Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.
Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.
Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.
"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo
"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Candy menghela napas panjang. Mau tidak mau, ia harus mengenakan pakaian dalam dan baju tidur minim bahan itu—daripada tidak mengenakan apa pun sama sekali. Wajahnya masam, perasaannya campur aduk antara kesal, malu, dan jengkel pada satu orang yang kini justru terlihat terlalu tenang.
Dengan langkah berat, Candy bangkit sambil membawa dua paper bag menuju kamar mandi. Di belakangnya, senyum puas tercetak samar di sudut bibir Revo—nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa kali ini, ia merasa menang.
Setidaknya itu balasan kecil untuk Candy yang sudah membuat seluruh tubuhnya terasa remuk. Revo cepat mengenakan celana pendek dan baju kaos sebelum Candy keluar.
"Awas, ya. Jangan lewat pembatas!" ketus Candy sambil meletakkan guling di tengah ranjang.
Revo hanya menarik selimut dan membaringkan diri. Ia terlalu lelah untuk meladeni Candy. Malam itu, sepasang suami-istri tersebut tidur saling membelakangi, dipisahkan oleh guling dan ego masing-masing.
Keesokan paginya, tanpa sepengetahuan kedua orang itu, seorang wanita paruh baya—penguasa tertinggi keluarga Luneth—sedang melangkah mantap menuju kamar mereka. Dua sosok lain berjalan di belakangnya, turut mengekor dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Kalian ngapain ikut mami, sih?" ujar Berlian tanpa menoleh.
“Tadinya aku mau turun sarapan,” jawab Rumi santai. "Eh, malah lihat mami minta kunci cadangan. Otw ngikutin mami."
Berlian menghentikan langkahnya dan berbalik. "Kalau kamu, Riora?" tanyanya.
"Pas aku keluar kamar, aku lihat mami sama Kak Rumi jalan pelan-pelan kayak maling," jawab Riora jujur. "Ya sudah, aku ikut aja."
"Mami mau ngapain, sih, ke kamar Kak Revo?" tanya Rumi penasaran.
"Mami penasaran," jawab Berlian singkat, lalu kembali melangkah.
Rumi dan Riora saling pandang sebelum mengikuti dari belakang. Tingkah Berlian pagi itu terasa sedikit—atau mungkin sangat—ajaib.
"Eh, Mi!" Rumi menahan lengan Berlian.
"Apa?" Berlian melirik kesal.
"Ini… nggak apa-apa ya kita ngintip?"
"Kita bukan ngintip," jawab Berlian polos. "Kita melihat secara langsung."
Riora menepuk keningnya. "Astaga. Sama aja, Mami."
"Beda dong," sahut Berlian tak mau kalah.
"Tapi kalau keadaan mereka… polos gimana?" tanya Rumi ragu.
"Sudah kawin, kan?" Berlian menunjuk Rumi.
Rumi mengangguk pelan.
"Aku juga sudah, Mi," sela Riora cepat.
"Ya sudah, aman," simpul Berlian ringan.
"Aduh, si Mami bener-bener deh," gumam Rumi khawatir.
"Mami nggak ngajak kamu. Kalau takut, pergi aja sana," balas Berlian.
"Ish, Mami!" seru Rumi.
Riora terkekeh pelan. Ia tahu, Rumi sebenarnya sama penasarannya—hanya saja terlalu takut ketahuan.
Beberapa langkah lagi mereka akan sampai di kamar Revo dan Candy. Namun, seseorang telah tiba lebih dulu. Seorang wanita paruh baya berdiri canggung dengan sebuah koper hitam di sampingnya. Wajahnya tampak ragu, antara ingin mengetuk pintu atau memilih mundur.
Berlian langsung mengenalinya. Mbok Sarah. Mereka sempat berbincang sebentar sesaat setelah acara ijab kabul selesai.
Senyum tipis terbit di sudut bibir Berlian. Entah kenapa, melihat wanita itu berdiri di sana dengan koper justru membuat suasana terasa semakin… menarik. Berlian melangkah mendekat tanpa ragu.
"Mbok," sapa Berlian sambil menepuk pundak wanita itu.
Mbok Sarah tersentak kaget. "Alamak—eh, Nyonya!" serunya sambil refleks memegangi dada. "Bikin kaget aja."
"Mbok ngapain berdiri di sini?" tanya Berlian santai.
Mbok Sarah menunjuk koper di sampingnya. "Mbok mau nganterin koper Non Candy, Nyonya. Tadi malam Mbok lupa ngasih. Takut Non nggak punya pakaian ganti."
Senyum Berlian mengembang perlahan. Ada kepuasan kecil yang sulit ia sembunyikan.
"Bagus," ujarnya singkat. "Good job, Mbok.”
Mbok Sarah tampak bingung. "Good job… kenapa, Nyonya?"
Berlian menahan senyum dengan pikiran yang melayang. Membayangkan Candy mengenakan pakaian minim bahan darinya.
Ya, dialah pelaku utamanya. Berlian sudah tahu pasti menantunya itu tidak mempersiapkan pakaian siap tempur. Jadi, dia saja yang melakukannya. Ditambah mbok Sarah tidak memberikan koper Candy. Rencana yang sangat mulus.
"Nanti juga Mbok tahu," Berlian terkekeh sambil melirik pintu kamar. "Sekarang Mbok minggir dulu, ya."
