Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Berbeda
Pagi ini Aruna bangun dengan perasaan... mual.
Bukan mual sakit. Bukan mual karena masuk angin. Tapi mual... gugup. Mual yang bikin perutnya bergejolak, bikin tangannya dingin, bikin kepalanya pusing sejak matanya terbuka.
Hari ini presentasi.
Presentasi tugas kelompok. Di depan kelas. Bareng Dhira.
*Ya Allah... kenapa hari ini harus dateng sih...*
Aruna duduk di pinggiran kasur, kepala di tangan, napas pendek-pendek. Dia udah siap-siap dari kemarin. Udah hapal semua bahan. Udah nulis catatan kecil di kertas lipat buat jaga-jaga kalau lupa. Udah... udah latihan sendiri di kamar, ngomong ke cermin kayak orang gila.
Tapi tetep aja.
Tetep aja dia takut.
Takut salah ngomong. Takut lupa. Takut... takut semua orang ngeliatin dia dan ngerasa... dia beban.
Hapenya bunyi. Notifikasi.
Aruna ambil hapenya dari meja. Layar nyala.
Pesan dari Kayla.
Kayla: Run, semangat hari ini ya! Lo pasti bisa! Gue yakin! 💪
Aruna senyum tipis. Bales cepet.
Aruna: Makasih Kay... aku... aku takut banget.
Kayla: Takut kenapa? Lo udah siapin semua kan? Lagian ada Dhira juga. Santai aja.
Ada Dhira.
Iya. Ada Dhira.
Dan itu... itu yang bikin makin gugup.
Aruna nggak bales lagi. Dia masukin hape ke saku, berdiri, jalan ke kamar mandi. Cuci muka. Air dingin menyiprat ke wajahnya—seger—tapi jantungnya tetep dag dig dug.
*Bismillah. Ya Allah, kuatkan aku.*
---
Sampai sekolah, Aruna langsung ke kelas.
Kayla udah di sana, duduk di bangku belakang, melambaikan tangan semangat begitu liat Aruna masuk. "Aruna! Sini!"
Aruna jalan ke bangkunya, duduk, langsung ngeluarin catatan-catatannya. Ngecek lagi. Baca lagi. Meskipun udah hapal.
"Run, rileks dikit. Lo kayak mau ujian nasional aja." Kayla ketawa kecil, tapi matanya khawatir. "Lo udah siap kan?"
"Aku... aku nggak tau, Kay. Aku takut lupa. Takut salah ngomong. Takut—"
"Run." Kayla pegang bahu Aruna, remas pelan. "Lo bakal baik-baik aja. Gue yakin."
Aruna ngangguk pelan. Tapi tangannya masih gemetar.
Bel masuk bunyi.
Bu Maita masuk kelas dengan map biru di tangan, kacamatanya agak turun di hidung, senyumnya... senyum guru yang siap nyiksa murid-muridnya dengan presentasi dadakan.
"Selamat pagi semua. Hari ini kita mulai presentasi tugas kelompok kalian. Siapa yang mau maju duluan?"
Sunyi.
Nggak ada yang angkat tangan.
Bu Maita ketawa kecil. "Sudah kuduga. Kalau begitu... aku yang pilih. Kelompok pertama..." Dia buka mapnya, liat-liat kertas. "Aruna Pratama dan Dhira Aksana."
Deg.
Aruna nyaris jatuh dari kursinya.
*Nggak... nggak... kenapa harus kelompok kami duluan...*
Kayla ngeliatin Aruna dengan tatapan simpati. "Semangat, Run..." bisiknya pelan.
Aruna berdiri. Kakinya lemes. Tangannya gemetar pegang kertas catatan. Jantungnya dag dig dug kayak mau meledak.
Dari depan, Dhira juga berdiri. Santai. Nggak gugup sama sekali. Cowok itu ambil laptopnya, jalan ke depan kelas, nyalain proyektor.
Aruna jalan pelan ke depan. Setiap langkah terasa berat. Kayak jalan ke tiang gantungan.
Sampai di depan, dia berdiri di samping Dhira. Jarak mereka... deket. Terlalu deket. Aruna bisa nyium wangi sabun dari baju cowok itu. Bisa denger napasnya yang... tenang.
