NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Mencari Hantu di Kota Pahlawan

Tiga minggu pasca pernikahan mewahnya, hidup Rendy Angkasa seharusnya sempurna. Utang keluarga lunas, posisi direktur aman, dan ia memiliki istri cantik yang kaya raya. Namun, realitasnya jauh dari kata indah.

Rendy dihantui.

Setiap malam, saat ia berbaring di samping Sisca di ranjang king size mereka yang empuk, matanya sulit terpejam. Bayangan lantai apotek yang putih dan genangan darah merah segar itu terus berputar di kelopak matanya seperti film horor yang tak ada tombol hentinya. Teriakan Alina—"Ini anak Rendy!"—terus terngiang, bersaing dengan dengkuran halus Sisca.

Rasa bersalah itu menggerogotinya pelan-pelan. Ia pengecut. Ia tahu itu. Ia membiarkan wanita yang pernah ia cintai setengah mati terkapar pendarahan tanpa melakukan apa-apa.

"Aku harus tahu kondisinya," gumam Rendy gelisah di dalam mobilnya.

Siang itu, ia membolos dari rapat direksi. Dengan dalih sakit perut, Rendy melarikan diri dari kantor. Tujuannya satu: menemukan Alina. Ia perlu memastikan Alina selamat. Ia perlu... entahlah, mungkin meminta maaf, meski ia tahu kata maaf sudah tidak ada harganya lagi.

Tujuan pertamanya adalah gedung bank di pusat kota.

Rendy melangkah masuk ke lobi yang dingin itu dengan perasaan campur aduk. Dulu, ia sering menjemput Alina di sini. Satpam di depan bahkan sudah mengenalnya.

"Sore, Pak. Jemput Mbak Alina ya?" sapa satpam itu ramah, tidak tahu apa-apa.

Rendy tersenyum kaku. "Iya, Pak. Bisa tolong panggilkan sebentar? HP-nya nggak aktif."

Satpam itu mengernyit. "Lho? Bapak belum tahu? Mbak Alina kan sudah resign."

Jantung Rendy mencelos. "Resign? Kapan?"

"Sudah dua mingguan lebih, Pak. Katanya sih pulang kampung."

Rendy terpaku. Tanpa berpikir panjang, ia menerobos masuk menuju meja resepsionis, meminta bertemu dengan Rini, teman semeja Alina yang ia kenal.

Saat Rini keluar menemui Rendy, wajah wanita itu tidak ramah. Rini tahu soal pernikahan Rendy dan Sisca dari gosip kantor. Tatapannya penuh penghakiman.

"Ngapain Mas Rendy cari Alina lagi?" tanya Rini ketus, tanpa basa-basi. "Bukannya Mas sudah bahagia sama istri baru?"

"Rin, tolong," suara Rendy memelas. "Aku cuma mau tahu dia di mana. Nomornya nggak aktif. Medsosnya hilang. Dia resign pindah ke mana?"

Rini melipat tangan di dada. "Dia nggak pindah kerja, Mas. Dia berhenti total. Katanya mau pulang kampung ngerawat orang tuanya yang sakit. Itu terakhir kali aku lihat dia. Dia pergi bawa kardus, mukanya pucat kayak mayat hidup. Puas?"

Pulang kampung.

Rendy terdiam. Jika Alina pulang kampung, berarti dia benar-benar menyerah dengan Surabaya.

"Terima kasih, Rin," ucap Rendy lemah, lalu berbalik pergi diiringi tatapan sinis dari Rini.

Tidak puas dengan jawaban itu, Rendy memacu mobilnya membelah kemacetan sore menuju Wonokromo. Ke kosan Alina.

Ini adalah tempat yang menyimpan paling banyak kenangan mereka. Tiga tahun Rendy keluar-masuk gerbang hitam itu. Ia hafal lubang di jalan depannya, hafal jam berapa tukang nasi goreng lewat, hafal aroma lavender di kamar Alina.

Rendy mengetuk pintu gerbang. Bu Yati, pemilik kos, keluar dengan daster batiknya. Wajah ibu itu langsung berubah masam saat melihat siapa tamunya.

"Mau apa lagi, Nak Rendy?" tanyanya dingin.

"Bu, Alina ada? Saya mau bicara sebentar."

Bu Yati mendengus kasar. "Telat kamu. Orangnya sudah pergi."

