Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7. Pertemuan pertama
Nafas Noa tertahan ketika mendekat ke meja Landerik yang duduk tegak, tubuhnya disinari lembut oleh pancaran lilin di tengah meja. Sorot matanya biru tajam namun entah kenapa terasa begitu dalam dan sendu yang tertuju pada pintu masuk, tepat ke arah Noa berdiri.
Ia tidak tersenyum, Ia hanya memperhatikan. Tatapan yang tidak menghakimi, tidak menuntut, dan tidak memaksa.
Tatapannya nampak seperti seorang pria yang terbiasa diam dan mengamati dunia dari jauh. Riana menoleh pada Landerik lalu beralih pada Noa, senyumnya lebar dan penuh harapan.
“Sayang, ini Noa.” Ujar Riana memperkenalkan Noa. Untuk sesaat, Noa hanya berdiri di samping kursinya, tangannya sedikit gemetaran di sisi tubuhnya. Seluruh restoran terasa sunyi, seolah hanya ia dan lelaki itu yang ada di sana.
Landerik bangkit dari duduknya. Pelan Elegan, dan Tenang. Ia lebih tinggi daripada yang Noa bayangkan, dengan bahunya yang bidang, dan postur tubuh yang tegak sempurna. Ketika ia berdiri di hadapan Noa, wangi parfum halus yang dingin dan maskulin berhembus ke arahnya. Landerik menatap Noa selama beberapa detik, cukup lama untuk membuat jantungnya kehilangan ritme.
Lalu ia berbicara.
Suara Landerik rendah, sedikit berat, namun sopan.
“Senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Noa.”
Noa menelan ludah, suara tercekat.
“S-saya juga, senang bertemu dengan Anda.”
Riana tersenyum lebih cerah. “Duduk, kalian. Ayo duduk.”
Akhirnya Noa duduk di kursi yang sudah disiapkan, tepat di samping Landerik. Jarak mereka tidak jauh, namun cukup dekat untuk membuat Noa sadar betapa hangatnya keberadaan pria itu.
Ketegangan di meja mulai mencair sedikit,Riana mengajak semua orang berbicara, mencoba menutupi suasana canggung antar keluarga. Namun Noa tidak bisa benar-benar mendengarkan.
Ia terlalu sadar bahwa setiap gerakannya diperhatikan Landerik dari sudut pandang pria itu. Tidak mengintimidasi tapi seolah dia mencoba memahami Noa.
Beberapa menit berlalu sebelum Landerik akhirnya menoleh sedikit ke arah Noa, mencondongkan tubuh agar suaranya hanya terdengar olehnya.
“Aku minta maaf,” ucapnya pelan.
Noa terkejut menatapnya. “Maaf? untuk apa?”
Landerik menunduk sesaat, seperti mencari kata-kata yang tepat.
“Untuk keadaan yang membuatmu harus berada di sini. Aku tahu situasi ini sangat berat bagimu.”
Kata-kata itu menembus Noa begitu dalam hingga ia hampir tidak bisa bernapas. Selama ini, tak ada yang memikirkan apa yang ia rasakan.
Namun pria ini yang bahkan belum ia kenal justru menyadari kegusaran dan ketidaknyamanannya. Noa tidak mampu berkata apa-apa, hanya menatapnya dengan mata yang sedikit memanas.
Landerik tersenyum tipis, lembut nyaris tak terlihat.
“Jika waktumu cukup panjang malam ini, Aku ingin bicara setelah makan denganmu, Tanpa tekanan siapa pun.”
Noa merasa jantungnya berdebar kacau. Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, ia merasa dilihat. Dikenali dan Dimengerti.
Dan tanpa ia sadari, ia membalasnya dengan anggukan kecil. Sebuah awal yang Riana inginkan. Sebuah awal yang Noa tak tahu apakah harus ia takuti atau ia harapkan.
...♡...
Taman di bagian belakang restoran itu diterangi lampu-lampu kecil berbentuk bintang yang digantung di antara pohon-pohon willow. Cahaya lembutnya memantul di permukaan kolam, membuat riak cahaya yang bergerak pelan. Angin malam membawa aroma rumput basah dan mawar.
Noa dan Landerik berdiri berdampingan, tapi terasa seperti ada jarak yang jauh di antara mereka, jarak yang tidak terlihat, tapi begitu nyata. Landerik menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celananya sebelum akhirnya ia membuka pembicaraan.
“Noa,” suaranya rendah, hampir tenggelam oleh angin malam.
“Aku ingin jujur padamu sejak awal.” Noa menoleh sedikit, menunggu. Detak jantungnya tidak beraturan.