*Kenapa dia bisa setenang itu sih...*
"Oke, kalian boleh mulai," kata Bu Maita sambil duduk di kursinya, lipat tangan, siap dengerin.
Dhira duluan yang mulai. Suaranya jelas. Tenang. Percaya diri. Dia jelasin bagian pendahuluan, ekosistem laut, pembagian zona, semua dengan lancar—nggak gagap, nggak lupa, bahkan sesekali ngelucu yang bikin beberapa anak di kelas ketawa kecil.
Aruna... cuma berdiri di samping. Diem. Ngeliat slide presentasi di layar proyektor. Tangannya menggenggam kertas catatan erat—sampai kertasnya kusut.
*Giliranku... giliranku sebentar lagi...*
"Dan untuk bagian selanjutnya..." Dhira noleh ke Aruna. Senyum tipis. "Aruna yang jelasin."
Giliran Aruna.
Aruna ngeliat ke depan. Ke kelas. Ke semua mata yang... ngeliatin dia.
Deg.
Tenggorokannya kering. Lidahnya kelu. Otaknya... blank.
Dia buka mulut. "E-ekosistem... ekosistem terumbu karang... adalah..."
Suaranya kecil. Pelan banget. Nyaris nggak kedengeran.
"Aruna, agak keras suaranya," kata Bu Maita dari belakang.
Aruna menelan ludah. Napasnya sesak. "E-ekosistem terumbu karang adalah... salah satu... salah satu..."
Lupa.
Dia lupa kata selanjutnya.
Otaknya kosong. Semua yang dia hapal... hilang.
*Ya Allah... aku lupa... aku lupa...*
Tangannya makin gemetar. Kertas catatannya jatuh—kertas itu melayang pelan ke lantai—dan Aruna... panik. Dia nunduk cepet, ambil kertasnya, tapi tangannya gemetar parah sampai kertasnya nyaris robek.
Beberapa anak di kelas mulai bisik-bisik. Aruna denger.
"Dia gugup banget..."
"Kasian Dhira deh..."
"Pasti dia nggak ngapa-ngapain..."
Dan dari pojok kelas, Nisa bisik keras—keras banget sampai semua orang denger—"Pasti Dhira yang ngerjain semuanya. Secara kan si kaku itu beban dalam tim. Kayak si... dontol."
Beberapa anak ketawa kecil.
Aruna... nunduk makin dalam. Matanya panas. Jangan nangis. Jangan nangis di depan kelas.
Tapi tiba-tiba...
Dhira melangkah maju. Berdiri tepat di samping Aruna. Deket banget. Bahunya nyaris nyentuh bahu Aruna.
"Ekosistem terumbu karang," Dhira mulai ngomong, suaranya tenang, "adalah salah satu ekosistem laut yang paling produktif dan beragam. Terumbu karang menyediakan tempat tinggal bagi banyak spesies laut..."
Dhira ngelanjutin kalimat yang Aruna lupa. Tapi... dia nggak ngambil alih sepenuhnya. Dia cuma... bantuin. Ngisi celah yang Aruna nggak bisa isi.
Aruna menengadah. Ngeliat Dhira dari samping.
Cowok itu ngeliat slide. Tapi sesekali... ngelirik ke Aruna. Tatapannya... nggak marah. Nggak kesel. Cuma... tenang.
"Aruna," Dhira bisik pelan, cuma buat Aruna denger. "Lanjutin aja. Pelan-pelan. Aku di sini."
Aku di sini.
Kata-kata itu... hangat.
Aruna tarik napas. Dalam. Keluarin pelan.
Dia liat ke catatannya lagi. Baca. Pelan.
"T-terumbu karang... juga berperan penting dalam... dalam melindungi garis pantai dari... dari abrasi dan gelombang besar..."
Suaranya masih pelan. Tapi... lebih stabil dari tadi.
Dhira ngangguk kecil. Senyum tipis. "Bagus. Lanjut."
Aruna lanjut. Satu kalimat. Dua kalimat. Tiga kalimat.
Dan Dhira... tetep di sampingnya. Nggak ngambil alih. Cuma... ada. Berdiri di sana. Kayak... kayak jangkar yang bikin Aruna nggak hanyut.
