, suara tubuh bertabrakan nyaris tak terdengar oleh penonton lain.

DUK!

Sikut ke rahang.

BRAK!

Kursi terbalik.

Satu penyerang tersungkur di lorong. Yang kedua mencoba dari belakang—

Dr. Sandi memutar, menghantam tenggorokan dengan telapak tangan.

“UGH!”

Yang ketiga dan keempat menyerang bersamaan—

Dr. Sandi bergerak cepat, presisi, tanpa ragu. Tendangan rendah. Pukulan pendek. Dua tubuh ambruk bertumpuk di antara kursi.

Hening sesaat.

Beberapa penonton menoleh, bingung.

Dr. Sandi menatap dingin ke empat pria yang kini meringis di lantai.

“Keluar,” katanya pelan. “Sebelum aku lupa menahan diri.”

Mereka merangkak pergi.

Laura berdiri, napasnya teratur—tak lagi panik seperti dulu.

“Kau baik-baik saja?” tanya Dr. Sandi.

Laura mengangguk.

“Bersamamu… iya.”

Kembali ke Benteng

Malam itu, mereka kembali ke rumah wali kota.

Laporan singkat disampaikan. Wali kota menghela napas panjang.

“Mereka nekat,” katanya. “Tapi itu juga tanda—waktu kita di Batam hampir habis.”

Bima mengangguk.

“Besok kita bergerak. Jakarta.”

Dr. Sandi menatap Laura.

“Kita sudah memberi mereka terlalu banyak kesempatan.”

Laura memeluk tas kecilnya.

“Dan mereka belum mendapat apa pun.”

Lampu rumah diredupkan. Keamanan diperketat.

Di luar, Batam berkilau seperti kota wisata.

Namun di balik cahaya—

perburuan belum berakhir.

Dan esok,

jalan menuju Jakarta

akan dimulai.

Persekutuan di Balik Bayangan

Malam merayap di sudut gelap Batam—jauh dari gemerlap mall dan rumah dinas pejabat.

Di kawasan industri tua yang sudah lama ditinggalkan, sebuah gudang kontainer berdiri sunyi. Lampu neon berkedip lemah. Bau oli, karat, dan asap rokok bercampur di udara.

Di sanalah markas para pemburu berada.

Sebuah meja besi panjang diletakkan di tengah gudang. Di atasnya—peta Batam, foto-foto Laura, Dr. Sandi, Sertu Bima, serta lingkaran merah yang menandai flash disk.

Letnan Benjamin duduk di ujung meja.

Tubuhnya masih dibalut perban. Wajahnya pucat, namun matanya tetap tajam. Rasa sakit belum padam, tapi amarahnya justru semakin hidup.

Di hadapannya berdiri tiga pria—tiga kepala geng lokal Batam.

Yang pertama, Raja Ular Selat—leher penuh tato, tatapan licin seperti reptil.

Yang kedua, Bos Merah Batu Ampar—tubuh besar, tangan penuh cincin emas.

Yang ketiga, Pemimpin Geng Besi Pelabuhan—wajah keras, rahang patah setengah sembuh.

Mereka saling memandang penuh curiga.

Benjamin memecah keheningan.

“Kalian gagal… satu per satu.”

Bos Batu Ampar membanting tinju ke meja.

“Kami diserang tentara! Itu di luar kesepakatan!”

Benjamin tersenyum tipis—dingin.

“Kalian diserang karena kalian ceroboh.”

Ia berdiri perlahan, menahan nyeri.

“Sekarang dengarkan aku. Flash disk itu bukan sekadar data. Itu senjata biologis. Siapa yang memegangnya… mengendalikan harga nyawa manusia.”

Semua terdiam.

Raja Ular Selat menjilat bibir.

“Dan apa bagian kami, Letnan?”

Benjamin melemparkan sebuah tablet ke meja. Layar menyala—angka nol berderet.

“Ini uang muka. Jika disk itu ada di tangan kita… kalian tidak perlu lagi jadi raja di Batam.”

Bos Besi Pelabuhan menyipitkan mata.

“Dan tentara itu? Sertu Bima?”

Wajah Benjamin mengeras.

“Dia urusanku.”

Ia menunjuk foto Dr. Sandi.

“Dokter itu—berbahaya. Terlalu cepat. Terlalu bersih. Dia yang melukaiku.”

Sunyi sesaat.

Benjamin mencondongkan badan ke depan.

“Kali ini, kita bekerja sama. Tidak saling tikam. Tidak saling curiga.”

Ia mengetuk meja satu per satu di depan mereka.

“Kita gunakan semuanya:

– intel jalanan,

– orang dalam,

– umpan… bahkan anak-anak kalau perlu.”

Bos Batu Ampar tersenyum miring.

“Kejam.”

Benjamin membalas dengan senyum lebih gelap.

“Efektif.”

Raja Ular Selat mengangguk pelan.

“Target?”

Benjamin menekan tombol. Peta berganti—jalur Batam–Bandara–Jakarta.

“Mereka akan berangkat besok. Kita serang sebelum mereka naik pesawat.”

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Tidak ada kegagalan.

Tidak ada saksi.

Flash disk itu… harus kita dapatkan apa pun caranya.”

Bos Besi Pelabuhan berdiri.

“Kalau tentara itu mati?”

Benjamin menatap lampu neon yang berkedip.

“Lebih baik.”

Ia menutup pertemuan dengan satu kalimat dingin:

“Besok… Batam akan mengingat malam ini.”

Di luar gudang, angin laut berhembus pelan.

Sementara itu—di rumah dinas wali kota—Laura tertidur, memeluk tas kecilnya. Tidak tahu bahwa di sudut kota yang gelap…

tiga geng,

satu letnan berdarah,

dan satu kesepakatan kotor

telah bersatu—

untuk memburunya sampai akhir.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!