Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Ultimatum Sang Ratu
Kairo benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa dia menikahi wanita yang otaknya sesederhana ini? Apakah dia tidak sadar kalau kemewahan yang dia nikmati—piyama sutra itu, roti gandum impor itu—semuanya berasal dari uang perusahaan yang sedang dipertaruhkan Kairo?
"Jangan drama," potong Elena. Dia membersihkan remah roti di tangannya. "Diwantara Group itu raksasa. Kalah satu tender tidak akan bikin perusahaanmu gulung tikar besok pagi. Paling profit turun. Bonus direksi hilang. Kau tidak bisa beli mobil baru tahun ini. So what? Kau sudah punya sepuluh mobil."
Elena menatap Kairo lurus-lurus.
"Yang membuatmu stres itu bukan takut miskin, Kairo. Tapi egomu. Kau takut kalah dari Gunawan. Kau takut terlihat lemah. Itu masalah harga diri, bukan masalah perut."
Kairo terdiam. Skakmat.
Ucapan Elena tepat sasaran. Menusuk langsung ke jantung persoalan.
Kairo menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang menggila. Dia menatap wanita di depannya. Wanita yang duduk dengan postur sempurna, menikmati sarapannya tanpa beban dunia sedikitpun.
Ada rasa iri yang membakar di dada Kairo. Dia iri pada ketenangan Elena. Dia iri karena istrinya bisa melihat masalah dua triliun rupiah sebagai "cuma masalah ego".
Tapi di sisi lain, ketenangan Elena itu menular. Melihat Elena yang tidak panik, entah kenapa membuat Kairo merasa... sedikit lebih napak di bumi.
Kairo melirik jam tangannya. Pukul enam tiga puluh. Dia harus berangkat sekarang kalau tidak mau terjebak macet.
Dia menyambar dasi sutra warna biru dongker yang tergeletak di kursi.
Kairo melingkarkan dasi itu ke leher kemejanya. Dia mencoba membuat simpul.
Tapi tangannya gemetar.
Ujung jarinya kaku dan dingin karena adrenalin yang berlebihan. Simpul dasi itu tidak mau terbentuk. Miring. Jelek. Kairo mencoba mengulangnya, tapi tangannya semakin gemetar karena frustrasi.
"Sialan!" umpat Kairo pada dasinya sendiri. "Masuk! Kenapa susah sekali sih!"
Dia menarik kain itu kasar, nyaris mencekik lehernya sendiri.
"Berhenti," suara Elena terdengar dekat.
Kairo mendongak. Elena sudah berdiri di depannya. Aroma parfum vanila dan mawar yang lembut langsung tercium, mengalahkan bau kertas dan kopi di ruangan itu.
Elena menepis tangan Kairo yang gemetar.
"Singkirkan tanganmu. Kau merusak kainnya," kata Elena dingin.
Kairo menurut. Dia menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh, membiarkan Elena mengambil alih.
Elena berdiri sangat dekat. Piyama sutranya sedikit terbuka di bagian leher, memperlihatkan kulit putih mulus yang menggoda, tapi wajahnya serius seperti dokter bedah yang sedang mengoperasi pasien kritis.
Jari-jari Elena yang ramping dan cekatan mulai bekerja. Dia membuka simpul jelek buatan Kairo, meluruskan kerah kemeja suaminya, lalu mulai melipat dasi itu dengan gerakan presisi.
Kanan. Kiri. Putar. Masukkan.
Kairo menahan napas. Dia menunduk, menatap wajah istrinya dari jarak dekat. Bulu mata yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang berwarna peach alami.
Untuk sesaat, Kairo lupa soal tender. Dia lupa soal PT. Megah.
Yang dia rasakan hanya sentuhan jari istrinya di dadanya, merapikan simpul dasi itu, lalu menariknya kencang hingga pas di lehernya.
"Selesai," kata Elena.
Dia menepuk dada Kairo pelan, meratakan jas yang kusut.
"Sempurna," gumam Elena sambil memandangi hasil karyanya. "Setidaknya kalau kau kalah, kau akan kalah dengan penampilan rapi."
Kairo tersenyum kecut. "Terima kasih atas dukungannya yang sangat memotivasi."
Kairo hendak berbalik mengambil tas kerjanya. Tapi Elena menahan kerah jasnya.