Presentasi selesai.
Bu Maita tepuk tangan. "Bagus. Kalian berdua kerja samanya baik. Silakan duduk."
Aruna jalan balik ke bangkunya dengan kepala nunduk. Wajahnya panas. Malu. Malu banget.
Kayla langsung peluk Aruna begitu dia duduk. "Run, kamu keren! Serius! Kamu berhasil!"
"Aku... aku hampir gagal, Kay..."
"Tapi kamu nggak gagal. Kamu berhasil. Dan Dhira bantuin kamu. Itu... itu sweet banget."
Sweet.
Aruna ngeliat ke depan. Dhira udah duduk lagi di bangkunya, ngobrol santai sama Dimas. Kayak... kayak nggak ada apa-apa.
Tapi Aruna...
Aruna ngerasa... sesuatu.
Sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang... nggak bisa dia jelasin.
---
Setelah presentasi, jam istirahat.
Aruna keluar kelas, mau ke toilet—cuci muka, bersihin air mata yang hampir keluar tadi tapi ditahan—tapi pas jalan di koridor...
"Aruna."
Suara itu lagi.
Aruna berhenti. Noleh.
Dhira.
Berdiri beberapa langkah di belakangnya, tangan di saku celana, tatapannya... lembut.
"I-iya...?" Aruna nggak tau kenapa jantungnya dag dig dug lagi.
Dhira jalan mendekat. Berhenti tepat di depan Aruna. Jarak mereka... satu langkah.
Terus Dhira... nunduk dikit. Deket. Deket banget.
Dan dia bisik.
Pelan.
Tepat di telinga Aruna.
"Kamu bagus kok tadi."
Deg.
Napas Dhira nyentuh telinga Aruna—hangat—bikin bulu kuduknya berdiri.
Aruna... membeku.
Otaknya kosong. Jantungnya berhenti sedetik. Wajahnya... merah padam.
Sedetik itu...
Sedetik dia ngerasa Dhira deket banget...
Aruna kira... kira cowok itu mau... mau cium dia.
*Astafirullah astafirullah astafirullah—*
Tapi Dhira mundur. Senyum tipis. "Santai aja. Lain kali pasti lebih lancar."
Dan cowok itu jalan pergi. Santai. Kayak nggak ada apa-apa.
Aruna berdiri di koridor itu.
Sendirian.
Tangannya naik, nyentuh telinganya yang masih... hangat.
Wajahnya masih merah.
Jantungnya masih dag dig dug.
Dan... senyumnya mengembang.
Senyum kecil. Tipis. Tapi... tulus.
Senyum pertama hari ini.
Senyum yang... dia nggak bisa tahan.
*Ya Allah... kenapa... kenapa rasanya kayak gini...*
---
Sementara itu.
Dhira jalan di koridor, tangan masih di saku celana, wajahnya... datar.
Tapi dadanya...
Dadanya nggak tenang.
Deg dig dug.
*Sialan.*
Dia inget senyum Aruna tadi. Senyum kecil yang... yang bikin dadanya aneh. Hangat. Sesak.
Dhira berhenti di tengah koridor. Bersandar di dinding. Tutup mata sebentar.
*Gue... gue suka sama dia.*
Kalimat itu muncul di kepalanya. Jelas. Tegas.
*Gue suka sama Aruna.*
Tapi...
*Tapi gue gengsi.*
Gengsi mengakui. Gengsi bilang. Gengsi... nunjukin.
Karena Dhira Aksana itu... cowok yang nggak pernah mengakui perasaannya duluan. Cowok yang selalu... dijadiin rebutan. Cowok yang... yang harusnya digandrungi, bukan... bukan menggandrung.
Tapi sekarang...
Sekarang dia... Menggandrung.
Sama gadis pendiam di barisan belakang.
Sama gadis yang senyumnya... langka.
Sama gadis yang... yang bikin dia pengen terus ada di sampingnya.
"Astafirullah..." gumam Dhira pelan, buka mata, ngeliat langit-langit koridor. "Gue... gue jatuh cinta sama gadis polos itu."
Tapi dia nggak bilang ke siapa-siapa.
Cuma... dalam hati.
Dalam hati yang... mulai nggak bisa bohong lagi.