Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
[Aku mau bersenang-senang sama cewek. Wah, aku lumayan semangat nih.]
[Nanti kalau empat kembang desa itu datang, aku bakal merasakan pengalaman luar biasa soal apa artinya memanjakan diri dengan daun muda.]
[Tapi jujur, aku sebenarnya lebih tertarik sama mbak-mbak asuransi di pintu masuk tadi daripada sama empat kembang itu.]
Hah?
Pintu masuk?
Gadis asuransi?
Ratna Menur, yang sedang bersembunyi di sudut jalan untuk memata-matai Griya Seruling, menatap buku harian di tangannya dengan bingung.
"Apa maksudnya ini?"
[Soalnya bentuk tubuh mbak asuransi tadi benar-benar sempurna. Bahkan kebaya panjangnya warna hijau, persis seperti punya Ratna Menur.]
[Sayang banget tangannya menutupi muka, jadi aku tidak bisa lihat wajahnya.]
[Tapi harusnya dia cantik, kan? Lagipula, dia jualan asuransi perlindungan siluman.]
"Tangan menutupi wajah... Kebaya hijau panjang... Asuransi siluman..."
"Bukankah itu aku?!"
"Lalu pria tadi itu...?"
Setelah berpikir sejenak, Ratna Menur tersentak sadar. Ternyata, pria yang salah mengiranya sebagai pelacur di Griya Seruling tadi adalah Jaka Utama!
"Bagus sekali, Jaka!"
"Jadi pria itu kamu!"
"Aku tidak menyangka kamu orang seperti itu, sampai menyamar segala demi pergi ke rumah bordil!"
Ratna Menur sangat marah hingga dia memukul tembok di sampingnya sampai retak. Hal itu membuat anjing yang sedang tidur di halaman balik tembok kaget dan menggonggong galak, "Guk guk guk!"
"Tunggu."
"Bukannya terserah dia mau ke rumah bordil atau tidak? Kenapa aku harus marah?"
"Hmph, ini pasti karena dia mengira aku pelacur, makanya aku marah. Ya, benar begitu!"
"Dasar bajingan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu karena mengira aku wanita nakal!"
Dalam kemarahannya, dia memukul tembok itu lagi sampai jebol.
"Guk guk guk guk!"
[Oh iya.]
[Jam segini, Ratna Menur harusnya sudah masuk ke Gedung Kelam bareng Langgeng Sakti.]
[Pfft... hahahaha, kalau dipikir-pikir lucu juga.]
[Di Gedung Kelam, Langgeng Sakti bakal diremehkan, terus mereka bakal berantem. Namanya juga karakter utama, ke mana-mana pasti cari masalah.]
[Hasilnya bisa ditebak bahkan pakai jempol kaki sekalipun, si Langgeng bakal menang pakai cara-cara klise. Terus dia bakal kasih senyum maut ke Ratna Menur, dan si Ratna bakal tersipu malu terus jatuh cinta lagi sama dia.]
[Heroine anjing polos, benar-benar tidak punya otak.]
"Marga Utama! Kamu menghinaku lagi!"
Ratna Menur membuang buku harian itu dengan berang. Dia menggertakkan gigi dan menatap tajam ke arah Griya Seruling. Disangka pelacur saja sudah keterlaluan, sekarang malah dikatai bodoh, anjing polos, dan dibilang tidak punya otak?
Dia benar-benar murka. Ditambah suara gonggongan anjing di balik tembok yang tidak berhenti, rasanya sangat menjengkelkan.
"Guk guk guk guk!"
"Berisik sekali sih anjing ini!"
Dia memukul tembok itu sekali lagi dengan penuh kebencian. Batu bata beterbangan dan mengenai kepala anjing itu, membuatnya menangis kesakitan dan lari terbirit-birit.
Ratna Menur kemudian mendatangi sebuah kios topeng dengan penuh amarah dan membeli topeng kepala babi sebagai bentuk balas dendam. Dia mengenakannya dengan garang. Dia sudah memutuskan: akan masuk ke Griya Seruling dan memukuli pria bernama Jaka itu sampai wajahnya berubah jadi kepala babi beneran!