Elena menarik kerah itu sedikit, memaksa Kairo menunduk lagi hingga telinga pria itu sejajar dengan bibir Elena.
"Satu hal lagi, Kairo," bisik Elena.
Suaranya bukan lagi suara istri yang bosan. Suaranya berubah menjadi bisikan dingin yang tajam, penuh peringatan, dan dominasi yang mengerikan.
"PT. Megah akan melakukan segala cara kotor untuk menang. Mereka putus asa," bisik Elena, matanya berkilat penuh arti. "Tapi ingat... orang yang putus asa biasanya melakukan kesalahan fatal."
Elena melepaskan cengkeramannya, lalu merapikan kerah jas Kairo sekali lagi dengan lembut.
"Jangan pulang kalau kalah," ucap Elena final. "Aku tidak mau tinggal dengan pecundang."
Kalimat itu bukan ancaman kosong. Itu ultimatum.
Elena berbalik badan, berjalan kembali menuju tangga untuk naik ke kamarnya, meninggalkan Kairo yang terpaku di ruang makan.
Kairo mematung sejenak, meresapi kata-kata istrinya.
Orang yang putus asa biasanya melakukan kesalahan fatal.
Dan... Jangan pulang kalau kalah.
Darah Kairo kembali berdesir. Bukan karena takut, tapi karena tertantang. Istrinya baru saja melemparkan sarung tangan duel ke wajahnya.
Kairo menyeringai lebar. Rasa gugupnya hilang, digantikan oleh api ambisi yang membara.
"Baiklah, Nyonya Diwantara," gumam Kairo. Dia menyambar tas kerjanya dengan gerakan mantap. "Siapkan makan malam perayaan. Karena aku akan pulang membawa kepala Gunawan di atas nampan."
Kairo melangkah keluar rumah dengan langkah tegap. Aura pembunuhnya sudah kembali.
Di dalam mobil Alphard yang melaju kencang menuju Gedung Kementerian Pekerjaan Umum.
Kairo duduk di kursi belakang, memeriksa ulang data di tabletnya. Kali ini tangannya sudah tidak gemetar. Simpul dasinya terasa nyaman di leher, seolah memberikan kekuatan tambahan.
"Reza, laporan lapangan," perintah Kairo tanpa melihat asistennya.
Reza yang duduk di kursi depan memutar tubuhnya sedikit. Wajahnya pucat.
"Laporan baru masuk lima menit yang lalu, Pak," kata Reza ragu-ragu. "Tim pengintai kita di lokasi tender bilang... rombongan PT. Megah sudah tiba."
"Lalu? Apa yang aneh?"
"Mereka... mereka terlihat sangat percaya diri, Pak. Terlalu percaya diri," Reza menelan ludah. "Pak Gunawan datang sendiri memimpin tim. Dia sempat bicara dengan beberapa wartawan di lobi."
Kairo menghentikan gerakan tangannya di layar tablet. "Apa katanya?"
Reza membaca pesan di ponselnya dengan suara bergetar.
"Pak Gunawan bilang... 'Hari ini akan jadi hari bersejarah. Saya sudah menyiapkan peti mati khusus untuk Diwantara Group. Strategi kami kali ini tidak mungkin bisa dikalahkan oleh anak ingusan seperti Kairo'."
Kairo mendengus. "Peti mati?"
"Iya, Pak. Dan... ada rumor kalau mereka membawa dokumen penawaran dengan harga yang sangat rendah. Jauh di bawah estimasi kita."
Kairo terdiam. Dia teringat ucapan Elena semalam. Strategi subsidi silang. Harga miring.
PT. Megah benar-benar nekat. Mereka membawa bom bunuh diri ke meja perundingan.
Kalau mereka benar-benar banting harga gila-gilaan, secara matematis Kairo akan kalah. Pemerintah selalu cari yang termurah.
Tapi kemudian, Kairo teringat bisikan Elena tadi pagi.
Orang yang putus asa biasanya melakukan kesalahan fatal.
Kairo menatap jalanan Jakarta yang macet di luar jendela.
"Kita lihat saja siapa yang akan masuk ke peti mati itu, Gunawan," desis Kairo. "Jalan terus, Pak Danu! Jangan sampai telat sedetik pun!"
Mobil mewah hitam itu membelah jalanan, membawa sang raja menuju medan perang yang sudah diatur skenarionya oleh ratu di balik layar.