NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Sentuhan.

Tatapan.

Bisikan pelan yang tidak pernah ia kira bisa keluar dari pria seperti Alexander.

Dan kini... semua itu tampak menjauh, seperti fatamorgana yang terlalu cepat menguap.

Elena menghela napas panjang. Ia tak ingin merasa menyesal. Ia tahu apa yang ia lakukan. Apakah sekarang, setelah semua usai… pria itu kembali pada dirinya yang semula?

Dingin. Tak tersentuh.

Tak lama kemudian, suara air berhenti.

Elena segera membenahi selimut di dadanya saat pintu bathroom terbuka. Alexander keluar, mengenakan celana panjang abu dan kaus gelap tipis, rambutnya masih basah, tapi wajahnya kembali datar seperti biasa.

Pandangan mereka bertemu.

Untuk sekejap, waktu berhenti.

Tapi Alexander tidak mengatakan apa pun.

Ia berjalan menuju meja kecil di samping lemari, mengambil dompetnya. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kartu hitam logam, kartu eksklusif dengan saldo yang lebih besar dari gaji Elena selama lima tahun, dan melemparkannya ke atas ranjang.

Kartu itu mendarat di depan Elena, seperti pernyataan yang terlalu keras untuk diucapkan.

"Kalau kau butuh kompensasi..." ucapnya dingin. "Itu cukup."

Elena menatap kartu itu, membeku.

"Apa maksud Anda?" suaranya nyaris tidak terdengar.

Alexander menyampirkan jas di lengannya, tidak melihat Elena.

"Anggap saja rasa terima kasih. Karena sudah membantu… di saat tidak ada orang lain yang bisa dipercaya."

Elena menatap pria itu dengan campuran marah dan kecewa. “Dan menurut Anda, itu cukup untuk… semua yang terjadi semalam?”

Alexander berhenti. Menoleh dengan tatapan tajam.

“Semalam tidak mengubah siapa pun di antara kita, Elena. Aku tetap atasanmu. Kau tetap sekretarisku. Semalam yang terjadi untuk bertahan,” jawab Alexander pelan. “Bukan karena rasa.”

Ia menatapnya lebih lama kali ini. Mencoba membaca ekspresi wanita yang semalam… memeluk dirinya saat tubuhnya hampir jatuh.

Alexander menarik napas panjang.

“Kau bilang, kau takkan menyesal.”

“Aku tidak menyesal,” kata Elena pelan. Ya, ini adalah keputusannya menolong pria ini. Seharusnya dia tidak mengharapkan apapun.

Sunyi.

Alexander menghela napas, lalu membuang muka.

“Apa yang kau inginkan, Elena?” tanyanya akhirnya. Suaranya datar, tapi dalam. “Uang? Posisi? Atau... pengakuan?”

Elena menunduk, menghindari tatapannya. Ia tidak bisa menjawab. Karena semua itu tidak penting.

***

Pagi itu, udara kota masih dingin saat mobil hitam perusahaan berhenti di depan gedung Thorne Industries. Seorang sopir membukakan pintu belakang. Alexander keluar lebih dulu, rambutnya kering dan tertata rapi, setelan arang gelap membingkai tubuh tegapnya.

Di belakangnya, Elena melangkah turun dengan langkah ringan namun tenang. Rambutnya dikuncir rendah, riasannya tipis seperti biasa. Wajahnya… netral.

Seolah malam tadi tak pernah terjadi. Dia sudah meminum pil kontrasepsi untuk berjaga-jaga.

Tak ada satu kata pun terucap di antara mereka sepanjang perjalanan dari rumah pribadi Alexander. Mobil berjalan dalam keheningan. Dan saat mereka masuk ke lobi utama perusahaan, Alexander kembali ke mode eksekutif, dingin, fokus, tak tergoyahkan.

“Elena,” ucapnya singkat tanpa menoleh. “Rapat direksi pukul sepuluh. Jadwal presentasi dari tim R&D sore ini. Pastikan semua file siap di tablet saya.”

“Baik, Tuan Thorne,” jawab Elena tenang, mencatat dengan cepat di tabletnya.

Tak ada yang mencurigakan dari interaksi mereka. Bahkan Ava, sekretaris di lantai 20, yang biasanya gemar memperhatikan ekspresi Elena, tak melihat hal aneh. Semuanya tampak... seperti biasa.

---

Di ruang kerjanya yang luas, Alexander berdiri di depan jendela besar yang menghadap London.

Tangannya menyentuh kaca. Suara lalu lintas di kejauhan nyaris tidak terdengar.

Ia memejamkan mata sejenak.

Bodoh.

Begitu ia menyebut dirinya sendiri dalam hati.

Ia tidak seharusnya membiarkan apa pun terjadi semalam. Tidak dengan seorang staf. Tidak dengan Elena Stratford, wanita yang terlalu tenang untuk dibaca, terlalu cerdas untuk dikendalikan, dan terlalu berbeda.