"Lho, memangnya Nyonya punya kuncinya?" tanya Mbok Sarah heran.
"Mami punya segalanya yang Mami mau," sahut Riora ringan dari belakang.
Mbok Sarah menoleh dan baru menyadari dua wanita muda berwajah nyaris identik itu. Matanya membulat.
"Oalah… kembar, ta?"
Rumi tersenyum ramah dan mengangguk. "Saya Rumi, Mbok. Adiknya Revo."
Ia menjabat tangan Mbok Sarah dengan sopan. Mbok Sarah refleks menarik tangannya sebelum sempat dicium.
"Jangan begitu, Nona Rumi. Mbok nggak pantas," katanya gugup.
Rumi tersenyum hangat. "Mbok lebih tua. Sudah sepantasnya."
"Masyaallah," gumam Mbok Sarah terharu. "Cantik, baik pula."
"Saya Riora, Mbok. Adik bung—"
"Ya ampun, malah kenalan. Nanti dulu," potong Berlian cepat.
Tangannya sudah menempel di gagang pintu.
Klik.
Suara pintu terbuka terdengar pelan, namun cukup membuat Rumi dan Riora refleks menahan napas.
"Sst," bisik Berlian.
Ketiganya otomatis menutup mulut. Bahkan Mbok Sarah ikut menahan napas, meski tak sepenuhnya paham apa yang sedang terjadi.
Berlian mendorong pintu perlahan.
Kamar yang minim cahaya semakin menambah nuansa khas malam pertama. Keempat wanita itu melangkah masuk dengan hati-hati, berjalan berjejer sambil nyaris saling berpegangan.
Riora sengaja memilih posisi paling belakang. Ia sudah bersiap jika sewaktu-waktu mereka tertangkap basah—setidaknya, ia bisa kabur lebih dulu.
Berlian berhenti tepat di depan tempat tidur. Cahaya lampu tidur yang temaram cukup memberi pencahayaan untuk melihat dengan jelas apa yang ada di hadapan mereka.
"Ah, co cuit!" ujarnya refleks sambil menangkup tangan di depan dada.
"Sst, Mami!" Rumi panik sambil cepat menutup mulut Berlian.
"Ampun dah, Nyah," gumam Mbok Sarah pelan, meski senyum tak bisa disembunyikannya.
Kini Mbok Sarah akhirnya paham apa maksud good job yang tadi diucapkan Berlian.
Riora, yang belum melihat apa-apa karena berada paling belakang, melangkah maju dengan rasa penasaran. Begitu tiba di barisan depan, giliran wanita cantik itu yang berseru,
"Oh, la… la…!"
"Ya ampun, Non Riora!" Mbok Sarah spontan menutup mulut Riora, bahkan sampai sedikit melompat demi menjangkaunya. Riora nyaris tersungkur karenanya.
Riora cepat mengangguk sambil mengangkat kedua tangan tanda menyerah. Mbok Sarah pun buru-buru melepasnya.
Rumi hanya memutar bola mata. Sifat ekspresif Mami dan Riora memang terlalu mirip. Setiap melihat sesuatu yang mengejutkan, reaksi mereka selalu berlebihan.
Sangat berbeda dengannya yang cenderung lebih tenang. Dalam hati, Rumi bersyukur gen itu tidak menurun padanya.
"Mami khilaf," ujar Berlian sambil tersenyum puas dan akhirnya melepas tangan Rumi.
"Siapa yang bawa ponsel?" tanyanya tiba-tiba.
"Aku!" jawab Riora cepat.
"Cepat difoto sebelum mereka bangun!" seru Berlian antusias.
Bagaimana tidak senang? Kondisi Revo dan Candy di atas ranjang benar-benar layak disebut telah menghabiskan malam pertama.
Jubah mandi yang dikenakan Candy entah bagaimana bisa terlepas, menyisakan setelan tidur tipis yang mencetak jelas siluet tubuhnya. Sementara Revo hanya mengenakan celana pendek, lengannya melingkar alami di tubuh istrinya.
Lebih parah lagi, mereka berada dalam posisi saling berpelukan.
Ibu mana yang tidak bahagia melihat malam pertama anaknya berjalan sukses?
"Mami kira dijodohin nggak bakal nyosor," gumam Berlian terkekeh pelan.
"Candy cantik, Mi," timpal Riora.
"Tubuhnya juga oke," tambah Rumi tanpa beban.
"Kalau Tuan Muda nggak nyosor, itu baru namanya kelainan," sahut Mbok Sarah santai.
Sontak ketiga wanita itu menoleh menatap Mbok Sarah.
Mbok Sarah terkekeh kecil. "Emang bener, kan?"
Tawa tertahan pun terdengar di antara mereka.
"Mmm…"
Keempat wanita beda generasi itu langsung menunduk bersamaan. Refleks, mereka menutup mulut masing-masing agar tak bersuara.
Candy bergerak. Lalu perlahan terduduk, matanya menyipit, pandangannya masih buram saat menyapu seisi kamar.
"Siapa sih… ribut-ribut?" gumamnya serak.
Keempat wanita itu membeku.
Sekarang masalahnya satu—bagaimana caranya mereka keluar dari kamar ini… tanpa ketahuan?