“Aku,” Landerik menarik napasnya panjang. “…tidak datang ke sini dengan keinginan untuk menikah lagi. Aku tidak ingin hubungan baru. Tidak dengan siapa pun.”
Noa menunduk. Kata-kata itu tidak membuatnya terkejut, tapi tetap menghantam hatinya seperti batu jatuh dari ketinggian. Landerik melanjutkannya dengan suara yang lebih pelan tetapi sangat jelas. “Aku sangat mencintai Istriku.”
Ia menoleh ke arah Noa, mata biru itu memantulkan cahaya lampu taman.
“Cinta yang tidak bisa digantikan oleh siapa pun, dan dalam keadaan apa pun. Dia istriku, Dan dia akan selalu menjadi istriku.”
Ada keteguhan di dalam suara itu, dan juga luka dalam yang tak terobati.
Riana selalu bercerita dengan bangga tentang suaminya. Dan sekarang Noa benar-benar melihat mengapa. Noa menggenggam ujung gaunnya, mencoba menyembunyikan gemetar kecil yang timbul.
“Aku mengerti,” katanya lirih. “Aku tidak mengharapkan apa pun.”
Landerik menggeleng pelan.
“Aku ingin memastikan kau tahu semuanya. Riana menekanku sama seperti dia menekanmu. Dia ingin masa depanku dan masa depan keluargaku aman setelah dia pergi.” Ia berhenti beberapa saat, ia menelan kata-kata yang terasa pahit bagi dirinya sendiri. “Tapi keinginannya itu tidak berarti aku akan memaksamu untuk sesuatu yang tidak kau inginkan.”
Noa mengangkat tatapannya, terkejut. “Aku pikir, kau setuju.”
Landerik tersenyum tipis senyuman yang tidak membuat wajahnya tampak bahagia sama sekali.
“Aku setuju hanya untuk menenangkan Riana.” Suaranya penuh kelelahan.
“Aku tidak bisa menolak istriku yang sedang menuju akhir hidupnya.”
Hening.
Kolam di hadapan mereka memantulkan cahaya putih lembut, seolah mendengarkan percakapan dua manusia yang sama-sama tersesat.
Landerik menatap air itu, suaranya semakin pelan “Noa… aku tidak akan memberikanmu harapan yang salah. Jika pernikahan ini terjadi, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu, termasuk keluargamu. Aku tidak akan membiarkanmu kekurangan apa pun.” Ia menoleh lagi, kali ini benar-benar melihat Noa dalam, dan jujur.
“Tapi aku tidak bisa memberikan cinta.” Nada suaranya seperti pengakuan yang menyakitkan. “Hatiku sudah dimiliki seseorang, dan aku tidak ingin mengkhianatinya, Tidak sekarang, Tidak selamanya.”
Jantung Noa serasa diremas, ia bahkan sudah menebak apa yang akan Landerik katakan.
Di satu sisi, ada rasa lega, setidaknya ia tidak akan berharap tentang apa pun terutama tentang cinta, Di sisi lain ada rasa pedih karena ia harus memilih sesuatu yang sebenarnya tidak ia inginkan.
Dari sebelumnya Noa memang tidak pernah berharap banyak, tetapi mendengar kenyataan itu langsung dari mulutnya membuat semuanya terasa lebih nyata. Lebih dingin.
Landerik melanjutkan “Kau boleh melakukan apa pun yang kau inginkan. Hidupmu akan menjadi milikmu sendiri. Aku tidak akan membatasi gerakmu atau mengatur langkahmu,” Ia ragu sejenak. “…selama kau menjaga nama keluargaku dengan baik. Itu satu-satunya syarat.”
Noa mengangguk perlahan, meski dadanya terasa sesak.
“Baik,” jawabnya, hampir seperti bisikan. “Aku tidak akan merepotkanmu.” Lanjut Noa. Landerik menatapnya lama.
Ada sesuatu di sana bukan cinta, bukan juga belas kasihan, tapi semacam rasa hormat pada gadis yang tidak pernah meminta kehidupan ini.
Noa kemudian menarik napas, seolah menguatkan dirinya sendiri.
“Kita akan menjalani apa yang harus dijalani. Tanpa tekanan. Tanpa tuntutan.” Ia memalingkan wajah ke kolam lagi. “Dan tanpa berharap apa pun dari satu sama lain.” Kalimat itu ringan. Namun jatuhnya terasa seperti pedang yang mengiris perlahan.
Noa hanya memandang riak air, membiarkan angin menyapu wajahnya yang semakin terasa dingin.
Malam itu dua manusia yang sama-sama tersudut berdiri berdampingan, namun hatinya berada di dua dunia yang berbeda.
To Be Countinue...