[Selain itu, karena Langgeng Sakti hebat banget, dia bakal disukai sama pemilik Gedung Kelam.]
[Sial, pemilik Gedung Kelam itu kan salah satu dari tiga wanita tercantik di Kota Merapi.]
[Dia juga heroine kedua. Cantiknya setara sama Ratna Menur. Aku iri banget sama si Langgeng, aku juga mau bangun harem. Ogah banget kalau harus jadi pemuja rahasia si anjing polos Ratna Menur terus.]
Selesai menulis, Jaka menutup buku hariannya. Dia menanti hadiah apa yang akan muncul.
[Ding! Selamat, penulisan buku harian berhasil.]
[Wibawa +1]
[Pesona Wajah +1]
[Hadiah diperoleh: Pinggang Perkasa. Pinggang Anda telah diperkuat.]
"Hadiah macam apa ini?!"
"Siapa juga yang butuh! Apa sistem ini meremehkan kemampuanku?!"
Jaka merasa terhina. Namun dia mencoba memutar pinggangnya. Dia baru sadar kalau sekarang pinggangnya sangat fleksibel, tangguh, dan tidak terasa pegal sama sekali meski diputar-putar ekstrem.
"Hmm... ya sudahlah, lumayan juga."
Gedung Kelam.
Lantai tujuh, ruangan luas yang mewah.
"Apa aku benar-benar pemeran utama wanita kedua...?"
Seorang wanita cantik bergaun biru dengan bentuk tubuh menggoda bersandar malas di jendela, menikmati sinar matahari sambil membaca Buku Harian Jaka Utama.
"Apa benar aku bakal menyukai Langgeng Sakti?"
Dia ingin menguji apakah pria bernama Langgeng yang disebutkan di buku itu benar-benar hebat. Setelah merenung, dia memanggil asistennya.
"Siti."
Pintu terbuka. "Ada perintah, Nyai?"
"Bawa Langgeng Sakti menghadapku."
"Baik, Nyai."
Setelah Siti pergi, wanita itu menutup buku harian dan masuk ke ruang mandi untuk membersihkan diri.
Aula Lantai Dasar.
Langgeng Sakti sedang duduk menunggu. Dia ingin membeli informasi soal pembantaian keluarganya lima tahun lalu, tapi pengelola bilang itu rahasia tingkat tinggi dan harus menunggu pimpinan mereka.
Sambil menunggu, Langgeng mendengarkan obrolan orang-orang di sekitarnya.
"Mas Jono, aku lihat istrimu masuk ke rumah Pak Lurah tadi malam. Kamu lagi cari info soal silsilah keluarga ya?"
"Bukan, aku beli info soal lokasi siluman."
"Info siluman? Itu kan mahal banget!"
"Mahal? Aku punya banyak uang kok."
"Dapat dari mana? Bukannya kamu mau balas dendam sama Pak Lurah? Tadi pagi kulihat istrimu jalannya gemetar banget pas keluar dari sana."
"Ya kalau dia tidak gemetar, aku tidak punya uang! Tanpa uang, mana bisa aku ke Gedung Kelam beli info? Bodoh kamu!"
"Ooh... jadi uangnya dari istrimu... Mas Jono, ini buat persiapan Musim Berburu besok ya?"
"Betul! Besok aku pasti dapat banyak mustika siluman dan jadi kaya mendadak!"
Musim Berburu...
Langgeng Sakti membatin. Bupati Surya sudah memberitahunya tadi malam. Setiap tiga bulan sekali, Kota Merapi mengadakan acara berburu siluman. Selain mengurangi ancaman bagi rakyat, ini adalah ladang uang. Mustika atau 'Inti Siluman' harganya selangit karena bisa jadi sumber energi pusaka dan alat-alat sakti.
"Mustika Siluman..."
Langgeng mengelus cincin akiknya. Kekuatan Guru bisa pulih lebih cepat kalau aku dapat mustika itu. Sepertinya aku harus ikut besok.
Tiba-tiba, seorang asisten cantik berbaju biru berdiri di depannya dengan sopan.