Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 22
"Apa yang sudah kamu lakukan Rani?" Ayah Rani menatap tak percaya, sungguh semuanya seperti pukulan baginya
"Apa nak Revan sudah memastikan nya?"
"Surat laporan itu resmi Bu, Rani benar-benar hamil!" Jawab Revan
"Bagaimana jika itu anak kamu?" Pria tampan itu menarik sudut bibirnya, ia merasa lucu mendengar ucapan ibu Rani
"Saya gak pernah menyentuh Rani Bu, selama ini saya menjaganya dengan baik!"
Revan tak bohong, selama menjalin hubungan dengan Rani memang dirinya tak pernah bertindak jauh, bahkan hanya sekali ia hampir mencium wanita itu namun hal itu membuatnya menyesali hingga berhari-hari
"Kenapa kamu diam saja Rani? Ayo katakan! Anak siapa yang ada diperut kamu? Kamu selingkuh?" Cecar ayah Rani
Wanita cantik itu diam saja, entah apa yang harus ia katakan, rasanya tidak mungkin mengatakan jika dirinya mengandung anak dari pria beristri
"Kalau begitu saya permisi dulu Yah, saya akan sering mengunjungi ayah dan ibu nanti!" Ujar Revan, setelahnya pria itu berlalu meninggalkan rumah sederhana itu
Rani masih diam, perlahan cairan bening turun membasahi pipinya, ia kehabisan kata seolah semua ini diluar kendalinya
"Apa ini Rani? Kamu benar-benar selingkuh dari Revan?" Gurat kekecewaan terpancar jelas dari wajah tua ayah Rani
Rani menyesal, namun menyesalinya juga percuma, semuanya sudah terjadi dan sekarang benih Reyhan telah tumbuh dirahimnya
"Maafin Rani Yah!"
Ayah Rani menggeleng tak percaya, putri kecil yang begitu ia cintai telah memberikan noda terbesar bagi wajahnya
"Apa kekurangan Revan hingga kamu lebih memilih pria itu?" Tanya Ayah
Rani diam, ia tak tahu apa yang membuatnya melakukan itu. Dirinya mencintai Reyhan sejak pertemuan kembali keduanya malam itu
"Kamu sudah membuat Ayah malu, sekarang kamu pergi dari rumah ini!" Ayah Rani bangkit, ucapannya menusuk sangat dalam membuat Rani menatapnya dengan tangis
"Ayah, tolong jangan seperti ini! Rani anak kita satu-satunya!" Ibu Rani menyentuh bahu suaminya, ia tak ingin putrinya sampai meninggalkan rumah
"Kalau begitu gugurkan bayi itu!"
Rani terkejut, ia bersimpuh di hadapan sang Ayah sembari memegang kedua kaki pria yang selalu mencintainya itu
"Maafkan Rani ayah, Rani salah!" Wanita cantik itu meraung, memohon ampunan sang ayah. Tapi dirinya juga tak mungkin mengatakan jika ayah dari bayinya adalah pria beristri
"Bu"
Ibu Rani yang tengah menangis menatap wajah suaminya "Kemasi barang-barang Rani! Dia harus pergi dari sini!"
"Tolong pikirkan lagi Yah, kasian Rani!" Ibu Rani masih terus membujuk suaminya
"Ayah gak mau sampai kita dipandang rendah sama warga sini!" Tatapan ayah Rani begitu dingin, pria paruh baya itu bahkan enggan untuk menatap putrinya
"Kalau ibu Keukeh, ibu bisa ikut sama Rani!" Keputusan ayah Rani sudah sangat bulat, ia terlalu kecewa dengan apa yang telah dilakukan putrinya itu
Ibu Rani masuk, tak lama ia keluar dengan membawa sebuah koper berisi barang-barang putrinya, ibu Rani juga tak mungkin meninggalkan suaminya
Rani bangkit, ia tak mungkin menggugurkan bayinya demi untuk tetap bersama kedua orang tuanya
"Maafkan Rani Yah, ibu!" Rani menatap sang ibu dengan tatapan sendu, air matanya mengalir bahkan memeluk sang ibu saja ia tak memiliki keberanian
"Maafkan ibu Rani!" Batin ibu Rani
"Mulai hari ini kita gak punya anak bernama Rani lagi!" Ayah Rani masuk tanpa menoleh ke belakang dimana putrinya tengah tersedu
Rani berjalan, menyusuri jalanan malam kota yang dingin dengan menyeret koper miliknya
Ia raih ponsel miliknya untuk mengabari seseorang. Bagaimanapun Reyhan adalah ayahh dari bayi ini dan pria itu harus mengetahuinya
"Siapa yang telepon malam-malam gini?" Tanya Reya, ia baru saja selesai dengan ritual malamnya dan hendak berbaring disamping sang suami
"Si Budi, nih!" Reyhan menunjukkan layar ponselnya dimana bertuliskan nama Budi
Reyhan tahu jika itu adalah Rani, tapi dirinya telah berjanji untuk memperbaiki rumah tangganya bersama Reya, ia akan bicara nanti sama Rani
"Kok gak diangkat?"