Tapi yang paling membuatnya gelisah adalah... Elena tidak menuntut apa-apa.

Ia sudah memberinya kebebasan untuk meminta apa pun.

Uang.

Kekuasaan.

Jabatan.

Dan Elena hanya menunduk dan berkata, “Saya akan pikirkan nanti.”

Itu justru membuatnya resah.

---

Di ruangannya sendiri, Elena duduk di balik meja, menatap layar dengan pandangan kosong. File laporan terbuka, tapi matanya tidak benar-benar membacanya.

Sudah satu jam berlalu sejak mereka tiba di kantor. Dan Alexander… tak bersikap berbeda.

Ia masih profesional. Terukur. Dingin.

Dan seharusnya itu cukup.

Elena tahu, semalam bukanlah momen romantis. Itu hanya efek dari sebuah jebakan, kondisi darurat, dan keputusan sesaat yang tak perlu dimaknai lebih dari yang terlihat.

Tapi mengapa... dadanya terasa sedikit kosong pagi ini?

Elena menggelengkan kepala. Ia menarik napas dalam, lalu kembali menatap layar.

Fokus, Elena.

Dia bukan siapa-siapa. Dia hanya atasanmu.

Dan kamu hanya sekretarisnya. Meskipun Alexander adalah ayah biologis putranya, tapi yang terjadi enam tahun lalu karena sebuah project. Elena harus tetap berhati-hati agar Alexander tidak mengetahui keberadaan putranya.

---

Hari itu berjalan seperti biasa. Rapat, laporan, komunikasi dengan investor. Tidak ada kejadian berarti.

Namun, menjelang sore, saat Elena hendak meletakkan dokumen di meja kerja Alexander, pria itu menatapnya sekilas dari balik kacamata tipisnya.

“Elena,” katanya, datar seperti biasa.

Elena berhenti. “Ya, Tuan Thorne?”

Alexander menatapnya beberapa detik. Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya, dia hanya berkata:

“Terima kasih untuk tadi malam. Kau bisa menunda permintaanmu... tapi jangan menahannya selamanya.”

Elena menunduk sedikit. “Baik.”

Kemudian ia keluar dari ruangan, menutup pintu dengan tenang.

Dan keduanya… kembali bekerja.

Seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Sore itu, langit Antwerp mulai berganti warna. Kabut tipis menyelimuti jalanan kota, dan lampu-lampu toko mulai menyala satu per satu, menciptakan nuansa hangat di tengah udara musim gugur yang menggigit.

Elena membuka pintu apartemennya dengan pelan.

Ia melangkah masuk, melepas sepatu tanpa suara, dan menghela napas panjang. Kepalanya masih penuh dengan bayangan dari semalam.

“Leon?” panggilnya sambil meletakkan tas di atas meja.

Dari ruang tengah, bocah kecil itu muncul. Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan. Ia mengenakan hoodie abu-abu kebesarannya dan sedang memegang tablet, tentu saja.

Tatapan Leon langsung tertuju pada wajah mamanya. Wajah itu terlihat lelah… dan sedikit bersalah.

Elena berjongkok dan membuka tangannya.

“Maaf Mama pulang terlambat… dan tidak sempat kembali semalam. Mama terjebak urusan kantor,” ucapnya pelan.

Leon berjalan mendekat… lalu memeluknya erat.

Tidak berkata apa-apa. Hanya memeluk. Kuat. Diam.

Elena menutup mata, membalas pelukan itu dengan lembut. Ia tidak sadar ada air di sudut matanya.

Saat mereka melepas pelukan, Elena membelai rambut Leon dengan lembut. “Kau marah?”

Leon menggeleng. Senyum kecil muncul di wajahnya yang cerdas.

“Tidak, Ma. Aku tahu Mama pasti... sibuk.”

“Terima kasih sudah mengerti, Sayang…”

Leon hanya mengangguk pelan, lalu mengambil selimut kecilnya dan duduk di sofa.

Elena beranjak ke dapur, membuatkan teh hangat untuk dirinya dan susu untuk Leon. Tapi dalam diam, Leon mencuri pandang ke wajah mamanya, ada bayangan berbeda di sana.

Lembut... tapi juga kacau.

Leon tak bertanya lebih jauh. Ia tahu kapan harus diam.

Ia tahu kemarin malam... Papa dan Mama pasti bersama.

Dan meski tidak ada yang memberitahunya, hatinya tahu. Ia bisa membaca raut wajah ibunya seperti membaca kode sistem, ada sesuatu yang berubah.

Tapi Leon tetap diam.

Ia akan membiarkan semuanya mengalir seperti biasa.

Karena waktu akan mempertemukan semua kebenaran. Dia akan membuat Papa dan mamanya bersama.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!