"Pergi ke mana, Bu? Pulang kampung?"

"Nggak tahu," jawab Bu Yati acuh tak acuh. "Dia cuma ninggalin kunci sama uang sewa terakhir di meja. Barangnya sudah bersih. Nggak ada sisa satu pun. Dia pergi kayak ditelan bumi."

Rendy merasa kakinya lemas. "Boleh saya lihat kamarnya, Bu? Sebentar saja."

Awalnya Bu Yati hendak menolak, tapi melihat wajah Rendy yang kusut dan putus asa, hati ibu itu luluh sedikit. "Ya sudah. Lima menit aja. Kamarnya belum ada yang ngisi lagi."

Rendy menaiki tangga dengan langkah berat. Saat pintu kamar nomor 2 itu dibuka, kehampaan langsung menyergapnya.

Kamar itu kosong melompong.

Tidak ada lagi sprei bermotif bunga kesukaan Alina. Tidak ada foto-foto mereka di dinding. Tidak ada tumpukan novel di sudut meja. Bahkan aroma lavender yang khas itu sudah hilang, berganti dengan bau debu dan pengap.

Seolah-olah Alina tidak pernah tinggal di sini. Seolah-olah eksistensi gadis itu terhapus sepenuhnya.

Rendy masuk, menyentuh meja belajar yang berdebu. Di sinilah Alina biasa duduk menunggunya sambil mengerjakan laporan. Di lantai inilah mereka biasa duduk makan martabak sambil membicarakan masa depan—masa depan yang kini hancur lebur.

"Al..." panggil Rendy lirih pada ruangan kosong itu.

Hening. Tidak ada jawaban. Hanya suara kipas angin tetangga yang berdengung.

Rendy merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan mencoba menelepon nomor Alina untuk yang ke-seratus kalinya.

"Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali..."

Suara operator itu terdengar seperti vonis hakim.

Alina benar-benar menghilang. Gadis itu tidak pulang kampung seperti kata Rini. Rendy tahu orang tua Alina sehat-sehat saja karena ia sempat mengecek Facebook adik Alina, dan tidak ada kabar sakit di sana. Alina berbohong.

Alina melarikan diri. Dari Surabaya. Dari kenangan. Dan yang paling menyakitkan bagi ego Rendy: Alina melarikan diri darinya.

Gadis yang dulu memandangnya sebagai pusat dunia, kini memilih lenyap ditelan ombak daripada harus berurusan dengannya lagi.

Rendy jatuh terduduk di lantai kamar yang dingin. Rasa sesal yang terlambat itu akhirnya tumpah. Ia menangis tanpa suara, menelungkupkan wajahnya di lutut. Ia memiliki uang, ia memiliki istri cantik, ia memiliki jabatan. Tapi di kamar kosong berukuran 3x4 meter ini, Rendy Angkasa merasa miskin. Ia baru sadar bahwa ia telah membuang satu-satunya orang yang tulus mencintainya tanpa syarat.

Dan sekarang, hantu masa lalunya itu telah pergi, meninggalkan Rendy sendirian dihantui rasa bersalah seumur hidup.

Sementara itu, belasan kilometer dari sana, di sebuah gudang panas di Rungkut.

"Hacih!"

Alina bersin pelan di balik maskernya. Ia mengusap hidungnya yang gatal terkena debu kapas.

"Kenapa, Al? Ada yang ngomongin tuh," ledek Pak Heru yang lewat sambil membawa faktur.

Alina hanya tersenyum tipis di balik masker, matanya kembali fokus pada layar komputer tabung di depannya.

"Nggak ada yang ngomongin saya, Pak. Orang-orang masa lalu saya sudah menganggap saya mati," jawabnya dalam hati.

Alina mengetikkan kode barang terakhir hari itu, lalu mematikan komputernya. Ia tidak tahu Rendy mencarinya, dan ia tidak peduli. Biarkan pria itu mencari hantu. Alina yang sekarang adalah manusia baru yang sedang sibuk menyusun bata demi bata benteng pertahanannya.

Rendy boleh mencari ke ujung dunia, tapi dia tidak akan pernah menemukan Alina di tempat di mana "orang-orang terhormat" seperti dia tidak akan sudi menginjakkan kaki: di antara debu, keringat, dan bising mesin pabrik.

Gimana nih menurut kalian soal Rendy?

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!