"Gak penting si Budi!" Reyhan menyimpan ponselnya kembali keatas nakas, lalu berbaring "Sini!"
Reya tersenyum, ia letakkan kepalanya diatas lengan suaminya lalu memeluk pria itu dengan erat
Setelah hampir dua bulan hubungan keduanya menjadi dingin, dan akhir-akhir ini suaminya telah kembali seperti Reyhan diawal mereka menikah
***
Rani duduk disebuah halte, hatinya hancur. Reyhan tak menjawab panggilannya sama sekali, sekarang ia tak tahu harus kemana
"Maafkan Mama sayang! Mama akan menjaga kamu dengan baik!" Ia usap lembut perut yang masih rata itu
Sekarang Rani pergi tanpa tahu arah, ia tak tahu harus kemana, tapi bertahan ditempat ini juga tak mungkin
***
Darren tengah duduk dikursi kebesarannya saat seorang pria berdiri dihadapannya, pria itu adalah Raka sang asisten pribadi
"Bagaimana Raka?" Tanya Darren
Raka meletakkan sebuah map diatas meja atasannya itu "Semuanya ada disana pak!"
Darren meraih map tersebut, membuka dan membaca setiap isinya. Disana bahkan ada beberapa foto kebersamaan Reyhan dengan seorang wanita
Darren menatap lekat "Dia.."
"Tuan mengenal wanita itu?"
"Sial! Jadi mereka bermain dibelakang Revan dan Reya!"
Darren mengepalkan tangannya, sekarang ia ingat jika wanita yang ia lihat dirumah sakit adalah kekasih gelap dari Reyhan
Darren bangkit dari duduknya, tujuan utamanya adalah butik Reya
Reya tengah sibuk dengan pekerjaannya di butik saat seorang pria datang menghampirinya
"Darren!" Sapa Reya
"Kamu lagi sibuk?"
"Enggak kok, ada apa?"
Darren tak bicara, ia serahkan map tersebut kepada Reya
"Ini apa?" Tanya Reya, ia bingung kenapa Darren memberikan ini padanya
"Kamu buka aja!"
Reya tak bertanya lagi, ia buka map tersebut dan melihat isinya. Matanya terbelalak, disana terlihat jelas bagaimana suaminya begitu dekat dengan seorang wanita
Yang membuatnya lebih terkejut adalah wanita itu, ia begitu mengenalnya
"Rani.."
"Iya, disana tanggalnya juga ada Reya, malam dimana Arlo sakit, mereka tengah bersama di blue hotel!"
Reya tak percaya, tapi semuanya terlihat jelas disana, selama ini juga dirinya curiga hanya belum memiliki bukti saja
"Jadi selama ini?"
"Kamu bisa tanyakan pada Reyhan, aku gak mau kamu lebih lama lagi dibohongi seperti ini Reya!"
Reya diam, jujur saja ia masih tak percaya jika suami yang begitu ia cintai tega melakukan hal ini
Reya kembali kerumah saat hari sudah gelap, motor milik suaminya telah berada disana, itu artinya Reyhan sudah pulang
Ia masuk dan Reyhan menyambut dengan senyum manisnya "Baru pulang? Kamu bersih-bersih gih! Arlo udah tidur soalnya!"
Reya masih diam, ia tak bicara membuat Reyhan bingung
"Ada apa?" Tanya Reyhan
"Bisa kita bicara sebentar!"