NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan yang Tak Bisa Disatukan Lagi

Arman duduk di dalam mobil cukup lama sebelum masuk rumah. Mesin sudah dimatikan, namun ia tak kunjung keluar. Bukan lelah tubuh—melainkan lelah yang menekan dari dalam dada.

Selembar kertas terlipat di saku jasnya.

Gugatan cerai.

Ia pernah begitu yakin Zizi tidak akan pergi ke mana pun. Terlalu penurut. Terlalu mudah meminta maaf. Terlalu sering menyalahkan diri sendiri.

 Baginya, Zizi seperti bayangan: selalu ada, tak perlu dipikirkan.

Namun malam ini rumah terasa seperti bangunan kosong.

Ia akhirnya masuk. Ruang tamu rapi, tetapi dingin. Anggun terbaring di sofa, flu belum reda. Anggi duduk di lantai, wajah masam karena kaus kaki sekolahnya tak ditemukan siapa pun.

“Mas, tanya Zizi dong! Dia naruh di mana kaus kaki Anggi!” keluhnya.

Arman terdiam.

Anggun membuka mata separuh. “Telepon istrimu. Suruh pulang. Hanya bertengkar sedikit saja sudah...”

“Dia… mengajukan cerai,” ucap Arman pelan.

Keheningan turun perlahan tetapi berat. Anggi terpaku. Anggun langsung duduk tegak.

“Dia berani? Setelah kita tampung, kita beri makan—”

Kata-kata itu dulu terdengar wajar di telinga Arman. Kini justru menyesakkan. Ia berjalan ke kamar dan menutup pintu. Sunyi. Setengah lemari kosong. Tidak ada aroma bedak lembut Zizi. Ruang itu bukan sekadar sepi—ia ditinggalkan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari pengacara: sidang pertama dua minggu lagi.

Tangannya bergetar samar. Dua minggu. Nyata. Tidak bisa ditertawakan lagi. Ia menatap bayangan dirinya di cermin: lelaki yang merasa menang karena selalu dipilih, kini tampak seperti seseorang yang sedang ditinggalkan.

Di kepalanya muncul satu adegan terakhir: Zizi pergi tanpa menangis, tanpa membentak, tanpa memohon. Diam… namun justru paling menyakitkan.

Di tempat lain, Zizi menatap kota dari balkon apartemen kecilnya. Udara malam dingin, tetapi hatinya jauh lebih stabil.

Telepon barusan dari pengacaranya mengatakan hal yang sama:

dua minggu lagi sidang pertama. Bukan takut. Bukan ragu. Melainkan lega.

Ia duduk, memandangi perban tipis di tangannya—luka yang menjadi tanda berhentinya kesabaran panjang. Bukan luka yang membuatnya rapuh, tetapi luka yang menyadarkannya kapan harus berhenti.

Danu datang membawa dua gelas minuman hangat. Mereka duduk tanpa banyak bicara.

“Kamu siap?” tanyanya lembut.

Zizi tersenyum kecil. “Aku tidak tahu siap atau tidak. Tapi aku mau.”

“Mau bebas?”

Zizi menggeleng pelan. “Mau hidup. Dan kalau nanti berhadapan dengan mereka lagi… aku ingin berdiri tanpa gemetar.”

Ada sesuatu yang mengeras di dalam dirinya. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan tekad dingin. Ia tidak ingin sekadar pergi. Ia ingin suatu hari mereka menyesal telah meremehkannya. Bukan hari ini. Bukan besok. Tetapi akan datang waktunya.

.

Di rumah besar itu, kabar sidang menjadi badai.

Anggun membanting remote ke meja. “Perempuan itu betul-betul tak tahu diri!”

Anggi menggigit bibirnya. “Ma… mungkin Kak Zizi benar-benar sakit hati.”

“Diam!” bentak Anggun.

Arman memandangi surat panggilan sidang itu lama-lama. Tulisan nama mereka berdua terasa seperti garis akhir. Untuk pertama kalinya ia takut—bukan kehilangan istri sebagai status, tetapi kehilangan seseorang yang selama ini diam-diam menopang rumah itu.

Sementara di balkon apartemennya sesudah Danu pulang, Zizi berbisik ke langit malam:

“Aku datang ke sidang itu bukan untuk menangis. Tapi untuk menutup bab yang seharusnya selesai sejak lama.”

Dan waktu pun bergerak tanpa menoleh ke belakang.

.

Hari itu langit mendung seolah sengaja ikut menyaksikan sesuatu yang akan berakhir.

Gedung pengadilan tampak ramai, langkah orang berlalu-lalang, tetapi bagi Zizi semuanya terasa sunyi. Ia duduk di bangku tunggu, mengenakan blouse sederhana berwarna netral. Tanpa perhiasan mencolok. Tanpa make up berlebihan. Namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya—ketenangan yang tajam, seperti permukaan es.

Danu duduk tidak jauh darinya, memberi ruang, namun tidak jauh jika ia terhuyung.

“Kalau kamu merasa sesak, bilang,” ujar Danu pelan.

Zizi mengangguk. Tangannya saling menggenggam, bukan karena takut… melainkan karena sedang belajar melepaskan.

