NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

7. TGD.7

Minggu-minggu tenang di awal semester perlahan berganti menjadi badai yang sesungguhnya: **Ujian Tengah Semester (UTS)**. Bagi Shelly, ini bukan sekadar ujian akademis, melainkan pembuktian pertama atas beasiswa yang ia sandang. Di asrama, suasana berubah mencekam. Lampu-lampu kamar yang biasanya padam pada pukul sepuluh malam, kini tetap menyala hingga dini hari.

Shelly semakin jarang terlihat di kantin. Waktunya habis di antara tumpukan fotokopi materi dan catatan yang ia tulis tangan dengan rapi. Namun, tantangan terbesar muncul di minggu ujian, bukan dari soal-soal sulit, melainkan dari sebuah godaan integritas.

---

Malam sebelum ujian mata kuliah Statistika Kesehatan—mata kuliah yang paling Shelly takuti—sebuah pesan masuk di grup WhatsApp angkatannya. Seseorang mengirimkan sebuah dokumen terenkripsi yang diklaim sebagai bocoran soal ujian besok pagi.

"Shel, kamu sudah lihat grup?" bisik Bayu saat mereka bertemu di perpustakaan malam itu.

Shelly menggeleng. Setelah membuka ponselnya, ia tertegun. Di sana, teman-temannya sedang riuh membahas jawaban dari soal bocoran tersebut. Beberapa orang bahkan sudah mulai membagi tugas untuk mencari jawaban di buku teks agar besok tinggal menghafal.

"Bayu, apa kamu yakin itu asli?" tanya Shelly sangsi.

"Asli atau tidak, semua orang mempelajarinya, Shel. Kalau kita tidak ikut, dan ternyata soalnya benar, kita bisa tertinggal jauh. Kamu kan butuh nilai IPK tinggi untuk mempertahankan beasiswamu," ujar Bayu dengan nada khawatir yang tulus.

Malam itu, Shelly tidak bisa tidur. Pikirannya berkecamuk. Di satu sisi, ia takut nilainya jatuh dan beasiswanya dicabut. Di sisi lain, bayangan wajah Bapak yang sedang sholat tahajud untuk mendoakan kelancarannya terus muncul di benaknya. Bapak tidak pernah mengajarinya untuk mengambil jalan pintas. Shelly akhirnya mematikan ponselnya. Ia memilih kembali membuka catatan lusuhnya dan belajar hingga matanya perih, tanpa menyentuh dokumen bocoran itu sedikit pun.

---

Keesokan paginya, suasana di ruang ujian terasa tegang. Saat lembar soal dibagikan, Shelly mendengar desahan napas kecewa dan bisik-bisik panik dari sudut ruangan. Ternyata, dosen mengubah format soal secara total di menit-menit terakhir. Bocoran soal yang beredar semalam sama sekali tidak berguna.

Teman-teman yang hanya menghafal jawaban bocoran tampak pucat, tangan mereka gemetar menatap kertas yang kosong. Namun, Shelly justru merasa tenang. Karena ia belajar memahami konsep dari dasarnya, ia mampu menganalisis soal-soal sulit itu satu per satu. Meski peluh membasahi dahinya, pulpennya terus menari di atas kertas.

Setelah ujian selesai, Hana menghampiri Shelly dengan wajah lesu. "Shel, aku menyesal semalam cuma belajar dari bocoran itu. Kamu benar-benar mengerjakan semuanya sendiri ya?"

Shelly mengangguk pelan. "Aku cuma takut kalau jalan pintas malah bikin aku tersesat, Na."

---

Dua minggu kemudian, hasil UTS ditempel di papan pengumuman fakultas. Kerumunan mahasiswa berdesakan untuk melihat nasib mereka. Shelly berdiri di barisan paling belakang, jantungnya berdegup kencang hingga ia merasa mual. Ia perlahan merangsek maju.

Matanya menyisir daftar nama di kertas putih itu.

**Statistika Kesehatan: Shelly Anindya – 95 (A)**

Shelly hampir saja merosot ke lantai jika tidak berpegangan pada pinggiran papan. Ia melihat ke atas dan ke bawah, namanya berada di urutan tiga besar tertinggi di angkatannya. Sementara itu, banyak teman-temannya yang harus menelan pil pahit dengan nilai di bawah standar karena hanya mengandalkan bocoran soal.

"Shel! Kamu gila! Nilaimu hampir sempurna!" seru Bayu yang juga berhasil lulus meski nilainya tidak setinggi Shelly.

Sore itu, Shelly berjalan pulang ke asrama dengan perasaan yang luar biasa lega. Ia langsung menuju wartel atau tempat sepi untuk menelepon rumah. Ia tidak sabar membagikan kabar ini.

"Halo, Pak? Shelly sudah keluar nilai ujiannya," ucapnya dengan suara bergetar karena bahagia.

"Bagaimana, Nduk? Bisa mengerjakan?" suara Bapak terdengar penuh harap.

"Alhamdulillah, Pak. Nilai Shelly tertinggi ketiga di kelas. Beasiswa Shelly aman, Pak," jawab Shelly sambil menyeka air mata yang akhirnya jatuh—kali ini air mata kemenangan.

Di ujung telepon, Shelly mendengar suara isak tangis Ibu yang haru dan teriakan bangga dari Abang serta adiknya. Kebahagiaan mereka melintasi jarak ratusan kilometer, menembus dinding-dinding beton kota besar dan mendarat tepat di hati Shelly.

---

Ujian UTS itu menjadi titik balik bagi Shelly. Ia bukan lagi gadis desa yang merasa "kecil" dan "tertinggal". Ia menyadari bahwa kejujuran dan kerja keras adalah modal paling berharga yang ia bawa dari rumah. Kesehariannya di sisa semester itu pun ia jalani dengan kepala tegak.

Ia mulai berani aktif di organisasi mahasiswa, membantu teman-temannya yang kesulitan belajar, dan tetap menjaga gaya hidup sederhananya. Shelly tahu, perjalanan menuju wisuda masih sangat jauh, dan tantangan yang lebih besar pasti akan datang. Namun, setelah melewati badai UTS pertamanya, ia tahu satu hal pasti: ia memiliki mental seorang pejuang.

Malam itu, Shelly menikmati nasi hangat dengan sisa-sisa terakhir serundeng dari Ibu. Rasanya tetap sama, sangat nikmat. Sambil menatap lampu kota dari jendela asrama, ia membisikkan janji baru: Bapak, Ibu... satu tahap sudah Shelly lalui. Shelly tidak akan berhenti sampai gelar itu benar-benar jatuh ke tangan Shelly.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!