Suara langkah berhenti tidak jauh darinya. Ia mengangkat wajah.

 Arman. Laki-laki itu berdiri mematung. Jasnya rapi, tetapi tatapannya berantakan. Dia tidak menyangka Zizi akan terlihat seperti itu—tidak menangis, tidak sembab, tidak memelas. Justru tenang. Terlalu tenang.

“Zi…” suaranya pecah, hanya sepatah.

Zizi menatapnya sebentar. Tidak membungkuk. Tidak menyapa. Hanya menatap—lalu memalingkan wajah dengan elegan.

Di belakang Arman, Anggun berjalan dengan langkah cepat. “Kita batalkan ini saja. bilang pada hakim kalau kamu hanya emosi,” bisiknya tajam.

Arman tidak menjawab.

Sidang dimulai. Ruangannya dingin. Aroma kertas dan kayu tua memenuhi udara. Jam dinding berdetak pelan, setiap detaknya terdengar jelas di telinga mereka.

Nama mereka dipanggil.

Zizi melangkah maju. Arman ada di sisi lain.

Untuk pertama kalinya setelah kepergian itu, mereka duduk berdampingan namun terasa seperti dua orang asing.

Hakim membuka berkas. Suaranya tenang, namun setiap kalimatnya seperti palu kecil di dada.

“Penggugat, Saudari Zizi… tetap pada permohonan cerai?”

Zizi mengangkat wajah. Suaranya jernih. “Saya tetap.”

Arman menoleh cepat. Ada sesuatu yang luruh di sorot matanya.

Hakim melanjutkan, “Tergugat, Saudara Arman, apakah akan mempertahankan rumah tangga ini?”

Hening jatuh.

Arman membuka mulut, tetapi suara tak kunjung keluar. Yang muncul justru potongan-potongan kenangan: Zizi tertawa kecil, Zizi berlari kecil membawa obat untuk ibunya, Zizi diam ketika disalahkan, Zizi yang pulang paling akhir dan bangun paling awal. Dan Zizi yang pergi tanpa air mata.

“Aku… ingin bicara,” katanya lirih. “Tapi… mungkin sudah terlambat.”

Hakim menatapnya singkat. “Jawabannya?”

Arman menunduk.

“Saya ingin mempertahankan, tapi saya tahu… saya yang membuatnya memilih pergi.”

Kalimat itu menyayat, tetapi jujur.

Zizi mengedip perlahan. Bukan terharu. Bukan bahagia. Hanya seperti seseorang yang mendengar berita tentang dirinya dari jauh.

Hakim bertanya lagi, “Saudari Zizi, tidak ingin mempertimbangkan?”

Zizi tersenyum tipis, senyum yang tidak lagi memohon.

“Yang saya pertimbangkan selama enam tahun, Yang Mulia. Hari ini saya hanya memutuskan.”

Arman memejamkan mata sesaat. Ada rasa nyeri aneh: bukan karena ditinggalkan, melainkan karena baru sekarang ia melihat dengan jelas luka yang selama ini ia buat sendiri.

Hakim memberi ruang untuk mediasi.

Di luar ruang sidang, orang-orang mulai bubar.

Ketika Zizi melangkah pergi di koridor pengadilan, Arman hampir memanggilnya. Lidahnya kaku. Nama itu mengendap di tenggorokan.

Zizi tidak menoleh.

Tidak karena sombong, melainkan karena ia sudah selesai.

Arman melangkah maju.

“Zizi… boleh kita bicara sebentar? Tanpa siapa pun?”

Danu menatap Zizi, memberi isyarat bahwa keputusan ada di tangannya.

Zizi menggeleng pelan.

“Tidak hari ini.”

Arman tersenyum miris. “Aku baru sadar saat kamu tidak ada… betapa kamu yang membuat rumah itu terasa rumah.”

Zizi membalasnya dengan kalimat sederhana, “Aku baru sadar saat aku keluar dari rumah itu… bahwa aku masih punya diriku sendiri.”

Ia berbalik pergi.

Bukan berlari.

Bukan dikejar.

Hanya berjalan mantap, seolah ruang sidang barusan telah menutup pintu masa lalu.

Di koridor panjang pengadilan, langkahnya terdengar jelas.

Setiap langkah adalah satu bab yang ditutup.

Arman akhirnya duduk di bangku panjang koridor. Kertas panggilan sidang diremasnya, bukan marah… melainkan panik yang datang terlambat.

Dan ia sadar:

Zizi bukan mengancam pergi.

Ia benar-benar sudah pergi—dari rumah, dari hidupnya, dan yang paling menyakitkan… dari hatinya.

Anggun langsung menghampiri.

“Zizi! Jangan keterlaluan! Semua rumah tangga pasti ada masalah,”

Zizi menoleh. Tatapannya tenang, tanpa amarah, tanpa gemetar.

“Mama tidak pernah menganggap saya anak. Hanya pembantu yang sah dibentak,” ucapnya pelan. “Sekarang saya berhenti.”

Anggun terdiam, bukan karena mengerti, tapi karena untuk pertama kalinya Zizi berbicara tanpa menunduk.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!